Bunga Rampai Inovasi Tanaman Atsiri Indonesia
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Bunga Rampai Inovasi Tanaman Atsiri Indonesia by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 29
Results Per Page
Sort Options
- ItemKesesuaian Lahan dan Iklim Tanaman 57-64(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Rosihan RosmanTanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) membutuhkan lahan dan iklim yang sesuai agar mampu tumbuh dan berproduksi secara optimal. Berdasarkan hasil penelitian, pengalaman dan referensi yang ada, telah disusun kriteria kesesuaian lahan dan iklim untuk nilam yang selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi untuk tanaman nilam. Wilayah yang telah dipetakan adalah Aceh, Banten, Jawa Barat dan Lampung. Dari hasil penyusunan peta kesesuaian lahan dan iklim didapatkan wilayah amat sesuai, sesuai dan hampir sesuai untuk tanaman nilam. Peta yang dihasilkan dapat dipakai sebagai pedoman untuk perluasan area dan penentuan teknologi budidaya yang dibutuhkan. Teknologi berbasis kondisi lahan dapat menentukan upaya perbaikan yang diperlukan agar tanaman mampu berproduksi maksimal. Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, kesesuaian lahan dan iklim.
- ItemPenanganan Pasca Panen Tanaman Mentha arvensis 151-154(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Sintha SuhirmanKomponen utama minyak Mentha arvensis adalah mentol, menthon dan metil asetat. Kandungan mentol meningkat sejalan dengan meningkatnya umur tanaman dan mencapai maksimum pada saat berbunga. Mentol digunakan dalam berbagai industri, termasuk industri cokelat dan kembang gula, minuman, farmasi dan kosmetik. Teknik penanganan pascapanen tanaman atsiri terdiri dari sortasi, pengeringan dan penyulingan. Salah satu penanganan pascapanen yang penting adalah pengeringan. Terna mentha dijemur selama 2 jam setiap hari dari pukul 8.00-10.00 kemudian diangin-angin di tempat teduh sampai kadar air 30-35%. Setelah kering angin, kemudian disuling dengan cara penyulingan air dan uap selama 4 jam. Rendemen minyak 0,6% dari bahan kering dan 0,2% dari terna basah. Posisi daun pada tanaman mentha dan umur daun berpengaruh terhadap kualitas minyak mentha dan kandungan mentol, pasangan daun ke-4 dari bawah memiliki kandungan mentol tertinggi dan menurun hingga pasangan daun ke-14, pucuk memiliki kandungan mentofuran tertinggi. Mentol dari minyak M. arvensis dapat diisolasi menjadi bentuk kristal untuk digunakan dalam berbagai industri. Kata kunci: Mentha arvensis, minyak permen, pascapanen.
- ItemPenangkaran Benih Nilam di Sentra 51-56(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Melati dan SukarmanUntuk mendukung program pengembangan nilam diperlukan ketersediaan benih unggul bermutu tinggi yang tepat jumlah, waktu dan harga. Oleh karena itu pengembangan penangkar benih nilam untuk menyediakan benih sumber sangat diperlukan di setlap sentra produksi nilam, karena benih sumber mempunyal peranan strategis dalam Industri benih nasional. Dalam sistem produksi benih, benih pokok diperbanyak untuk menghasilkan benih sebar bersertifikat, kemudian benih sebar tersebut dijual/digunakan petanl untuk budidaya nilam. Untuk mendukung pengembangan penangkar benih, sejak tahun 2003, Unit Pengelola Benih Sumber, Balal Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (UPBS Balittro) telah mendistribusikan benih sumber nilam, terutama varietas Sidikalang hampir ke seluruh wilayah Indonesla. Untuk menjamin mutu serta melindungi produsen dan pengguna, benih harus diawasi melalui program sertifikasl benih. Kata kunci: Pogosteman cablin, nilam, penangkaran benih, sertifikasi.
