Karakteristik Ukuran Karkas Itik Genotipe Peking X Alabio Dan Peking X Mojosari

Loading...
Thumbnail Image
Date
2006
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Balai Penelitian Ternak
Abstract
Persilangan itik Peking dengan lokal untuk mencari galur induk berproduksi tinggi, saat ini telah memasuki tahap afkir. Induk tersebut masih memiliki nilai gizi, oleh karena itu penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi biologis tentang ukuran karkas. Kegiatan dilakukan di kandang percobaan itik, Balai Penelitian Ternak Ciawi dengan langkah awal adalah pada tahun 2004 menyilangkan pejantan Peking dengan Alabio dan juga dengan Mojosari sehingga terbentuk Peking x Alabio (PA) dan Peking x Mojosari (PM). Data monitoring yang telah melewati masa produksi 12 bulan maka ternak segera diafkir. Sebanyak 15 ekor induk untuk masing-masing genotipe (PA dan PM) diambil secara acak untuk diamati bagian karkasnya. Data dianalisis dengan t-test, korelasi dan regresi berganda. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa bobot hidup saat dipotong galur induk PA (2,1 kg) terbukti nyata lebih berat dibanding PM (1,9 kg), bobot karkas + kepala + leher antara itik PA (1,5 kg) dengan PM (1,2 kg) berbeda nyata (P<0,05). Bobot potong dari masingmasing itik genotipe (PA maupun PM) memiliki derajat hubungan yang tinggi dengan bobot mati, bobot scalding dan bobot karkas baik dengan atau tanpa kelapa + leher. Hubungan yang rendah ditunjukkan antara parameter bobot badan dengan persentase karkas + kepala + leher dan persentase karkas tanpa kepala dan leher. Model regresi berganda secara matematis sebagai berikut Bobot karkas PA = -51.69 + 0.18 bobot potong - 0.52 bobot mati + 0.38 bobot scalding + 0.80 bobot karkas kepala dan leher dan Bobot karkas PM = 77.56 - 0.87 bobot potong + 0.53 bobot mati + 0.29 bobot scalding + 0.89 bobot karkas kepala dan leher. Kesimpulan bahwa karkas itik afkir hasil silang relatif lebih tinggi dari itik lokal.
Description
Keywords
L Animal production/Produksi Hewan::L01 Animal husbandry/Peternakan
Citation