Bunga Rampai Inovasi Tanaman Atsiri Indonesia
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Bunga Rampai Inovasi Tanaman Atsiri Indonesia by Title
Now showing 1 - 20 of 29
Results Per Page
Sort Options
- ItemAlelopati pada Tanaman Nilam 77-81(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Muhamad Djazuli dan Nur MaslahahFaktor lingkungan tumbuh baik biotik maupun abiotik terutama kesuburan lahan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth). Penurunan produktivitas nilam yang dibudidayakan pada lahan bekas pertanaman nilam, walaupun sudah diberikan pemupukan yang optimal dan tidak adanya serangan OPT, telah mengindikasikan adanya senyawa racun al elopati di dalam tanah yang dihasilkan oleh tanaman nilam itu sendiri dan bersifat autotoksik. Aplikasi kapur, MgSO, pergiliran tanaman dengan mentha, dan perendaman benih dengan asam salisilat berpotensi menurunkan pengaruh tingkat toksisitas senyawa alelopati. Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, lahan bekas nilam, alelopati, produktivitas.
- ItemBeberapa Faktor Yang Berpengaruh terhadap Kadar Minyak Atsiri Rimpang Jahe 164-167(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Mono RahardjoRimpang jahe banyak dimanfaatkan sebagal makanan, bumbu, obat, ſlavor dan lainnya. Sifat khas jahe disebabkan adanyа minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum Jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Simplisia rimpang jahe mempunyal kandungan minyak atsiri lebih kurang 1,8-4% dan sekitar 20%-nya dapat hilang pada proses pengeringan. Kandungan minyak atsiri jahe dapat dipengaruhi oleh faktor genotype/varletas, umur panen, naungan, pemupukan dan lingkungan tumbuh. Jahe merah mengandung minyak atsiri lebih tinggi yaitu lebih kurang 3,90-4,24%, jahe emprit atau jahe putih kecil (3,05-3,90%) dan Jahe putih besar lebih kurang (1,62–2,29%). Kandungan minyak atsiri jahe putih besar mencapal maksimum pada tanaman lebih kurang umur 9 bulan setelah tanam, namun kandungan minyak atsirl akan menurun apabila umur panennya lebih dari 9 bulan. Perlakuan pemupukan N dan P lebih nyata berpengaruh untuk meningkatkan kandungan minyak atsiri dibandingkan dengan pupuk K. Kata kunci: Z. officinale, jahe, minyak atsri, faktor lingkungan.
- ItemBudidaya Tanaman Ylang-ylang 88-92(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Muhamad Djazuli dan Indra KusumaYlang-ylang (Canangium odoratum forma Genuina) merupakan tanaman atsiri yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia karena mempunyai peluang ekspor yang sangat besar dan harga pasar yang cukup baik, namun demiklan produktivitas ylang-ylang di Indonesia masih rendah. Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan belum optimalnya penggunaan teknologi budidaya tanaman ylang-ylang. Apilkasi pemupukan organik dan anorganik yang selmbang baik melalul tanah dan daun, pemangkasan pucuk tanaman dan aplikasi hormon mampu meningkatkan produktivitas bunga sekaligus kelestarian kesuburan lahan. Sistem pola tanam antara tanaman pangan dan ylang-ylang muda dapat meningkatkan produktivitas lahan sekaligus pendapatan petani. Kata kuncd: Ylang-ylang, Cananga odoratum, teknologi budidaya, productivitas.
- ItemEfisiensi Penggunaan Pupuk Anorganik pada Nilam 72-76(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Octivia TrisilawatiPembudidayaan tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) memerlukan pupuk anorganik yang cukup tinggi, mengingat hara yang terangkut dari dalam tanah cukup banyak untuk beberapa kali panen dalam satu kali penanaman, Pupuk organik hasil pengkomposan limbah penyulingan nilam dan hljauan, serta pupuk hayati fungi mikoriza arbuskula (FMA), dapat membantu perakaran meningkatkan kapasitas penyerapan unsur hara dan air. Pemanfaatan pupuk organik merupakan alternatif untuk mengefisienkan penggunaan pupuk anorganik. Beberapa hasil penelitian pemupukan pada tanaman nilam varletas Tapaktuan dan Sidikalang, menunjukkan bahwa penggunaan kompos limbah nilam dan hijauan serta FMA dapat mengurangi kebutuhan pupuk anorganik NPK sampal 2 dosis darl pupuk NPK anjuran. Eksplorasi ke daerah sentra pembudidayaan nilam yang mempunyai tingkat kesuburan lahan yang rendah merupakan kegiatan awal untuk mendapatkan varietas nilam hemat pupuk. Hasil eksplorasi di lima propinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Jawa Tengah, mendapatkan 15 aksesi nilam yaitu ATG1, ATG2, GYL, DRI, PKB, PSM1, PSM2, PSB, GR1, GR3, GR4, BNY, PWK, BRS, dan CLP. Hasil evaluasi awal di rumah kaca terhadap respon ke lima belas aksesi nilam tersebut terhadap pengurangan dosis pupuk NPK sebesar 25-75% dan didapatkan enam aksesi yang relatf stabil produksinya. Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, pupuk anorganik, efisiensi.
