Prosiding seminar nasional pertanian organik : inovasi teknologi pertanian organik
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Prosiding seminar nasional pertanian organik : inovasi teknologi pertanian organik by Title
Now showing 1 - 20 of 45
Results Per Page
Sort Options
- ItemAdaptasi Beberapa Galur Cabai (Capsicum annum) Secara Organik pada Lahan Medium Iklim Basah Di Bali 233-238(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Ketut Kariada dan Ida Bagus AribawaCabai merah (Capsicum annum) merupakan komoditas unggulan yang bernilai ekonomis tinggi serta mempunyai prospek pasar yang cukup cerah. Tanaman ini dapat dibudidayakan di dataran tinggi maupun rendah, di lahan sawah ataupun di lahan kering/tegalan. Produktivitas cabai di Bali berfluktuasi, data menunjukkan tahun 2012, rata-rata produktivitas cabe adalah 12,03 t/ha. Penggunaan salah satu varietas cabai secara terus menerus dapat menurunkan produktivitas cabai. Kajian adaptasi beberapa galur cabai dengan pendekatan organik dilakukan di lahan kering dataran medium iklim basah desa Bangli, Kecamatan Baturiti Tabanan Bali pada MT. 2013. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui daya adaptasi dari masing-masing galur di lahan medium beriklim basah dengan pendekatan budidaya organik, yaitu dengan pemberian 25 ton pupuk organik. Kajian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) empat perlakuan diulang lima kali. Perlakuan tersebut adalah tiga galur introduksi dari AVRDC, yaitu galur AVPP0708; AVPP1102; AVPP1344 dan varietas Kencana sebagai varietas pembanding. Parameter tanaman yang diukur diantaranya adalah tinggi tanaman, diameter tanaman, jumlah cabang, jumlah buah, berat per lima buah, panjang buah, diameter buah dan jumlah biji per buah. Hasil analisis menunjukkan galur berpengaruh nyata terhadap semua parameter tanaman yang diamati. Berat per lima buah tertinggi dihasilkan oleh galur AVPP1344, yaitu 9,00 gram. Sedangkan jumlah buah pertanaman terbanyak dihasilkan oleh varietas Kencana, yaitu 38,67 buah. Kata kunci: Capsicum annum, adaptasi, galur cabai, ahan dataran medium
- ItemAdaptasi Beberapa Galur Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) di Lahan Medium Beriklim Basah di Bali dengan Budidaya Organik 205-210(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Ida Bagus Artibawa dan I Ketut KariadaTomat (Lycopersicon esculentum Mill.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang multiguna karena selain berfungsi sebagai sayuran dan buah, tomat juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar kosmetika serta obat-obatan. Produksi tomat di Provinsi Bali tahun 2012 (30.880 ton) menurun bila dibandingkan dengan tahun 2011 (33.542 ton). Pemanfaatan salah satu varietas tomat yang terus menerus di setiap musim menyebabkan menurunnya produktivitas tomat. Kajian adaptasi beberapa galur tomat telah dilaksanakan di lahan medium beriklim basah, di Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Tabanan Bali pada MT. 2013. Tujuan dari kajian tersebut adalah untuk mengetahui daya adaptasi dari masing-masing galur di lahan medium beriklim basah dengan pendekatan budidaya organik, yaitu dengan pemberian 25 ton pupuk organik. Kajian menggunakan rancangan acak kelompok, empat perlakuan diulang lima kali. Perlakuan yang dimaksud adalah tiga galur introduksi, yaitu CLN 2026D, CLN 3024, CLN3078 dan varietas tomat Permata sebagai pembanding. Parameter yang diamati adalah, tinggi tanaman, jumlah tandan, jumlah buah, berat rata-rata buah dan produksi tomat per hektar. Hasil analisis menunjukkan varietas berpengaruh nyata terhadap rata-rata jumlah buah tomat per tanaman. Jumlah buah tomat terendah dihasilkan oleh klon CLN 3024, yaitu 4,25 buah per tanaman dan tertinggi dihasilkan oleh varietas pembanding, yaitu varietas Permata dengan jumlah buah 16,25 buah pertanaman. Sedangkan potensi produksi tertinggi dihasilkan oleh galur CLN2026D, yaitu 36,75 t/ha. Kata kunci: Lycopersicon esculentum, adaptasi, lahan medium, budidaya organik
- ItemAnalisis Usahatani Cabai Merah (Capsicum annum L) Organik dalam Polybag dengan Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) 61-66(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Retna Qomariah dan Lelya PramudyaniKawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan salah satu program pemerintah dalam rangka mendukung upaya diversifikasi pangan dan peningkatan ketahanan pangan nasional. Salah satu prinsif pelaksanaannya adalah ketahanan dan kemandirian pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan secara terencana dan lestari. Salah satu komoditas yang dapat dikembangkan adalah cabai merah (Capsicum annum L) yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Untuk rumah yang pekarangannya sempit atau tidak