Prosiding seminar nasional pertanian organik : inovasi teknologi pertanian organik
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Prosiding seminar nasional pertanian organik : inovasi teknologi pertanian organik by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 45
Results Per Page
Sort Options
- ItemModel Simulasi Kelayakan Lahan Pengembangan Lada Organik 77-82(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Rosihan RosmanDalam upaya mendukung pengembangan lada organik, telah dibuat suatu model untuk mempermudah dalam menentukan kelayakan lahan untuk pengembangan tanaman lada secara umum. Model simulasi kelayakan lahan untuk pengembangan lada ini dapat pula digunakan untuk melihat peluang kemungkinan pengembangan lada organik. Model simulasi ini adalah suatu model yang diprogram berdasarkan pengalaman, penelitian dan berbagai referensi yang telah ada. Model ini sangat bermanfaat bagi yang akan mengusahakan tanaman lada. Dengan menggunakan model ini akan dihasilkan potensi kelayakan suatu lokasi untuk pengembangan lada umumnya dan lada organik khususnya. Dengan memasukan data hasil analisa dan atau data sekunder lainnya dapat ditentukan tingkat kesesuaian lahan dan iklim, B/C ratio sebagai dasar peluang pengembangannya. B/C ratio lebih dari satu menunjukkan bahwa lahan tersebut layak untuk pengembangan tanaman lada. Sebagai suatu kasus mengenai peluang pengembangan lada adalah lokasi Sukamulya, Sukabumi. Data yang digunakan adalah kondisi lahan, iklim, lingkungan dan ekonomi daerah tersebut. Sampel tanah diambil dari lokasi dan dianalisa di laboratorium Balittro. Seluruh data diolah berdasarkan metode Rosihan Rosman (2014). Dari hasil olah data dapat disimpulkan bahwa lokasi Sukamulya layak untuk pengembangan lada. Hal ini ditunjukkan dari nilai tingkat kesesuaian lahan sebesar dua yaitu sesuai dengan faktor pembatas yang masih dapat diatasi, sedangkan nilai B/C ratio lebih dari satu terjadi pada tahun ke empat sebesar 1,10. bila produksi dari panen pertama tahun ke tiga sebesar 600 kg/ha. Namun untuk lada organik, bila kita hanya dilakukan pemupukan organik, tanpa pupuk buatan dengan produksi hanya 550 kg/ha pada tahun ke tiga, maka B/C ratio lebih dari satu (1,17) akan terjadi pada tahun ke empat. Kata kunci: Model simulasi, kelayakan, pengembangan, lada
- ItemPertanian Organik Labalawa, Sebuah Kearifan Lokal Berusia Ratusan Tahun di Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara 67:76(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Ray March Syahadat, Safarudin, dan NurainiIndonesia sebagai negara agraris dan multi etnis memiliki banyak tradisi dalam bercocok tanam. Meskipun saat ini modernitas telah menjamur, namun masih ada beberapa daerah yang menjunjung tinggi kearifan lokal dalam bercocok tanam. Masyarakat Labalawa di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara misalnya. Labalawa merupakan salah satu perkampungan tua di Kota Baubau yang usianya ratusan tahun. Keberadaanya tidak dapat dipisahkan dari Kerajaan Tobe-Tobe yang merupakan kerajaan tua sebelum terbentuk Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara. Mayoritas masyarakat setempat berprofesi sebagai petani organik dengan menerapkan cara bercocok tanam yang usianya diperkirakan mencapai ratusan tahun. Uniknya meskipun tinggal di dataran tinggi dan jauh dari laut, tetapi petani setempat berprofesi ganda sebagai nelayan tradisional. Kebudayaan intangible ini sangat rentan hilang walaupun saat ini kondisinya terpelihara baik. Untuk itu perlu dilakukan pendataan mengenai kearifan lokal tersebut terlebih masyarakat setempat tidak mengenal tradisi tulisan dalam menjaga kebudayaan pertanian mereka, disamping terjadinya fenomena penurunan minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. Tujuan penelitian ini yaitu (1) menginventarisasi prinsip-prinsip budidaya pertanian organik yang berakar pada kearifan lokal yang diterapkan di Labalawa; (2) merumuskan nilai penting tradisi pertanian organik Labalawa; dan (3) memberikan rekomendasi pelestarian sistem pertanian organik Labalawa. Penelitian dilaksanakan sepanjang Maret 2014 dengan menggunakan metode kualitatif dengan cara penelusuran sejarah, wawancara, dan observasi lapang. Data yang diperoleh kemudian diolah secara deskriptif dan dilakukan penilaian nilai penting. Hasil yang diperoleh masyarakat membudidayakan komoditas dengan tata cara yang diwariskan turun-temurun. Terdapat pembagian tata ruang yang mengatur letak lokasi pertanian. Ritual adat dilakukan sejak sebelum penanaman hingga panen. Komoditas yang banyak dibudidayakan yaitu tanaman jagung, umbi-umbian, dan sayuran. Tradisi bercocok tanam organik Labalawa memiliki nilai penting yaitu nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Upaya pengembangkan agrowisata untuk melestarikan kebudayan pertanian organik Labalawa, memiliki potensi yang besar sebab terdapat beberapa situs bersejarah yang dapat dijadikan pendukung sebagai daya tarik tersendiri. Kata kunci: nilai penting, budaya, sejarah, ilmu pengetahuan, agrowisata