- ItemEvaluasi Daya Hasil dan Mutu Aksesi Tanaman Seraiwangi 38-43(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Cheppy SyukurEvaluasi daya hasil dan mutu 20 aksesi seraiwangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle.) di KP. Manoko. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok 3 ulangan dengan jarak tanam 1 m x 1 m. Jumlah tanaman per petak 30 tanaman, luas petak/plot per aksesi 10 m x 3 m. Pengamatan dilakukan pada masa vegetatif dengan parameter karakter morfologi meliputi tinggi dan lebar rumpun, tinggi batang semu, panjang pelepah, panjang dan lebar daun serta masa generatif yaitu produksi dan mutu minyak. Aksesi-aksesi yang dievaluasi menunjukkan keragaman pertumbuhan berkisar 25,32%-68,17%. Aksesi yang memiliki bobot kering tertinggi umur 6 bulan dan 9 bulan adalah aksesi Andus 015 (9.080 g) dan Andus 020 (5.573 g). Aksesi lain yang memiliki berat kering tinggi adalah aksesi Andus 016, Andus 017, Andus 018 dan Andus 019. Berdasarkan volume yang dihasilkan menunjukkan bahwa aksesi Andus 007 sebesar 35,88 ml (tertinggi) dan aksesi Andus 005 sebesar 24,50 ml (terendah). Kadar minyak tertinggi berturut-turut aksesi Andus 007 sebesar 5,05%, Andus 004 (4,12%), Andus 008 (4,61%), Andus 010 (4,18%), Andus 011 (4,26%), Andus 012 (4,09%), Andus 014 (4,03%), Andus 018 (4,14%), Andus 019 (4,30%), Andus 020 (4,21%). Dengan demikian ke 10 aksesi tersebut dapat dievaluasi lebih lanjut pada beberapa daerah yang berbeda untuk diketahui kestabilan produksinya. Kata kunci: Seraiwangi (Cymbopogon nardus), plasma nutfah, aksesi, karakter pertumbuhan, produksi, kadar minyak.
- ItemHama Utama Ylang-ylang dan Strategi Pengendaliannya 107-110(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Siswanto dan WiratnoYlang-ylang (Canangium odoratum forma Genuina) merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang digunakan sebagai bahan parfum bermutu tinggi. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman inl adalah serangan hama, Hama Ylang ylang yang pernah dilaporkan menyerang tanaman inl adalah Maenas maculifascia, Batocera hercules, Attacus atlas, Samla sp., Planococcus sp., Amantisa cupre, Animula sumatraensis, Ceroputo spinosus dan Aspidimorpha milliaris. Diantara hamahama tersebut, M. maculifascia merupakan hama yang paling banyak menyebabkan kerusakan tanaman inl. Hama ini merupakan ulat pemakan daun, pucuk serta bunga. Hama potensial lain yang sering dijumpai yaltu A. atlas dan A. milliaris. Strategi pengendalian dilakukan berdasarkan perilaku biologi hama tersebut dan kerentanan ulat antara lain dengan melakukan monitoring secara berkala terhadap perkembangan populasi hama, teknik budidaya, penggunaan pestisida nabati, secara fisik dan mekanis, pemanfaatan agens hayati serta penggunaan pestisida sintetik. Kata kunci: Ylang-ylang, Maenas maculifascia, strategi pengendalian.
