Prosiding seminar teknologi budidaya cengkeh, lada dan pala
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Prosiding seminar teknologi budidaya cengkeh, lada dan pala by Title
Now showing 1 - 20 of 43
Results Per Page
Sort Options
- ItemAnalisa Kebutuhan Pupuk pada Tanah Latosol Sukamulyauntuk Tanaman Lada 105-110(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Rosihan RosmanUntuk mengetahui kebutuhan pupuk pada pertanaman lada di daerah Sukamulya, Sukabumi, telah dilakukan penelitian pada bulan Maret 2014. Metode yang digunakan adalah dengan mengambil sampel tanah di lokasi yang dipersiapkan untuk pertanaman lada. Tanah yang digunakan berjenis tanah Latosol. Tanah diambil pada kedalaman 0-30 cm dan dianalisa di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Nilai hasil analisa dari laboratorium ditentukan kelompoknya kedalam kelompok sangat rendah, rendah, sedang atau tinggi, untuk ditetapkan dalam pengolahan data dengan metode Rosman (2015). Dengan memasukkan data hasil laboratorium ke dalam metode tersebut, maka akan dihasilkan rekomendasi pemupukan untuk lokasi pertanaman lada di daerah Sukamulya, Sukabumi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanah berjenis Latosol Sukamulya memiliki kandungan N sebesar 0,21%, P₂Os sebesar 8,41 ppm, K₂O sebesar 1,25 me/100 g tanah, Ca sebesar 5,66 me/100 g tanah dan Mg sebesar 1,94 me/100 g tanah. Dari besarnya kandungan N, P, K, Ca dan Mg, maka untuk dosis pupuk pada tanaman lada yang berumur di bawah satu tahun dapat diberikan anjuran pupuk ke tanah sebagai berikut 2,81 g N atau 6,25 g urea/tanaman + 1,69 g P₂O5 atau 3,75 g TSP/tanaman + 2,25 g K₂O atau 3,75 g KCI + 1,25 g kieserit/tanaman lada. Untuk umur 1-2 tahun adalah 3,38 N atau 7,5 g urea/tanaman + 3,38 g P2O5 atau 7,5 g TSP/tanaman + 4,5 g K₂O atau 7,5 g KCI + 2,5 g kieserit/tanaman lada. Untuk tanaman lada umur 2-3 tahun adalah 11,3 N atau 25 g urea/tanaman + 11,3 g P2O5 atau 25 g TSP/tanaman + 11,3 g K₂O atau 18,8 g KCI lada. Untuk tanaman lada umur di atas 3 tahun adalah 50,6 N atau 11,3 g urea/tanaman + 50,6 g P2O5 atau 11,3 g TSP/tanaman + 67,5 g K₂O atau 11,3 g KCI + 37,5 g kieserit/tanaman lada. Kata kunci : lada, efisiensi pemupukan.
- ItemInduksi Pembungaan untuk Mengendalikan Fluktuasi Hasil pada Tanaman Cengkeh 39-46(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Hera Nurhayati dan Ireng DarwatiProses pembungaan pada tanaman tahunan telah banyak dipelajari tetapi hanya sedikit literatur yang mempelajari pembungaan pada cengkeh dan cara untuk menanggulangi fluktuasi hasil yamg merupakan salahsatu kendala dalam budidaya cengkeh. Fluktuasi hasil pada cengkeh menyebabkan adanya panen besar dan panen kecil yang perbedaannya dapat mencapai 60%. Fluktuasi pembungaan dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor ekologi, faktor genetik dan faktor fisiologi. Ekologi yang tidak mendukung saat pembungaan dapat menyebabkan perubahan inisiasi bunga ke daun. Faktor genetik pada umumnya berasal dari pohon induk, tetapi faktor genetik juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan dan fisiologi terutama yang berhubungan dengan gen pembungaan. Faktor fisiologi dapat disebabkan oleh kandungan nutrisi dan zat pengatur tumbuh yang diperlukan saat pembungaan tidak memenuhi kebutuhan. Secara fisiologi, masalah pembungaan dapat ditanggulangi dengan cara aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT) atau zat penghambat tumbuh sehingga rasio zat pengatur tumbuh yang diperlukan untuk pembungaan dapat ditingkatkan. Stimulasi pembungaan dengan pemupukan dapat meningkatkan nutrisi yang diperlukan untuk induksi inisiasi pembungaan. Kata kunci: Syzygium aromaticum, fisiologis, pembungaan.