punya pekarangan diintroduksikan inovasi teknologi budidaya cabai dalam polybag. Penelitian bertujuan untuk mengetahui produksi dan keuntungan usahatani cabai merah (Capsicum annum L) organik dalam polybag dengan media tanam limbah kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pangan dan peluang pendapatan keluarga.Penelitian dilakukan di lokasi pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari Desa Bayan Sari Kecamatan Angsana Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan, sejak Maret sampai Agustuš 2013. Produksi cabai organik dihitung dari hasil panen per polybag, sedangkan keuntungan dan kelayakan usaha diketahui dengan analisis finansial (R/C). Hasil perhitungan produksi cabai organik dalam 250 polybag dengan media tanam limbah kelapa sawit sebanyak 345,75 kg/musim tanam atau 1,4 kg/polybag, biaya Rp 3.153.500,- hasil penjualan/penerimaan Rp 6.915.000, pendapatan/keuntungan Rp 3.761.500,- nilai R/C = 2,19, dengan demikian usahatani cabai merah (Capsicum annum L) organik dalam polybag dapat memenuhi pangan keluarga dan layak dikembangkan sebagai sumber pendapatan keluarga. Kata kunci: budidaya, cabai, organik, KRPL
- ItemAplikasi Biopestisida Ekstrak Kompos Kulit Udang (EKKU) pada Berbagai Dosis Pemupukan terhadap Pertumbuhan dan Serangan Penyakit Cabai 313-320(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Syahru dan Renny Utami SomantriPengkajian dilaksanakan di dua lokasi yakni Desa Senabing dan Desa Perigi Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan sejak Juli sampai Desember 2013. Pada setiap desa dipilih masing-masing 10 petani sebagai pelaksana kegiatan. Tujuan pengkajian untuk mengetahui pengaruh pengurangan dosis pupuk anorganik dan penambahan EKKU terhadap pertumbuhan dan serangan penyakit cabai. Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan lima ulangan, yang meliputi: (a) Pupuk anorganik dosis lengkap (Urea = 9 g, SP-36 = 9 g, dan KCI = 4,5 g); (b) Pupuk anorganik ½ dosis (Urea = 4,5 g, SP-36 = 4,5 g, dan KCI = 2,25 g) + EKKU dosis 40 ml/l air; (c) Pupuk anorganik 3/4 dosis (Urea = 6,75 g, SP-36 = 6,75 g, dan KCI = 3,375 g) + EKKU dosis 20 ml/I air; dan (d) Pupuk anorganik 3/4 dosis (Urea = 6,75 g, SP-36 = 6,75 g, dan KCI = 3,375 g) + EKKU dosis 40 ml/I air. Tanaman cabai ditanam dalam polybag berukuran lima kilogram yang mengandung media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang. Pemupukan dilakukan sebanyak tiga kali yakni saat tanam, umur tiga minggu setelah tanam (mst), dan umur enam mst. Penyemprotan EKKU dilakukan setiap minggu hingga menjelang panen. Hasil kajian menunjukkan bahwa serangan penyakit bercak daun (Cercospora sp.) tertinggi terjadi pada perlakuan C yakni 9,6%, sedangkan penyakit virus kuning tertinggi pada perlakuan A yakni 45,6%. Aplikasi EKKU mampu menekan intensitas serangan penyakit virus kuning. Kata kunci: biopestisida EKKU, dosis pemupukan, OPT cabai
- ItemDampak Pestisida Terhadap Kesehatan 15-24(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) SuhartonoPestisida sangat berguna di berbagai bidang kegiatan manusia, khususnya di bidang pertanian untuk menjamin ketersediaan pangan. Namun, pestisida juga berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Pestisida tergolong sebagai endocrine disrupting chemicals (EDCs), yaitu bahan kimia yang dapat mengganggu sintesis, sekresi, transport, metabolisme, pengikatan dan eliminasi hormon-hormon dalam tubuh, salah satunya hormon tiroid. Penelitian di Kabupaten Brebes mendapatkan tingginya prevalensi gondok (67,9%), hipotiroidisme (33,3%) dan gangguan pertumbuhan tulang (54,0%) pada siswa SD; prestasi belajar siswa dengan gondok lebih rendah dibanding siswa tanpa gondok; dan 57,1% siswa terdeteksi adanya metabolit pestisida dalam urin. Penelitian di Kabupaten Brebes juga membuktikan bahwa pajanan pestisida merupakan faktor risiko kejadian hipotiroidisme pada wanita usia subur (OR=3,3) dan kejadian gondok pada anak (OR=6,8). Penelitian di kota Batu menunjukkan prevalensi hipotiroidisme pada anak balita di daerah pajanan pestisida sebesar 36,4%, dan anak balita yang tinggal di daerah pajanan pestisida mempunyai risiko 2,1 kali untuk menderita hipotiroidisme dibanding anak di daerah non-pajanan. Prevalensi stunting di daerah pajanan (33,3%) lebih tinggi dibanding di daerah non-pajanan (17,5%). Hasil pemeriksaan lingkungan menunjukkan 85,0% sampel air dan semua sampel tanah positif mengandung residu pestisida. Beberapa penelitian di luar negeri membuktikan bahwa pajanan pestisida pada ibu hamil berpengaruh terhadap kualitas tumbuh-kembang anak yang dilahirkan. Penggunaan pestisida di daerah pertanian mengancam kualitas sumberdaya manusia Indonesia di masa mendatang, sehingga diperlukan upaya pencegahan antara lain dengan melakukan evaluasi kembali tentang peredaran/perdagangan maupun penggunaan pestisida khususnya di bidang pertanian. Kata kunci: pestisida, endocrine disrupting chemicals, hipotiroidisme, gondok, tumbuh-kembang anak