- ItemHama-hama Tanaman Mentha dan Pengendaliannya 103-106(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Warsi Rahmat AtmadjaMentha arvensis L. merupakan salah satu tanaman herba aromatik penghasil minyak atsiri, Produk dari mentha digunakan sebagai penambah rasa pada makanan, minuman, obat, kosmetik dan produk lainnya. Kendala utama dalam budidaya tanaman mentha yaitu adanya gangguan hama dan penyakit tanaman, antara lain: ulat pemakan daun, ulat penggulung daun (Sylepta sp.), belalang, kutu putih (Planoccus sp.), rayap tanah (Coptotermes sp.) dan tungau merah (Tetranychus sp.). Rayap tanah dan tungau merah merapukan hama yang perlu diperhatikan karena populasinya relatif tinggi di lapang. Rayap tanah menyerang akar tanaman mentha sehingga akar menjadi kering dan tanaman mati. Aplikasi insektisida merupakan cara yang umum untuk mengendalikan rayap tanah. Pengendalian untuk menekan populasi hama tungau merah dapat dilakukan dengan cara, antara lain: (a) bercocok tanam, (b) penggunaan kultivar tahan, (c) pengendalian secara hayati (Biologi), (d) pengendalian secara kimiawi, atau (e) menerapkan pengendalian hama terpadu. Kata kunci: Hama, Mentha arvensis, pengendalian.
- ItemKesesuaian Lahan dan Iklim Tanaman 57-64(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Rosihan RosmanTanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) membutuhkan lahan dan iklim yang sesuai agar mampu tumbuh dan berproduksi secara optimal. Berdasarkan hasil penelitian, pengalaman dan referensi yang ada, telah disusun kriteria kesesuaian lahan dan iklim untuk nilam yang selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi untuk tanaman nilam. Wilayah yang telah dipetakan adalah Aceh, Banten, Jawa Barat dan Lampung. Dari hasil penyusunan peta kesesuaian lahan dan iklim didapatkan wilayah amat sesuai, sesuai dan hampir sesuai untuk tanaman nilam. Peta yang dihasilkan dapat dipakai sebagai pedoman untuk perluasan area dan penentuan teknologi budidaya yang dibutuhkan. Teknologi berbasis kondisi lahan dapat menentukan upaya perbaikan yang diperlukan agar tanaman mampu berproduksi maksimal. Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, kesesuaian lahan dan iklim.
- ItemKesesuaian Lahan dan Iklim Tanaman Seraiwangi 65-71(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Rosihan RosmanDalam upaya mendukung pengembangan tanaman seraiwangi (Cymbopogon nardus L.) perlu diperhatikan kondisi lahan dan iklim. Oleh karena itu pengembangan tanaman sebaiknya diarahkan ke wilayah yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya,. Berdasarkan hasil penelitian, pengalaman dan referensi yang ada, telah disusun kriteria kesesualan lahan dan iklim yang selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi untuk tanaman seraiwangi. Wilayah yang telah di petakan adalah Banten, Jawa Barat dan Lampung. Dari hasil penyusunan peta kesesuaian lahan dan iklim didapatkan wilayah amat sesuai, sesuai dan hampir sesuai untuk serai wangi di propinsi Banten, Jawa Barat dan Lampung. Hasil pemetaan dapat dipakai sebagai pedoman untuk perluasan area dan penentuan teknologi budidaya yang dibutuhkan sehingga tanaman mampu berproduksi maksimal. Kata kunci: Seraiwangi, Cymbopogon nardus, kesesuaian lahan dan iklim, produksi.
- ItemKomponen Bahan Aktif Minyak Atsiri pada Beberapa Tanaman Rempah dan Obat Potensial 155-163(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Nurliani Bermawie dan Susi PurwiyantiIndonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan dan meningkatkan ragam jenis minyak atsiri, diantaranya berasal dari tanaman rempah dan obat. Beberapa jenis minyak atsiri dari tanaman rempah telah dikembangkan dan diekspor antara lain minyak cengkeh dan minyak pala. Tanaman obat memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber minyak atsiri baru, karena mengandung minyak atsiri 1-4%. Minyak atsiri tersusun atas berbagai komponen aktif, yang dapat dimanfaatkan sebagal bahan parfum, aroma (pewangi), perisa, kosmetika, antimikroba dan obat obatan. Jenis tanaman obat yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber minyak atsiri baru antara lain jahe, temulawak, bangle, lengkuas, adas, kapolaga dan kunyit. Kata kundi: Minyak atsiri, rempah, obat, komponen aktif.
