Repositori Kementerian Pertanian
Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:
- terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
- berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
- tidak berkala (leaflet, poster, infografis)
Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.
Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Communities in Repositori
Select a community to browse its collections.
Now showing 1 - 10 of 10
Recent Submissions
Item
Preferensi Petani dan Penyebaran Varietas Unggul Ubi Kayu di Indonesia
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2020-05) Ruly Krisdiana
Pengembangan ubi kayu di Indonesia mempunyai
beberapa kendala terutama preferensi dan penyebaran
varietas unggul. Kendala tersebut mempengaruhi
perbedaan tingkat adopsi varietas unggul di daerah sentra
yang pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas
ubi kayu. Penelitian dilakukan untuk memahami
perkembangan dan kondisi aktual preferensi petani,
adopsi dan penyebaran, serta kontribusi ekonomi varietas
unggul ubi kayu di Indonesia. Penelitian dilakukan
berdasarkan data yang dikumpulkan secara lintas institusi
(Balitkabi, BPTP, Dinas Pertanian) pada sentra produksi
ubi kayu di Provinsi Lampung, Jawa Timur, dan Jawa
Tengah, serta Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun
2013 dan 2014. Metode penelitian yang digunakan
adalah simple random sampling pada 856 petani
responden. Hasil kajian memberikan gambaran terdapat
keberagaman preferensi petani terhadap varietas ubi
kayu yang tergantung dari pemanfaatan ubi kayu di
suatu daerah. Tingkat adopsi petani di Lampung terhadap
varietas unggul ubi kayu lebih dinamis, bahkan varietas
unggul yang baru dilepas sudah diadopsi petani.
Kontribusi ekonomi varietas unggul ubi kayu di Lampung
ternyata tinggi (>Rp5 triliun). Di Jawa Timur dan Jawa
Tengah, kontribusi ekonomi varietas unggul ubi kayu
sedang (Rp1,5-2,2 triliun). Akan tetapi di Yogyakarta,
kontribusi ekonomi varietas unggul rendah (Rp0,02 triliun)
disebabkan luas areal penyebaran kurang. Program
diseminasi atau sosialisasi varietas unggul ubi kayu
kepada pengguna seperti petani/kelompok tani, penyuluh
dan Dinas Pertanian perlu ditingkatkan sehingga petani
dapat memilih varietas ubi kayu yang sesuai dan
berproduktivitas tinggi
Item
Respons Beberapa Varietas Ubi Kayu terhadap Pemupukan NPK pada Tanah Latosol di Maluku Utara
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2020-05) Wawan Sulistiono Et al.
Budi daya ubi kayu di Maluku Utara sebagian besar
menggunakan varietas lokal dan tidak dipupuk. Informasi
varietas unggul dan teknologi pemupukan spesifik lokasi
di Maluku Utara masih terbatas, sehingga menyulitkan
dalam pemberian rekomendasi budi daya ubi kayu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons
pertumbuhan dan hasil varietas unggul dan varietas lokal
ubi kayu terhadap dosis pemupukan NPK. Penelitian
dilakukan pada lahan kering tanah Latosol di Desa
Tuokona, Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan,
Maluku Utara mulai bulan September 2017 hingga Juni
2018. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok
faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah
empat varietas ubi kayu, yaitu : Adira 1, Mentega, Ubi
Kuning dan lokal Bacan. Faktor kedua adalah tiga dosis
pemupukan NPK yaitu : 100% dosis rekomendasi, 50%
dosis rekomendasi, dan tanpa pemupukan sebagai
kontrol. Dosis pemupukan rekomendasi yang digunakan
adalah 300 kg Urea + 200 kg SP18 + 100 kg KCl per
ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tanah
Latosol di Maluku Utara, pemupukan NPK dosis 100%
rekomendasi belum mampu meningkatkan produktivitas
ubi kayu varietas Lokal Mentega, Ubi Kuning, Lokal
Bacan dan Adira 1. Varietas lokal Mentega dan Ubi
Kuning tanpa pemupukan NPK mampu menghasilkan
umbi tertinggi berturut-turut 63,80 t dan 53,71 t/ha.
