Prosiding Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Prosiding Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 23
Results Per Page
Sort Options
- ItemPendapatan dan Kesempatan Kerja Buruh Migran di Mariuk dan Tambakdahan, Kabupaten Subang, Jawa Barat(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01) Colter, Yusuf M.Usaha efisiensi air irigasi antara lain dilakukan dengan mengatur distribusi air secara ketat. Jadwal pengairan yang ditentukan sering menimbulkan masalah kekurangan tenaga kerja. Untuk mengatasi masalah ini, petani berusaha menggunakan traktor yang kemudian dikhawatirkan akan berpengaruh negatif terhadap beberapa aspek, antara lain pola migrasi tenaga musiman di daerah tersebut. Penelitian yang diadakan di Subang ini (1979-80), diharapkan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan untuk menentukan perlu atau tidaknya introduksi mesin pertanian di suatu daerah. Pada kondisi penggunaan tenaga manusia dan ternak, Mariuk kekurangan 451 dan 686 tenaga pria untuk akhir bulan Oktober dan seluruh bulan Maret. Di Tambakdahan, kekurangan tenaga meliputi 188 dan 534 tenaga pria pada awal November dan Maret. Sebanyak 29 dan 20% jam kerja di Mariuk dan Tambakdahan dipenuhi oleh tenaga dari luar desa. Petani traktor justru banyak menggunakan buruh migran karena sudah merupakan langganan sejak sebelum traktor masuk. Di samping itu, buruh lokal cenderung lebih suka bekerja pada petani yang bukan pengguna traktor. Sebagian besar buruh migran berumur 14-27 tahun (65%), tidak memiliki lahan (61%), mempunyai tingkat pendidikan 2 tahun, dan beranggota keluarga 2,6 jiwa. Sebagian buruh migran mengalihkan kegiatannya di kota-kota besar karena pendapatan yang lebih besar (Rp 1.140/hari) dibanding di dua desa tujuan semula (Rp 405/hari, harga gabah Rp 65/kg). Untuk mengatasi kelangkaan tenaga disarankan antara lain pelonggaran jadwal irigasi, introduksi traktor, dan perluasan informasi pekerjaan di daerah yang kelebihan tenaga. Jadwal irigasi juga bisa ditinjau lagi untuk pola tiga kali tanam sehingga kesempatan kerja makin meningkat.
- ItemKonsekuensi Mekanisasi Pertanian di Indonesia (Consequences of Small Farm Mechanization in Indonesia): Proceedings of a workshop Jointly Spnsored by the AARD-IRRI.(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Kasryno, Faisal; Syam, Mahyuddin; Saefuddin, Yusuf; Manurung S.O.; Mundy, PaulMekanisasi pertanian, merupakan aspek yang penting dalam tahapan pembangunan yang sedang kita lakukan. Di satu pihak kita berusaha untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani, termasuk buruh taninya, di lain pihak kita pun berusaha untuk menciptakan/memperluas kesempatan kerja di daerah pedesaan. Atas dasar ini, kita ditantang untuk menciptakan atau memilih suatu teknologi atau paket teknologi, yang mampu memenuhi tujuan-tujuan tadi. Minimal pengembangan teknologi hendaknya dapat memenuhi salah satu tujuan tersebut tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap tujuan lainnya. Hal tersebut di atas telah mendorong Badan Litbang Pertanian yang bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Padi Internasional IRRI (International Rice Research Institute) untuk melakukan penelitian di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan pada tahun 1979-80. Sebagai kelanjutan penelitian itu, diadakan serangkaian lokakarya yang diselenggarakan di Sukamandi pada tanggal 27-28 Juli 1983, di Maros tanggal 1-2 Agustus 1983. Pembahasan umum kemudian dilakukan di Jakarta. Naskah-naskah yang dimuat dalam risalah ini menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris, sesuai dengan penyajian pada waktu lokakarya.