- ItemLaju Pertumbuhan Intrinsik Kutu Daun Aphis gossypii pada Tanaman Nilam 93-97(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) I Wayan Laba dan RohimatunAphis gossypii merupakan hama yang menyerang banyak jenis tanaman. Untuk mengatasi serangan hama ini, dilakukan pendekatan konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) dengan pendekatan ekologis dan berdasarkan pada bioekologi hama. Potensi biotik suatu serangga dapat dinyatakan secara kuantitatif dengan parameter laju pertumbuhan intrinsik (r). Pertumbuhan populasi tersebut mengikuti model eksponensial: N, = No.e". Penelitian bertujuan menentukan laju pertumbuhan intrinsik A. gossypii pada tanaman nilam. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menentukan populasi А. Gossypil, jika lingkungannya tak terbatas, dan kesesuaian tanaman nilam sebagal Inang alternatif. Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampal Oktober 2011 di Rumah Kaca Entomologi, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor. Kepridian A. gossypii diketahui dengan pemeliharaan imago masing-masing satu ekor, yang diinfestasikan pada tanaman nilam, kemudian diberi sungkup. Untuk mengetahul peluang hidup pada golongan umur x, dilakukan pemeliharaan nimfa yang baru muncul secara individual pada tanaman nilam. Serangga tersebut diamati setiap hari. Parameter yang diamati adalah periode tiap instar nimfa dan jumlah imago yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan intrinsik (r) A. gossypii pada tanaman nilam varietas Sidikalang sebesar 0,270 ekor/hari, laju reproduksi bersih (Ro) sebesar 30,172 kali tiap generasi, masa generasi rata-rata A. gossypli 12,635 hari, dan laju pertumbuhan terbatas sebesar 20,416 kali lipat/hari. Kata kunci: Laju pertumbuhan intrinsik, Aphis gossypi, nilam.
- ItemMinyak Atsiri Piper aduncum sebagai Bahan Baku Pestisida Nabati untuk Pengendalian Jamur Penyakit Tanaman 121-127(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) NurmansyahTumbuhan Piper aduncum disebut juga dengan sirih-sirih atau sirih hutan, merupakan salah satu tumbuhan liar dari famili Piperaceae, yang mempunyai potensi dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pestisida nabati. Tumbuhan ini mudah tumbuh dan berkembang pada tanah yang subur mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, sehingga ketersediaan bahan baku dapat diperoleh dengan mudah. P. aduncum dapat dijumpai di hutan-hutan sekunder, dipinggir jurang, pada bukit-bukit cadas, pinggir sungai ataupun sebagai tumbuhan pengganggu di perkebunan. P. aduncum mengandung minyak atsiri dengan rendemen 0,87% dari bahan siap suling, dengan komponen utama phenylpropanoid dilapiole, monoterpenoids, piperitone, sineol, sesquiterpene dan b-caryophyllene. Dari pengujian diketahui minyak atsiri tumbuhan P. aduncumsangat efektif terhadap jamur patogen Sclerotium rolfsii, Phytophtora capsici, Colletotrichum musae dan Fusarium oxysporum yang merupakan jamur patogen pada tanaman cabai, kacang tanah, tomat, lada dan pisang. Kata kunci: Piper aduncum, pestisida nabati, jamur penyakit tanaman.
- ItemPasca Panen Tanaman Ylang-ylang 147-150(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Bagem Sofianna SembiringMutu minyak ylang-ylang (Canangium odoratum Baill. forma genuina L.) dipengaruhi oleh kondisi bunga, penanganan bunga serta cara penyulingan. Minyak ylang-ylang dapat digunakan sebagai bahan baku industri parfum dan aromaterapi. Bunga ylang-ylang dapat bertahan selama dua hari sebelum disuling jika disimpan pada suhu 26-27° C dan RH 75-80%. Penyulingan bunga dilakukan dengan cara uap dan air (kukus) secara fraksinasi. Mutu minyak ditentukan oleh besarnya bilangan penyabunan dan bobot jenis. Semakin lama penyulingan kualitas minyak semakin menurun. Penyulingan yang baik adalah dua jam dan dihasilkan mutu minyak kelas extra. Mutu minyak ylang-ylang yang berasal dari Natar (Lampung) dapat memenuhi standar minyak menurut EOA. Kata kunci: Canangium odoratum, ylang-ylang, mutu minyak, pasca panen.