Varietas Adira 1 dapat menghasilkan umbi sesuai potensi
genetiknya walaupun tanpa pemupukan NPK, yakni
31,16 t/ha.
Item
Prospek Pengembangan Kacang Hijau Berdasarkan Peta Bisnis di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2020-05) Fachrur Rozi; Andy Wijanarko; Henny Kuntyastuti
Peluang peningkatan produksi kacang hijau di Sumba
Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terbuka luas
walaupun ditemui adanya faktor pembatas dalam
pengembangannya. Tujuan penelitian adalah untuk
mengidentifikasi permasalahan kacang hijau secara teknis
dan sosial ekonomi, serta menyusun model dan strategi
pengembangannya berdasarkan posisi peta bisnisnya.
Penelitian dilakukan dengan metode survei menggunakan
pendekatan PRA dan pengambilan sampel secara
‘purposive’. Pengolahan data dengan analisis SWOT.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kacang hijau
potensial dikembangkan di Sumba Timur, tetapi terdapat
kendala faktor internal dan eksternal (lingkungan).
Potensi pengembangan kacang hijau di Sumba Timur
ditunjukkan oleh faktor penguat berupa teknologi budi
daya yang telah tersedia dan kesesuaian lahan untuk
bertanam kacang hijau yang merupakan pengaruh
internal usahatani. Pengaruh eksternal yang mendukung
pengembangan kacang hijau adalah faktor peluang terdiri
atas harga kacang hijau dan permintaan pasar yang
tinggi. Selain itu juga ditemukan kelemahan pada faktor
internal seperti produktivitas rendah, modal terbatas,
kelompok tani pasif dan rasa puas petani dengan
kehidupan yang ada (petani ‘laggard’). Pengaruh
eksternal yang berpeluang menghambat pengembangan
kacang hijau adalah rendahnya infrastruktur, kelangkaan
tenaga kerja, serangan hama dan adanya tanaman
kompetitor, misalnya jagung. Dengan menganalisis data
yang diperoleh, disusun strategi dan prospek
pengembangan kacang hijau pada kondisi skala usaha
menguntungkan. Strategi jangka pendek yang dapat
dilakukan adalah strategi (S-O), yaitu peningkatan
kapasitas hasil melalui pengelolaan intensif menggunakan
teknologi baru (varietas dan teknik budi daya). Model
yang sesuai untuk pengembangan kacang hijau di Sumba
Timur NTT adalah model pengembangan kawasan
usahatani kacang hijau berbasis korporasi.
Item
Evaluasi Teknologi Tumpangsari Kedelai dengan Padi Gogo dan Jagung
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2020-05) Abdullah Taufiq Et al.
Tumpangsari (TS) kedelai dengan padi gogo atau
jagung merupakan salah satu strategi meningkatkan luas
panen dan produksi kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan model tanam TS padi gogo (pg)+ kedelai
(kd) dan TS jagung (jg)+ kedelai (kd) yang optimal.