- ItemInventarisasi Petani Terpilih dan Etnobotani Pemanfaatan Lada (Piper nigrum L.) oleh Masyarakat di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat 83-90(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Elly Kristiati AgustinLada (Piper nigrum L) termasuk suku Piperaceae. Tumbuhan ini memilliki dua sifat yaitu memanjat dan perdu. Jenis ini termasuk komoditi rempah yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan buahnya selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa produktivitas dan bagaimana kualitas tanaman lada di Kabupaten Sambas serta respon masyarakat dalam memanfaatkan lada sebagai obat tradisional suku Melayu Sambas dan suku Dayak. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei lapangan yang bersifat deskriptif. Selain itu wawancara dilakukan pula dengan keluarga petani lada dan masyarakat etnis Melayu dan Dayak di Kabupaten Sambas untuk mengetahui manfaat etnobotaninya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Sambas merupakan daerah penghasil lada terbesar kedua di Kalimatan Barat setelah Kabupaten Bengkayang. Kecamatan Paloh merupakan produsen lada terbesar dengan hasil panen rata-rata setiap tahunnya 102.352 ton dengan luas areal 348 hektar sedangkan urutan kedua yaitu Kecamatan Galing 91.728 ton dengan luas areal 312 hektar. Pemanfaatan buah lada di masyarakat Sambas, Singkawang dan Bengkayang dipakai untuk pengobatan tradisional yang sudah dilakukan secara turun temurun untuk menciptakan kondisi hangat pada tubuh wanita yang sudah 40 hari melahirkan. Buah lada disajikan berupa masakan khas masyarakat etnis Melayu Sambas, yang dikenal dengan sebutan "Tanak Lade“.Tanak Lade merupakan menu makanan yang wajib dikonsumsi oleh para wanita setelah bersalin. Kata kunci : Lada, pemanfaatan tradisional, etnis Melayu Sambas, suku Dayak.
- ItemIsolasi dan Karakterisasi Bakteri Endofit Berasal dari Tanaman Lada Bangka 159-168(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Gusmaini dan Andriana KartikawatiBakteri endofit merupakan bakteri yang menguntungkan bagi tanaman karena dapat masuk ke jaringan tanaman. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain bakteri endofit dapat menghasilkan fitohormon, mengikat nitrogen (N) dan melarutkan fosfat (P). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan obat, dari bulan Mei hingga Oktober 2015. Tahapan kegiatan meliputi 1) isolasi bakteri endofit yang diambil dari tanaman lada di Bangka, dan 2) karakterisasi bakteri endofit yang meliputi ciri morfologi, penghasil fitohormon, pengikat N dan pelarut P. Hasil isolasi dan karakterisasi bakteri endofit yang berasal dari tanaman lada Bangka diperoleh 28 isolat. Bakteri endofit yang dapat diisolasi dari daun sebanyak 15 isolat dan akar sebanyak 13 isolat. Isolat yang berpotensi sebagai pelarut P terdiri dari 16 isolat yang terdiri dari 5 isolat berasal dari daun lada dan 11 isolat berasal dari akar lada. Isolat yang berpotensi sebagai pengikat N terdapat 20 isolat yang terdiri dari 11 isolat berasal dari akar dan 9 isolat berasal dari daun. Semua isolat yang diperoleh menghasilkan fitohormon IAA. Ada14 isolat yang berpotensi sekaligus sebagai pengikat N, pelarut P dan penghasil IAA. Isolat tersebut yaitu LdB2, LdB4, LdB5, LdB8, LaB1, LaB2, LaB3, LaB5, LaB6, LaB7, LaB8, LaB9, LaB10 dan LaB11. Kata kunci: Pipper nigrum, bakteri endofit, isolasi, karakterisasi, pemicu pertumbuhan
- ItemKajian Umur Simpan Sirup Pala dengan Suhu Penyimpanan yang Berbeda 259-264(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Ratna Wylis Arief, Firdausil AB dan Robet AsnawiPenetapan umur simpan dan parameter sensori sangat penting pada tahap penelitian dan pengembangan produk pangan baru. Penentuan umur simpan dianggap perlu sebagai salah satu bentuk jaminan keamanan mutu bagi konsumen untuk mendukung pengembangan produksi sirup pala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur simpan sirup pala dengan suhu ruang penyimpanan yang berbeda. Penelitian menguji penyimpanan sirup pala pada dua suhu penyimpanan yang berbeda yaitu: suhu kamar (27°C) dan suhu rendah (10°C). Parameter pengamatan meliputi pH, total padatan terlarut (total gula), total mikroba, dan total khamir, selanjutnya data yang terkumpul dianalisis secara diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan sirup pala selama 2 minggu pada suhu kamar dan 3 bulan pada suhu rendah masih layak untuk dikonsumsi dan masih sesuai dengan standar SNI Sirup (SNI 3544:2013). Kata kunci: suhu penyimpanan, umur simpan, sirup pala