- ItemDampak Penggunaan Traktor Terhadap Kesempatan Kerja(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Siregar M.Penggunaan traktor diduga mempunyai beberapa keuntungan seperti memperbaiki mutu olah tanah, mengatasi masalah waktu, meningkatkan pendapatan, dan menambah kenyamanan kerja. Kekurangan tenaga kerja akibat penjadwalan air irigasi dapat diatasi dengan penggunaan tenaga traktor. Namun karena kekurangan tenaga ini bersifat musiman, maka masih ada alternatif lain yang mungkin bermanfaat, yaitu menambah jumlah ternak dan meningkatkan mobilitas tenaga manusia antar daerah. Penelitian ini dimaksudkan untuk mempelajari dampak penggunaan traktor terhadap kesempatan kerja di Kabupaten Subang dan Indramayu pada tahun 1979-80. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim hujan, traktor dan ternak membutuhkan tenaga 30 dan 16 HKO lebih rendah dibanding penggunaan cangkul, sedang pada musim kemarau traktor menggunakan tenaga 16 HKO lebih rendah. Biaya pengolahan tanah dengan traktor, ternak, dan manual tidak berbeda nyata. Tetapi usahatani traktor memperoleh pendapatan yang lebih tinggi karena hasil padi yang diperoleh lebih tinggi. Tingginya hasil ini disebabkan karena usahatani traktor menggunakan pupuk lebih banyak.
- ItemMekanisasi Pertanian dan Pembangunan Nasional(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) HamidAlat dan mesin pertanian merupakan salah satu unsur penting dalam pembangunan produksi pangan. Akan tetapi penerapan teknologi mekanis ini masih mengalami beberapa hambatan. Penyuluhan alat dan mesin pertanian sering gagal karena kurangnya pengetahuan, keterampilan, dan percontohan, di samping terdapat faktor tidak cukupnya insentif, pelayanan, serta tidak berkembangnya nilai-nilai tradisional. Pemecahan yang bisa disodorkan ialah menyelenggarakan latihan praktis tingkat lapangan. Selanjutnya para pengrajin dibimbing untuk mampu mengembangkan paket yang berisi pola dasar, sesuai dengan bahan, sarana, dan keterampilan yang tersedia di tempat.
- ItemPotensi Lahan Pertanian di Wilayah Pengairan Jatiluhur untuk Pengembangan Palawija(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Fagi, Achmad M.; Pirngadi K.; HaryonoUsaha pengembangan palawija di wilayah pengairan Jatiluhur mengalami beberapa hambatan, antara lain disebabkan oleh terlambatnya tanam padi akibat kekurangan tenaga pengolah tanah. Selain itu, pola pengadaan benih masih belum bisa menyediakan benih tepat pada waktunya. Dilihat dari jadwal alokasi air, hanya daerah golongan I, II, dan III yang memungkinkan untuk ditanam palawija. Jika palawija ditanam di daerah golongan IV, V, dan VI, maka masa panen akan jatuh pada musim hujan sehingga menimbulkan kesulitan dalam penanganan pasca panennya. Pada daerah golongan I dan II, sistem walik jerami pada padi sawah, dan tanpa pengolahan tanah memberi hasil yang baik. Rotasi tanaman yang paling menguntungkan ialah PB 36 - PB 36 - kacang hijau/jagung, Cisadane - PB 36 walik jerami - kacang hijau/jagung, dan PB 36 - PB 36 walik jerami - kacang hijau/jagung. Pada daerah golongan III, rotasi padi - padi - kacang tanah memberi hasil paling tinggi, disusul oleh padi - padi kacang hijau. Pengolahan tanah dalam barisan memakan waktu lebih lama dibanding pengolahan penuh. Sedangkan alat rotary injector planter bisa menghemat waktu tanam tanpa menurunkan hasil.
