Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 271
  • Item
    Analisis Feasibilitas Usaha Ternak Itik Mojosari Alabio
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) I G.M. Budiarsana
    Analisis feasibilitas merupakan metode analisis ekonomi untuk menentukan kelayakan suatu kegiatan usaha. Analisis dilakukan pada pemeliharaan ternak itik Mojosari Alabio (MA) dengan populasi sebanyak 3000 ekor, yang dipelihara di kandang kelompok dengan jumlah 100 ekor/kelompok. Proyeksi dibuat untuk mengetahui biaya dan penerimaan yang dihasilkan selama 5 tahun dengan peiode produksi selama 18 bulan. Harga-harga yang digunakan pada analisis berdasarkan harga pasar yang diperoleh melalui survei pada bulan Agustus 2006. Proyeksi biaya-biaya yang terjadi yaitu terdiri dari biaya langsung, biaya tidak langsung dan biaya penyusutan. Penerimaan diperoleh dari penjualan telur dan itik afkir. Hasil menunjukkan bahwa jumlah dana yang dibutuhkan untuk memelihara itik sebanyak 3000 ekor yaitu sebesar Rp. 270.000.000,- dengan nilai IRR sebesar 27.12% dengan waktu pengembalian investasi (pay back period) berkisar 4 tahun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peternakan itik pada skala 3000 ekor dinyatakan layak untuk diusahakan.
  • Item
    Karakteristik Ukuran Karkas Itik Genotipe Peking X Alabio Dan Peking X Mojosari
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) Agus Suparyanto
    Persilangan itik Peking dengan lokal untuk mencari galur induk berproduksi tinggi, saat ini telah memasuki tahap afkir. Induk tersebut masih memiliki nilai gizi, oleh karena itu penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi biologis tentang ukuran karkas. Kegiatan dilakukan di kandang percobaan itik, Balai Penelitian Ternak Ciawi dengan langkah awal adalah pada tahun 2004 menyilangkan pejantan Peking dengan Alabio dan juga dengan Mojosari sehingga terbentuk Peking x Alabio (PA) dan Peking x Mojosari (PM). Data monitoring yang telah melewati masa produksi 12 bulan maka ternak segera diafkir. Sebanyak 15 ekor induk untuk masing-masing genotipe (PA dan PM) diambil secara acak untuk diamati bagian karkasnya. Data dianalisis dengan t-test, korelasi dan regresi berganda. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa bobot hidup saat dipotong galur induk PA (2,1 kg) terbukti nyata lebih berat dibanding PM (1,9 kg), bobot karkas + kepala + leher antara itik PA (1,5 kg) dengan PM (1,2 kg) berbeda nyata (P<0,05). Bobot potong dari masingmasing itik genotipe (PA maupun PM) memiliki derajat hubungan yang tinggi dengan bobot mati, bobot scalding dan bobot karkas baik dengan atau tanpa kelapa + leher. Hubungan yang rendah ditunjukkan antara parameter bobot badan dengan persentase karkas + kepala + leher dan persentase karkas tanpa kepala dan leher. Model regresi berganda secara matematis sebagai berikut Bobot karkas PA = -51.69 + 0.18 bobot potong - 0.52 bobot mati + 0.38 bobot scalding + 0.80 bobot karkas kepala dan leher dan Bobot karkas PM = 77.56 - 0.87 bobot potong + 0.53 bobot mati + 0.29 bobot scalding + 0.89 bobot karkas kepala dan leher. Kesimpulan bahwa karkas itik afkir hasil silang relatif lebih tinggi dari itik lokal.
  • Item
    Penggunaan Kencur (KAEMPFERIA GALANGA L), Bawang Putih (ALLIUM SATIVUM L) Dan Kombinasinya Dalam Pakan Broiler
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) I. A. K. Bintang; S. N. Jarmani
    Antibiotik adalah salah satu feed aditif dalam pakan unggas umumnya digunakan untuk merangsang pertumbuhan dan memperbaiki konversi pakan. Pada saat ini penggunaan antibiotik mulai dipertanyakan karena membahayakan konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut. Di Indonesia tanaman alami sudah digunakan untuk pengobatan secara tradisional. Tanaman herbal (bawang putih dan kencur) mungkin mengandung bahan bioaktif yang dapat membunuh mikroba. Penggunaan bawang putih dalam pakan broiler nyata meningkatkan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan (PBB) dan memperbaiki income over feed chick cost (IOFCC) dan sebaliknya menurunkan kolesterol darah. Tidak dijumpai adanya perbedaan terhadap performan broiler akibat penambahan tepung kencur dan tepung kencur dikombinasi dengan bawang putih, akan tetapi dapat menekan angka mortalitas hingga 0%.
  • Item
    Inovasi Teknologi Aplikatif Mendukung Usaha Ternak Unggas Berdayasaing
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) L. Hardi Prasetyo; Bambang Setiadi
    Untuk mendorong pertumbuhan industri peternakan unggas, khususnya ternak lokal, diperlukan strategi pengembangan yang mengarah pada pembentukan sistem produksi yang efisien dan berwawasan agribisnis serta sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pengelolaan usaha peternakan yang intensif dan komersial memerlukan dukungan inovasi teknologi dan penerapannya yang tepat sehingga dapat tercapai efisiensi produksi yang tinggi dan produktivitas yang optimal. Teknologi inovatif dihasilkan untuk meningkatkan produktivitas ataupun efisiensi produksi, namun juga dapat menghasilkan produk unggulan. Ditinjau dari keanekaragaman sumberdaya genetik ternak yang tersedia, terdapat beberapa jenis ternak lokal yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bibit unggul berdasarkan keragaman genetik yang masih tinggi serta daya adaptasinya pada berbagai kondisi agro-ekosistem. Sumberdaya genetik berbagai jenis unggas lokal merupakan aset yang sangat berharga bagi perkembangan industri di masa sekarang maupun masa mendatang, karena daya adaptasinya yang tinggi pada kondisi sub-optimal dan juga untuk mengantisipasi adanya perubahan keinginan konsumen di masa mendatang. Dari segi sumberdaya bahan pakan, terdapat lahan yang cukup luas untuk produksi pakan, dan juga peluang pemanfaatan limbah perkebunan yang berlimpah. Peluang-peluang tersebut sangat tergantung pada kemauan dan kemampuan mengelolanya dengan baik sehingga dapat dihasilkan bahan pakan ternak berkadar nutrisi tinggi dan juga dengan daya cerna dan palatabilitas yang tinggi. Salah satu cara pemanfaatan limbah pertanian atau perkebunan adalah dengan menggunakan mikro-organisme yang juga tersedia berlimpah baik dari jumlah maupun keanekaragaman jenis dan sifatnya. Ditinjau dari aspek budidaya ternak unggas, terdapat peluang untuk menghasilkan teknologi produksi yang efisien mengarah pada pengembangan usaha peternakan yang lebih intensif. Alternatif sistem pemeliharaan perlu diciptakan untuk memberi pilihan pada peternak untuk menyesuaikan dengan kondisi agro-ekosistem wilayah masing-masing.