- ItemKandungan Kimia Daun dari Pohon Pala Jantan dan Betina BerdasarkanGCMS 225-230(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Sri Wahyuni dan Nurliani BermawiePala (Myristica fragrans) merupakan tanaman rempah asli Indonesia, dengan produk utama berupa bijidan fuli yang menghasilkan minyak atsiri yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kandungan kimia utama di dalam minyak atsiri adalah miristisin. Minyak atsiri pala digunakan untuk bahan industri farmasi dan kosmetik diantaranya sebagai antioksidan, anticonvulsant, analgesik, anti-inflammatory, antidiabet, antibakteri dan antijamur. Selain dari biji atau fuli, minyak atsiri pala juga terdapat dalam daging buah dan daun. Pada penelitian ini penyulingan minyak atsiri dilakukan dari daun bertujuan untuk mengetahui komponen kimia utama dan peluang pemanfaatannya lebih lanjut. Sampel daun pala diperoleh dari Canti, Rajabasa, Lampung Selata. Daun dipetik dari tanaman pala betina dan tanaman pala jantan umur 70 tahun. Daun pala betina campuran dari 10 pohon, daun sudah sempurna (tidak tua dan tidak muda); daun pala jantan diambil dari 2 pohon. Daun dikeringaginkan sebelum disuling. Penyulingan menggunakan destilas uap dilakukan di Labboratorium Balittro Bogor. Kandungan minyak atsiri pada daun hasil penyulingan berkisar 0,98 – 1,02%. Minyak atsiri selanjutnya dianalisis kandungan kimianya menggunakan Gas Chromatograру Mass-Spectrofotometry (GC-MS). Jumlah komponen kimia yang terdeteksi berdasarkan GCMS dalam minyak atsiri daun dari pohon pala betina sebanyak 23 dan pada daun pala jantan adalah 29. Komponen kimia tertinggi adalah miristisin. Kadar miristisin dalam daun pala jantan (70,54%), jauh lebih lebih tinggi dari daun pala betina (14,57%). Kandungan kimia lainnya yang dominan pada daun pala betina adalah pinen, beta pinen, alpha limonen, dan p-alylguaiacol, sedangkan pada daun pala jantan adalah leucitidine, sabinen dan kauren. Kata kunci: Myristica fragrans, daun, minyak atsiri.
- ItemKarakter Morfologis Tanaman Cengkeh Tua Luput dari Serangan Penyakit BPKCdi Solok, Sumatera Barat 9-14(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Erma Suryani, Herwita Idris dan NurmansyahKarakter morfologis tanaman cengkeh tua yang luput dari serangan penyakit BPKC telah dilaksanakan di Solok Sumatera Barat sejak Januari - Juli 2014. Tujuan penelitian untuk mengetahui plasma nutfah cengkeh tua yang luput dari serangan penyakit BPKC di daerah-daerah bekas sentra produksi. Penelitian dilakukan dengan metoda survai, pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan syarat-syarat yang ditentukan yaitu berumur ≥35 tahun, tumbuh baik, berproduksi tinggi. Pohon terpilih diberi label dan diamati habitus, sifat morfologi pohon dan daun. Hasil survei diperoleh 25 tanaman cengkeh tua yang berumur 35 - 40 tahun dengan produksi berkisar 50 - 150 kg bunga basah perpohon. Tanaman ditemukan pada dataran sedang dan tinggi dengan jenis tanah Ultisol, latosol dan Andosol, dengan topografi datar sampai bergelombang. Hasil pengamatan juga ditemukan serangga vektor Hindola fulva dengan populasi rendah sampai sedang. Tinggi tanaman berkisar antara 9,00 - 15,50 m, lilit batang 100 - 177 cm diameter tajuk berkisar 5,65 - 9,50 m, tinggi cabang terbawah 50 - 200 cm, kerapatan cabang jarang sampai rapat, penutupan tajuk 50-90%, panjang daun tua 10,82 - 16,95 cm, lebar 3,34 - 6,75cm, panjang tangkai daun 0,75 - 1,19cm. Daun tua berwarna Hijau Tua Mengkilat (HTM) 60% dan Hijau Mengkilat (HM) 40%, daun muda (pucuk) berwarna Merah (M) 16%, berwarna Merah Muda (MM) 76%, Hijau Kekuningan (HK) 8%. Penelitian perlu dilanjutkan dengan menguji apakah terdapat korelasi antara karakter morfologi dengan ketahanan BPKC dan menguji keturunan dari pohon tua tersebut dengan inokulasi penyakit BPKC untuk mengetahui apakah tanaman tersebut memiliki sifat ketahanan terhadap ВРКС. Kata Kunci : Karakteristsasi, Cengkeh, BPKC.