- ItemBudidaya Tanaman Ylang-ylang 88-92(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Muhamad Djazuli dan Indra KusumaYlang-ylang (Canangium odoratum forma Genuina) merupakan tanaman atsiri yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia karena mempunyai peluang ekspor yang sangat besar dan harga pasar yang cukup baik, namun demiklan produktivitas ylang-ylang di Indonesia masih rendah. Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan belum optimalnya penggunaan teknologi budidaya tanaman ylang-ylang. Apilkasi pemupukan organik dan anorganik yang selmbang baik melalul tanah dan daun, pemangkasan pucuk tanaman dan aplikasi hormon mampu meningkatkan produktivitas bunga sekaligus kelestarian kesuburan lahan. Sistem pola tanam antara tanaman pangan dan ylang-ylang muda dapat meningkatkan produktivitas lahan sekaligus pendapatan petani. Kata kuncd: Ylang-ylang, Cananga odoratum, teknologi budidaya, productivitas.
- ItemSistim Integrasi Usahatani Seraiwangi dan Ternak Sapi sebagai Simpul Agribisnis Terpadu 16-20(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Sukamto, Dedi Suheryadi dan Agus WahyudiSeraiwangi (Cymbopogon winterianus J.) merupakan salah satu penghasil minyak atsiri yang penting di Indonesia. Citronellal dan geraniol merupakan dua komponen minyak atsiri yang penting dari seraiwangi sebagai parfum dan kosmetik. Pada saat ini minyak seraiwangi banyak digunakan sebagai pestisida nabati, konservasi tanah dan bioaditif bahan bakar minyak. Tanaman seraiwangi toleran terhadap lahan-lahan marginal, dan dapat ditanam sebagai tanaman monokultur dan campuran dengan tanaman tahunan lainnya. Balittro telah melepas 3 varietas seraiwangi yaitu G1 untuk dataran rendah, G2 dataran menengah dan G3 untuk dataran tinggi. Dalam upaya meningkatkan sistem usaha tani, dan meminimalkan limbah hasil penyulingan, sejak tahun 2007 telah dilakukan sistem integrasi ternak dengan seraiwangi di Kebun Percobaan Manoko, Lembang. Sistem integrasi seraiwangi dan ternak dapat mengelola limbah pertanian dan menghasilkan produk minyak seraiwangi, dan pakan hasil fermentasi untuk sapi. Fermentasi dengan molase, urea dan mikroba dapat meningkatkan 38,5% protein pakan ternak. Sistem integrasi seraiwangi dan ternak mampu menekan biaya produksi, meningkatkan pendapatan petani, dan perbaikan lingkungan. Kata kunci: Seraiwangi, Cymbopogon winterianus, sistem integrasi usahatani, peternakan, pakan ternak.
- ItemProspek Budidaya Tumpangsari Tanaman Penghasil Minyak Atsiri Berwawasan Konservasi 7-15(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Agus Sudiman Tjokrowardojo dan Mesak TombeMinyak atsiri yang dihasilkan dari penyulingan tanaman aromatik merupakan komoditas yang dibutuhkan di berbagai industri farmasi dan kimia seperti obat-obatan, parfum, kosmetika, makanan, minuman dan akhir-akhir ini dimanfaatkan untuk pengobatan dan aromaterapi. Sebagian besar minyak atsiri Indonesia diusahakan oleh petani untuk keperluan ekspor dan kebutuhan dalam negeri. Masalah utama minyak atsiri khususnya nilam adalah harga yang sering berfluktuasi. Untuk menghindari kerugian usahataninya dan sekaligus menambah pendapatan, petani pada saat ini banyak yang menerapkan pola tanam campuran (polikultur). Pengembangan beberapa tanaman atsiri berpeluang dilakukan dengan menerapkan pola tumpangsari baik dengan tanaman semusim maupun tahunan, serta dapat ditanam dengan olah tanah konservasi di lahan- lahan kritis. Tanaman nilam adaptif terhadap naungan sehingga dapat ditumpangsarikan dengan tanaman semusim, tahunan maupun tanaman kehutanan. Untuk dapat menghasilkan minyak yang baik tanaman nilam memerlukan sinar matahari, dan bila ditumpangsarikan tanaman nilam minimal membutuhkan sinar matahari lebih dari 50%. Kadar minyak nilam yang ditanam dengan sistem tumpangsari dengan tanaman semusim maupun perkebunan kadar patchouli alcohol memenuhi standar. