Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Serangan Penggerek Padi Kuning (Scirpophaga Incertulas) dan Penampilan Agronomis Galur-galur Padi Gogo
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) Suprapto; Mustikawati, Dewi Rumbaina; Widyantoro
Abstrak Observasi serangan penggerek padi kuning (Scirpophaga incertulas) pada 17 galur padi gogo telah dilakukan di BPTP Lampung pada tahun 2005 di Desa Rama Mukti, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah. Galur-galur padi gogo diuji dan disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 18 perlakuan dan diulang empat kali. Perlakuan yang diuji yaitu 17 galur padi gogo dan satu varietas Batutegi sebagai pembanding, Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur TB.356b-Tb-20-l lebih toleran terhadap penggerek padi kuning di banding galur lainnya, Bobot gabah galur tersebut 95,8 g/5 rumpun, jumlah gabah isi 149,1 butir/malai, tinggi tanaman 120 cm, produksi gabah kering panen (GKP) 4,31 t/ha. Vigor rase vegetatif dan generatif sedang dan bulir masak 80% pada umur hari 111 hari Abstract The Yellow Rice Borer (Scirpophaga incertulas) Infestation and the Agronomic Traits Performance of Several Upland Rice Lines. A field trial to evaluate the tolerance of 1 7 gogo rice line to the yellow rice borer was conducted in the wet season of 2005. The trial was conducted in the endemic white rice borer area in Rama Mukti, Seputih Raman District, Central Lampung. The experiment was arranged in a Randomized Block Design with four replications, Results indicated that there were significant different in the damage levels among upland rice lines due to yellow rice borer. As compared to Batutegi variety and other lines, TB.356b-Tb-20-1 showed a low eat infestation white rice borer, higher plant/stool, higher plant hights, higher total grain ‘panicle, higher total grain production about 4.31 t/ha, higher 1000 grain weight, better vegetative growth, and more vigour generative growth.
Item
Buletin Palawija Volume 19 No. 2 Oktober 2021
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2021-10) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Item
Keefektifan Pestisida Nabati dan Insektisida Sintetik Terhadap Keong Mas dan Penggerek Batang Padi Serta Pengaruhnya Terhadap Fauna Air
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) N. Kurniawati; Hidayat, Wahyu; Suharto, Hendarsih
Abstrak Pestisida nabati yang mengandung persenyawaan saponin, biji teh (Camellia sinensis), limbah teh, dan rerak (Sapmdicus rarak) efektif terhadap keong mas (Pornacea canaliculata L). Lebih jauh untuk mengetahui efektifitas terhadap keong mas dan daya racun terhadap fauna air dari pestisida nabati dibandingkan dengan insektisida sintetik dilakukan percobaan lapang di Karawang dan di Sukarnandi pada tahun 2006. Perlakuan terdiri dari Saponin konsentrasi YI, biji teh 0, I VI, limbah teh 10 g/l, rerak 05 g/l, dimehipo I,2 g bahan aktif (ba)/l, kartap 0.25 g bal l, karbosulfan 0,4 g ba/l, bensultaf 0,1 g ba/l dan fipronil 0,05 g ba/l dan kontrol Pestisida nabati diaplikasikan bersamaan dengan Waktu tanam, sedangkan irrsektisida sintetik diaplikasikan dengan cara merendam bibit (seedling dipping) selarna dua jam. Selanjutnya insektisida diberikan tiap dua minggu dirnulai setelah tanaman bemmur lebih dari empat minggu dan ada gejala serangan penggerek batang. Siput sawah (Bellamya javanica) dan ikan nus (Cyprinus carpio) mempakan fauna yang mevvakili fauna air. Pada 2 dan 5 hari setelah tanarn ke dalam kurungan kasa dirnasukkan 20 x ekor siput sawah dan 10 ekor ikan mas dan kurungan tersebut dirnasukkan ke dalam caren dilaksanakan dalarn Rancangan Acak Kelompok dengan 4 ulangan. Värietas yang digunakan adalah Ciherang. Hasil percobaan menunjukkan saponin, rerak dan insektisida kartap dapat mengurangi tingkat kerusakan maman Oleh keong rnas secara nyata di Karawang rnaupun di Sukamandi sedangkan biji teh hanya mengurangi kerusakan di Karawang saja, Insektisida dimehipo, kartap, kabosulfan, dan bensultaf efektif terhadap penggerek batang, sedangkan dari golongan pestisida nabati hanya pestisida rerak yang erektif terhadap penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas W). Sampai 8 minggu setelah tanam, rerak dapat menekan serangan penggerek batang hingga 3,5%. Di antara pestisida yang sangat toksik terhadap ikan mas yaitu limbah teh pada infestasi bersarnaan dengan aplikasi pestisida, sedangkan pada 3 hari setelah aplikasi tidak toksik. Insektisida dimehipo, kartap, karbosulfan, bensultaf, dan pestisida nabati saponin, rerak dan biji teh tidak berpengaruh terhadap ikan mas. Abstract The Effectiveness of Botanical and Synthetic Insecticides to the Golden Apple Snail (Pomacea canaliculata L) and the Rice Stemborer (Scirpophaga incertulas W) and Their Effect on the Water Faunas. Based on the previous trials, botanical pesticides which contain saponin compound were