- ItemKeefektifan Formulasi Kompos Bakteri Endofit untuk PengendalianNematoda Parasit pada Tanaman Lada 141-148(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Abdul Munif, Rita Harni, Risfaheri danLuluk Suci MarhaeniBakteri endofit merupakan sumber agen hayati yang potensial dan sangat ideal. Beberapa kelebihan dari bakteri endofit adalah secara alami mampu mengkoloni dan berasosiasi dengan jaringan internal tanaman, pengaruh kompetisi dengan mikroorganisme lainnya relatif kecil, keberadaannya lebih terlindungi dari pengaruh faktor lingkungan seperti suhu dan cahaya ultraviolet, mempunyai ketersediaan nutrisi yang cukup bagi kelangsungan hidupnya, dan antibotik dan senyawa lainnya yang diproduksi oleh bakteri endofit di dalam jaringan tanaman dapat terdistribusi ke dalam tanaman dengan lebih cepat dan lebih baik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi kompos dari bakteri endofit terhadap penyakit kuning dan pertumbuhan lada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi kompos bakteri endofit dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produksi lada. Formulasi kompos pada lada di lapangan juga dapat menekan penyakit kuning, menurunkan populasi nematoda parasit dalam tanah. Aplikasi formulasi kompos di lapangan juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman lada terhadap stress oleh faktor lingkungan terutama faktor kekeringan. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri endofit potensial untuk dapat diperbanyak atau disimpan dalam formulasi kompos Kata kunci: Bakteri endofit, formulasi kompos, lada, puru akar
- ItemKelimpahan, Karakter dan Potensi Bakteri Penghasil Hormon Tumbuh IAA dan Pelarut Fosfat pada Tanaman Cengkeh di Buleleng, Bali 15-20(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Sarjiya Antonius, Desak Ketut Tristiana S, Suharjono dan Tirta Kumala DewiPseudomonas fluorescens merupakan kelompok Rhizobakteri dapat mengkolonisasi akar dan memacu pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk isolasi dan seleksi P. fluorescens berpotensi sebagai agens pemacu pertumbuhan bibit cengkeh. Pengujian Isolasi dan seleksi P. fluorescens untuk memacu pertumbuhan bibit cengkeh telah dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca KP.Laing Balittro, Solok Sumatera Barat dari bulan Agustus sampai Desember 2015. Perlakuan P. fluorecens diuji pada bibit cengkeh disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit cengkeh diperlakukan dengan P.fluorescens secara nyata meningkatkan viabilitas pertumbuhan bibit cengkeh secara vegetatif dibandingkan tanpa P.fluorescens (kontrol). Hasil seleksi dari 20 strain P. fluorescens menunjukkan 5 strain P. fluorescens PFC6; PFC8; PFC14; PFC15; dan PFC16 menunjukkan kemampuan meningkatkan pertumbuhan bibit cengkeh lebih tinggi dibandingkan strain P.fluorescens lainnya dengan meningkatkan tinggi bibit dari 8,0 cm menjadi 10,4 – 12,00 cm, jumlah daun dari 4,0 daun/tanaman menjadi 9,0 – 11,0 daun/tanaman, panjang akar bibit dari 5,6 cm menjadi 10,1- 13,5 cm; jumlah akar dari 25 akar/tanaman menjadi 32-53 akar/ tanaman dan berat basah bibit dari 1,28 g/tanaman menjadi 3,4 - 5,3 g/tanaman. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa pemberian 5 strain P. fluorescens mempunyai aktivitas yang tinggi dalam meningkatkan pertumbuhan bibit cengkeh. Kata kunci : Agens hayati, Rizobakteria, Pseudomonas fluoerescens, bibit, tanaman cengkeh.
- ItemKelimpahan, Karakter dan Potensi Bakteri Penghasil Hormon Tumbuh IAA dan Pelarut Fosfat pada Tanaman Cengkeh di Buleleng, Bali 15-20(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Sarjiya Antonius, Desak Ketut Tristiana S, Suharjono dan Tirta Kumala DewiMikroba perakaran pemacu pertumbuhan tanaman (PGPR) akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan produksi tananaman maupun untuk memperbaiki kesehatan tanah. Diantara kelompok mikroba PGPR, mikroba penghasil hormon tumbuh dan pelarut fosfat mempunyai manfaat penting dalam mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan menjaga kesehatan tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan, karakter dan potensi mikroba penghasil IAA dan pelarut fosfat pada tanaman cengkeh. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel tanah di kabupaten Buleleng, Bali serta pengukuran parameter lingkungannya, isolasi bakteri penghasil hormon IAA dan pelarut fosfat, uji potensi bakteri penghasil hormon IAA dan pelarut fosfat. Hasil pengamatan dengan metode penumbuhan pada media spesifik (diperkaya) menunjukkan bahwa pada daerah perakaran cengkeh di Buleleng mengandung bakteri penghasil IAA (6,4 x 10°CFU/g) dan bakteri pelarut fosfat (8,2 x 10 CFU/g). Berdasarkan uji lanjut diketahui bahwa isolat bakteri TCBI 4 menghasilkan IAA tertinggi 3,5 ppm pada waktu inkubasi 72 jam. Berdasarkan uji estimasi fosfat terlarut diketahui isolat TCBP 6 mampu melarutkan fosfat sebesar 1687,77 ppm pada waktu inkubasi tujuh hari. Oleh karena itu, bakteri PGPR mempunyai peranan penting dalam menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman cengkeh. Kata Kunci: Bakteri perakaran, cengkeh, IAA, pelarut fosfat.