- ItemPengaruh Mekanisasi terhadap Produksi dan Penggunaan Tanaga Kerja Usahatani Sawah di Jawa Barat(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Bagyo, Al SriPekerjaan pengolahan tanah sering tidak selesai atau tidak sempurna karena singkatnya jadwal irigasi. Beberapa petani mengatasi masalah ini dengan menggunakan traktor. Suatu kenyataan di daerah yang banyak terdapat traktor, produktivitas penggunaan tenaga kerja usahatani yang menggunakan traktor lebih tinggi dibanding yang dikerjakan tanpa traktor. Untuk mengetahui peran traktor pada peningkatan produksi dan penggunaan tenaga kerja, maka diadakan penelitian di daerah-daerah yang mempunyai populasi traktor tinggi, yaitu di Kabupaten Indramayu dan Subang. Petani digolongkan berdasarkan cara pengolahan yang dipakai, yaitu traktor, ternak, dan cangkul. Usahatani dengan traktor menyerap tenaga kerja lebih besar, tetapi menggunakan tenaga per hektar lebih kecil. Intensitas tanam usahatani dengan traktor lebih rendah karena tidak ada tekanan ekonomi yang memaksa untuk menanggung resiko kekeringan jika menanam tanaman ketiga. Tingginya hasil yang diperoleh berturut-turut diakibatkan oleh penggunaan urea, fosfat, traktor, tenaga hewan, tenaga manusia, dan pestisida. Kecilnya saham pestisida ini di luar dugaan karena hama merupakan kendala paling besar di Jawa Barat.
- ItemKeuntungan Komparatif Pengunaan Traktor dalam Usahatani Padi(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Saefudin, Yusuf; Duff, BartDengan masuknya teknologi mekanis dalam pengolahan tanah, perlu ditinjau sejauh mana teknologi tersebut dapat memberi keuntungan. Dampak suatu teknologi tidak cukup hanya diperhitungkan melalui analisa finansial karena harga pasar tidak mencerminkan nilai sosial masukan dan keluaran, serta adanya biaya/keuntungan yang tidak langsung berhubungan dengan biaya dan pendapatan. Melalui penyesuaian harga pasar, analisa ekonomi dapat menghitung keuntungan komparatif bila besarnya sumberdaya domestik yang diperlukan untuk memperoleh satu satuan devisa lebih kecil daripada sumberdaya domestik masyarakat yang bersedia dikorbankan. Petani contoh diambil dari daerah Subang dan Indramayu pada musim hujan 1979/80 dan musim kemarau 1980. Hasil analisa menunjukkan bahwa baik teknologi mekanis maupun nonmekanis mempunyai keuntungan komparatif yang besar dan besarnya hampir sama. Pada musim hujan, biaya sumberdaya mekanis dan nonmekanis sekitar 54-57% lebih rendah daripada yang bersedia dikorbankan, sedang pada musim kemarau sekitar 43%. Dengan demikian, usahatani pada musim hujan lebih menguntungkan dibanding pada musim kemarau.
- ItemAnalisis Finansial Pengoperasian Traktor di desa Mariuk, Kabupaten Subang, Jawa Barat(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Hurun, Aten M.Dengan makin berkembangnya penggunaan traktor, perlu dikaji sejauh mana traktor itu secara finansial menguntungkan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menduga tingkat keuntungan petani pengguna traktor, motivasi pembelian traktor, dan identifikasi masalah teknis. Data dikumpulkan di desa Mariuk, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang selama November dan Desember 1980. Sebagian besar petani membeli traktor untuk mengatasi kelangkaan tenaga (58% traktor bensin dan 30% traktor disel), disusul alasan karena harga traktor murah (30% traktor bensin dan 20% traktor disel). Luas kerja dan titik impas untuk traktor bensin pada musim hujan 15,8 dan 11,3 ha serta pada musim kemarau 8,5 dan 9,7 ha, sedangkan traktor disel pada musim hujan 16,5 dan 19,3 ha serta pada musim kemarau 9,4 dan 18,6 ha. Ini berarti bahwa traktor bensin menguntungkan hanya pada musim hujan, bahkan traktor disel belum pernah mencapai titik impas. Kredit yang hanya berlaku untuk traktor disel, tidak mendapat hambatan. Kesulitan mendapatan suku cadang sering dihadapi oleh petani.