- ItemKajian Eksitens Usahatani Padi Organik di Sumatera Barat 35-42(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Moehar Daniel, Nieldalina, dan HardiyantoDalam dua dekade terakhir ini volume perdagangan produk pangan organik dunia meningkat tajam. Pada tahun 1998, total penjualan produk pangan organik di seluruh dunia mencapai US$ 13 milyar, meningkat menjadi US$ 26 milyar pada tahun 2001. Dengan demikian terjadi peningkatan dua kali lipat dalam tiga tahun. Data menunjukkan bahwa tahun 2010 total bisnis produk organik dunia telah mencapai nilai US$ 100 milyar. Diyakini bahwa angka-angka tersebut diperkirakan akan meningkat lebih tajam pada tahun-tahun berikutnya, sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran manusia akan pentingnya kelestarian lingkungan dan kesehatan. Mensikapi hal tersebut dan mengingat kesehatan dan kecerdasan masyarakat, Pemerintah Daerah Sumatera Barat sejak tahun 2008, mulai menggiatkan pengembangan usaha pertanian organik, terutama usahatani padi sawah. Tetapi perkembangannya sampai saat ini belum begitu jelas sehingga perlu dilakukan kajian untuk melihat eksistensinya sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan sebagai bahan untuk rencana pengembangan. Kajian dilakukan dengan 'pendekatan RRA (Rapid Rural Appraisal) pada lima daerah utama yang tergolong sebagai daerah sentra usahatani padi organik di Sumatera Barat. Penerapan teknologi dalam pencapaian produksi dalam usahatani organik berkembang lambat. Walaupun secara ekonomi usaha ini cukup menguntungkan dan juga mampu melestarikan lingkungan tetapi ada beberapa masalah yang cukup menonjol untuk dipecahkan. Masalah komitmen dan keyakinan serta status pemilikan lahan merupakan dua hal utama yang mempengaruhi. Tidak kalah pentingnya adalah masalah perubahan perilaku dalam usahatani, terutama dalam merubah budaya kerja "instant" yang selama ini dilakukan petani, menjadi pekerjaan yang banyak dan penuh perhatian serta menyita waktu secara rutin. Begitu juga konsistensi usaha ditingkat petani pemula sangat lemah, karena terjadinya penurunan hasil yang dianggap cukup merugikan. Untuk pengembangan kedepan bisa dikemukakan beberapa solusi kebijakan sebagai masukan bagi Pemerintah Propinsi, yaitu (1) Duduk bersama antara pengambil kebijakan, institusi pendukung, pelaku dan penyalur padi organik, (2) Promosi dan himbauan yang intensif akan manfaat dan keberadaan padi organik, (3) Meningkatkan peran serta institusi terkait dalam mendukung teknologi, budidaya, kelembagaan serta fasilitasi pemasaran dan kerjasama. Kata kunci: padi organik, teknologi
- ItemPeran PHT, Pertanian Organik dan Buospestisida Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan 25-34(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) I Wayan Laba, Dono Wahyuno, dan Molide RizalPembangunan pertanian sampai saat ini masih menghadapi masalah antara lain pencemaran lingkungan, rendahnya kualitas bahan tanaman, rendahnya produktivitas tanaman, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan residu pestisida pada produk pertanian. Mengatasi masalah tersebut pemerintah sudah melaksanakan pengendalian hama terpadu (PHT), dengan menerapkan komponen PHT yaitu Kultur teknis, Mekanik-fisik, Biologis dan Kimiawi. PHт berdasarkan konsep pemikiran ekologi, penerapan komponen PHT secara terpadu untuk menjaga keseimbangan alam. Konsep PHT, sejalan dengan konsep pertanian organik, penggunaan biopestisida yang merupakan konsep pertanian ramah lingkungan, dilakukan dengan cara memanfaatkan bahan-bahan alami, sehingga proses produksi tidak boleh menggunakan kimia sintetis, agar diperoleh produk pertanian organik dan mampu mempertahankan kualitas lingkungan. Penggunaan pestisida sintetis dalam mewujudkan pertanian berwawasan lingkungan, seyogyanya dihindari, dan dapat diganti dengan biopestisida yaitu pestisida botani yang berasal dari tumbuhan dan pestisida zoologi yang berasal dari virus, bakteri atau jamur. Biopestisida relatif aman, sehingga akan mengurangi pencemaran udara dan bebas dari residu yang membahayakan konsumen. Biopestisida merupakan salah satu komponen utama PHT dalam pertanian organik. Indikator pertanian berkelanjutan adalah tidak menurunnya kualitas lingkungan, terpeliharanya populasi keragaman hayati dan tidak menunjukkan adanya residu pada tanah dan air. PHT, Pertanian organik dan biopestisida meminimalkan residu pestisida pada tanah dan air, meningkatkan kesuburan tanah, menjaga dan meningkatkan keragaman hayati serta aman terhadap lingkungan. Untuk mewujudkan pertanian berwawasan lingkungan sangat ditentukan oleh dukungan berbagai pihak antara lain kebijakan dan kemauan pemerintah, petani, dan para ilmuwan melalui penelitian, pengkajian, penyuluhan, pelatihan dan sosialisasi, serta pelaku usaha di sektor hilir yang memberikan apresiasi yang seimbang terhadap upaya produksi produk organik di sektor hulu.