- ItemKeragaan Hasil dan Mutu Pohon Induk Terpilih Cengkehdi Sumatera Barat 1-8(Badan Penelitian dan Pengembangan Petanian, 2016-12-01) Nurliani Bermawie, Roni Ginting dan Indra IswaraProduksi cengkeh nasional yang rendah, antara lain disebabkan oleh produktivitas per pohon yang rendah. Upaya peningkatan produksi nasional, dilakukan melalui penggunaan benih bermutu produksi tinggi, antara lain melalui pemilihan pohon induk unggul lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi populasi blok penghasil tinggi (BPT) dan pohon induk tepilih (PIT) di Sumatera Barat. Penelitian dimulai tahun 2011-2013 pada populasi cengkeh milik kelompok tani Bernas, di kecamatan Koto Anau, kabupaten Solok, Sumatera Barat.Parameter yang diamati meliputi hasil per pohon, karakter morfologi utama dan mutu. Produksi per pohon pada pohon induk terpilih (PIT) produksi tinggi pada umur > 30 tahun bervariasi dari 25-110 kg bunga basah per pohon. Hasil analisis mutu menunjukkan kadar air bunga cengkeh kering jauh berada di bawah batas minimal SNI 8 %, sehingga kadar minyak atsiri juga menjadi rendah, bervariasi dari 10.78 – 16.95%. Kata kunci:Syzygium aromaticum, blok penghasil tinggi, seleksi, produksi, kadar minyak atsiri.
- ItemKeragaman Hasil, Morfologi dan Mutu Plasma Nutfah Pala di Kp. Cicurug 239-250(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Nurliani Bermawie, Ma'mun, Susi Purwiyanti, Wawan LukmanPala (Myristica spp.) merupakan tanaman rempah asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Maluku dan Papua. Produk utama pala adalah fuli, minyak atsiri, daging buah sebagai bahan makanan dan minuman, dan biji kering sebagai bahan rempah. Pengembangan pala semakin meluas, yang menyebabkan permintaan benih pala semakin meningkat, sehingga diperlukan sumber benih bermutu. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi karakter morfologi buah, biji dan fuli, hasil dan mutu dari 39 aksesi plasma nutfah pala di kebun koleksi plasma nutfah pala. Penelitian dilakukan di KP. Cicurug, kabupaten Sukabumi (550 m dpl). Observasi dilakukan pada hasil per pohon per genotipe dalam aksesi dengan menghitungjumlah buah per pohon selama sembilan tahun panen mulai tahun 2007-2015. Mutu dianalisis pada tiap aksesi menggunakan Gas Chromatography. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keragaman pada bentuk dan ukuran buah, biji dan fuli, serta mutu tiap aksesi. Komposisi tanaman koleksi di KP. Cicurug terdiri dari 34.7% dikategorikan tanaman pala jantan murni, 18.9% jantan biseksual (total jantan 54%) dan 46% tanaman betina, dengan rasio jantan dan betina 1:1. Berdasarkan hasil buah, sebagian besar genotipe (48.8%) produksi buah amat sangat rendah (< 1000 butir per pohon), 33.5% sangat rendah, 18% kategori rendah, sekitar 12% sedang, dan kategori tinggi hampir 4% dan sangat tinggi hanya 1%. 24 genotipe terpilih sebagai genotipe harapan, namun hanya 18 genotipe memenuhi syarat dengan potensi produksi buah > 2500 butir per pohon per tahun. TM 370 dan IJT 233 merupakan genotipe stabil dengan standar deviasi hasil antar tahun < 25%. Terdapat keragaman yang cukup luas pada karakter morfologi buah, biji, fuli, dan mutu antar aksesi maupun antar genotipe dalam aksesi. Keragaman tersebut merupakan sumber untuk penyediaan bahan tanaman untuk aneka produk. Buah dengan daging tebal untuk makanan dan minuman, sedangkan biji besar untuk rempah, dan fuli tebal untuk minyak atsiri. Mutu pala bervariasi pada kadar minyak atsiri, sabinen, alpha pinen, terpineol dan myristicin. Dari 24 aksesi, hanya 21 aksesi yang memenuhi syarat untuk kadar minyak atsiri. Kandungan Myristisin dari 24 aksesi yang diuji, hanya 20 aksesi yang memenuhi standar ISO dan tiga aksesi (Pala Gaji, Bacan biji dua dan Pala Bulat panjang) mengandung kadar myristisin yang lebih tinggi dari standar ISO (> 12%). Aksesi dengan produksi tinggi tetapi tidak memenuhi syarat pada mutu, atau sebaliknya lebih sesuai sebagai bahan pemuliaan untuk perbaikan varietas. Kata kunci: Myristica fragrans, plasma nutfah, produksi buah, mutu, nomor harapan.