- ItemDampak Mekanisasi Pengolahan Tanah Terhadap Distribusi Pendapatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Saefudin, YusufPengembangan traktor dikhawatirkan mengakibatkan pengaruh negatif terhadap kesempatan kerja dan distribusi pendapatan. Penelitian diadakan di delapan desa Kabupaten Subang dan Indramayu pada musim hujan 1979/80 sampai dengan musim kemarau 1980, karena sebagian besar (34%) traktor di Jawa Barat terdapat di kedua kabupaten ini. Pada usahatani mekanis dan nonmekanis, tenaga kerja banyak terserap pada kegiatan pengolahan tanah, tanam, penyiangan, dan panen. Dibanding usaha nonmekanis, usahatani mekanis lebih menghemat 103-184 jam kerja/ha untuk pengolahan tanah, dan untuk semua kegiatan menghemat tenaga 13-18%. Penggunaan traktor di daerah penelitian hanya mempengaruhi penggunaan tenaga kerja, sedangkan dampaknya terhadap distribusi pendapatan sangat kecil. Pendapatan yang didistribusikan kepada buruh tani tidak banyak bergeser, yaitu 32,5-39,0% dari seluruh pendapatan total pada petani nonmekanis, dan 30,5-41,2% pada petani mekanis.
- ItemKebutuhan Traktor dalam usahatani Tanaman Pangan di Jawa Barat(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Dinas Pertanian Jawa BaratPenghitungan kebutuhan traktor untuk mengisi kekurangan tenaga didasarkan atas jumlah tenaga kerja yang tersedia dan luas lahan yang ada di suatu daerah. Untuk menghindari akibat sosial yang tidak diinginkan, Dinas Pertanian Jawa Barat hanya memperhitungkan kebutuhan traktor dari 20% kekurangan tenaga di suatu daerah. Pemilikan traktor diprioritaskan secara kolektif, sedangkan pengadaannya bisa didapat secara kontan (51,7%), KIK (31%), dan cicilan (12,8%). Berdasarkan studi di Subang pada tahun 1979, satu hektar lahan membutuhkan tenaga pengolah 80 hari kerja orang atau 21 hari kerja ternak + 25 hari kerja orang, atau 2 hari kerja unit traktor + 12 hari kerja orang. Pada daerah kekurangan tenaga kerja, penggarapan dengan cangkul dirasa lebih mahal (Rp 80.000 - Rp 100.000/ha) dibandingkan dengan traktor (Rp 40.000 - Rp 60.000/ha). Kekurangan tenaga untuk pengolahan tanah di daerah intensifikasi khusus bisa mencapai 56,4%, intensifikasi umum 55,0% dan non intensifikasi 50,2%. Dengan perhitungan 20% dari 225.000 ha area yang terhambat pengolahannya, maka Jawa Barat membutuhkan tambahan 3000 unit traktor.