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman nilam dan atsiri lainnya dapat diusahakan dalam pemanfaatan lahan hutan di sekitar masyarakat sehingga pendapatan petani sebagai pengelola lahan dapat ditingkatkan. Kata kunci: Minyak atsiri, nilam, tumpangsari, konservasi
- ItemKesesuaian Lahan dan Iklim Tanaman Seraiwangi 65-71(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Rosihan RosmanDalam upaya mendukung pengembangan tanaman seraiwangi (Cymbopogon nardus L.) perlu diperhatikan kondisi lahan dan iklim. Oleh karena itu pengembangan tanaman sebaiknya diarahkan ke wilayah yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya,. Berdasarkan hasil penelitian, pengalaman dan referensi yang ada, telah disusun kriteria kesesualan lahan dan iklim yang selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi untuk tanaman seraiwangi. Wilayah yang telah di petakan adalah Banten, Jawa Barat dan Lampung. Dari hasil penyusunan peta kesesuaian lahan dan iklim didapatkan wilayah amat sesuai, sesuai dan hampir sesuai untuk serai wangi di propinsi Banten, Jawa Barat dan Lampung. Hasil pemetaan dapat dipakai sebagai pedoman untuk perluasan area dan penentuan teknologi budidaya yang dibutuhkan sehingga tanaman mampu berproduksi maksimal. Kata kunci: Seraiwangi, Cymbopogon nardus, kesesuaian lahan dan iklim, produksi.
- ItemEvaluasi Daya Hasil dan Mutu Aksesi Tanaman Seraiwangi 38-43(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Cheppy SyukurEvaluasi daya hasil dan mutu 20 aksesi seraiwangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle.) di KP. Manoko. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok 3 ulangan dengan jarak tanam 1 m x 1 m. Jumlah tanaman per petak 30 tanaman, luas petak/plot per aksesi 10 m x 3 m. Pengamatan dilakukan pada masa vegetatif dengan parameter karakter morfologi meliputi tinggi dan lebar rumpun, tinggi batang semu, panjang pelepah, panjang dan lebar daun serta masa generatif yaitu produksi dan mutu minyak. Aksesi-aksesi yang dievaluasi menunjukkan keragaman pertumbuhan berkisar 25,32%-68,17%. Aksesi yang memiliki bobot kering tertinggi umur 6 bulan dan 9 bulan adalah aksesi Andus 015 (9.080 g) dan Andus 020 (5.573 g). Aksesi lain yang memiliki berat kering tinggi adalah aksesi Andus 016, Andus 017, Andus 018 dan Andus 019. Berdasarkan volume yang dihasilkan menunjukkan bahwa aksesi Andus 007 sebesar 35,88 ml (tertinggi) dan aksesi Andus 005 sebesar 24,50 ml (terendah). Kadar minyak tertinggi berturut-turut aksesi Andus 007 sebesar 5,05%, Andus 004 (4,12%), Andus 008 (4,61%), Andus 010 (4,18%), Andus 011 (4,26%), Andus 012 (4,09%), Andus 014 (4,03%), Andus 018 (4,14%), Andus 019 (4,30%), Andus 020 (4,21%). Dengan demikian ke 10 aksesi tersebut dapat dievaluasi lebih lanjut pada beberapa daerah yang berbeda untuk diketahui kestabilan produksinya. Kata kunci: Seraiwangi (Cymbopogon nardus), plasma nutfah, aksesi, karakter pertumbuhan, produksi, kadar minyak.