- ItemDukungan Pembiayaan Bagi Percepatan Pengembangan Pertanian Organik 43-50(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Agus Wahyudi dan Suci WulandariPertanian organik membutuhkan investasi yang relatif besar, Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan atas: biaya pengembangan lahan, biaya tambahan tenaga kerja, biaya transisi, biaya transfer pengetahuan, blaya pengolahan input organik, biaya sertifikasi, dan biaya promosi. Permasalahan dalam pembiayaan pertanian organik adalah: skema pembiayaan yang ada lebih banyak untuk membiayai usaha budidaya dan memisahkan serangkaian kegiatan lainnya pada rantai nilai komoditas, tingginya risiko usaha, dan belum tercapainya skala ekonomi usaha. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan strategi dalam bidang pembiayaan yang dapat mempercepat pengembangan pertanian organik, antara lain dengan meningkatkan akses terhadap sumber pembiayaan. Beberapa sumber pembiayaan yang dapat digunakan dalam pembiayaan pertanian organik adalah: pembiayaan kredit usaha, dana corporate social responsibility antara lain Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, dan trust fund. Kata kunci: pertanian organik, pembiayaan, dukungan fasilitas
- ItemEfektifitas Bakteri Pelarut Fosfat Asal Tanah Ultisol Lebak Banten terhadap Pertumbuhan Kedelai (Glycine max L.) 249-254(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Khamdanah, Tiara Restu Amanda, dan Jati PurwaniMikroba pelarut fosfat menghasilkan asam-asam organik yang mampu melarutkan P yang terikat di dalam tanah menjadi P tersedia untuk tanaman. Penggunaan Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) sebagai agen hayati tanah, menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah ketersediaan P bagi tanaman. Beberapa BPF telah diperoleh dari isolasi tanah ultisol Kentrong, Lebak Banten, yaitu P34, P24, P141, P75, P35, P44, P15, PMLG 244, dan PMLG 452. Penelitian dilakukan sejak Juli sampai Agustus 2011 di Growth Room, Kelompok Peneliti Biologi dan Kesehatan Tanah, Balai Penelitian Tanah, Bogor. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan isolat BPF yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman kedęlai (Glycine max L.) di Growth Room. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) tiga ulangan dengan faktor tunggal jenis isolat yang diperoleh. Variabel respon diamati selama 15 Hari Setelah Tanam (HST) meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar, bobot kering tanaman, jumlah dan panjang akar. Tidak semua variabel respon menunjukkan beda nyata antar perlakuan, namun, pada pengamatan tinggi dan jumlah daun tanaman kedelai pada umur 15 HST menunjukkan bahwa inokulasi isolat P15 memberikan nilai tertinggi dibandingkan kontrol, yaitu 25,5 cm dan 5 helai daun. Inokulasi isolat P24 memberikan respon terbaik pada pertumbuhan tanaman kedelai dibanding perlakuan isolat lainnya. Kata kunci: Efektifitas, bakteri pelarut fosfat (BPF), ultisol, kedelai
- ItemFilosofi dan Kemampuan Pertanian Organik dalam Meningkatkan dan Melestarikan Produktivitas Lahan 159-166(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) SamsudinBumi tercipta sebagai tempat hidup dan memperoleh rezeki bagi seluruh makhluk yang ada di atasnya. Secara sinergis semua makhluk tersebut membentuk keseimbangan ekosistem. Akan tetapi implementasi pertanian konvensional berbasis sarana produksi kimia sintetis telah merusak keseimbangan ekosistem tersebut yang menyebabkan terjadinya penurunan produktifitas lahan dan semakin meningkatnya jenis dan intensitas serangan organisme pengganggu tanaman. Pertanian organik merupakan keseluruhan sistem managemen produksi pertanian berbasis sarana produksi berbahan organik untuk mengembalikan kesehatan dan kesuburan lahan, dan melestarikan ekosistem pertanian. Kajian aplikasi teknologi pertanian organik dilakukan pada lahan sawah seluas tiga hektar, sejak Januari 2013 sampai Maret 2014. Varietas padi yang ditanam adalah Ciherang dengan sistem tanam legowo 4:1, yang ditanam dua bibit per lubang. Teknologi pertanian organik yang diaplikasikan adalah pupuk organik padat, pupuk organik cair, pestisida nabati dan biofungisida. Rata-rata produktivitas dari tiga kali panen menunjukkan peningkatan, yaitu: 4.690 kg/ha; 5.340 kg/ha; dan 5.458 kg/ha. Rendemen gabah juga terjadi peningkatan, yaitu: 46,78%; 52,43%; dan 54,20%. Intensitas serangan hama dan penyakit sangat rendah dan terus menurun dibandingkan dengan lahan sawah petani sekitarnya. Tingkat kesehatan dan kesuburan tanah yang diindikasikan dengan populasi cacing tanah semakin meningkat. Keseimbangan ekosistem pertanian yang dilihat dari populasi musuh alami semakin baik. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa teknologi pertanian organik mampu mengembalikan dan melestarikan ekosistem pertanian, dan secara bertahap meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan. Kata kunci: Filosofi, pertanian organik, ekosistem, produktivitas, berkelanjutan