- ItemPermintaan Traktor di Pinrang dan Sidrap, Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Arifin, SultoniAnjuran tanam serempak oleh pemerintah mengakibatkan periode pengolahan tanah semakin singkat dan tenaga kerja yang ada harus tersebar ke seluruh wilayah yang bersangkutan. Oleh karena itu, pendekatan terhadap perkiraan kebutuhan traktor dan tenaga pengolah tanah lainnya ditempuh melalui kombinasi optimal dari alat dan tenaga tersebut bagi seluruh wilayah, bukan bagi petani secara perorangan. Untuk itu, dalam analisa "linear programming" (LP), jumlah "surplus cash" dari hasil sawah seluruh daerah ditempatkan sebagai tujuan utama yang akan dimaksimalkan. Pada pola tanam petani (dua kali padi/tahun), dengan tingkat sewa traktor sebesar Rp 27.500,-/ha dan dengan menggunakan tenaga keluarga, maka permintaan akan traktor adalah 1.223 unit bagi areal seluas 34.238 ha, yang berarti rata-rata 28 ha tiap traktor. Apabila dalam hal tersebut tenaga kerja harus dibayar Rp 1.000,-/hari, maka permintaan akan traktor menjadi 4.004 unit bagi areal tanah seluas 144.127 ha atau rata-rata 36 ha bagi tiap traktor. Kedua rata-rata olah tersebut masih di bawah titik impas. yakni 43,8 ha. Peningkatan intensitas tanam melalui mekanisasi dari 2 menjadi 3 kali padi dalam setahun ahrus disertai dengan penggunaan varietas berumur genjah seperti PB 36. Dalam hal ini, bila tenaga kerja berasal dari tenaga keluarga, sedangkan tingkat sewa traktor tetap sebesar Rp 27.500,-/ha, maka luas seluruh lahan yang akan diolah adalah 121.131 ha dengan jumlah traktor sebanyak 3.676 unit (33 ha tiap traktor). Bila tenaga kerja ahrus dibayar Rp 1.000,-/hari, maka rata-rata tiap traktor akan mengolah areal seluas 40 ha, hampir mendekati titik impas (43,8 ha). Apabila sewa traktor ditingkatkan agar pemilik traktor jangan rugi, maka hal ini akan mengakibatkan turunnya pendapatan dan produksi total daerah. Hasil analisa juga menunjukkan bahwa introduksi trkator mengakibatkan berkurangnya pemakaian tenaga kerja. Dengan tingkat sewa traktor sebesar Rp 45.000,-/ha (dengan menggunakan tenaga keluarga) dan Rp 39.000.-/ha bila memakai tenaga kerja dengan upah Rp 1.000,-/hari, maka tidak akan ada traktor yang akan digunakan. karena petani akan beralih ke tenaga kerja manusia dan hewan.
- ItemPotensi dan Kebutuhan Alat-alat Mekanisasi Pengolahan Tanah di Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Basir, Radjagaoe A.Dari 539.118 ha lahan sawah yang ada di Sulawesi Selatan, setiap tahun terdapat puluhan bahkan ratusan ribu ha yang tidak terolah. Oleh sebab itu, traktor diintroduksikan untuk mencukupi kebutuhan tenaga pengolah tanah di wilayah tersebut, namun dalam jumlah terbatas. Pola pelaksanaannya disebut dengan sistem Sulawesi Selatan, yakni pola pengembangan yang menyertakan penyalur, yang dibimbing dan dibina oleh Pemerintah. Bagi 18 kabupaten yang telah memiliki 1.704 unit traktor, masih terbuka kemungkinan penambahan 5.746 unit traktor mini atau 14.350 unit traktor tangan model IRRI. Akhir-akhir ini, pengembangan sistem Sulawesi Selatan mengalami berbagai hambatan teknis dan sosial-ekonomis, yakni: (1) naiknya harga beli traktor, sedangkan kredit investasi kecil (KIK) untuk traktor mini dihentikan oleh Pemerintah; (2) ketidak pastian penyediaan sukucadang; (3) keterbatasan ketrampilan petani; dan (4) pembatasan penggunaan traktor mini eks impor serta membengkaknya tunggakan kredit. Tampaknya traktor tangan model IRRI lebih tepat dikembangkan di wilayah Sulawesi Selatan, setelah diadakan penyesuaian rancangan dan peralatan.
