Prosiding Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 32
- ItemKomposisi, Pertumbuhan dan Dampak Mekanisasi Usahatani Kecil di Asia(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Duff, BartMakalah ini mengulas tentang pengalaman sejumlah negara di Asia dalam melaksanakan mekanisasi untuk usahatani kecil. Perbedaan antara kejadian di negara-negara maju seperti Jepang, Korea, dan Taiwan dibandingkan dengan negara-negara yang sedang mengalami pergeseran pola bertaninya. Hasil pengamatan menyarankan bahwa mekanisasi yang diadopsi pertama kali adalah pengolahan tanah, penggilingan gabah, dan pompa air. Distorsi harga peralatan pertanian sering terjadi di beberapa negara.
- ItemPersepsi dan Tingkat Adopsi Petani terhadap Inovasi Teknologi Integrasi Tanaman Kakao dan Ternak Sapi: Studi Kasus di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah(IAARD Press, 2015-11) Amin, Muhammad; Dewi, M.; SoeharsonoPendekatan pembangunan pertanian tidak terlepas dari peran inovasi teknologi dan kelembagaan agribisnis. Tujuan kajian ini untuk mengetahui persepsi dan tingkat adopsi inovasi teknologi terintegrasi tanaman kakao dan ternak sapi. Penelitian dilaksanakan di lokasi pendampingan Model Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Inovasi (m-P2BBI) di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong dengan sebanyak 20 petani responden yang tergabung pada Kelompok Tani Karya Bersama. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan FGD. Pengukuran persepsi petani menggunakan skala Likert. Proses adopsi inovasi yang dikaji mencakup teknologi pengolahan pakan dari limbah kakao, pengolahan pupuk organik dari limbah ternak, pengendalian hama/penyakit pada kakao dengan menggunakan feromon seks serta penggunaan pupuk organik pada tanaman kakao. Data primer dan sekunder dianalisis secara deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan persepsi petani yang cukup tinggi, yakni 88,6% pada aspek sosial budaya; sementara aspek teknis dan ekonomi masih dalam kelas sedang, yakni 72,14%. Selanjutnya, adopsi petani terhadap inovasi teknologi cukup tinggi (91,35%) pada aspek teknologi pengendalian hama penyakit dengan menggunakan feromon seks. Artinya, bahwa persepsi petani terhadap inovasi teknologi sangat ditentukan oleh sosial budaya masyarakat petani dalam menerima inovasi teknologi.
- ItemFaktor-Faktor yang Memengaruhi Adopsi Petani terhadap Inovasi Teknologi Jeruk Gerga Lebong di Provinsi Bengkulu(IAARD Press, 2015-11-10) Astuti, Umi Pudji; Sugandi, D.; HamdanPengembangan kawasan agribisnis jeruk di Kabupaten Lebong perlu didukung oleh peranan pemangku kepentingan (stakeholder) dan petani jeruk, serta metode diseminasi yang tepat. Permasalahannya adalah sejauh mana persepsi petani jeruk terhadap pengembangan usaha tani jeruk RGL. Pengetahuan mengenai persepsi petani tersebut dibutuhkan sebagai langkah awal dalam pengembangan kawasan agribisnis jeruk di Kabupaten Lebong. Proses adopsi teknologi spesifik lokasi dipengaruhi oleh faktor internal dan persepsi petani terhadap sifat inovasi teknologi. Proses difusi inovasi teknologi pertanian dirasakan berjalan lambat dan memerlukan waktu untuk meyakinkan petani agar mau mengadopsi teknologi yang dianjurkan. Tujuan kajian yaitu untuk mengetahui keeratan hubungan tingkat pengetahuan dan adopsi petani serta mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi adopsi petani terhadap inovasi teknologi jeruk. Metode kajian ini melalui survei kepada 40 petani jeruk di Kecamatan Rimbo Pengadang, Kabupaten Lebong. Data yang dikumpulkan meliputi internal petani (karakteristik petani, data adopsi, dan kosmopolitan). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan statistik parametrik menggunakan pendekatan fungsi linier berganda. Hasil kajian menunjukkan bahwa 1) tingkat pengetahuan petani dan tingkat adopsi terhadap inovasi PTKJS berhubungan sangat erat dan positif; 2) faktor yang memengaruhi tingkat adopsi petani terhadap PTKJS adalah faktor internal responden (pendidikan, pengetahuan, dan intensitas mengikuti pelatihan), dan faktor eksternal responden (jarak dari rumah ke kebun dan jarak dari rumah ke toko saprodi).
- ItemKeragaan Sistem Penyuluhan Pertanian di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten(IAARD Press, 2015-11-10) Fauzan, Ahmad; Kartono,Bentuk kelembagaan penyuluhan di Indonesia beragam seiring dengan sistem pemerintahan otonomi daerah. Hal ini tentu akan berdampak terhadap kinerja kelembagaan penyuluhan dalam mendukung pembangunan pertanian di masing-masing daerah. Provinsi Banten memiliki delapan kabupaten/kota dengan bentuk kelembagaan penyuluhan yang beragam. Kabupaten Pandeglang memiliki lembaga penyuluhan yang belum sepenuhnya sesuai dengan amanat UU No. 16 tahun 2006. Hal ini perlu dilihat secara rinci tentang keragaan sistem penyuluhan yang terjadi. Kajian dilakukan melalui studi referensi dan penggalian informasi melalui temu informasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil analisis menunjukan bahwa 1) ketenagaan di BKPP Kabupaten Pandeglang sebanyak 394 orang dengan memiliki cakupan wilayah binaan rata-rata dengan luas sawah 258,14 ha, lahan darat 1.056 ha, 2 desa binaan, dan 14 kelompok tani; 2) sapras yang dimilki BKPP Kabupaten Pandeglang terdiri dari Kebun Percontohan 16 BP3K, sistem pengairan kebun 10 BP3K, ruang pertemuan 13 BP3K, dan sarana pembelajaran 11 BP3K; 3) permasalahan dan kendala dalam kegiatan penyuluhan di Kabupaten Pandeglang adalah sapras penyuluhan 77%, keterbatasan alsintan 10%, hama penyakit 7%, dan ketersediaan sarana produksi 6%; dan 4) teknologi yang dibutuhkan sebagai materi penyuluhan di Kabupaten Pandeglang adalah a) budi daya tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan (70%); b) pengolahan dan pemasaran hasil (20%); dan c) metodologi pelaksanaaan penyuluhan (10%). Ketenagaan penyuluh di Kabupaten Pandeglang perlu didukung dengan meningkatkan peran penyuluh swadaya dan peningkatan kompetensi penyuluh yang berkesinambungan.
- ItemBelajar dari Pengalaman Mekanisasi Pertanian(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) SoedjatmikoIntroduksi mekanisasi pertanian di Indonesia oleh pihak swasta mungkin dimulai sejak tahun 1920 di pabrik gula Jatiroto dengan memperkenalkan bajak "raksasa" untuk sistem tebu reynoso. Demikian pula traktor telah diperkenalkan oleh misi di Flores pada waktu yang hampir bersamaan. Barulah pada permulaan tahun 1950-an, kegiatan mekanisasi pertanian dilembagakan sebagai bagian pada Jawatan Pertanian Rakyat khususnya untuk membantu peningkatan produksi pangan.