- ItemKajian Bakteri Penghadul Hormon Tumbuh IAA Sebagai Pupuk Organik Hayati dan Kandungan IAA Selana Penyimpanan 279-286(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Sarjiya Antonius,a Dwi Agustyani, Hartati Imamuddin, Tirta Kumala Dewi, dan Nur LailiZat pengatur tumbuh (ZPT) tanaman sangat penting perannya dalam mendukung pengembangan dan pertumbuhan tanaman. Sudah pasti benih (biji) tidak akan berkecambah atau tumbuh dan berkembang tanpa ada peran dari ZPT. Rizobakteri pemacu tumbuh tanaman (RPTT) diketahui mampu menghasilkan hormone tumbuh, seperti auksin, sitokinin, dan gibberelin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji rizobakteri pemacu tumbuh tanaman (RPTT) dalam menghasilkan IAA dan kandungan IAA pada pupuk organik setelah penyimpanan pada rentang waktu yang berbeda. Mikroba penghasil IAA telah diisolasi dari beragam ekosistem. Kemudian dikarakterisasi pengaruh prekusor Tryptophan terhadap kemampuan RPTT dalam memproduksi IAA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri penghasil IAA dapat diisolasi tidak hanya dari ekosiostem perakaran, tetapi juga dari tanah tumpukan limbah tandan pisang. Bakteri RPTT yang diisolasi dari limbah tandan pisang menunjukkan aktifitas produksi IAA paling tinggi. Sekitar 10 isolat unggulan terpilih digunakan dalam formula pupuk organik hayati (POH) dengan bahan organik yang mudah didapat dan dari monitoring selama penyimpanan, ternyata kandungan IAA semakin meningkat ketika dalam penyimpanan. Kata kunci: bakteri perakaran, zat pengatur tumbuh, pupuk organik hayati
- ItemKajian Eksistensi dan Fungsi Kelembagaan pada Usahatani Padi Organik di Sumatera Barat 97-104(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2014-06-01) Moehar Daniel dan NieldalinaPemerintah Daerah Sumatera Barat sejak tahun 2008, telah mulai menggiatkan pengembangan usaha pertanian organik. Berbagai program dan kegiatan telah didanai agar bisa menghasilkan produk pertanian yang sehat serta berperan dalam melestarikan lingkungan. Pengembangan usaha yang dilakukan tidak hanya dalam proses budidaya tetapi juga aktif dalam pengembangan kelembagaan. Tetapi perkembangannya sampai saat ini belum begitu jelas dan tidak banyak informasi yang diperoleh. Oleh karena itu perlu dilakuan kajian untuk melihat sejauh mana eksistensi dan fungsi dari kelembagaan yang dikembangkan. Kajian dilakukan dengan pendekatan RRA (Rapid Rural Appraisal) pada lima daerah utama yang tergolong sebagai sumber produksi padi sawah di Sumatera Barat. Pengembangan usahatani padi organik diawali dengan penumbuhan kelompok tani, sebagai wadah pemersatu petani dan pusat kegiatan usahatani padi organik. Disamping kelompok tani Pemerintah Propinsi Sumatera Barat juga menumbuhkan lembaga sertifikasi pertanian organik sebagai satgas usahatani organik dan lembaga Persatuan Petani Organik sebagai kelembagaan pakar yang membina usahatani organik tingkat petani. Tetapi setelah lima tahun berjalan belum kelihatan dampak yang signifikan dari keberadaan lembaga-lembaga tersebut terhadap perkembangan usaha pertanian organik di Sumatera Barat. Diperoleh beberapa faktor yang dominan yang menjadi penyebab, diantaranya adalah belum maksimalnya operasional kelembagaan yang dibangun serta lemahnya sistem pemasaran dan kerjasama antar lembaga yang ada. Kata kunci: padi organik, kelembagaan
- ItemKajian Eksitens Usahatani Padi Organik di Sumatera Barat 35-42(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Moehar Daniel, Nieldalina, dan HardiyantoDalam dua dekade terakhir ini volume perdagangan produk pangan organik dunia meningkat tajam. Pada tahun 1998, total penjualan produk pangan organik di seluruh dunia mencapai US$ 13 milyar, meningkat menjadi US$ 26 milyar pada tahun 2001. Dengan demikian terjadi peningkatan dua kali lipat dalam tiga tahun. Data menunjukkan bahwa tahun 2010 total bisnis produk organik dunia telah mencapai nilai US$ 100 milyar. Diyakini bahwa angka-angka tersebut diperkirakan akan meningkat lebih tajam pada tahun-tahun berikutnya, sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran manusia akan pentingnya kelestarian lingkungan dan kesehatan. Mensikapi hal tersebut dan mengingat kesehatan dan kecerdasan masyarakat, Pemerintah Daerah Sumatera Barat sejak tahun 2008, mulai menggiatkan pengembangan usaha pertanian organik, terutama usahatani padi sawah. Tetapi perkembangannya