- ItemTinjauan Program Mekanisasi Pertanian di Dati II Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Sidik, OpuDaerah Tingkat II Sidenreng Rappang merupakan daerah surplus beras, yang setiap tahun memproduksi sekitar 180.000 ton beras. Di Kabupaten ini terdapat 365 unit traktor, 291 di antaranya beroperasi secara produktif. Namun demikian, jumlah traktor ini ditambah dengan tenaga kerja manusia dan hewan hanya sanggup mengolah lahan seluas 32.680 ha, yang berarti setiap musim tanam masih terdapat 12.394 ha lahan potensial yang belum tergarap. Dampak penggunaan traktor pengolah tanah juga terlihat pada tumbuhnya industri kecil pembuat sukucadang dan masalah penampungan remaja putus sekolah. Persoalan yang perlu dipecahkan dalam usaha menambah traktor di daerah ini adalah penyediaan sukucadang, peningkatan ketrampilan operator, perpanjangan tenggang waktu pengembalian kredit dan masalah tingginya harga beli traktor. Dari segi ekonomi, mekanisasi pertanian akan menguntungkan, sedangkan dari segi sosial, program ini akan membawa dampak positif.
- ItemPengoperasian Jasa Traktor di Kecamatan Bonebone, Kabupaten Luwu(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Proyek Pengembangan Pembangunan Daerah dan TransmigrasiMasalah pokok yang dihadapi oleh petani di Kecamatan Bone-bone adalah hal-hal yang menyangkut pengolahan tanah, karena langkanya tenaga kerja manusia maupun hewan. Keadaan ini dipersulit lagi oleh perkembangan sosial dan kebudayaan. Peranan jasa traktor dikaji dari segi (a) pemakai; (b) pemerintah dan instansi lain; dan (c) penyedia jasa traktor. Pemerintah melihat penggunaan jasa traktor sebagai cara untuk mempermudah pengaturan jadwal tanam, memperkecil wilayah serangan hama dan selanjutnya akan meningkatkan penghasilan masyarakat. Sedangkan petani/pemakai jasa traktor melihatnya sebagai cara mempersingkat periode pengolahan tanah sehingga waktu luang dapat dimanfaatkan di sektor lain. Penyedia jasa traktor berkepentingan untuk memperoleh keuntungan di samping ikut berperan serta dalam pembangunan. Pemilikan traktor dapat ditempuh secara kredit, dibayar tunai sehabis pengolahan tanah, atau dengan cara membayar uang muka 50% dan sisanya dilunasi sehabis panen. Di samping itu traktor dapat disewa untuk suatu pekerjaan tertentu. Walaupun biaya "overhead" di lapang lebih besar dari yang diperkirakan, namun mekanisasi pengolahan tanah sangat bermanfaat bagi petani dan pemerintah setempat.
- ItemProgram Operasional Pengolahan Tanah secara Mekanisasi(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Proyek Pengembangan Pembangunan Daerah dan Transmigrasi Kab. LuwuSecara operasional, organisasi mekanisasi pengolahan tanah merupakan suatu unit kerja di bawah perwakilan PUSKUD di Palopo, yang telah memiliki investasi sebesar Rp 75.000.000,-. Unit Pengolahan Tanah (UPT) ini mempekerjakan 10 orang operator, Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan 1 orang, Kepala Bagian Logistik dan Perencanaan 2 orang, Asisten Logistik 2 orang, Kepala Mekanik 1 orang, Pembantu Mekanik 1 orang dan Pelayanan Operasional 1 orang. Dari 15 traktor mini yang dimiliki, 10 unit akan dioperasikan tiap hari di lapang dan yang 5 unit disiapkan sebagai cadangan. Traktor akan dioperasikan secara terpusat dan bergerak, karena cara ini akan lebih menguntungkan daripada traktor disebar menurut jumlah wilayah kerja. Keuntungan cara terpusat dan bergerak adalah (1) biaya tetap dapat ditekan dan masa operasi meningkat menjadi 9 bulan; (2) pengadaan dan pengelolaan sukucadang lebih mudah; dan (3) kemampuan olah tiap hektar lebih besar, karena semua unit traktor bekerja atas suatu kesatuan lahan.
