Repositori Kementerian Pertanian
Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:
- terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
- berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
- tidak berkala (leaflet, poster, infografis)
Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.
Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Communities in Repositori
Select a community to browse its collections.
Now showing 1 - 10 of 10
Recent Submissions
Item
Diversifikasi Pangan Berbasis Ubikayu
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Joni S. Munarso; Misklyah
Diversifikasi pangan karbohidrat berbasis ubikayu merupakan langkah strategis untuk memantapkan ketahanan pangan nasional, khususnya di daerah yang mengalami defisit pasokan beras. Pengembangan ubikayu menghadapi tantangan terkait pergeseran status sosial dan persepsi budaya yang mengidentikkan ubikayu dengan makanan masyarakat miskin, sehingga diperlukan promosi mengenai keunggulan gizi, kemudahan adaptasi agronomis, serta biaya produksi kalori yang 30% lebih murah dibandingkan beras. Untuk menjamin ketersediaan bahan pangan secara merata, peningkatannya perlu didukung oleh target pertumbuhan produksi minimal 3,63% per tahun di wilayah defisit maupun surplus beras, sistem distribusi yang memadai, serta perbaikan nilai gizi melalui formulasi tepung komposit (campuran tepung kasava dan aneka kacang). Penerapan teknologi tepat guna dalam mengolah ubikayu menjadi produk siap olah, cepat saji, dan siap santap—seperti tepung modifikasi, mie instan, tiwul instan, serta aneka kue—berperan penting dalam meningkatkan nilai tambah, memperbaiki citra produk tradisional, dan mendorong penganekaragaman konsumsi pangan berbasis bahan lokal secara berkelanjutan.
Item
Dinamika Budi Daya Ubikayu
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) J. Wargiono Et al.
Peningkatan produksi ubikayu nasional untuk memenuhi kenaikan permintaan bahan baku industri dan pangan (sebesar 5–7% per tahun) menghadapi kendala utama berupa fluktuasi dan penurunan luas panen akibat konversi lahan, khususnya di Jawa. Oleh karena itu, strategi pengembangan diarahkan pada ekstensifikasi—terutama pemanfaatan 0,9 juta ha lahan tidur padang alang-alang di wilayah beriklim basah seperti Sumatera dan Kalimantan—serta intensifikasi berbasis teknologi adaptif untuk meningkatkan produktivitas dari tingkat subsisten (10–15 t/ha) menuju usahatani komersial (20–30 t/ha). Penerapan pola tanam yang fleksibel, seperti tumpangsari dan pergiliran tanaman, terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan (LER 1,6–2,1), menekan risiko gagal panen, serta efisien dalam penggunaan pupuk. Untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku industri (seperti tapioka, bioetanol, dan gula cair) sekaligus menstabilkan harga ubi segar di tingkat petani (Rp300–350/kg), pengembangan kawasan usahatani perlu diintegrasikan secara sinergis dengan industri pengolahan regional serta pengelolaan tanaman terpadu.
Item
Areal Pertanaman dan Sistem Produksi
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) J. Wargiono Et al.
Peningkatan produksi ubikayu nasional untuk memenuhi kenaikan permintaan bahan baku industri dan pangan (sebesar 5–7% per tahun) menghadapi kendala utama berupa fluktuasi dan penurunan luas panen akibat konversi lahan, khususnya di Jawa. Oleh karena itu, strategi pengembangan diarahkan pada ekstensifikasi—terutama pemanfaatan 0,9 juta ha lahan tidur padang alang-alang di wilayah beriklim basah seperti Sumatera dan Kalimantan—serta intensifikasi berbasis teknologi adaptif untuk meningkatkan produktivitas dari tingkat subsisten (10–15 t/ha) menuju usahatani komersial (20–30 t/ha). Penerapan pola tanam yang fleksibel, seperti tumpangsari dan pergiliran tanaman, terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan (LER 1,6–2,1), menekan risiko gagal panen, serta efisien dalam penggunaan pupuk. Untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku industri (seperti tapioka, bioetanol, dan gula cair) sekaligus menstabilkan harga ubi segar di tingkat petani (Rp300–350/kg), pengembangan kawasan usahatani perlu diintegrasikan secara sinergis dengan industri pengolahan regional serta pengelolaan tanaman terpadu.
Item
Alat dan Mesin Penepung Skala Pedesaan
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Sutrisno; J. Warglono
Pengembangan alat dan mesin pengolah ubi kayu skala pedesaan—terdiri dari mesin penyawut (seperti Mesra-1, Mesra-2, dan Triguna), pengepres (tipe ulir dan dongkrak), pengering berbahan bakar limbah pertanian (seperti tungku sekam ABC), serta penepung tipe disk mill—menjadi solusi teknis dan ekonomis yang sangat strategis untuk mengatasi defisit pasokan tepung kasava dan tapioka nasional akibat tingginya permintaan industri. Tahapan proses pengolahan yang paling efektif dilakukan dengan mengubah ubi segar menjadi sawut, dilanjutkan pengepresan untuk menurunkan kadar air hingga 50% dan menekan kadar HCN, lalu dikeringkan pada suhu ideal $\pm60^{\circ}\text{C}$ tanpa menyebabkan gumpalan, hingga akhirnya ditepungkan menjadi tepung kasava berkehalusan 80 mesh dengan rendemen sekitar 35% dari bobot ubi basah. Pengintegrasian alur produksi ini melalui kemitraan model inti-plasma—yang menghubungkan penyawutan skala rumah tangga/kelompok tani dengan penepungan skala koperasi (KUD) maupun swasta—terbukti sangat layak secara finansial (diindikasikan oleh nilai NPV positif, IRR yang tinggi berkisar 29–48%, serta Net B/C yang menguntungkan), sehingga mampu menstabilkan fluktuasi harga ubi segar di tingkat petani, memotong biaya pengangkutan, dan mengoptimalkan nilai tambah komoditas di wilayah pedesaan.
Item
Inovasi Teknologi dan Kebijakan Pengembangan Ubikayu
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
Membahas kebijakan, inovasi teknologi, dan prospek pengembangan agribisnis ubi kayu di Indonesia untuk mengatasi defisit pasokan serta meningkatkan nilai tambah komoditas. Meskipun permintaan ubi kayu untuk pangan dan bahan baku industri terus meningkat—termasuk untuk tepung kasava, tapioka, aneka gula, dan bioetanol—produksi nasional berbasis luas panen mengalami penurunan, sementara produktivitas bertumbuh 5,48% per tahun. Untuk mencapai sasaran swasembada dan mengembalikan status Indonesia sebagai eksportir di pasar internasional, dirumuskan strategi integrasi hulu-hilir melalui intensifikasi (penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu/PTT, varietas unggul multiumur berkadar pati tinggi, pemupukan berimbang) dan ekstensifikasi dengan memanfaatkan lahan tidur di wilayah beriklim basah (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi). Selain itu, penataan industri pengolahan skala lokal dan kemitraan regional dinilai prospektif untuk menstabilkan harga ubi segar on-farm, memotong rantai pasok, mendorong pergeseran usahatani dari subsisten menjadi komersial, serta meningkatkan ketersediaan pangan fungsional berindeks glikemik rendah dan kaya pati resisten (RS-2) bagi masyarakat.