sampai saat ini belum begitu jelas sehingga perlu dilakukan kajian untuk melihat eksistensinya sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan sebagai bahan untuk rencana pengembangan. Kajian dilakukan dengan 'pendekatan RRA (Rapid Rural Appraisal) pada lima daerah utama yang tergolong sebagai daerah sentra usahatani padi organik di Sumatera Barat. Penerapan teknologi dalam pencapaian produksi dalam usahatani organik berkembang lambat. Walaupun secara ekonomi usaha ini cukup menguntungkan dan juga mampu melestarikan lingkungan tetapi ada beberapa masalah yang cukup menonjol untuk dipecahkan. Masalah komitmen dan keyakinan serta status pemilikan lahan merupakan dua hal utama yang mempengaruhi. Tidak kalah pentingnya adalah masalah perubahan perilaku dalam usahatani, terutama dalam merubah budaya kerja "instant" yang selama ini dilakukan petani, menjadi pekerjaan yang banyak dan penuh perhatian serta menyita waktu secara rutin. Begitu juga konsistensi usaha ditingkat petani pemula sangat lemah, karena terjadinya penurunan hasil yang dianggap cukup merugikan. Untuk pengembangan kedepan bisa dikemukakan beberapa solusi kebijakan sebagai masukan bagi Pemerintah Propinsi, yaitu (1) Duduk bersama antara pengambil kebijakan, institusi pendukung, pelaku dan penyalur padi organik, (2) Promosi dan himbauan yang intensif akan manfaat dan keberadaan padi organik, (3) Meningkatkan peran serta institusi terkait dalam mendukung teknologi, budidaya, kelembagaan serta fasilitasi pemasaran dan kerjasama. Kata kunci: padi organik, teknologi
- ItemKeefektivan Pupuk Hayati EBSY terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Caisin (Brasicca sp.) 255-262(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Elsanti dan Erny YuniartiPertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Salah satu cara meningkatkan pertumbuhan dan produksi pertanian adalah pemanfaatan mikroba melalui inovasi teknologi yang disebut dengan pupuk hayati. Tujuan penelitian untuk mengetahui keefektifan pupuk hayati EBSY terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman caisim. Metode penelitian yaitu Pengujian Pupuk Hayati EBSY yang dilaksanakan di Rumah Kaca Balittanah Bogor. Sebagai tanaman indikator tanaman caisim berumur dua minggu, yang terlebih dahulu disemai. Rancangan Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap 10 perlakuan dengan enam ulangan. Hasil penelitian pupuk hayati EBSY mengandung mikroba dan jumlah populasi yaitu: Azospirillum sp. 2,4 x 10 CFU ml¹, Azotobacter sp. 4,9 x 10 CFU ml¹, Bacillus sp.1,0 x 10 CFU ml¹, Saccaromyces sp. 1,6 x 105 CFU ml¹, dan tidak mengandung logam berat serta tidak pathogen. Pupuk hayati EBSY dapat meningkatkan hasil tanaman caisim lebih tinggi dari pemupukan NPK rekomendasi sebesar 70,39 g pot¹ dengan nilai RAE 107,7%, Kombinasi pupuk hayati EBSY dengan NPK rekomendasi memberikan hasil tertinggi terhadap hasil tanaman caisim dengan bobot segar tanaman sebesar 139,10 g pot¹ dan nilai RAE 386,22%. Perlakuan kombinasi EBSY dengan NPK rekomendasi dapat mengurangi pemakaian NPK rekomendasi sebesar 25-75%, yaitu 62,5-187,5 kg-¹ Urea, 12,5-37,5 kg ha¹, ZA, 25-75 kg ha¹, Superfos' 25-75 kg ha¹, KCI ditunjukkan oleh perlakuan kombinasi EBSY + 1/4-3/4 NPK rekomendasi. Kata kunci: caisim, pupuk hayati, pupuk anoganik, pertumbuhan, produksi
- ItemKelayakan Ekonomi Formula Pestisida Nabati dalam Pengendalian Hama Utama Kakao (Conopomorpha cramerella dan Helopeltis sp.) 89-96(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Ekwasita Rini Pribadi, I Wayan Laba, Mahrita Wilis, dan RochimatunPenelitian untuk mengetahui kelayakan ekonomi formula pestisida nabati dalam pengendalian hama utama kakao (Conopomorpha cramerella dan Helopeltis sp.) dilakukan di Desa Batu Panga, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat tahun 2012. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi, sebagai petak utama adalah perlakuan sanitasi (1) sanitasi kebun dan (2) tanpa sanitasi kebun, sedangkan anak petak adalah pengendalian dengan penggunaan pestisida (1) Azadirachtin, (2) Sitronellal, (3) Bioprotektor-2 (sitronellal, eugenol, phorbol ester), (4) Asimbo, (5) Mimba + rerak, dan (6) Neem Plus, masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Setiap perlakuan terdiri atas 25 pohon. Input-output usahatani cara pengendalian dengan pestisida nabati dibandingkan dengan yang biasa dilakukan oleh petani setempat. Pengukuran tingkat kelayakan ekonomi menggunakan tiga pendekatan, yaitu dengan mengukur tingkat efisiensi teknis, ekonomis, dan alokatif input (harga). Hasil penelitian menunjukkan sanitasi kebun disertai dengan pengendalian menggunakan pestisida nabati berbahan aktif Azadirachtin menghasilkan tingkat kelayakan teknis, ekonomis, dan alokatif input yang lebih baik dibandingkan perlakuan lain dan teknik pengendalian yang biasa dilakukan oleh petani. Hal tersebut ditunjukkan oleh produksi kakao sebesar 2.317 kg/ha/panen, pendapatan bersih Rp.17.870.127,- kg/ha/panen, B/C rasio 1,47 dan lebih efisien dalam alokasi input (harga) sebesar 40,46%. Kata kunci: kelayakan, ekonomi, pestisida nabati, hama kakao