- ItemPemilikan dan Pengusaha Traktor di Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Hafsah, Jafar; Maamun, JusufPada umumnya (± 94%) traktor dibeli dengan cara kredit, yang terdiri dari 74% melalui Bank dan 20% melalui penyalur. Yang dibeli secara tunai hanya 6%. Komposisi tersebut selalu berubah sejalan dengan kebijaksanaan Pemerintah di sektor perbankan dan moneter serta perkembangan harga traktor. Adopsi teknologi traktor didasari oleh pertimbangan teknis (pengolahan tanah dan waktu tanam dapat dilakukan lebih cepat), pertimbangan sosial (peningkatan prestise) dan karena mengharapkan hasil yang lebih tinggi. Analisa biaya untuk pembelian traktor pada tahun 1975 dan tahun 1976 menunjukkan "Benefit Cost Ratio" sebesar 0,81 (untuk tahun 1975) dan 0,97 (untuk tahun 1976), masing-masing pada tingkat bunga 12% tiap tahun. Dengan traktor dan tingkat bunga yang sama, "Net Present Value" adalah Rp 539.000,- untuk traktor 1975 dan -Rp 88.000,- bagi traktor 1976. "Internal Rate of Return" besarnya hanya 1% (untuk traktor 1975) dan 10,5% untuk traktor pembelian tahun 1976. Titik impas akan tercapai bila traktor pembelian 1975 mengolah tanah seluas 60,4 ha, sedangkan traktor pembelian tahun 1976 adalah 55,8 ha. Di samping itu, sewa traktor juga dapat dinaikkan untuk mencapai titik impas, yakni menjadi Rp 18.141,- bagi traktor tahun 1975 dan Rp 16.850,- bagi traktor pembelian tahun 1976. Kenyataan ini konsisten dengan terjadinya penunggakan pengembalian kredit pembelian.
- ItemPola Penggunaan Traktor Kecil Pertanian di Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Saleh, A. KarimWalaupun terjadi peningkatan keinginan pada petani untuk menggunakan traktor kecil sebagai alat pengolah tanah, tetapi tunggakan kredit traktor kecil ternyata semakin membengkak, dukungan penyediaan suku cadang sangat langka dan tanggungjawab penyalur juga semakin kendor. Membengkaknya tunggakan kredit tersebut diakibatkan oleh kerugian yang diderita oleh pemilik traktor, karena untuk melunasinya dalam waktu 4 tahun, pemilik harus menderita kerugian sebesar Rp 520.000,-. Tidak tersedianya suku cadang dan dengan tidak terdapatnya bengkel tetap, menyebabkan ± 45% dari seluruh traktor kecil yang terdapat di Kabupaten Soppeng, Sidrap, Luwu, Pinrang dan Polewali mengalami kerusakan berat, sedangkan sisanya mengalami kerusakan ringan. Bagian-bagian yang sering mengalami kerusakan adalah torak, tali kipas, bearing, piring, rotari, seal oil, pisau dan pemanas mesin. Disarankan untuk menerapkan sistem sewa ("leasing") bagi daerah tersebut.
- ItemAspek Mekanisasi Pengolahan Tanah di Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Maamun, JusufPenggunaan alat mekanisasi pengolahan tanah di Sulawesi Selatan telah berkembang dari 25 unit pada tahun 1974 menjadi 1658 unit pada tahun 1981 dan 51% di antaranya terdapat di Kabupaten Pinrang dan Sidrap. Produksi yang dicapai petani pemakai traktor lebih tinggi daripada produksi yang dicapai petani nonmekanis. Namun hal ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh penggunaan pupuk yang lebih tinggi pada petani mekanis. Peningkatan intensitas tanam lebih terkait dengan keadaan pengairan. Meningkatnya pendapatan keluarga petani disebabkan oleh sumber pendapatan yang berasal dari luar usahatani yang mencapai 47% dari seluruh pendapatannya. Persentase ini lebih tinggi lagi pada daerah tadah hujan mekanis. Tenaga dalam keluarga (DK) ternyata mendominasi pemakaian tenaga kerja yang mencapai 81% pada petani mekanis dan 78% pada petani nonmekanis. Pada petani nonmekanis di daerah irigasi, penggunaan tenaga DK lebih banyak daripada di daerah tadah hujan. Sebagian besar dari tenaga luar keluarga (LK) digunakan untuk panen.