effective against the golden apple snail (Pomacea canaliculata L). The botanical pesticides above- mentioned were Saponin, waste tea (Camellia chinensis) product, tea seed, and rerak or soap fruit (Sapindicus rarak). Some insecticides which were registered for the rice stem borer were reported to be effective to the golden apple snail (GAS). TO evaluate the effectiveness of these botanical pesticides and chemical insecticides against CAS, rice stemborer and water faunas, a field trials were conducted in Karawang and Sukamandi during the year of 2006. The treatments were Saponin 0.5 g/l, tea seed 0.1 g/l, waste tea product 10 VI, rerak 0.5 g/ l, dimehipo 1.2 g active ingredient (ai)/l, cartap 0.25 g ail], carbosulfan 0.4 g ai/l, bensultaf 0,1 g ai/l and fipronil 0.05 g ai/l. Each of botanical pesticide in ground form was applied at the transplanting date, While the chemical insecticides were applied through seedling dipping. All treatments were compared to control or no pesticide ap- plication. Fish carp (Cyprinus carpio) and local snail (Bellamya jauanica) were the focus of observation to represent water faunas. Two and five days after transplanting, a cage containing 20 of fish carps and 20 local snails was located in a trench in each treatment plot. The trials were done in a RCBD arrangement with three replications, planted with Ciherang rice variety The results showed that Saponin and rerak as botanical pesticides and cartap insecticide reduced plant damage due to GAS in both Karawang and Sukamandi, while tea seed effective at Karawang only. Saponin significantly reduced GAS population in the field. Dimehipo, cartap, carbosulfan, and bensultaf were effective to the yellow stem borer (Scirpophaga incerlulas W). Among botanical pesticides Only soap fruit (rerak) effective against the yellow rice stemborer. The waste tea product was very toxic to fish carp in first infestation, but them was not toxic at 3 days after application of the pesticide.
Item
Performance of Agronomic Characters of Soybean Lines Derived from Different Crossing
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2022-10) Purwantoro; Sutrisno; Heru Kuswantoro
Produktivitas tinggi selalu menjadi prioritas utama dalam kegiatan pemuliaan tanaman kedelai saat ini. Dengan diperolehnya varietas unggul maka peluang peningkatan produksi kedelai nasional dapat dicapai, dan hal ini akan berdampak positif terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa karakter terpilih yang mendukung hasil tinggi pada beberapa genotipe hasil persilangan. Penelitian dilakukan pada tahun 2017 menggunakan 26 galur kedelai yang berasal dari persilangan antar tetua yang berbeda. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur-galur yang diuji menunjukkan perbedaan umur berbunga, umur masak, tinggi tanaman, jumlah cabang per tanaman, jumlah buku produktif per tanaman, jumlah polong isi per tanaman, bobot 100 biji, dan hasil biji per tanaman. Galur dengan umur masak yang sama terjadi karena proses seleksi. Hasil biji berkorelasi nyata dengan jumlah buku per tanaman, dan jumlah polong isi per tanaman. Tetua persilangan memiliki pengaruh pada pengelompokan. Ada dua kelompok besar dengan Tgm/Anj-773 sebagai kelompok yang terpisah. Jumlah polong isi tertinggi dicapai oleh Grb/Lwt-17, sedangkan hasil biji tertinggi dicapai oleh Tgm/Anj-773. Selain hasil biji tertinggi, Tgm/Anj-773 juga memiliki umur berbunga genjah, jumlah cabang, buku subur dan polong isi yang banyak, sehingga berpeluang untuk dilepas sebagai varietas dengan potensi hasil tinggi.
Item
Interaksi Genotipe dan Lingkungan terhadap Karakter Ubijalar Lokal Papua yang Bernilai Ekonomi Berdasarkan Analisis AMMI
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2022-10) Yohanis Amos Mustamu Et al.
Ubijalar merupakan tanaman pangan penting di Papua dan terdapat sejumlah varietas lokal yang tersebar di berbagai daerah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi pengaruh interaksi genotipe dengan lingkungan terhadap keragaan genotipe ubi jalar lokal Papua berdasarkan karakter ukuran dan bobot ubi yang bernilai ekonomi dan mendapatkan genotipe yang memiliki daya adaptasi luas berdasarkan karakter tersebut. Penelitian dilaksanakan di tiga kabupaten, yaitu Manokwari, Biak Numfor, dan Supiori pada bulan Juli hingga Desember 2020 dan pengamatan dilakukan terhadap 12 genotipe ubi jalar, yaitu Amban Pantai, Arfai, SP5, Kaimana2, Oransbari, Abepura, Koya1, Koya3, Koya5, Koya6, Koya7, dan Koya8. Hasil penelitian menunjukkan interaksi genotipe dan lingkungan berpengaruh nyata (p <0,01) terhadap jumlah dan bobot ubi. Berdasarkan analisis AMMI, diperoleh beberapa genotipe yang stabil berdasarkan karater jumlah ubi yang bernilai ekonomi, yakni SP5, Koya1 dan Koya3, sedangkan genotipe yang stabil berdasarkan karakter bobot ubi yang memiliki nilai ekonomi adalah SP5, Abepura, Koya1, Koya3, Koya5, dan Koya7.