- ItemKompatibilitas Strain Jamur Entomopatogen dan Insektisida Nabati untuk Pengendalian Helopeltis Antonii 329-336(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Mahrita Willis dan Tri Eko WahyonoSerangan hama tanaman dapat mengakibatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian menjadi rendah, bahkan dapat mengakibatkan kegagalan panen. Untuk mengendalikan hama seringkali digunakan insektisida sintetis yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan. Salah satu cara pengendalian yang sejalan dengan pertanian organik dan dinilai aman tidak mengganggu kelestarian lingkungan adalah aplikasi insektisida nabati dan jamur entomopatogen sebagai agen pengendali hayati. Aplikasi insektisida nabati diduga akan menyebabkan viabilitas jamur entomopatogen menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompatibilitas pestisida nabati (minyak seraiwangi dan nimba) dengan entomopatogen Beauveria bassiana dan Metarrhizium anisopliae serta efektivitas strain jamur B. bassiana, insektisida nabati nimba dan campurannya terhadap mortalitas H. antonii.Penelitian dilakukan di laboratorium Hama, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat tahun 2013, ada dua seri penelitian yaitu percobaan laboratorium untuk mengetahui kompatibiltas jamur entomopatogen B. bassiana dan Metarhizium sp. dengan pestisida nabati nimba dan seraiwangi pada konsentrasi 5 dan 10 ml/l. Efektivitas campuran nimba dengan strain jamur B. bassiana (ED6, ED7, Вb lundi) nimba pada konsentrasi 10 ml/I terhadap pengisap buah kakao Helopeltis antonii. Hasil penelitian menunjukan bahwa insektisida nabati nimba memiliki kompatibilitas dengan B. bassiana dan M. anisopliae, sedangkan pestisida nabati seraiwangi tidak kompatibel dengan entomopatogen tersebut. Perlakuan strain jamur B. bassiana (ED6, ED7, Bb lundi) dan insektisida nabati nimba memiliki pengaruh yang sama terhadap mortalitas H. antonii. Pada perlakuan yang dikombinasikan, kedua perlakuan tersebut memiliki pengaruh yang berbeda terhadap mortalitas H. antonii. Perlakuan campuran insektisida nabati nimba dengan strain jamur B. bassiana ED6 efektivitasnya mencapai 90% dan perlakuan insektisida nabati nimba dengan strain jamur B. bassiana Bb lundi efektivitasnya hanya 35%. Kata kunci: Helopeltis antonii, jamur entomopatogen, insektisida nabati nimba
- ItemKomponen Pengendalian Hama dalam Pertanian Organik dan Pertanian Berkelanjutan 337-344(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Molide Rizal dan Yosi Skanda MirzaPeningkatkan produktivitas pertanian melalui pendekatan yang logis-realistis merupakan tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Pemenuhan kebutuhan pangan tidak boleh mengorbankan generasi mendatang. Sampai saat ini, peningkatan produksi pertanian dilakukan secara intensif berbasis agroinput kimia, sehingga muncul masalah, seperti (1) produktivitas pertanian memasuki spiral negatif akibat resistensi dan kemunculan hama sekunder, (2) kontaminasi lingkungan seperti (a) masalah kesehatan akibat bioakumulasi DDT dan Organofosfat yang berdampak toksisitas akut pada rantai makanan (b) gangguan terhadap aktivitas mikroba tanah dan (c) bahan aktif pestisida dengan spektrum luas dapat menurunkan keanekaragaman hayati. Strategi pertanian berkelanjutan harus mencakup keseimbangan dari tiga pilar utama, yaitu ekonomi, ekologi, dan sosial. Salah satu alternatif pendekatan untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan adalah pertanian organik. Ruang lingkup pertanian organik mencakup kesehatan tanah, keamanan pangan dan manfaat ekonomi. Sistem manajemen produksi pertanian, bertujuan untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, siklus biologi, dan aktifitas biologis tanah. Pengendalian hama, merupakan salah satu aspek penting dalam pertanian organik, dalam mewujudkan keamanan lingkungan dan keberlanjutan. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan secara holistik terhadap seluruh sistem pertanian dalam penentuan taktik pengendalian yang akan dipilih. Komponen pengendalian adalah (1) pengendalian budidaya, (2) pengendalian fisik, (3) pestisida nabati, (4) pengendalian hayati, (5) tanaman perangkap dan (6) peraturan pendukung. Kata kunci: lingkungan, pertanian berkelanjutan, pertanian organik, pengendalian hama