- ItemPenggunaan Traktor dan Produktivitasnya: Kasus di Kabupaten Pinrang dan Sidrap, Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Arifin, SultoniTimbulnya perbedaan pendapat terhadap penggunaan traktor untuk pengolah tanah bersumber pada tidak jelasnya dampak mekanisasi tersebut terhadap peningkatan pendapatan petani dan lapangan kerja. Studi kasus di Kabupaten Pinrang dan Sidrap, Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa petani yang masih muda dan kurang berpengalaman cenderung menggunakan traktor untuk mengolah tanah. Luas tanah garapan petani yang selalu menggunakan traktor untuk mengolah tanah dua kali lipat daripada luas tanah garapan petani yang tidak pernah atau hanya sewaktu-waktu menggunakan traktor. Pada umumnya, penggunaan traktor akan mengurangi pemakaian tenaga kerja, terutama tenaga keluarga. Kenaikan hasil yang diperoleh kelompok petani pemakai traktor lebih erat kaitannya dengan penggunaan sarana produksi (pupuk dan pestisida). Petani di daerah irigasi menyesuaikan kegiatannya dengan anjuran pemerintah, sedangkan di daerah tadah hujan kegiatan tersebut tergantung pada curah hujan. Tampaknya pengaruh traktorisasi terhadap kegiatan tanam dan panen tidak konsisten. Analisa regresi memperlihatkan bahwa keragaman hasil dari tahun ke tahun dipengaruhi oleh keadaan air dan waktu panen.
- ItemPemantapan Inovasi dan Diseminasi Teknologi dalam Memberdayakan Petani(IAARD Press, 2015-11-10) Syakir, MuhammadKunci utama memberdayakan petani adalah melalui inovasi dan diseminasi teknologi. Inovasi teknologi terbukti telah menjadi sumber pertumbuhan dan peningkatan produksi pertanian dan pendapatan petani. Namun, tingkat pemanfaatan inovasi yang dihasilkan dipandang belum optimal. Banyak inovasi teknologi yang dihasilkan oleh Balitbangtan belum diadopsi dengan baik dan pada skala luas. Hal ini mengindikasikan bahwa segmen rantai pasok inovasi pada subsistem penyampaian (delivery subsystem) dan subsistem penerima (receiving subsystem) merupakan bottleneck yang menyebabkan lambannya penyampaian informasi dan rendahnya tingkat adopsi inovasi yang dihasilkan Balitbangtan.Tujuan penulisan makalah adalah untuk menyajikan informasi posisi Balitbangtan dalam inovasi, arah dan strategi penelitian dan pengembangannya, inovasi teknologi pertanian yang telah dihasilkan serta upaya diseminasinya. Eksistensi Balitbangtan pada masa mendatang akan semakin strategis yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi dalam arti luas untuk menjawab semua tantangan pembangunan pertanian. Teknologi pertanian yang dibutuhkan ke depan harus sejalan dengan era revolusi bioekonomi atau pertanian modern sesuai dengan konsep Ekonomi Biru. Pertanian modern digerakkan oleh revolusi bioteknologi dan bioenjinering yang mampu menghasilkan biomassa sebesar-besarnya untuk kemudian diolah menjadi bahan pangan, pakan, dan energi. Untuk mendekatkan inovasi pertanian kepada pengguna dilakukan melalui peragaan teknologi Spektrum Diseminasi Multi-Channel (SDMC).