- ItemAnalisis Usahatani Cabai Merah (Capsicum annum L) Organik dalam Polybag dengan Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) 61-66(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Retna Qomariah dan Lelya PramudyaniKawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan salah satu program pemerintah dalam rangka mendukung upaya diversifikasi pangan dan peningkatan ketahanan pangan nasional. Salah satu prinsif pelaksanaannya adalah ketahanan dan kemandirian pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan secara terencana dan lestari. Salah satu komoditas yang dapat dikembangkan adalah cabai merah (Capsicum annum L) yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Untuk rumah yang pekarangannya sempit atau tidak punya pekarangan diintroduksikan inovasi teknologi budidaya cabai dalam polybag. Penelitian bertujuan untuk mengetahui produksi dan keuntungan usahatani cabai merah (Capsicum annum L) organik dalam polybag dengan media tanam limbah kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pangan dan peluang pendapatan keluarga.Penelitian dilakukan di lokasi pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari Desa Bayan Sari Kecamatan Angsana Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan, sejak Maret sampai Agustuš 2013. Produksi cabai organik dihitung dari hasil panen per polybag, sedangkan keuntungan dan kelayakan usaha diketahui dengan analisis finansial (R/C). Hasil perhitungan produksi cabai organik dalam 250 polybag dengan media tanam limbah kelapa sawit sebanyak 345,75 kg/musim tanam atau 1,4 kg/polybag, biaya Rp 3.153.500,- hasil penjualan/penerimaan Rp 6.915.000, pendapatan/keuntungan Rp 3.761.500,- nilai R/C = 2,19, dengan demikian usahatani cabai merah (Capsicum annum L) organik dalam polybag dapat memenuhi pangan keluarga dan layak dikembangkan sebagai sumber pendapatan keluarga. Kata kunci: budidaya, cabai, organik, KRPL
- ItemManajemen Resiko dalam Pengembangan Pertanian Organik di Indonesia 51-60(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Suci Wulandari dan Agus Wahyudi....Daya tarik konversi pertanian konvensional menuju ke pertanian organik terbagi atas motivasi usahatani dan motivasi personal. Tingkat adopsi pertanian organik di Indonesia diduga dipengaruhi oleh tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan praktik pertanian konvensional. Usahatani organik bersifat labour intensive, penggunaan input luar yang rendah, mempunyai kemungkinan hasil lebih tinggi, serta diikuti dengan resiko lebih tinggi. Resiko mengandung pengertian sebagai perubahan kehilangan (change of loss), kemungkinan kehilangan (possibility of loss), ketidakpastian (uncertainty), penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan, atau probabilitas atas hasil yang berbeda dari yang diharapkan. Resiko pada pertanian organik terdiri dari (1) resiko produksi, (2) resiko pengolahan, penanganan produk, dan pengangkutan, (3) resiko pemasaran, serta (4) resiko kelembagaan. Pada sistem pertanian organik, pengelolaan resiko dapat bersifat pencegahan sebelum resiko terjadi (ex ante) maupun penyelesaian setelah resiko terjadi (ex post), dengan jenis pengelolaan resiko yang bersifat formal maupun non formal. Kata kunci: resiko, pertanian organik, manajemen resiko
- ItemDukungan Pembiayaan Bagi Percepatan Pengembangan Pertanian Organik 43-50(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Agus Wahyudi dan Suci WulandariPertanian organik membutuhkan investasi yang relatif besar, Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan atas: biaya pengembangan lahan, biaya tambahan tenaga kerja, biaya transisi, biaya transfer pengetahuan, blaya pengolahan input organik, biaya sertifikasi, dan biaya promosi. Permasalahan dalam pembiayaan pertanian organik adalah: skema pembiayaan yang ada lebih banyak untuk membiayai usaha budidaya dan memisahkan serangkaian kegiatan lainnya pada rantai nilai komoditas, tingginya risiko usaha, dan belum tercapainya skala ekonomi usaha. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan strategi dalam bidang pembiayaan yang dapat mempercepat pengembangan pertanian organik, antara lain dengan meningkatkan akses terhadap sumber pembiayaan. Beberapa sumber pembiayaan yang dapat digunakan dalam pembiayaan pertanian organik adalah: pembiayaan kredit usaha, dana corporate social responsibility antara lain Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, dan trust fund. Kata kunci: pertanian organik, pembiayaan, dukungan fasilitas
