Prosiding Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 23
  • Item
    Penggunaan Traktor dan Produktivitasnya: Kasus di Kabupaten Pinrang dan Sidrap, Sulawesi Selatan
    (Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Arifin, Sultoni
    Timbulnya perbedaan pendapat terhadap penggunaan traktor untuk pengolah tanah bersumber pada tidak jelasnya dampak mekanisasi tersebut terhadap peningkatan pendapatan petani dan lapangan kerja. Studi kasus di Kabupaten Pinrang dan Sidrap, Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa petani yang masih muda dan kurang berpengalaman cenderung menggunakan traktor untuk mengolah tanah. Luas tanah garapan petani yang selalu menggunakan traktor untuk mengolah tanah dua kali lipat daripada luas tanah garapan petani yang tidak pernah atau hanya sewaktu-waktu menggunakan traktor. Pada umumnya, penggunaan traktor akan mengurangi pemakaian tenaga kerja, terutama tenaga keluarga. Kenaikan hasil yang diperoleh kelompok petani pemakai traktor lebih erat kaitannya dengan penggunaan sarana produksi (pupuk dan pestisida). Petani di daerah irigasi menyesuaikan kegiatannya dengan anjuran pemerintah, sedangkan di daerah tadah hujan kegiatan tersebut tergantung pada curah hujan. Tampaknya pengaruh traktorisasi terhadap kegiatan tanam dan panen tidak konsisten. Analisa regresi memperlihatkan bahwa keragaman hasil dari tahun ke tahun dipengaruhi oleh keadaan air dan waktu panen.
  • Item
    Aspek Mekanisasi Pengolahan Tanah di Sulawesi Selatan
    (Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Maamun, Jusuf
    Penggunaan alat mekanisasi pengolahan tanah di Sulawesi Selatan telah berkembang dari 25 unit pada tahun 1974 menjadi 1658 unit pada tahun 1981 dan 51% di antaranya terdapat di Kabupaten Pinrang dan Sidrap. Produksi yang dicapai petani pemakai traktor lebih tinggi daripada produksi yang dicapai petani nonmekanis. Namun hal ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh penggunaan pupuk yang lebih tinggi pada petani mekanis. Peningkatan intensitas tanam lebih terkait dengan keadaan pengairan. Meningkatnya pendapatan keluarga petani disebabkan oleh sumber pendapatan yang berasal dari luar usahatani yang mencapai 47% dari seluruh pendapatannya. Persentase ini lebih tinggi lagi pada daerah tadah hujan mekanis. Tenaga dalam keluarga (DK) ternyata mendominasi pemakaian tenaga kerja yang mencapai 81% pada petani mekanis dan 78% pada petani nonmekanis. Pada petani nonmekanis di daerah irigasi, penggunaan tenaga DK lebih banyak daripada di daerah tadah hujan. Sebagian besar dari tenaga luar keluarga (LK) digunakan untuk panen.
  • Item
    Pemilikan dan Pengusaha Traktor di Sulawesi Selatan
    (Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Hafsah, Jafar; Maamun, Jusuf
    Pada umumnya (± 94%) traktor dibeli dengan cara kredit, yang terdiri dari 74% melalui Bank dan 20% melalui penyalur. Yang dibeli secara tunai hanya 6%. Komposisi tersebut selalu berubah sejalan dengan kebijaksanaan Pemerintah di sektor perbankan dan moneter serta perkembangan harga traktor. Adopsi teknologi traktor didasari oleh pertimbangan teknis (pengolahan tanah dan waktu tanam dapat dilakukan lebih cepat), pertimbangan sosial (peningkatan prestise) dan karena mengharapkan hasil yang lebih tinggi. Analisa biaya untuk pembelian traktor pada tahun 1975 dan tahun 1976 menunjukkan "Benefit Cost Ratio" sebesar 0,81 (untuk tahun 1975) dan 0,97 (untuk tahun 1976), masing-masing pada tingkat bunga 12% tiap tahun. Dengan traktor dan tingkat bunga yang sama, "Net Present Value" adalah Rp 539.000,- untuk traktor 1975 dan -Rp 88.000,- bagi traktor 1976. "Internal Rate of Return" besarnya hanya 1% (untuk traktor 1975) dan 10,5% untuk traktor pembelian tahun 1976. Titik impas akan tercapai bila traktor pembelian 1975 mengolah tanah seluas 60,4 ha, sedangkan traktor pembelian tahun 1976 adalah 55,8 ha. Di samping itu, sewa traktor juga dapat dinaikkan untuk mencapai titik impas, yakni menjadi Rp 18.141,- bagi traktor tahun 1975 dan Rp 16.850,- bagi traktor pembelian tahun 1976. Kenyataan ini konsisten dengan terjadinya penunggakan pengembalian kredit pembelian.
  • Item
    Pola Penggunaan Traktor Kecil Pertanian di Sulawesi Selatan
    (Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Saleh, A. Karim
    Walaupun terjadi peningkatan keinginan pada petani untuk menggunakan traktor kecil sebagai alat pengolah tanah, tetapi tunggakan kredit traktor kecil ternyata semakin membengkak, dukungan penyediaan suku cadang sangat langka dan tanggungjawab penyalur juga semakin kendor. Membengkaknya tunggakan kredit tersebut diakibatkan oleh kerugian yang diderita oleh pemilik traktor, karena untuk melunasinya dalam waktu 4 tahun, pemilik harus menderita kerugian sebesar Rp 520.000,-. Tidak tersedianya suku cadang dan dengan tidak terdapatnya bengkel tetap, menyebabkan ± 45% dari seluruh traktor kecil yang terdapat di Kabupaten Soppeng, Sidrap, Luwu, Pinrang dan Polewali mengalami kerusakan berat, sedangkan sisanya mengalami kerusakan ringan. Bagian-bagian yang sering mengalami kerusakan adalah torak, tali kipas, bearing, piring, rotari, seal oil, pisau dan pemanas mesin. Disarankan untuk menerapkan sistem sewa ("leasing") bagi daerah tersebut.
  • Item
    Pengoperasian Jasa Traktor di Kecamatan Bonebone, Kabupaten Luwu
    (Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Proyek Pengembangan Pembangunan Daerah dan Transmigrasi
    Masalah pokok yang dihadapi oleh petani di Kecamatan Bone-bone adalah hal-hal yang menyangkut pengolahan tanah, karena langkanya tenaga kerja manusia maupun hewan. Keadaan ini dipersulit lagi oleh perkembangan sosial dan kebudayaan. Peranan jasa traktor dikaji dari segi (a) pemakai; (b) pemerintah dan instansi lain; dan (c) penyedia jasa traktor. Pemerintah melihat penggunaan jasa traktor sebagai cara untuk mempermudah pengaturan jadwal tanam, memperkecil wilayah serangan hama dan selanjutnya akan meningkatkan penghasilan masyarakat. Sedangkan petani/pemakai jasa traktor melihatnya sebagai cara mempersingkat periode pengolahan tanah sehingga waktu luang dapat dimanfaatkan di sektor lain. Penyedia jasa traktor berkepentingan untuk memperoleh keuntungan di samping ikut berperan serta dalam pembangunan. Pemilikan traktor dapat ditempuh secara kredit, dibayar tunai sehabis pengolahan tanah, atau dengan cara membayar uang muka 50% dan sisanya dilunasi sehabis panen. Di samping itu traktor dapat disewa untuk suatu pekerjaan tertentu. Walaupun biaya "overhead" di lapang lebih besar dari yang diperkirakan, namun mekanisasi pengolahan tanah sangat bermanfaat bagi petani dan pemerintah setempat.