- ItemEfisiensi Penggunaan Pupuk Anorganik pada Nilam 72-76(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Octivia TrisilawatiPembudidayaan tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) memerlukan pupuk anorganik yang cukup tinggi, mengingat hara yang terangkut dari dalam tanah cukup banyak untuk beberapa kali panen dalam satu kali penanaman, Pupuk organik hasil pengkomposan limbah penyulingan nilam dan hljauan, serta pupuk hayati fungi mikoriza arbuskula (FMA), dapat membantu perakaran meningkatkan kapasitas penyerapan unsur hara dan air. Pemanfaatan pupuk organik merupakan alternatif untuk mengefisienkan penggunaan pupuk anorganik. Beberapa hasil penelitian pemupukan pada tanaman nilam varletas Tapaktuan dan Sidikalang, menunjukkan bahwa penggunaan kompos limbah nilam dan hijauan serta FMA dapat mengurangi kebutuhan pupuk anorganik NPK sampal 2 dosis darl pupuk NPK anjuran. Eksplorasi ke daerah sentra pembudidayaan nilam yang mempunyai tingkat kesuburan lahan yang rendah merupakan kegiatan awal untuk mendapatkan varietas nilam hemat pupuk. Hasil eksplorasi di lima propinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Jawa Tengah, mendapatkan 15 aksesi nilam yaitu ATG1, ATG2, GYL, DRI, PKB, PSM1, PSM2, PSB, GR1, GR3, GR4, BNY, PWK, BRS, dan CLP. Hasil evaluasi awal di rumah kaca terhadap respon ke lima belas aksesi nilam tersebut terhadap pengurangan dosis pupuk NPK sebesar 25-75% dan didapatkan enam aksesi yang relatf stabil produksinya. Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, pupuk anorganik, efisiensi.
- ItemPlasma Nutfah Tanaman Nilam 21-25(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Wawan Haryudin dan Endang HadipoentyantiKoleksi plasma nutfah nilam memliki keragaman yang relatif sempit. Tanaman nilam pada umumnya diperbanyak dengan setek pucuk atau batang, karena tidak menghasilkan biji. Nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth) berasal dari Filipina dan ditanam di Jawa sejak tahun 1895, kemudian menyebar ke Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah dan daerah lainnya di Indonesia. Nilam Jawa (Pogostemon heyneanus Benth) berasal dari India tumbuh secara liar di Sumatera dan Jawa. Nilam Jawa atau nilam kembang jarang dibudidayakan, karena kadar minyak atsirinya yang rendah. Jumlah koleksi nilam pada tahun 1988 sebanyak 65 aksesi, pada tahun 2009 sebanyak 81 aksesi yang berasal dari hasil eksplorasi maupun dari perbanyakan somaklonal. Pemanfaatan koleksi plasma nutfah nilam sebagai bahan dasar penelitian yang dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan tanaman dengan jalan menyeleksi serta merakit varietas unggul baru. Karakterisasi dan evaluasi terhadap 65 aksesi nilam berdasarkan karakter morfologi dan rendemen minyak atsiri (kadar minyak) terpilih 8 nomor harapan yaitu : Cisaroni, Cirateun, Lhokseumawe, Meulaboh, Tapak Tuan, Sidikalang, Aceh Merah, dan Somaklon. Kata kunci: Pogostemon cablin, nilam, plasma nutfah, karakterisasi, evaluasi.
- ItemPlasma Nutfah dan Varietas Unggul Akarwangi 26-31(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Deliah SeswitaIndonesia dikenal sebagai negara penghasil minyak akarwangi (Vetiveria zizanioides (L.) Nash.) bermutu tinggi dengan nama dagang Java vetiver oil. Minyak akarwangi digunakan dalam industri parfum, bahan kosmetik, pewangi sabun, obatobatan, dan pembasmi serangga. Dalam pengelolaan plasma nutfah terdapat enam kegiatan yang saling terkait, yaitu eksplorasi, konservasi, karakterisasi, evaluasi, rejuvinasi dan dokumentasi, dengan tujuan akhir mendapatkan varietas unggul. Mengingat akar wangi diperbanyak secara vegetatif, sehingga konservasi plasma nutfah dilakukan dengan mempertahankan tanaman dalam bentuk koleksi hidup di lapang. Balittro memiliki 40 aksesi akarwangi yang ditanam dan dipelihara di KP. Manoko Lembang Jawa Barat. Balittro telah melepas 2 varietas akarwangi yaitu Verina 1 dan Verina 2. Verina 1 memiliki produktivitas 66,38 kg/ha, produktivitas akar basah 10,37 t/ha, produktivitas akar kering tinggi 3,72 t/ha dan kadar vetiverol diatas standar SNI (50,38%), ini ditujukan untuk produsen minyak atsiri akarwangi. Verina 2 memiliki produktivitas 60,46 kg/ha, produktivitas akar basah 10,61 t/ha, produktivitas akar kering 3,84 t/ha dan kadar vetiverol di atas standar SNI (55,48%), sesuai untuk industri yang membutuhkan akar kering dalam jumlah besar. Kata kunci: Vetiveria zizanioides, varietas unggul, plasma nutfah, akar, vetiverol.