- ItemManajemen Resiko dalam Pengembangan Pertanian Organik di Indonesia 51-60(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Suci Wulandari dan Agus Wahyudi....Daya tarik konversi pertanian konvensional menuju ke pertanian organik terbagi atas motivasi usahatani dan motivasi personal. Tingkat adopsi pertanian organik di Indonesia diduga dipengaruhi oleh tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan praktik pertanian konvensional. Usahatani organik bersifat labour intensive, penggunaan input luar yang rendah, mempunyai kemungkinan hasil lebih tinggi, serta diikuti dengan resiko lebih tinggi. Resiko mengandung pengertian sebagai perubahan kehilangan (change of loss), kemungkinan kehilangan (possibility of loss), ketidakpastian (uncertainty), penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan, atau probabilitas atas hasil yang berbeda dari yang diharapkan. Resiko pada pertanian organik terdiri dari (1) resiko produksi, (2) resiko pengolahan, penanganan produk, dan pengangkutan, (3) resiko pemasaran, serta (4) resiko kelembagaan. Pada sistem pertanian organik, pengelolaan resiko dapat bersifat pencegahan sebelum resiko terjadi (ex ante) maupun penyelesaian setelah resiko terjadi (ex post), dengan jenis pengelolaan resiko yang bersifat formal maupun non formal. Kata kunci: resiko, pertanian organik, manajemen resiko
- ItemManfaat dan Proses Sertifikasi Pertanian Organik 83:88(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Muhamad DjazuliMeningkatnya kesadaran masyarakat dunia termasuk di Indonesia akan pola hidup sehat dan kembali ke alam (Back to Nature), menyebabkan permintaan produk pertanian organik (PO) yang dikenal dengan sehat, aman, dan ramah lingkungan meningkat. Pasar dunia PO saat ini mencapai lebih dari US$17,5 miliar dengan laju peningkatan sekitar 10- 20% per tahun. Tingginya permintaan produk PO, menyebabkan munculnya pemalsuan produk PO di pasaran dan merugikan konsumen. Untuk itu, diperlukan program penjaminan produk PO dalam bentuk Sertifikasi Pertanian Organik yang legal dan diakui secara nasional, regional, maupun internasional. Manfaaat sertifikasi PO antara lain (1) memberi jaminan produk PO (certified) yang memenuhi persyaratan sistem PO internasional, (2) melindungi konsumen dan produsen dari manipulasi atau penipuan produk PO, (3) menjamin praktek perdagangan yang lebih etis dan adil, dan (4) memberikan nilai tambah pada produk dan mendorong meraih akses pasar yang lebih luas harga yang lebih tinggi. Ruang lingkup sertifkasi PO antara lain produk tanaman atau ternak dan produk olahan primer untuk konsumsi manusia atau ternak (SNI 6729:2002), serta produk benih, pupuk, dan pestisida organik (SNI 6729:2013). Proses sertifikasi meliputi (a) pengajuan permohonan sertifikasi produk organik, (b) pengisian lembar permohonan sertifikasi oleh Pelaku Usaha, (c) audit kecukupan hasil isian formulir untuk menentukan kelayakan sertifikasi yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) dan apabila dinilai layak, maka dilanjutkan dengan penawaran biaya sertifikasi dan kesepakatan jadwal inspeksi, (d) pelaksanaan inspeksi meliputi audit dokumen, dan inspeksi fisik di lapang, (e) pemaparan hasil inspeksi di Sidang Komisi Sertifikasi (Komser) untuk menentukan kelulusan keorganikan produk yang diajukan oleh Pelaku Usaha, dan (f) penyerahan Sertifikat Organik dan hak menggunakan Logo Organik Indonesia oleh Pimpinan LSO kepada Pelaku Usaha, apabila Sidang Komser menyatakan lulus. Sertifikat Organik berlaku selama tiga tahun dan minimal sekali setahun dilakukan surveilen. Kata kunci: Sertifikasi Pertanian Organik, ruang lingkup, manfaat, proses, SNI 6729: 2013
- ItemModel Simulasi Kelayakan Lahan Pengembangan Lada Organik 77-82(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Rosihan RosmanDalam upaya mendukung pengembangan lada organik, telah dibuat suatu model untuk mempermudah dalam menentukan kelayakan lahan untuk pengembangan tanaman lada secara umum. Model simulasi kelayakan lahan untuk pengembangan lada ini dapat pula digunakan untuk melihat peluang kemungkinan pengembangan lada organik. Model simulasi ini adalah suatu model yang diprogram berdasarkan pengalaman, penelitian dan berbagai referensi yang telah ada. Model ini sangat bermanfaat bagi yang akan mengusahakan tanaman lada. Dengan menggunakan model ini akan dihasilkan potensi kelayakan suatu lokasi untuk pengembangan lada umumnya dan lada organik khususnya. Dengan memasukan data hasil analisa dan atau data sekunder lainnya dapat ditentukan tingkat kesesuaian lahan dan iklim, B/C ratio sebagai dasar peluang pengembangannya. B/C ratio lebih dari satu menunjukkan bahwa lahan tersebut layak untuk pengembangan tanaman lada. Sebagai suatu kasus mengenai peluang pengembangan lada adalah lokasi Sukamulya, Sukabumi. Data yang digunakan adalah kondisi lahan, iklim, lingkungan dan ekonomi daerah tersebut. Sampel