- ItemPerubahan Sifat Fisik Tanah dalam Pertanian Organik 143-152(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2014-06-01) Tagus Vadari, Nura Dian MS, Suci Handayani, dan SukristiyonubowoKesadaran manusia terhadap bahaya residu pupuk kimia dan penggunaan bahan pestisida kimia mendorong sebagian besar masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sehat yang berasal dari pertanian organik. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perubahan sifat-sifat fisika tanah pada pertanian organik dibandingkan dengan pertanian konvensional (non organik). Penelitian dilaksanakan di lokasi budidaya sayuran di Cisarua dan Megamendung, Kabupaten Bogor; penelitian berlangsung sejak April sampai Nopember 2012. Sampel tanah (Andisols) utuh dan tidak utuh diambil pada tiga kedalaman (0-20, 20-40, dan 40-60 cm) pada empat lokasi pertanian organik dan empat lokasi pertanian konvensional. Tanah dianalisis di Laboratorium Fisika Tanah, Fakultas Pertanian, UGM, Yogyakarta. Parameter yang diamati adalah berat volume tanah, porisitas tanah, kemantapan dan distribusi agregat tanah, kuat geser tanah dan indeks pelumpuran. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lahan yang menggunakan sistem pertanian organik selama 2-10 tahun sifat-sifat fisika tanah lebih baik dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional. Hal ini dicirikan dengan berat volume tanah dan indeks pelumpuran tanah pada pertanian organik lebih rendah daripada pertanian konvensional sedangkan porisitas tanah, kemantapan agregat tanah, dan tahanan geser tanah pada pertanian organik lebih tinggi daripada pertanian konvensional. Kata kunci: pertanian organik, sifat fisika tanah, tanah Andisols
- ItemPotensi Permasalahan Model Usahatani Padi di Wilayah Subak Calon Pelaksana Program Gerbang Pangan di Kabupaten Tabanan Bali 119-126(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Made Rai Yasa dan I Nyoman AdijayaKabupaten Tabanan merupakan lumbung berasnya Provinsi Bali, karena 24,5% beras di Bali dipasok oleh daerah ini. Untuk meningkatkan produksi beras, mulai tahun 2013 Pemda Kabupaten Tabanan memprogramkan gerakan pembangunan pertanian (Gerbang Pangan). Program ini diawali dengan penelitian untuk menganalisis potensi dan permasalahan model budidaya padi dengan metode Participatorry Rural Appraisal (PRA). Penelitian dilaksanakan sejak Juli sampai September 2013, di enam subak, di enam kecamatan. Tiap-tiap lokasi, melibatkan 60 orang yang terdiri dari petani, PPL, dinas teknis, Bappeda, aparat desa, termasuk kalangan swasta, dan peneliti serta penyuluh BPTP Bali selaku fasilitator. PRA dilakukan dengan memanfaatkan enam metode, namun pada makalah ini hanya memaparkan hasil dari dua metode (metode analisis finansial dan sejarah program), dengan pokok bahasan terkait penggunaan pupuk dan pestisida. Hasil penelitian menunjukkan, petani di enam subak mengeluarkan biaya pupuk 7,3% lebih rendah dibandingkan biaya usahatani padi pada laboratorium lapang (LL) kegiatan sekolah lapang pengelolaan tananaman terpadu (SLPTT) padi, namun menggunakan biayə pestisida rata-rata 3,1% lebih tinggi dibandingkan pada LL SLPTT. Hasil analisis juga menunjukkan, penggunaan biaya pupuk tertinggi (di atas lab lapang) dikeluarkkan oleh petani di Subak Bulung Daya yang mencapai 33,3%, dan biaya pestisida tertinggi oleh Subak Meliling, yakni mencapai 19,2%; padahal dari metode sejarah program diketahui, seluruh subak yang diteliti telah pernah mendapatkan program SLPTT padi. Dengan demikian, perlu dilakukan pendampingan yang bersifat spesifik lokasi, sesuai dengan permasalahan masing-masing. Kata kunci: Potensi dan permasalahan, usahatani padi, subak
- ItemPengaruh Pemupukan pada Kualitas Simplisia Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 137-142(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2014-06-01) Fibrianty dan Retno Utami HatmiMutu rimpang temulawak sangat tergantung pada umur, tempat tumbuh, dan jenis tanah. Pengkajian ini bertujuan untuk membandingkan kandungan minyak atsiri, kurkumin, kadar serat dan kadar abu pada beberapa sistem pemupukan temulawak di tanah Inceptisol Kulon Progo. Penelitian dilaksanakan sejak September 2010 sampai Juni 2011 di Desa Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Varietas yang dibandingkan adalah Cursina 1 dan Cursina 2 yang merupakan varietas unggul nasional, perlakuan pemupukan yang diuji terdiri dari dua perlakuan yaitu (1) pemupukan organik menggunakan pupuk kandang yang berasal dari kotoran kambing 15 t/ha dan (2) pupuk kandang 15 t/ha + yang 200 kg/ha urea + 200 kg/ha SP 36 + 200 kg/ha KCI. Parameter kualitas simplisia diamati pada umur lima dan tujuh bulan setelah tanam (BST) adalah kandungan minyak atsiri (metode destilasi), kadar kurkumin (metode spektrofotometri), kadar abu dan kadar serat (metode Gravimetri). Analisis simplisia temulawak dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor. Hasil analisis menunjukkan kandungan minyak atsiri pada semua perlakuan meningkat pada umur tujuh BST. Kandungan minyak atsiri Cursina 1 umur tujuh BST pada perlakuan pemupukan organik adalah 5,38%; lebih tinggi dari perlakuan pupuk organic + pupuk yaitu 4,78%. Kadar serat tertinggi diperoleh pada Cursina 1 dengan pemupukan organik (3,97%), sedangkan yang terendah adalah Cursina 1 pada perlakuan pupuk organik + pupuk anorganik (2,90%). Secara umum, kandungan kurkumin pada perlakuan pupuk organik + anorganik lebih tinggi dari perlakuan pupuk organik berturut-turut 1,85 dan 1,73% pada Cursina 1, dan 2,25 dan 1,83% pada Cursina 2. Kata kunci: Curcuma xanthorrhiza, Cursina 1, Cursina 2, pemupukan, kualitas simplisia, kurkumin