- ItemProspek Pengembangan Industri Minyak Nilam di Indonesia 1-6(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Agus Wahyudi dan ErmiatiTanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting di Indonesia. Dipasar Internasional Indonesia merupakan pemasok minyak nilam terbesar berkisar 85% dengan rata-rata volume ekspor 1.057 t/tahun. Tujuan ekspor minyak nilam Indonesia adalah Singapura (37,17%), Amerika Serikat (17,92%), Spanyol (16,45%), Perancis (8,85%), Switzerland (6,93%), Inggris (4,42%), dan negara lainnya (8,26%). Kendala dalam pengembangan industri minyak nilam Indonesia adalah tingginya fluktuasi harga. Harga minyak nilam di pasar Internasional berkisar antara US$17-40 per kg. Untuk pembangunan industri nilam Indonesia, Balittro telah melepas tiga varietas unggul nilam, yaitu Tapaktuan, Lhokseumawe dan Sidikalang dengan produktivitas terna dan kadar minyak masing-masing 13,28 t/ha dan 2,83%, 11,09 t/ha dan 3,21% serta 10,50 t/ha dan 2,89%. Agroindustri penyulingan minyak nilam ketiga varietas unggul tersebut menguntungkan dan layak diusahakan. Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, prospek pengembangan, pasar ekspor.
- ItemPlasma Nutfah Tanaman Mentha 32-37(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Endang HadipoentyantiHasil karakterisasi dan evaluasi dari plasma nutfah mentha menunjukkan adanya variasi dari morfologi, produksi maupun mutu dari setiap nomor yang diamati dan diuji. Nomor-nomor Mentha arvensis dan Mentha piperita mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nomor M. arvensis (Mear 0012) dan M. piperita (Mepi 0001) mempunyai produksi terna, kadar minyak, dan kadar menthol yang tinggi. Sebaliknya Mear 0013 dan Mepi 0002 mempunyai produksi terna, kadar minyak, dan kadar menthol yang rendah. Sedangkan Mear 0009 memiliki karakter produksi terna, kadar minyak, dan kadar menthol rendah tetapi mempunyai tipe pertumbuhan yang tegak, kokoh dan tahan rebah. Dari hasil karakterisasi dan evaluasi telah didapatkan nomor-nomor harapan yang setelah dilakukan uji adaptasi di beberapa agroekologi diperoleh varietas unggul baru Mearsia 1 (Mentha arvensis Indonesia 1). Kata kunci: Mentha sp., plasma nutfah, koleksi, karakterisasi, evaluasi.
- ItemKomponen Bahan Aktif Minyak Atsiri pada Beberapa Tanaman Rempah dan Obat Potensial 155-163(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Nurliani Bermawie dan Susi PurwiyantiIndonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan dan meningkatkan ragam jenis minyak atsiri, diantaranya berasal dari tanaman rempah dan obat. Beberapa jenis minyak atsiri dari tanaman rempah telah dikembangkan dan diekspor antara lain minyak cengkeh dan minyak pala. Tanaman obat memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber minyak atsiri baru, karena mengandung minyak atsiri 1-4%. Minyak atsiri tersusun atas berbagai komponen aktif, yang dapat dimanfaatkan sebagal bahan parfum, aroma (pewangi), perisa, kosmetika, antimikroba dan obat obatan. Jenis tanaman obat yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber minyak atsiri baru antara lain jahe, temulawak, bangle, lengkuas, adas, kapolaga dan kunyit. Kata kundi: Minyak atsiri, rempah, obat, komponen aktif.
