Prosiding Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 162
- ItemAnalisis Usaha Ternak Itik Alabio di Kalimantan Selatan(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1989-08-01) Santoso, BudiTentu, berikut adalah penyajian ringkasan materi usahatani itik Alabio di Kalimantan Selatan dalam bentuk paragraf mengalir tanpa poin-poin: Kebijakan pemerintah di bidang peternakan berfokus pada peningkatan produksi hasil ternak dan populasi ternak nasional untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat sekaligus menyumbang devisa negara. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi geografis yang sangat mendukung sebagai sentra pengembangan peternakan, yang ditandai oleh ketersediaan padang alang-alang seluas sekitar 600.000 hektar untuk ternak ruminansia serta kawasan rawa-rawa seluas 500.000 hektar yang sangat ideal bagi usaha peternakan itik. Salah satu komoditas unggulan lokal yang banyak dikembangkan adalah itik Alabio. Meskipun sistem pemeliharaannya mulai bergeser ke model perkandangan, lingkungan rawa-rawa tetap dimanfaatkan secara optimal oleh para peternak sebagai sumber pakan alami seperti ikan kecil, siput air, dan udang. Kendati demikian, keberlanjutan usaha ternak itik Alabio saat ini berhadapan dengan persaingan ketat dari ayam ras yang dinilai lebih unggul dalam efisiensi produksi telur maupun daging. Tantangan ini semakin diperberat oleh kelangkaan bahan pakan tradisional yang murah seperti sagu, sehingga memaksa peternak beralih ke dedak halus dengan biaya operasional yang jauh lebih tinggi. Berlandaskan dinamika ekonomi dan tantangan pakan tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis pola usaha ternak itik Alabio di daerah penelitian, mengkaji struktur biaya dan pendapatannya, mengevaluasi kontribusinya terhadap penyerapan kesempatan kerja pedesaan, serta mengidentifikasi berbagai faktor produksi yang memengaruhi tingkat output usahatani tersebut.
- ItemKeragaan Teknologi dan Pendapatan Usahatani Padi pada berbagai Tipe Lahan di Lampung(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1989-08-01) HendiartoDalam rangka mencukupi kebutuhan makanan pokok, pemerintah telah melaksanakan berbagai usaha untuk meningkatkan produksi beras. Usaha-usaha yang telah dilaksanakan diantaranya adalah ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian dalam usahatani. Usaha-usaha tersebut telah membuahkan hasil yang menggembirakan, yakni tercapainya swasembada beras mulai tahun 1984. Untuk mempertahankan keadaan swasembada beras pada tahun-tahun berikutnya, maka laju pertumbuhan produksi padi harus mencapai 2,5 persen per tahun, bila laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 2,15 persen per tahun. Program pembangunan pertanian tidak terlepas dari usaha peningkatan kesejahteraan petani. Cara untuk meningkatkan taraf hidup petani diantaranya adalah dengan meningkatkan produktivitas lahan pertanian dan dengan meningkatkan frekuensi tanam. Dengan dibangunnya jaringan irigasi, sawah yang semula hanya dapat ditanami padi satu kali dalam setahun diharapkan bisa menjadi dua kali dalam setahun. Dalam tulisan ini dibahas bagaimana keragaan dan pendapatan usahatani padi di sawah beririgasi dibandingkan dengan sawah tadah hujan di Propinsi Lampung pada musim tanam 1987 dan 1987/1988.
- ItemAnalisis Usahatani Kopi di Lampung(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1989-08-01) HendiartoPenurunan penerimaan nasional dari sektor minyak dan gas bumi (migas) sejak tahun 1982 dimana nilai ekspor migas menyusut dari Rp22.328,3 miliar menjadi Rp17.237,2 miliar pada tahun 1987 mendorong pemerintah untuk mengalihkan tumpuan penerimaan devisa ke sektor non-migas. Nilai ekspor non-migas mencatatkan lonjakan signifikan dari Rp3.929,2 miliar (1982) menjadi Rp8.598,9 miliar (1987). Subsektor perkebunan, khususnya komoditas kopi, memegang peranan kunci dalam strategi kompensasi devisa tersebut. Di tingkat nasional, perkebunan kopi rakyat mendominasi struktur produksi jika dibandingkan dengan perkebunan besar (negara maupun swasta). Pada tahun 1986, perkebunan rakyat menguasai 888.900 hektar dengan produksi 334.200 ton, sementara perkebunan besar hanya mencakup 46.200 hektar dengan produksi 26.700 ton. Provinsi Lampung tampil sebagai salah satu sentra perkebunan kopi rakyat paling strategis di Indonesia. Pada tahun 1985, dengan luas areal 109.099 hektar (11,9 persen dari total nasional) dan volume produksi mencapai 69.068 ton (22,1 persen dari produksi nasional), tingkat produktivitas perkebunan kopi rakyat di Lampung tercatat jauh melampaui rata-rata nasional. Mengingat dominasi perkebunan rakyat yang hampir mutlak di Provinsi Lampung (di mana perkebunan besar hanya mencakup 128 hektar), tulisan ini bertujuan mengkaji prospek Lampung dalam mendukung peningkatan produksi kopi nasional dengan menganalisis faktor-faktor kunci seperti: 1) Potensi wilayah dan daya dukung lingkungan. 2) Ketersediaan tenaga kerja rumah tangga dan luar keluarga. 3) Kondisi pertanaman serta tingkat penerapan teknis budidaya perkebunan rakyat. 4) Tingkat kelayakan ekonomi dan analisis keuntungan (profitability) usaha tani kopi rakyat.