- ItemKompatibilitas Fungi Mikoriza Arbuskula pada Benih Cengkeh 33-38(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) O. Trisilawat
- ItemKondisi Eksisting dan Prospek Keberlanjutan Usahatani Lada (Piper Nigrum L.) di Lampung Utara 127-132(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Bariot Hafif dan Rahardian MawardiLada khususnya lada hitam Lampung merupakan.salah satu produk rempah yang sangat dikenal di manca negara, dan menjadi produk kebanggan rakyat Lampung dan juga nasional. Lampung Utara adalah daerah sentra produksi lada hitam di Provinsi Lampung, disamping Lampung Timur dan Lampung Barat. Saat ini keberlanjutan dari usahatani lada seharusnya menjadi keprihatinan nasional, karena produksinya yang semakin menurun baik akibat dari penurunan produktivitas maupun luasan penanaman. Melalui survey zonasi agroekologi ke perkebunan lada rakyat, diketahui bahwa kendala utama keberlanjutan usahatani lada adalah produktivitas lada yang semakin menurun akibat rendahnya tingkat investasi petani untuk budidaya lada dan kepedulian petani yang relatif rendah terhadap aspek konservasi lahan, inovasi teknologi budidaya lada yang masih jauh dari harapan petani, fluktuasi harga yang tinggi sehingga tidak mendorong iklim investasi, dan tingginya permintaan akan produk komoditas lain. Keberlanjutan usahatani lada berpeluang dipertahankan melalui percepatan inovasi teknologi budidaya lada dan diseminasinya, perlindungan usahatani melalui pembentukan unit usaha bersama, serta keseriusan pengambil kebijakan dalam mendukung pengembangan usahatani lada yang menguntungkan. Kata kunci: lada, keberlanjutan usahatani, inovasi teknologi, Lampung Utara
- ItemKondisi Klorofil dan Luas Daun Jenis-Jenis Piper Koleksi Kebun Raya Bogor pada Musim омох Kering dan Masalah Konservasinya 77-82(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) SudarmonoMusim kemarau memberikan dampak yang sangat serius terhadap jenis tumbuhan yang merambat, seperti Piper dari Keluarga Piperaceae. Salah satu jenis Piper, yaitu Piper nigrum atau dikenal dengan lada merupakan salah satu rempah yang sangat penting untuk bumbu masak di negara-negara tropika. Daya tahan Lada dan jenis-jenis Piper lainnya terlihat dari kondisi daun yang tetap hijau dan warna daunnya yang mengkilap. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan klorofil dan kaitannya dengan luas daun pada jenis-jenis Piper serta aspek konservasinya untuk mendukung pengembangan Lada sebagai bahan rempah yang penting. Ada 4 jenis Piper yang diukur, yaitu Piper nigrum, P. betle, P. cubeba dan P. retrofractum kesemuanya sebagai koleksi Kebun Raya Bogor yang berada di lokasi koleksi tumbuhan obat vak 24. Metode pengukuran klorofil dengan menggunakan alat CCM-200 plus sehingga diketahui indeks kandungan klorofil dan pengukuran luas daun dengan menggunakan alat Leaf Area Meter LAW-B. Pengukuran pada daun yang ke tiga, ke empat atau ke lima sebanyak 5 sampel daun pada setiap jenis. Lada atau Piper nigrum mempunyai kandungan klorofil yang tinggi (55,72 unit) dan luas daun (46,9 mm²) setelah P. Cubeba (89,86 unit dan 40,97 mm²). Ukuran luas daun tidak berkaitan dengan kandungan klorofil. Perbanyakan terhadap setek jenis-jenis Piper diharapkan dapat menyelamatkan plasma nutfah sebagai usaha konservasinya di Kebun Raya Bogor.M Insino3 llydqooldD aulq 005-MCCals кулаь Пoo ib urdua 7192 Kata kunci: Piper spp, lada, klorofil, luas daun, Kebun Raya Bogor.