- ItemBeberapa Faktor Yang Berpengaruh terhadap Kadar Minyak Atsiri Rimpang Jahe 164-167(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Mono RahardjoRimpang jahe banyak dimanfaatkan sebagal makanan, bumbu, obat, ſlavor dan lainnya. Sifat khas jahe disebabkan adanyа minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum Jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Simplisia rimpang jahe mempunyal kandungan minyak atsiri lebih kurang 1,8-4% dan sekitar 20%-nya dapat hilang pada proses pengeringan. Kandungan minyak atsiri jahe dapat dipengaruhi oleh faktor genotype/varletas, umur panen, naungan, pemupukan dan lingkungan tumbuh. Jahe merah mengandung minyak atsiri lebih tinggi yaitu lebih kurang 3,90-4,24%, jahe emprit atau jahe putih kecil (3,05-3,90%) dan Jahe putih besar lebih kurang (1,62–2,29%). Kandungan minyak atsiri jahe putih besar mencapal maksimum pada tanaman lebih kurang umur 9 bulan setelah tanam, namun kandungan minyak atsirl akan menurun apabila umur panennya lebih dari 9 bulan. Perlakuan pemupukan N dan P lebih nyata berpengaruh untuk meningkatkan kandungan minyak atsiri dibandingkan dengan pupuk K. Kata kunci: Z. officinale, jahe, minyak atsri, faktor lingkungan.
- ItemPermasalahan Mutu Minyak Nilam 143-146(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Ma'munMutu minyak nilam ditentukan oleh komposisi komponen-komponen penyusunnya. Komposisi dari komponen-komponen tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor genetika, lingkungan dan cara pengolahan. Patchouli alkohol merupakan komponen utama dalam minyak nilam. Kandungan patchouli alkohol yang proporsional serta kemurnian minyak nilam menghasilkan karakteristik aroma minyak nilam yang sangat diperlukan dalam pembuatan bahan pewangi (fragrans). Standar Nasional Indonesia (SNI) minyak nilam terdiri dari sifat organoleptik dan sifat fisika-kimia, merupakan konsensus dan mengacu kepada Standar Internasional (ISO). Bilangan asam merupakan salah satu parameter mutu yang mudah berubah. Bilangan asam yang tinggi dapat diturunkan dengan menggunakan kapur tohor. Dalam perdagangan, minyak nilam adakalanya dicampur dengan bahan-bahan seperti lemak, terpentin, minyak kruing dan bahan lain. Adanya bahan-bahan tersebut dalam minyak nilam, disamping mengurangi kemurniannya, juga akan merubah karakteristik minyak nilam. Metode pengujian mutu minyak nilam secara cepat dan sederhana diperlukan untuk menentukan mutu di lapangan. Kata kunci: minyak nilam, mutu, patchouli alkohol,SNI, ISO.
- ItemPemanfaatan Minyak Atsiri Eukaliptus (Eucalyptus sp.) sebagai Pestisida Nabati 128-133(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) SukamtoHama dan penyakit merupakan faktor utama penyebab kehilangan produksi dan ekonomi dalam pertanian. Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara umum digunakan dengan pestisida sintetis. Namun, penggunaan pestisida sintetis secara berlebihan dan terus menerus dapat meningkatkan resistensi dan resurjensi hama penyakit terhadap pestisida, toksik terhadap kesehatan petani dan mencemari lingkungan. Minyak atsiri dapat dapat digunakan sebagal salah satu alternatif pengendalian hama dan penyakit tanaman. Diantara minyak atsiri, minyak eukalyptus memiliki aktivitas biologi yang luas terhadap Jamur, bakteri, serangga dan nematoda. Sejak minyak eukalypthus diketahul memilik toksisitas yang tinggi terhadap beberapa patogen penyebab penyakit, dan serangga hama, minyak ini dikembangan secara komersial sebagal pestisida nabati. Penelitian yang masih perlu dilakukan untuk yang akan datang adalah evaluasi formula dan efektivitasnya di lapang. Kata kund: Eucalyptus sp., minyak atsiri, pestisida nabati.