- ItemPemanfaatan Minyak Atsiri Eukaliptus (Eucalyptus sp.) sebagai Pestisida Nabati 128-133(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) SukamtoHama dan penyakit merupakan faktor utama penyebab kehilangan produksi dan ekonomi dalam pertanian. Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara umum digunakan dengan pestisida sintetis. Namun, penggunaan pestisida sintetis secara berlebihan dan terus menerus dapat meningkatkan resistensi dan resurjensi hama penyakit terhadap pestisida, toksik terhadap kesehatan petani dan mencemari lingkungan. Minyak atsiri dapat dapat digunakan sebagal salah satu alternatif pengendalian hama dan penyakit tanaman. Diantara minyak atsiri, minyak eukalyptus memiliki aktivitas biologi yang luas terhadap Jamur, bakteri, serangga dan nematoda. Sejak minyak eukalypthus diketahul memilik toksisitas yang tinggi terhadap beberapa patogen penyebab penyakit, dan serangga hama, minyak ini dikembangan secara komersial sebagal pestisida nabati. Penelitian yang masih perlu dilakukan untuk yang akan datang adalah evaluasi formula dan efektivitasnya di lapang. Kata kund: Eucalyptus sp., minyak atsiri, pestisida nabati.
- ItemPemanfaatan Minyak Atsiri sebagai Antimikroba 111-120(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Sri Yuni HartativMinyak atsiri merupakan produk metabolit sekunder dari tanaman. Minyak atsiri pada umumnya mengandung berbagai jenis senyawa kimia yang mempunyal banyak manfaat, diantaranya adalah aktivitasnya sebagal antimikroba. Rahasia keampuhan minyak atsiri sebagal antimikroba terletak pada senyawa kimia yang dikandungnya seperti carvacrol, eugenol, cinnamaldehyde, cinnamic acid, perillaldehyde, thymol dsb. Secara tradisional minyak atsirl sering digunakan sebagal bumbu, flavour, dan bahan pewangi. Sehubungan dengan aktivitasnya sebagal antimikroba, minyak atsiri juga dapat digunakan sebagal bahan antiseptik, antiinflamasi, antioksidan, serta sebagai obat berbagai penyakit pada manusia dan hewan. Selain itu minyak atsiri juga memungkinkan untuk digunakan sebagai bahan pestisida nabati. Pengembangan produk-produk derivat minyak atsiri pada skala industri dan komerslal, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan devisa negara serta dapat menggantikan produk-produk yang mengandung bahan kimia sintetik yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Kata kund: Minyak atsiri, antimikroba.
- ItemPemupukan pada Tanaman Mentha arvensis 85-87(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Octivia TrisilawatiSampai saat ini informasi pemupukan bagi pengembangan budidaya M. arvensis di Indonesia masih sangat kurang. Beberapa penelitian pemupukan hara makro N, P dan K pada lahan dengan tingkat ketersediaan hara N, P dan K yang rendah sampai sedang menunjukkan bahwa untuk mendapatkan produksi terna, minyak dan menthol yang tinggl, M. arvensis membutuhkan pemupukan N yang tidak terlalu tinggi, pupuk K yang hampir sama dengan N, serta pupuk P yang cukup tinggi. Penambahan pupuk N berkisar antara 150-200 kg Urea/ha, pupuk P berkisar antara 200-250 kg SP-36/ha dan pupuk K berkisar antara 150-160 kg KCl/ha. Kata kunci: Mentha arvensis, pupuk.
- ItemPenanganan Pasca Panen Tanaman Mentha arvensis 151-154(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Sintha SuhirmanKomponen utama minyak Mentha arvensis adalah mentol, menthon dan metil asetat. Kandungan mentol meningkat sejalan dengan meningkatnya umur tanaman dan mencapai maksimum pada saat berbunga. Mentol digunakan dalam berbagai industri, termasuk industri cokelat dan kembang gula, minuman, farmasi dan kosmetik. Teknik penanganan pascapanen tanaman atsiri terdiri dari sortasi, pengeringan dan penyulingan. Salah satu penanganan pascapanen yang penting adalah pengeringan. Terna mentha dijemur selama 2 jam setiap hari dari pukul 8.00-10.00 kemudian diangin-angin di tempat teduh sampai kadar air 30-35%. Setelah kering angin, kemudian disuling dengan cara penyulingan air dan uap selama 4 jam. Rendemen minyak 0,6% dari bahan kering dan 0,2% dari terna basah. Posisi daun pada tanaman mentha dan umur daun berpengaruh terhadap kualitas minyak mentha dan kandungan mentol, pasangan daun ke-4 dari bawah memiliki kandungan mentol tertinggi dan menurun hingga pasangan daun ke-14, pucuk memiliki kandungan mentofuran tertinggi. Mentol dari minyak M. arvensis dapat diisolasi menjadi bentuk kristal untuk digunakan dalam berbagai industri. Kata kunci: Mentha arvensis, minyak permen, pascapanen.