- ItemLada Hitam Aplikasi Pengendalian Hayati dan PengaruhnyaTerhadap Kadar Piperin dan Produksi 203-208(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Ratna Wylis Arief dan Dewi Rumbaina MustikawatiPenggunaan agensia hayati untuk mengurangi penggunaan pestisida dalam rangka pengendalian hama penyakit tanaman saat ini mulai digalakkan lagi. Piperin adalah komponen utama lada dan merupakan salah satu komoditas perdagangan yang digunakan sebagai bahan penting untuk industri obat-obatan dan flavoring agent dalam bahan makanan atau minuman. Persyaratan kadar piperin dan minyak atsiri dalam SNI lada hitam 01-0005-1995 hanya mencantumkan sesuai hasil analisa sedangkan standar ASTA, ESA dan ISO untuk piperin lada hitam minimal adalah 4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pengendalian hayati yang berbeda terhadap kadar piperin dan produktivitas lada hitam. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Natar, sejak bulan Maret 2014 sampai dengan bulan Maret 2015. Perlakuan yang diterapkan adalah 6 (enam) cara pengandalian hayati pada tanaman lada yaitu: Penanaman Alium odorum L. (kucai) di sekitar tanaman lada (A); Penanaman Arachis pintoi sebagai penutup tanah. (B); Aplikasi Trichoderma spp + pupuk kandang. (C); Penyemprotan Beauveria spp. (D); Aplikasi mikoriza. (E); dan Tanpa perlakuan pengendalian hayati /kontrol (F). Data yang terkumpul dianalisis secara diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pengendalian hayati yang berbeda pada tanaman lada tidak terlalu berpengaruh terhadap kadar piperin lada hitam yang dihasilkan, dengan kadar piperin berkisar antara 2,62% - 2,78%; sedangkan produksi lada hitam tertinggi terdapat pada perlakuan aplikasi mikoriza (E) sebesar 250,29 g/pohon, dan produksi lada hitam terendah terdapat pada perlakuan kontrol/tanpa pengendalian hayati (F) sebesar 34,29 g/pohon. Kata kunci : lada hitam, pengendalian hayati, piperin,
- ItemManajemen Risiko Rantai Pasok pada Agroindustri Minyak Pala 291-296(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Suci Wulandari dan I Ketut ArdanaSalah satu upaya untuk meningkatkan daya saing industri minyak pala adalah dengan mengintegrasikan pelaku secara efisien melalui penerapan manajemen rantai pasok (supply chain management). Penerapan manajemen rantai pasok pada agroindustri pala menjadi lebih sulit dan kompleks karena: pemasok bahan baku sangat banyak dengan kualitas yang beragam, bahan baku bersifat high perishable, musiman dan bulky sehingga banyak faktor yang tidak dapat diprediksi, dan pelaku pada industri pengolahan didominasi oleh industri kecil. Hal ini tidak terlepas dari tingginya risiko pada rantai pasok tersebut. Kajian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi risiko pada rantai pasok agroidustri minyak pala, dan (2) menyusun konsep pengelolaannya. Metode analisis yang digunakan risk maping dan risk assessment yang didukung dengan analisis deskriptif kualitatif hasil baseline survey yang dilakukan di sentra produksi pala di Bogor pada tahun 2013, serta analisa situasional industri dan review pasar pada tahun 2013-2015. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko rantai pasok agroindustri minyak pala yaitu: risiko eksternal dan risiko internal. Risiko eksternal terdiri dari risiko kerjasama (cooperative risk), risiko keputusan manajemen (management decision risk), risiko pembagian informasi (information sharing risk), risiko penjadwalan (operation schedule risk). Risiko internal terdiri risiko finansial (financial risk), risiko proses (process risk) dan risiko pasar (market risk). Risiko yang dominan berpengaruh terhadap kinerja agroindustri adalah risiko kerjasama, risiko finansial, dan risiko proses. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan manajemen risiko rantai rasok agar seluruh sistem menjadi efisien dan efektif, serta minimalisasi biaya. Kata kunci: supply chain, risk management, agroindustry, nutmeg oil
