Prosiding seminar teknologi budidaya cengkeh, lada dan pala
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 43
- ItemPenggunaan Oleoresin Rempahdalam Industri 303-309(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Ma'mun dan Shinta SuhirmaRempah-rempah merupakan bahan yang berasal dari tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan pemberi cita-rasa atau penyedap (flavor) dalam pengolahanmakanan, minuman, rokok dan dalam kosmetik. Indonesia merupakan salah satu penghasil utama rempah-rempah di dunia antara lain cengkeh, lada (merica), biji pala, kayumanis, kapolaga, jahe, kunyit, serai dapur, adas, ketumbar, jintan, bawang dan lainlain. Bentuk terkonsentrasi atau intisari dari rempah-rempah disebut oleoresin, yang dibuat dengan proses ekstraksi menggunakan pelarut organik sehingga dalam dosis kecil. Penggunaan oleorein rempah-rempah dalam industri biasanya dalam bentuk dispersed spice, fat based spice dan encapsulated spice. Perkembang indutri makanan, minuman, kosmetik, farmasi dan lainnya merupakan peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan nilai tambah dari pengolahan rempah-rempah menjadi oleoresin. Kata kunci : oleoresin, rempah.
- ItemPeningkatan Daya Saing melalui Penerapan Strategic Quality Management pada Agroindustri Minyak Pala 297-302(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Suci Wulandaridan Agus WahyudiPersaingan antar produsen minyak pala terus meningkat. Hal ini antara lain disebabkan oleh fluktuasi produksi dan peningkatan permintaan, yang pada akhirya meningkatkan harga minyak pala. Pada kondisi demikian, maka pemenuhan persyaratan konsumen yang dinyatakan dalam tingkat mutu, menjadi sangat strategis. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk membangun sistem agroindustri minyak pala yang berorientasi kepada peningkatan mutu adalah penerapan sistem manajemen mutu yang tidak hanya bersifat teknis tetapi juga strategis. Tulisan ini menguraikan daya saing industri minyak pala ditinjau dari sisi proses dan pencapaian mutu, dan strategi peningkatan daya saing berbasis mutu. Pencapaian standar mutu minyak pala masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan, yaitu (1) faktor pra panen meliputi varietas, cara budidaya, waktu dan cara panen, dan (2) faktor pasca panen meliputi cara penanganan bahan, cara penyulingan, pengemasan dan transportasi. Strategic Quality Management diterapkan pada agroindustri minyak pala dengan menerapkan aspek: perbaikan berkesinambungan, perencanaan mutu, desain mutu, pengendalian bahan baku dan bahan tambahan, penanganan proses penyulingan, pengemasan, serta penyimpanan. Kata kunci: agroindustry, nutmeg oil, competitiveness, quality management
- ItemManajemen Risiko Rantai Pasok pada Agroindustri Minyak Pala 291-296(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Suci Wulandari dan I Ketut ArdanaSalah satu upaya untuk meningkatkan daya saing industri minyak pala adalah dengan mengintegrasikan pelaku secara efisien melalui penerapan manajemen rantai pasok (supply chain management). Penerapan manajemen rantai pasok pada agroindustri pala menjadi lebih sulit dan kompleks karena: pemasok bahan baku sangat banyak dengan kualitas yang beragam, bahan baku bersifat high perishable, musiman dan bulky sehingga banyak faktor yang tidak dapat diprediksi, dan pelaku pada industri pengolahan didominasi oleh industri kecil. Hal ini tidak terlepas dari tingginya risiko pada rantai pasok tersebut. Kajian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi risiko pada rantai pasok agroidustri minyak pala, dan (2) menyusun konsep pengelolaannya. Metode analisis yang digunakan risk maping dan risk assessment yang didukung dengan analisis deskriptif kualitatif hasil baseline survey yang dilakukan di sentra produksi pala di Bogor pada tahun 2013, serta analisa situasional industri dan review pasar pada tahun 2013-2015. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko rantai pasok agroindustri minyak pala yaitu: risiko eksternal dan risiko internal. Risiko eksternal terdiri dari risiko kerjasama (cooperative risk), risiko keputusan manajemen (management decision risk), risiko pembagian informasi (information sharing risk), risiko penjadwalan (operation schedule risk). Risiko internal terdiri risiko finansial (financial risk), risiko proses (process risk) dan risiko pasar (market risk). Risiko yang dominan berpengaruh terhadap kinerja agroindustri adalah risiko kerjasama, risiko finansial, dan risiko proses. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan manajemen risiko rantai rasok agar seluruh sistem menjadi efisien dan efektif, serta minimalisasi biaya. Kata kunci: supply chain, risk management, agroindustry, nutmeg oil
- ItemPenerapan Model Pengembangan Usaha untuk Meningkatkan Daya Saing Industri Minyak Pala 285-290(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Agus Wahyudi dan Suci WulandariPerubahan lingkungan telah menyebabkan percepatan dinamika wilayah dan kompetisi antar negara. Pada kondisi demiklan, tuntutan terhadap kemampuan adaptasi dan antisipasi semakin tinggi. Industri minyak pala merupakan salah satu Industri pertanlan yang terkena pengaruh secara signifikan atas dinamika lingkungan yang terjadi. Oleh karena itu perlu dikembangkan model usaha yang mampu mengantisipasi perubahan tersebut. Tujuan dari kajian ini adalah: (1) pemetaan industri minyak pala, (2) identifikasi permasalahan, dan (3) analisis model pengembangan usaha pada industri minyak pala, Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil boseline survey dan analisa situasional industri. Pengembangan perkebunan pala 99,27% merupakan perkebunan rakyat. Sumberdaya yang mempengaruhi kinerja industri terdiri dari: (1) bahan baku, (2) sumberdaya manusia, (3) sumberdaya teknologi, (4) sumberdaya informasi, dan (5) sumberdaya finansial. Model pengembangan industri pala dapat didorong darl: organisasl produsen (producer organization), dorongan pembeli (buyer driven) dan perantara (intermediary). Kata kunc: bussiness model, nutmeg oil, agroindustry, competitiveness
- ItemPengaruh Media Tumbuh Terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Benih Pala (Myristica fragrans, Houtt) 277-284(Badan Penelitian dan Pertanian, 2016-12-01) Rudi Suryadi, M. Zaenudin dan Teguh SantosoPenggunaan media tumbuh akan mempengaruhi keberhasilan dalam penyemaian benih. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan media tumbuh terbaik untuk perkecambahan dan pertumbuhan benih pala. Penelitian dilakukan di rumah kaca Balitrro mulai bulan Mei sampai Oktober 2015. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok, delapan perlakuan dengan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah media tumbuh yaitu, 1) Tanah, 2) Pasir 3) Arang sekam, 4) Cocopeat, 5) Pasir + tanah (1:1), 6) Pasir + arang sekam (1:1), 7) Pasir + cocopeat (1:1), 8) Arang sekam + cocopeat (1:1). Benih pala yang digunakan adalah tipe gaji dengan berat 12-14 g/butir yang diperoleh dari Kebun Percobaan Cicurug. Parameter yang diamati adalah sifat fisik media tumbuh, persentase kecambah benih, dan pertumbuhan benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih pala berkecambah tidak serentak. Benih berkecambah mulai 23 hari setelah semai (HSS) dan berakhir pada 72 HSS. Persentase kecambah benih pala tertinggi diperoleh pada media tumbuh pasir (83,33%). Pertumbuhan benih terbaik diperoleh dari media tumbuh pasir + arang sekam (1:1) pada umur 90 hari setelah berkecambah. Kata Kunci: Media tumbuh, Myristica fragrans, Perkecambahan, Pertumbuhan.