- ItemPenangkaran Benih Nilam di Sentra 51-56(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Melati dan SukarmanUntuk mendukung program pengembangan nilam diperlukan ketersediaan benih unggul bermutu tinggi yang tepat jumlah, waktu dan harga. Oleh karena itu pengembangan penangkar benih nilam untuk menyediakan benih sumber sangat diperlukan di setlap sentra produksi nilam, karena benih sumber mempunyal peranan strategis dalam Industri benih nasional. Dalam sistem produksi benih, benih pokok diperbanyak untuk menghasilkan benih sebar bersertifikat, kemudian benih sebar tersebut dijual/digunakan petanl untuk budidaya nilam. Untuk mendukung pengembangan penangkar benih, sejak tahun 2003, Unit Pengelola Benih Sumber, Balal Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (UPBS Balittro) telah mendistribusikan benih sumber nilam, terutama varietas Sidikalang hampir ke seluruh wilayah Indonesla. Untuk menjamin mutu serta melindungi produsen dan pengguna, benih harus diawasi melalui program sertifikasl benih. Kata kunci: Pogosteman cablin, nilam, penangkaran benih, sertifikasi.
- ItemPengaruh Waktu, Cara Panen dan Pemberian GA3 terhadap Pertumbuhan, Produksi dan Minyak Nilam 81-84(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Mono RahardjoNilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan tanaman penghasil atsiri, dapat berproduksi hingga umur dua tahun, namun produktivitasnya menurun pada tahun kedua. Waktu, cara panen dan pemberian hormon tumbuh dapat mempengaruhl pertumbuhan, produksi terna dan minyak atsiri. Hormon tumbuh GA3 dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman setelah dipangkas, jumlah cabang sekunder, jumlah daun dan indek luas daun, sehingga produksi terna dan minyak atsiri lebih tinggi dibanding yang tidak diberi hormon tumbuh GA3. Pada tahun ke dua, perlakuan interval waktu panen setiap dua bulan menghasilkan produksi terna dan minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan interval panen empat dan enam bulan. Hasil penelitian lainnya, interval panen setiap tiga bulan menghasilkan terna kering (3,90 tha) dan minyak atsiri (75,23 kg/ha) lebih tinggi dibandingkan dengan interval panen setiap 2,5 bulan dan 3,5 bulan. Sehingga interval panen tiga bulan adalah yang terbaik dibandingkan interval panen 2,0; 2,5; 3,5, empat dan enam bulan. Panen dengan cara dipangkas 70% dari bagian tanaman menghasilkan terna dan minyak atsiri lebih tinggi dibanding dengan cara dipangkas 50%. Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, cara panen, waktu panen, GA3, produksi, minyak atsiri.
- ItemPengelolaan Penyakit-penyakit pada Tanaman Atsiri 134-142(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) S. Retno Djiwanti dan Dono WahyunoPenyakit tanaman sering menjadi kendala dalam budidaya tanaman atsiri, karena menyebabkan pertumbuhan terhambat, kerusakan daun, dan bunga, bahkan kematian tanaman. Banyak penyakit telah diketahui penyebabnya, tetapi beberapa lainnya belum diketahui jenis patogen penyebab demikian juga dengan teknik pengendaliannya. Bakteri, jamur, nematode dan virus merupakan kelompok patogen yang banyak menyebabkan penyakit pada tanaman atsiri. Strategi pengendalian penyakit oleh bakteri melalui pengendalian terpadu, dengan rotasi tanaman, penggunaan bibit sehat, pupuk hayati diperkaya mikroba dan apliksai bakterisida jika diperlukan; dapat mengurangi intensitas penyakit 61%. Penyakit yang disebabkan oleh jamur dikendalikan dengan fungisida sintetis atau pestisida organik, disertai sanitasi dan eradikasi bagian atau tanaman sakit. Pengendalian nematoda dilakukan dengan nematisida, pestisida nabati, agensia hayati, kapur pertanian, bahan organik, dan pupuk anorganik. Pengendalian penyakit oleh virus dilakukan melalui penggunaan benih sehat hasil kultur jaringan meristem dan antivirus sintetik. Sedangkan pengendalian penyakit yang disebabkan oleh alga dilakukan dengan kultur teknis yaitu mengatur kelembaban. Strategi pengendalian tersebut diatas juga perlu dukungan karantina pertanian, baik antar kebun, daerah maupun antar pulau untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas. Identifikasi patogen penyebab penyakit yang belum diketahui penyebabnya perlu dilakukan untuk mengetahui teknik pengelolaannya. Kata kunci: Tanaman atsiri, penyakit tanaman, teknologi pengelolaan.