- ItemPemanfaatan Hasil Pekarangan dalam Mendukung Pertanian Organik(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Retno Utami Hatmi, Nurdeana Cahyaningrum, dan Nugroho Siswanto 105-112Hingga tahun 2014, Badan Litbang Pertanian masih menjalankan optimalisasi pekarangan melalui program M-KRPL (model kawasan rumah pangan lestari). Pertanian organik di Indonesia terbagi menjadi tiga (3) versi, yaitu LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture), pertanian non-pestisida, dan pertanian organik seutuhnya. Sedangkan, optimalisasi pekarangan yang dilakukan saat ini telah dikelola menurut versi LEISA. Hasil pekarangan yang banyak ditemui salah satunya adalah buah tomat. Tujuan pengkajian ini adalah mengkaji kandungan nutrisi buah tomat pada tiga tingkat kematangan yang paling berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan manisan. Hasil analisa laboratorium tersebut kemudian dianalisa secara statistik menggunakan metode One Way Anova, dilanjutkan uji Duncan. Kandungan nutrisi tersebut mencakup : kadar air (>93%), kadar abu (>0,38%), protein (>0,63%), lemak (>0,19%), serat kasar (>1,99%), karbohidrat (>1,30%), energi (>10,30 cal/100 g), gula total (>1,17%), vitamin C (>31,07 mg/100 g), betakaroten (>2023.83 mg/100 g). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa buah tomat dengan tingkat kematangan sedang paling berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan manisan tomat. Kata kunci: KRPL, pekarangan, tomat, tingkat kematangan
- ItemPenambahan Kultur Mikroba Selulolitik Rumen Kerbau pada Jerami Padi untuk Meningkatkan Kecernaan Pakan Secara In Vitro 113-118(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Nyoman Budiana dan Ni Luh Gede BudiariKetersediaan pakan yang berfluktuatif dan harga bahan konsentrat yang mahal merupakan kendala dalam pengembangan ternak. Alternatif penyediaan pakan yang berkelanjutan dengan harga yang murah dapat dilakukan dengan pemanfaatan limbah pertanian dan ikutan industri pertanian. Jerami padi merupakan limbah pertanian yang berpotensi sebagai pakan ternak, karena ketersediaannya yang banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kandungan protein dan kecernaan bahan keringnya yang rendah merupakan faktor pembatas dalam pemberiannya ke ternak. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kandungan gizi dan kecernaan bahan kering dari jerami padi adalah dengan penambahan kultur mikroba selulolitik dari cairan rumen kerbau. Penelitian ini dilakukan secara invitro di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat perlakuan, yaitu (A) penambahan kultur mikroba selulolitik rumen kerbau sebesar nol persen, (B) penambahan kultur mikroba selulolitik rumen kerbau sebesar 0,2%, (C) penambahan kultur mikroba selulolitik rumen kerbau sebesar 0,4%, dan (D) penambahan kultur mikroba selulolitik rumen kerbau sebesar 0,6%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga terdapat 12 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukan dengan penambahan kultur mikroba selulolitik rumen kerbau sebesar 0,6% (D) menghasilkan kecernaan bahan kering sebesar 48,67% dan kecernaan bahan organik sebesar 55,10%. Kata kunci: kultur mikroba selulolitik rumen kerbau, jerami padi, kecernaan
- ItemPemanfaatan Pupuk Organik untuk Pertanian Organik dan Lingkungan Berkelanjutan 127-136(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2014-06-01) Ishak JuarsahPupuk organik berupa kompos dan pupuk kandang dewasa ini sudah biasa digunakan petani untuk memperbaiki produktivitas tanah. Perkembangan usahatani ternak yang mempunyai prospek cukup baik memperkaya alternatif pengadaan pupuk kandang seperti kotoran sapi, kambing dan ayam. Pengadaan pupuk organik dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi seluruh kebutuhan tanaman pangan merupakan hal yang sulit direalisasikan, tetapi sangat mendesak apabila produksi pangan diharapkan mencapai tingkat optimal. Pupuk atau bahan organik tanah merupakan sumber nitrogen tanah yang utama. Fungsi pupuk organik di dalam tanah dibagi menjadi tiga kelompok yakni fungsi fisika, kimia dan biologi. Ke tiga fungsi ini akan mempengaruhi kehidupan tanaman untuk dapat tumbuh normal dan berproduksi secara optimal. Dewasa ini mulai dilaksanakannya sistem pertanaman padi SRI oleh para petani mendorong mulai diproduksinya kompos atau kompos in situ. Program pengembangan pertanian melalui teknik konservasi dengan mengintegrasikan ternak dan tanaman (crop-livestock) serta penggunaan tanaman legume baik berupa tanaman lorong (alley crooping) maupun tanaman penutup tanah (cover crop) sebagai pupuk hijau maupun kompos perlu digalakkan dan diintensifkan. Pencanangan "Go organic 2010" oleh Departemen Pertanian diharapkan akan menunjang perkembangan pupuk organik di Indonesia. Kata kunci: Organik, sifat fisik, kimia, biologi dan lingkungan, produktivitas lahan