tanah diambil dari lokasi dan dianalisa di laboratorium Balittro. Seluruh data diolah berdasarkan metode Rosihan Rosman (2014). Dari hasil olah data dapat disimpulkan bahwa lokasi Sukamulya layak untuk pengembangan lada. Hal ini ditunjukkan dari nilai tingkat kesesuaian lahan sebesar dua yaitu sesuai dengan faktor pembatas yang masih dapat diatasi, sedangkan nilai B/C ratio lebih dari satu terjadi pada tahun ke empat sebesar 1,10. bila produksi dari panen pertama tahun ke tiga sebesar 600 kg/ha. Namun untuk lada organik, bila kita hanya dilakukan pemupukan organik, tanpa pupuk buatan dengan produksi hanya 550 kg/ha pada tahun ke tiga, maka B/C ratio lebih dari satu (1,17) akan terjadi pada tahun ke empat. Kata kunci: Model simulasi, kelayakan, pengembangan, lada
- ItemOptimalisasi Usaha Ternak Kelinci pada Pemanfaatan Pekarangan Menuju Pertanian Organik 199-204(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Ni Luh Gede Budiari, I Nyoman BudianaKelinci memiliki potensi untuk dikembangkan dilahan pekarangan karena tidak membutuhkan lahan yang luas. Pemanfaatan kotoran dan urinenya untuk pupuk organik bagi tanaman sayuran dilahan pekarangan akan menekan penggunaan pupuk kimia. Pengkajian ini dilaksanakan di Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, sejak Oktober 2013 sampai Pebruari 2014. Komponen teknologi yang yang dikaji adalah (1) pemanfaatan limbah sayuran untuk penggemukan ternak kelinci, dan (2) Potensi kotoran dan urine kelinci sebagai penyedia pupuk organik. Pada penggemukan kelinci percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan pakan, masing-masing perlakuan menggunakan delapan ekor kelinci jantan lokal umur enam minggu sebagai ulangan. Perlakuan pakan yang diberikan yaitu PO : Kelinci diberikan 100% limbah sayuran, P1: P0 + pollard 50 g/ekor/hari dan P2: PO + pellet 50 g/ekor/hari. Parameter yang diamati berat badan awal, berat badan akhir, pertambahan berat badan, produksi feses, produksi kencing dan potensi kotoran dan urine kelinci sebagai penyedia pupuk organik. Hasil pengkajian menunjukan kelinci yang diberikan limbah sayuran 100% menghasilkan pertambahan berat badan 18,37 g/ekor/hari nyata lebih rendah (P<0,05) dari perlakuan P1 dan P2 yaitu 13,14% dan 23,11%. Produksi feses kelinci yang diberikan limbah sayuran 24,81 g/ekor/hari nyata lebih rendah (P<0,05) dari P1 dan P2, sedangkan produksi urinenya 21,78 ml/ekor/hari nyata lebih tinggi (P<0,05) dari P2 dan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan P1. Potensi pupuk organik dari delapan ekor kelinci cukup untuk menanami 10-15 tanaman dalam polybag dengan perbandingan tanah: pupuk organik: urine (4 : 1 : 1). Hasil pemanfaatan pupuk organik dengan urine kelinci berpengaruh nyata terhadap produksi buah dibandingkan dengan menggunakan tanah dengan kompos saja. Kata kunci: kelinci, pupuk organik, lahan pekarangan, pertanian organik
- ItemPemanfaatan Ela Sagu sebagau Pupuk untuk Budidaya Jagung Ketan Kisar Organik 287-294(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Aurellia Tatipata dan Agustinus JacobJagung ketan atau pulut lokal merupakan makanan pokok bagi masyarakat di pulau Kisar Kabupaten Maluku Barat Daya. Rasa bijinya yang enak jika direbus atau dijadikan olahan lainnya memungkinkan untuk dibudidayakan dan ditingkatkan produksinya secara organik pada Kabupaten lain di Maluku melalui penggunaan pupuk organik ela sagu. Tujuan dari penelitian adalah mendapatkan dosis pupuk organik ela sagu terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi jagung ketan lokal. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak 1 faktor dan tiga ulangan. Faktor yang dicobakan yaitu pupuk organik ela sagu (A), terdiri dari 5 taraf dosis antara lain 0 ton ha¹ (A); 7,5 t ha¹ (A₁); 10 t ha¹ (A,); 12,5 t ha¹ (A3); 15 t ha¹ (A4). Peubah yang diamati adalah peubah vegetatif antara lain tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan peubah produksi antara lain panjang tongkol, diamater tongkol, berat tongkol dan berat pipilan kering serta serapan hara tanaman. Data dianalisis menggunakan analisis varian pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 t ha¹ pupuk organik menghasilkan tanaman tertinggi,jumlah dan luas daun serta panjang, diameter, berat tongkol dan berat pipilan kering tertinggi dibandingkan dengan dosis pupuk lainnya. Kesimpulan dari penelitian adalah 15 t ha¹ merupakan dosis pupuk organik ela sagu terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi jagung ketan lokal. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa ela sagu berpotensi dijadikan sebagai pupuk organik untuk digunakan dalam budidaya tanaman jagung ketan Kisar secara organik di luar habitat aslinya. Kata kunci: Ela sagu, pupuk, jagung ketan kisar
- «
- 1 (current)
- 2
- 3
- »