Penelitian dilaksanakan di IP2TP Kendalpayak mulai
Oktober 2018 hingga Januari 2019. Perlakuan terdiri
atas kombinasi empat model tanam dengan dua varietas
kedelai (Dega 1 dan Dena 1) termasuk pemupukannya
pada TS pg+kd dan TS jg+kd. Varietas padi gogo dan
jagung berturut-turut Inpago 10 dan Bima 19. Model
tanam (M) pada TS pg+kd terdiri atas: M1: 75% pg
+ 91% kd tanpa pupuk, M2: 37% pg + 91% kd tanpa
pupuk, M3: 37% pg + 152% kd dipupuk 23-36-30 kg/
ha N, P, K + 1 t/ha pupuk kandang (pukan), dan M4:
18% pg+72% kd dipupuk 23-36-30 kg/ha N, P, K + 1
t/ha pukan. Padi gogo ditanam bersamaan dengan
kedelai, dengan dosis pemupukan 144,5-52,5-52,5 kg/
ha N, P, K + 1 t/ha pukan. Model tanam pada TS
jg+kd terdiri atas: M1: 150% jg ditanam 3 minggu setelah
kedelai + 114% kd dipupuk 38-15-15 kg/ha N, P, K,
M2: 150% jg + 114% kd dipupuk 107-15-15 kg/ha N,
P, K + 2,5 t/ha pukan, M3: 150% jg + 227% kd dipupuk
seperti pada M2, dan M4: 52% jg + 70% kd dipupuk
23-36-36 kg/ha N, P, K + 1 t/ha pukan. Dosis pemupukan
jagung 167,5-52,5-52,5 kg/ha N, P, K + 1 t/ha pukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tanam
optimal pada TS padi gogo + kedelai adalah Model 1
dan Model 2 menggunakan kedelai varietas Dega 1,
dengan keuntungan masing-masing Rp9.086.500 dan
Rp8.896.500/ha. Model yang optimal pada TS jagung
+ kedelai adalah Model 1 menggunakan kedelai varietas
Dega 1 dengan keuntungan Rp20.121.400/ha. Masingmasing model tanam tersebut mempunyai keunggulan
dalam hal produktivitas dan perolehan keuntungan
dibandingkan model lainnya yang diuji. Oleh karena
itu, pada TS padi gogo + kedelai dengan Model 1 atau
Model 2 atau pada TS jagung + kedelai dengan Model
1 lebih dianjurkan menggunakan kedelai varietas Dega
1 dibandingkan Dena 1.
Item
Efektivitas Tiga Paket Teknologi Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Barito Kuala, Kalimantan Selatan
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2020-05) Sutrisno; Sri Wahyuningsih,; Yuliantoro Baliadi
Lahan pasang surut merupakan salah satu lahan
potensial untuk perluasan areal tanam kedelai, namun
teknik budi dayanya perlu diperbaiki untuk memperoleh
hasil maksimal. Penelitian untuk menguji tiga paket
teknologi budi daya kedelai di lahan pasang surut
dilaksanakan di Desa Simpang Jaya, Kecamatan
Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan
pada bulan Mei hingga Agustus 2014. Perlakuan terdiri
dari dua varietas kedelai yaitu Panderman dan
Anjasmoro, dan tiga paket teknologi yaitu paket teknologi
petani (eksisting), konvensional, dan perbaikan. Penelitian
menggunakan rancangan petak terbagi, tiga ulangan.
Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah
bintil akar, jumlah akar lateral, jumlah daun, komponen
hasil dan hasil. Selain itu, dilakukan pengamatan
terhadap serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura),
lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), penggerek polong
(Etiella zinckenella), penggulung daun (Lamprosema
indicata), dan ulat jengkal (Plusia chalsites), serta penyakit
karat daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi
teknologi perbaikan dan teknologi konvensional budi
daya kedelai di lahan pasang surut dapat meningkatkan
produktivitas kedelai 50% dan 60% dibandingkan
teknologi eksisting. Penggunaan varietas Anjasmoro pada
agroekologi tersebut lebih sesuai dibandingkan varietas
Panderman, karena produktivitasnya lebih tinggi.
Meskipun teknologi perbaikan tidak lebih unggul
dibandingkan teknologi konvensional dari aspek hasil
maupun efektivitas pengendalian hama dan penyakit,
namun teknologi tersebut lebih ramah lingkungan karena
tidak menggunakan pestisida kimia. Untuk itu, perlu
dievaluasi lebih lanjut tingkat kelayakan teknis dan
ekonomi penggunaan biopestisida pada budi daya kedelai
di lahan pasang surut.