- ItemPenggunaan Berbagai Pupuk Organik pada Tanaman Padi di Lahan Sawah Irigasi 211-216(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Endjang Sujitno dan KurniaSeiring dengan peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan terhadap beras sebagai bahan makanan pokok secara langsung akan semakin meningkat, sehingga diperlukan usaha untuk meningkatkan produksi padi dalam memenuhi kebutuhan beras masyarakat. Penggunaan lahan sawah secara intensif dengan menggunakan bahan kimia yang tidak berimbang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan unsur hara dalam tanah yang berakibat pada melandainya tingkat produksi padi (leveling off). Upaya untuk meningkatkan kesuburan lahan perlu dilakukan, agar tingkat produksi padi kembali meningkat, salah satunya adalah dengan mengaplikasikan pupuk organik dalam pelaksanaan budidaya padi. Hal ini dimungkinkan karena pupuk organik berperan penting dalam menjaga dan meningkatkan kesuburan lahan. Rancangan pengujian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pupuk organik ternak sapi, pupuk organik ternak domba, dan pupuk organik Kujang sebagai perlakuan, dan sebagai pembanding adalah kebiasaan petani tanpa menggunakan pupuk organik. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tujuh kali. Penelitian dilakukan pada lahan petani yang berlokasi di Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, sejak Mei sampai September 2011. Produktivitas tertinggi diperoleh dari perlakuan dengan pupuk kompos ternak sapi sebesar 8,84 t ha¹, kompos ternak domba sebesar 8,72 t ha dan pupuk organik kujang sebesar 8,56 t ha¹, sedangkan bila tanpa pupuk organik diperoleh hasil 7,07 t ha¹. Kata kunci: Produktivitas, padi, kesuburan lahan, pupuk organik
- ItemAdaptasi Beberapa Galur Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) di Lahan Medium Beriklim Basah di Bali dengan Budidaya Organik 205-210(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Ida Bagus Artibawa dan I Ketut KariadaTomat (Lycopersicon esculentum Mill.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang multiguna karena selain berfungsi sebagai sayuran dan buah, tomat juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar kosmetika serta obat-obatan. Produksi tomat di Provinsi Bali tahun 2012 (30.880 ton) menurun bila dibandingkan dengan tahun 2011 (33.542 ton). Pemanfaatan salah satu varietas tomat yang terus menerus di setiap musim menyebabkan menurunnya produktivitas tomat. Kajian adaptasi beberapa galur tomat telah dilaksanakan di lahan medium beriklim basah, di Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Tabanan Bali pada MT. 2013. Tujuan dari kajian tersebut adalah untuk mengetahui daya adaptasi dari masing-masing galur di lahan medium beriklim basah dengan pendekatan budidaya organik, yaitu dengan pemberian 25 ton pupuk organik. Kajian menggunakan rancangan acak kelompok, empat perlakuan diulang lima kali. Perlakuan yang dimaksud adalah tiga galur introduksi, yaitu CLN 2026D, CLN 3024, CLN3078 dan varietas tomat Permata sebagai pembanding. Parameter yang diamati adalah, tinggi tanaman, jumlah tandan, jumlah buah, berat rata-rata buah dan produksi tomat per hektar. Hasil analisis menunjukkan varietas berpengaruh nyata terhadap rata-rata jumlah buah tomat per tanaman. Jumlah buah tomat terendah dihasilkan oleh klon CLN 3024, yaitu 4,25 buah per tanaman dan tertinggi dihasilkan oleh varietas pembanding, yaitu varietas Permata dengan jumlah buah 16,25 buah pertanaman. Sedangkan potensi produksi tertinggi dihasilkan oleh galur CLN2026D, yaitu 36,75 t/ha. Kata kunci: Lycopersicon esculentum, adaptasi, lahan medium, budidaya organik