- ItemAnalisis Usahatani dan Optimasi Penggunaan Masukan Usahatani Kelapa Rakyat di Daerah Pasang Surut Kalimantan Selatan(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1989-08-01) Santoso, BudiPengusahaan tanaman perkebunan memiliki potensi strategis sebagai penyerapan tenaga kerja, penghasil devisa negara, serta pemenuh kebutuhan konsumsi domestik. Di Indonesia, lebih dari 97 persen produksi kelapa berasal dari perkebunan rakyat. Kendati pohon kelapa memiliki nilai guna yang sangat beragam (dari daging buah hingga batang), mayoritas pengusahaan kelapa rakyat masih bersifat usahatani sampingan tanpa penerapan standar kultur teknis dan pemeliharaan yang memadai. Sejak tahun 1983, penurunan kapasitas produksi domestik sempat mengubah status Indonesia dari eksportir kopra dan minyak kelapa menjadi pengimpor. Padahal, prospek pasar komoditas ini tetap cerah seiring proyeksi Bank Dunia mengenai ketimpangan pasokan minyak kelapa dunia hingga 1990. Salah satu kawasan potensial pengembangan kelapa rakyat adalah Kalimantan Selatan, khususnya pada lahan pasang surut bergambut. Kendala utama pada ekosistem ini bertumpu pada persoalan teknis agronomis—seperti batas kedalaman lapisan gambut (>100 cm) dan perlunya sistem drainase/kanalisasi yang membutuhkan investasi modal cukup besar. Berlandaskan kendala teknis dan potensi ekonomi tersebut, tulisan ini bertujuan untuk: 1) Menyajikan deskripsi usahatani dan pola penggunaan faktor produksi pada kelapa rakyat di lahan pasang surut. 2) Menganalisis struktur biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani kelapa selama satu tahun serta perannya terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. 3) Menguji efisiensi alokasi penggunaan input guna mengetahui apakah alokasi faktor produksi telah mencapai tingkat keuntungan yang maksimum (optimal) atau belum.
- ItemSistem Produksi dan Pemasaran Ubikayu di Lampung(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1989-08-01) Pasaribu, Sahat M.Ubi kayu memegang peranan strategis sebagai salah satu makanan pokok utama setelah beras dan jagung, khususnya di wilayah pedesaan yang mengolahnya menjadi produk pangan olahan seperti gatot dan tiwul. Keunggulan komoditas ini terletak pada daya adaptasinya yang tinggi pada berbagai jenis lingkungan tanah (termasuk lahan marjinal), teknik budidaya yang relatif mudah, serta kecenderungan harga domestik yang kian menguntungkan. Data proyeksi periode 1976–1995 mengindikasikan bahwa meskipun luas tanam diperkirakan menyusut pada tahun 1990 dan 1995, tingkat produksi, produktivitas, dan harga di tingkat petani diproyeksikan terus meningkat. Peningkatan harga ubi kayu di tingkat lokal didorong oleh membaiknya permintaan pasar domestik, ekspansi volume ekspor, serta adanya kebijakan pembatasan impor gaplek dan tapioka yang berfungsi sebagai proteksi bagi produsen dalam negeri. Di tingkat petani, transaksi penjualan umumnya dilakukan dalam bentuk ubi basah atau gaplek melalui mekanisme panen mandiri maupun sistem tebasan. Pada sistem tebasan, posisi tawar petani relatif kuat dalam penentuan harga, yang mencerminkan makin membaiknya pemahaman petani terhadap dinamika pasar. Sebagai salah satu sentra produksi ubi kayu terbesar di Indonesia, Provinsi Lampung menjadi lokasi yang krusial untuk dipelajari. Berdasarkan latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan mengkaji sistem produksi dan rantai pemasaran ubi kayu di Provinsi Lampung guna merumuskan implikasi kebijakan strategis yang relevan bagi pengembangan komoditas pangan non-beras.