- ItemMyristicaceae (Pala-Palaan) Indonesia Terancam Kepunahan 219-224(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) DodoIndonesia memiliki. 53 jenis Myristicaceae terancam kepunahan, terdiri dari genting (EN=Endangered) sebanyak 1 jenis dan rawan (VU=Vulnerable) sebanyak 52 jenis. Myristica merupakan genus yang mengalami keterancaman tertinggi yaitu sebanyak 21 jenis (39,6%), selanjutnya genus Horsfieldia (30,2%), Knema (28,3%), dan Endocomia (1,9%). Kebun Raya Bogor telah berkontribusi dalam menyelamatkan tumbuhan suku Myristicaceae sebanyak 1,9% atau 1 jenis, yaitu Knema hookeriana Warb. Jenis-jenis tumbuhan yang belum dikonservasi secara ex situ dari suku Myristicaceae terancam kepunahan terdapat sekitar 98,1% (52 jenis). Para pihak terkait diharapkan agar lebih fokus dan segera melakukan aksi konservasi jenis pala-palaan ini sebelum tumbuhan tersebut benar-benar menjadi punah. Kata kunci: Pala-palaan, Myristicaceae, terancam kepunahan, Indonesia
- Itempada Tanaman Lada Pemanfaatan Zeolit dan Kompos untuk Pengendalian Busuk Pangkal Batang (BPB) 193-202(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Jekvy Hendra dan Eka Miftahul JannahKompos dan zeolit berpotensi dalam menekan pertumbuhan patogen dan membantu pertumbuhan tanaman. Penelitian bertujuan mengetahui potensi zeolit dan ekstrak kompos menekan penyakit busuk pangkal batang tanaman lada dilaksanakan di Kebun Percobaan Natar November 2012- September 2013. Penelitian ini menggunakan RAK dengan 12 perlakuan dengan tiga ulangan dengan dua faktor yaitu kompos dan zeolit. Zeolit terdiri0 kg, 125 kg/ha, 150 kg/ha. Kompos terdiri: KO (tanpa ekstrak kompos), KA (kompos A.pintoi), KK (kompos kulit kopi), KKA (kompos kulit kopi-A.pintoii). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan interaksi kompos dan zeolit mampu menekan tingkat keparahan penyakit BPB. Tingkat keparahan penyakit tanaman dan akar terendah yakni 3,47 dan 3,1 % terjadi pada perlakuan KA-Z1 dan KA-Z2. Pada percobaan laboratorium berpengaruh nyata terhadap populasi dan keragaman mikroba. Kandungan nilai tukar kation tertinggi pada KA-Z1 13 cmol+/kg. C/N rasio semua perlakuan berkisar 10 – 15. Pada semua perlakuan diperoleh 15 isolat aktinomisetes, 30 isolat bakteri dan 30 isolat cendawan. Populasi bakteri tertinggi 121,5 cfu/g pada KKA-Z2, cendawan 39,5 cfu/g populasi pada KA-Z2, dan 8,3 cfu/g populasi aktinomisetes pada KA-Z2. Hasil analisa unsur hara tanah menunjukkan semua perlakuan menghasilkan unsur P,Ca, Mg dan K yang lebih tinggi dari kontrol yang sangat berperan menghalangi perkembangan patogen dalam jaringan tanaman lada. Kata kunci: kompos, lada, Phytopthora capsicii, zeolit
- ItemPeluang Pemanfaatan Tanaman Jati Mas dan Sengon sebagai Media Panjatan Tanaman Lada 111-116(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Setiawan dan Rosihan RosmanTanaman lada (Piper nigrum L) merupakan tanaman tropik basah penghasil rempah yang bernilai ekonomi tingg, dan membutuhkan tiang panjat untuk menghasilkan buah yang tinggi. Tanaman yang biasa digunakan sebagai tiang panjat adalah glirisidia. Pemilihan glirisida tidak terlepas dari sifat tumbuhnya yang relatif cepat dan bukan sumber inang hama dan penyakit lada. Kelemahan dari tanaman glirisidia adalah ketika musim kemarau daunnya akan gugur, menyebabkan tanaman lada tidak ternaungi. Kekurangan lainnya adalah tanaman glirisidia tidak mempunyai nilai ekonomi, ketika tanaman lada sudah tua dan tidak menghasilkan, tanaman glirisidia tidak dapat menggantikan penghasilan petani yang hilang. Pada saat ini, terdapat tanaman kehutanan yang berpeluang sebagai tanaman tiang panjat, karena mempunyai pertumbuhan yang relatif cepat, perakaran dalam, tahan pangkas dan bukan sebagai sumber inang hama dan penyakit lada, serta memiliki kesesuaian lahan dan iklim yang hampir sama dengan tanaman lada. Tanaman tersebut adalah jati mas dan sengon. Pada umur 7 bulan setelah tanam tanaman jati mas dan sengon telah memiliki tinggi sekitar 135 cm dan 277 cm dengan diameter 2,93 cm dan 4,10 cm. Pada umur 18 bulan setelah tanam tanaman jati mas dan sengon dapat mereduksi intesitas cahaya sebesar 31% dan 80% pada musim kemarau, sedangkan glirisidia hanya dapat mereduksi cahaya sebesar 6%. Penurunan intensitas cahaya diperlukan dimusim kemarau manakala tanaman lada masih muda. Kata kunci : Lada, tiang panjat, jati mas, sengon.
- «
- 1 (current)
- 2
- 3
- »