- ItemOptimalisasi Usaha Ternak Kelinci pada Pemanfaatan Pekarangan Menuju Pertanian Organik 199-204(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Ni Luh Gede Budiari, I Nyoman BudianaKelinci memiliki potensi untuk dikembangkan dilahan pekarangan karena tidak membutuhkan lahan yang luas. Pemanfaatan kotoran dan urinenya untuk pupuk organik bagi tanaman sayuran dilahan pekarangan akan menekan penggunaan pupuk kimia. Pengkajian ini dilaksanakan di Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, sejak Oktober 2013 sampai Pebruari 2014. Komponen teknologi yang yang dikaji adalah (1) pemanfaatan limbah sayuran untuk penggemukan ternak kelinci, dan (2) Potensi kotoran dan urine kelinci sebagai penyedia pupuk organik. Pada penggemukan kelinci percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan pakan, masing-masing perlakuan menggunakan delapan ekor kelinci jantan lokal umur enam minggu sebagai ulangan. Perlakuan pakan yang diberikan yaitu PO : Kelinci diberikan 100% limbah sayuran, P1: P0 + pollard 50 g/ekor/hari dan P2: PO + pellet 50 g/ekor/hari. Parameter yang diamati berat badan awal, berat badan akhir, pertambahan berat badan, produksi feses, produksi kencing dan potensi kotoran dan urine kelinci sebagai penyedia pupuk organik. Hasil pengkajian menunjukan kelinci yang diberikan limbah sayuran 100% menghasilkan pertambahan berat badan 18,37 g/ekor/hari nyata lebih rendah (P<0,05) dari perlakuan P1 dan P2 yaitu 13,14% dan 23,11%. Produksi feses kelinci yang diberikan limbah sayuran 24,81 g/ekor/hari nyata lebih rendah (P<0,05) dari P1 dan P2, sedangkan produksi urinenya 21,78 ml/ekor/hari nyata lebih tinggi (P<0,05) dari P2 dan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan P1. Potensi pupuk organik dari delapan ekor kelinci cukup untuk menanami 10-15 tanaman dalam polybag dengan perbandingan tanah: pupuk organik: urine (4 : 1 : 1). Hasil pemanfaatan pupuk organik dengan urine kelinci berpengaruh nyata terhadap produksi buah dibandingkan dengan menggunakan tanah dengan kompos saja. Kata kunci: kelinci, pupuk organik, lahan pekarangan, pertanian organik
- ItemPemanfaatan Ela Sagu sebagau Pupuk untuk Budidaya Jagung Ketan Kisar Organik 287-294(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Aurellia Tatipata dan Agustinus JacobJagung ketan atau pulut lokal merupakan makanan pokok bagi masyarakat di pulau Kisar Kabupaten Maluku Barat Daya. Rasa bijinya yang enak jika direbus atau dijadikan olahan lainnya memungkinkan untuk dibudidayakan dan ditingkatkan produksinya secara organik pada Kabupaten lain di Maluku melalui penggunaan pupuk organik ela sagu. Tujuan dari penelitian adalah mendapatkan dosis pupuk organik ela sagu terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi jagung ketan lokal. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak 1 faktor dan tiga ulangan. Faktor yang dicobakan yaitu pupuk organik ela sagu (A), terdiri dari 5 taraf dosis antara lain 0 ton ha¹ (A); 7,5 t ha¹ (A₁); 10 t ha¹ (A,); 12,5 t ha¹ (A3); 15 t ha¹ (A4). Peubah yang diamati adalah peubah vegetatif antara lain tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan peubah produksi antara lain panjang tongkol, diamater tongkol, berat tongkol dan berat pipilan kering serta serapan hara tanaman. Data dianalisis menggunakan analisis varian pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 t ha¹ pupuk organik menghasilkan tanaman tertinggi,jumlah dan luas daun serta panjang, diameter, berat tongkol dan berat pipilan kering tertinggi dibandingkan dengan dosis pupuk lainnya. Kesimpulan dari penelitian adalah 15 t ha¹ merupakan dosis pupuk organik ela sagu terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi jagung ketan lokal. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa ela sagu berpotensi dijadikan sebagai pupuk organik untuk digunakan dalam budidaya tanaman jagung ketan Kisar secara organik di luar habitat aslinya. Kata kunci: Ela sagu, pupuk, jagung ketan kisar
- ItemKajian Bakteri Penghadul Hormon Tumbuh IAA Sebagai Pupuk Organik Hayati dan Kandungan IAA Selana Penyimpanan 279-286(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Sarjiya Antonius,a Dwi Agustyani, Hartati Imamuddin, Tirta Kumala Dewi, dan Nur LailiZat pengatur tumbuh (ZPT) tanaman sangat penting perannya dalam mendukung pengembangan dan pertumbuhan tanaman. Sudah pasti benih (biji) tidak akan berkecambah atau tumbuh dan berkembang tanpa ada peran dari ZPT. Rizobakteri pemacu tumbuh tanaman (RPTT) diketahui mampu menghasilkan hormone tumbuh, seperti auksin, sitokinin, dan gibberelin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji rizobakteri pemacu tumbuh tanaman (RPTT) dalam menghasilkan IAA dan kandungan IAA pada pupuk organik setelah penyimpanan pada rentang waktu yang berbeda. Mikroba penghasil IAA telah diisolasi dari beragam ekosistem. Kemudian dikarakterisasi pengaruh prekusor Tryptophan terhadap kemampuan RPTT dalam memproduksi IAA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri penghasil IAA dapat diisolasi tidak hanya dari ekosiostem perakaran, tetapi juga dari tanah tumpukan limbah tandan pisang. Bakteri RPTT yang diisolasi dari limbah tandan pisang menunjukkan aktifitas produksi IAA paling tinggi. Sekitar 10 isolat unggulan terpilih digunakan dalam formula pupuk organik hayati (POH) dengan bahan organik yang mudah didapat dan dari monitoring selama penyimpanan, ternyata kandungan IAA semakin meningkat ketika dalam penyimpanan. Kata kunci: bakteri perakaran, zat pengatur tumbuh, pupuk organik hayati