- ItemPasca Panen Tanaman Ylang-ylang 147-150(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Bagem Sofianna SembiringMutu minyak ylang-ylang (Canangium odoratum Baill. forma genuina L.) dipengaruhi oleh kondisi bunga, penanganan bunga serta cara penyulingan. Minyak ylang-ylang dapat digunakan sebagai bahan baku industri parfum dan aromaterapi. Bunga ylang-ylang dapat bertahan selama dua hari sebelum disuling jika disimpan pada suhu 26-27° C dan RH 75-80%. Penyulingan bunga dilakukan dengan cara uap dan air (kukus) secara fraksinasi. Mutu minyak ditentukan oleh besarnya bilangan penyabunan dan bobot jenis. Semakin lama penyulingan kualitas minyak semakin menurun. Penyulingan yang baik adalah dua jam dan dihasilkan mutu minyak kelas extra. Mutu minyak ylang-ylang yang berasal dari Natar (Lampung) dapat memenuhi standar minyak menurut EOA. Kata kunci: Canangium odoratum, ylang-ylang, mutu minyak, pasca panen.
- ItemPemanfaatan Minyak Atsiri sebagai Antimikroba 111-120(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Sri Yuni HartativMinyak atsiri merupakan produk metabolit sekunder dari tanaman. Minyak atsiri pada umumnya mengandung berbagai jenis senyawa kimia yang mempunyal banyak manfaat, diantaranya adalah aktivitasnya sebagal antimikroba. Rahasia keampuhan minyak atsiri sebagal antimikroba terletak pada senyawa kimia yang dikandungnya seperti carvacrol, eugenol, cinnamaldehyde, cinnamic acid, perillaldehyde, thymol dsb. Secara tradisional minyak atsirl sering digunakan sebagal bumbu, flavour, dan bahan pewangi. Sehubungan dengan aktivitasnya sebagal antimikroba, minyak atsiri juga dapat digunakan sebagal bahan antiseptik, antiinflamasi, antioksidan, serta sebagai obat berbagai penyakit pada manusia dan hewan. Selain itu minyak atsiri juga memungkinkan untuk digunakan sebagai bahan pestisida nabati. Pengembangan produk-produk derivat minyak atsiri pada skala industri dan komerslal, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan devisa negara serta dapat menggantikan produk-produk yang mengandung bahan kimia sintetik yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Kata kund: Minyak atsiri, antimikroba.
- ItemPengelolaan Penyakit-penyakit pada Tanaman Atsiri 134-142(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) S. Retno Djiwanti dan Dono WahyunoPenyakit tanaman sering menjadi kendala dalam budidaya tanaman atsiri, karena menyebabkan pertumbuhan terhambat, kerusakan daun, dan bunga, bahkan kematian tanaman. Banyak penyakit telah diketahui penyebabnya, tetapi beberapa lainnya belum diketahui jenis patogen penyebab demikian juga dengan teknik pengendaliannya. Bakteri, jamur, nematode dan virus merupakan kelompok patogen yang banyak menyebabkan penyakit pada tanaman atsiri. Strategi pengendalian penyakit oleh bakteri melalui pengendalian terpadu, dengan rotasi tanaman, penggunaan bibit sehat, pupuk hayati diperkaya mikroba dan apliksai bakterisida jika diperlukan; dapat mengurangi intensitas penyakit 61%. Penyakit yang disebabkan oleh jamur dikendalikan dengan fungisida sintetis atau pestisida organik, disertai sanitasi dan eradikasi bagian atau tanaman sakit. Pengendalian nematoda dilakukan dengan nematisida, pestisida nabati, agensia hayati, kapur pertanian, bahan organik, dan pupuk anorganik. Pengendalian penyakit oleh virus dilakukan melalui penggunaan benih sehat hasil kultur jaringan meristem dan antivirus sintetik. Sedangkan pengendalian penyakit yang disebabkan oleh alga dilakukan dengan kultur teknis yaitu mengatur kelembaban. Strategi pengendalian tersebut diatas juga perlu dukungan karantina pertanian, baik antar kebun, daerah maupun antar pulau untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas. Identifikasi patogen penyebab penyakit yang belum diketahui penyebabnya perlu dilakukan untuk mengetahui teknik pengelolaannya. Kata kunci: Tanaman atsiri, penyakit tanaman, teknologi pengelolaan.