- ItemStrategi Konservasi Tanah Dalan Sistim Pertanian Organik Tanpa Olah Tanah 272-278(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Deddy ErfandiKaidah konservasi tanah diunggulkan untuk mengurangi penurunan kualitas tanah, sehingga produktivitas tanah dapat dipertahankan atau ditingkatkan. Praktek konservasi tanah umumnya dapat mengurangi kecepatan aliran permukaan dan erosi tanah serta, meningkatkan kadar bahan organik tanah. Tantangan bagi produsen adalah untuk menemukan dan menerapkan system konservasi tanah yang sesuai dengan komoditas dan spesifik lokasi. Disamping itu tantangan yang besar untuk pertanian organik adalah tanpa penggunaan herbisida, sehingga gulma tumbuh dengan bebas. Dalam tulisan ini dibahas teknik konservasi tanah dalam mendukung sistim pertanian organik. Erosi tanah yang disebabkan oleh air hujan bukan hanya mengangkut partikel-partikel tanah saja, tetapi juga mengangkut hara tanaman dan bahan organik yang berasal dari dalam tanah maupun dari input pertanian. Hal ini menyebabkan kualitas lahan menjadi turun dan produktivitas tanaman rendah. Pengolahan konservasi tanah masih kurang popular dan belum banyak diterima secara luas di masyarakat petani organik, karena perlakuan pengolahan tanah tersebut masih dianggap untuk mengendalikan gulma. Namun pengolahan konservasi tanah memiliki tujuan jauh kedepan yaitu untuk mempertahankan kelembaban tanah dan mengurangi erosi tanah dengan cara menutup sepertiga lahan dengan pengmbalian sisa tanaman. Untuk itu petani organik didorong untuk mengadopsi pengolahan konservasi tanah untuk mempertahankan kualitas, kesuburan tanah dan mencegah degradasi tanah serta pemadatan tanah. Manfaat dari pengolahan konservasi tanah dalam pertanian organik selain berkurangnya erosi, juga makroporositas menjadi lebih besar pada permukaan tanah. Kelemahan pengolahan konservasi tanah dalam pertanian organik adalah tekanan yang lebih besar dari gulma rumput pada daerah dengan curah hujan tinggi. Pendekatan inovatif untuk strategi pengolahan konservasi tanah, seperti mulsa abadi, kontrol mekanik tanaman penutup, dan pengolahan rotasi tanaman merupakan perlakuan yang dapat diterapkan secara bersama-sama dengan pengolahan minimum. Pengolahan tanah minimum dan pengolahan tanah dengan mulsa jerami sangat efektif dalam mengurangi aliran permukaan dan erosi tanah dibandingkan dengan pengolahan tanah konvensional. Kata kunci: mulsa, rotasi tanaman, tanpa olah tanah, pertanian organik
- ItemPotensi Jerami Padi untuk Perbaikan Sifat Fisik Tanah pada Lahan Sawah Terdegradasi, Lombok 263-270(Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Deddy Erfandi dan NurjayaKonsep pertanian organik adalah salah satunya memelihara kesuburan tanah serta memanfaatkan sistem konservasi tanah dengan pengembangan pengetahuan lokal pada kondisi petani lokal. Pengembalian sisa tanaman memang masih kurang popular di tingkat petani lokal. Namun tradisi jerami dengan cara dibakar di lahan, itu merupakan bentuk pemeliharaan kesuburan tanah pada lahan sawah. Penelitian telah dilakukan pada lahan sawah yang keadaan sifat fisik tanah menurun, pada lokasi Labu Api, Lombok Barat, NTB, selama 2 musim tanam padi. Ada beberapa perlakuan jerami padi yang diterapkan, yaitu jerami padi yang telah dikomposkan, jerami padi+pupuk hayati dan pemberian langsung jerami segar. Namun penelitian ini juga menerapkan pupuk kandang sebagai pembanding. Tujuan penelitian untuk melihat potensi jerami padi dalam memperbaiki sifat fisik tanah. Berdasarkan hasil penelitian pengolahan tanah yang intensif berpengaruh pada kepadatan tanah termasuk BD (bulk density). Penggunaan jerami padi, baik dalam keadaan segar atau dikomposkan dapat menurunkan BD rata-rata 15-23%. Begitu juga dengan halnya, ruang pori total dan pori aerasi yang meningkat rata-rata 10%. Namun permeabilitas cukup lambat dalam infiltrasinya, hal ini memang cukup efektif dalam kondisi sawah yang anaerobik. Penggunaan jerami segar ternyata lebih efektif dibandingkan dengan jerami yang sudah dikomposkan. Perlakuan pupuk kandang belum efektif, namun cenderung lebih baik dari jerami yang dikomposkan. Aplikasi yang dapat efektif memperbaiki sifat fisik tanah dan meningkatkan hasil padi pada lahan sawah terdegradasi adalah pemberian jerami padi dalam keadaan segar atau berupa kompos dan dengan pemberian pupuk kandang. Kata kunci: jerami padi, sifat fisik tanah, lahan sawah terdegradasi, Lombok Barat
- «
- 1 (current)
- 2
- 3
- »