Pakan
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Pakan by Title
Now showing 1 - 20 of 109
Results Per Page
Sort Options
- ItemAgronomi Dan Pemanfaatan Centrosema Pubescens(Balai Penelitian Ternak, 2005) E. Sutedi; Sajimin; B.R. PrawiradiputraUntuk meningkatkan dalam usaha peternakan diperlukan adanya peningkatan ternak dengan pengelolaan yang cukup baik, namun usaha tersebut tidak terlepas dari ketersediaan hijaun pakan ternak yang berkesinambungan baik musim hujan maupun musim kemarau. Untuk itu perlu dilakukan pemilihan bibit yang yang unggul, salah satunya tanaman Centrosema pubescens yang merupakan tanaman dari jenis Leguminosa. Yang berasal dari Amerika selatan, yang mempunyai umur panjang yang bersifat merambat dan memanjat, batang agak berbulu dan panjang mencapai 5 m, berdaun tiga berbentuk elips, bunga berbentuk kupu-kupu berwarna violet keputihan-putihan buah berbentuk polong panjang mencapai 9-17 cm, relatif tahan terhadap kekeringan, Hama dan penyakit serta mudah tumbuh pada berbagai tipe tanah, drainase yang jelek, dan perkebunan. Centrosema termasuk tanaman legum yang mudah berbunga, berbiji serta dapat dipakai sebagai tanaman campuran dengan tanaman semua jenis rumput maupun sebagai tanaman sisipan pada padang pengembalaan. Tanaman Centrosema juga dapat meningkatkan kualitas hijaun terutama pada kandungan protein.
- ItemAgronomi Rumput Benggala (Panicum Maximum Jacq) Dan Pemanfaatannya Sebagai Rumput Potong(Balai Penelitian Ternak, 2005) Sajimin; E.Sutedi; N.D. Purwantari; B.R. PrawiradiputraRumput Panicum maximum Jacq yang telah dikoleksi di Kebun Raya Bogor sejak tahun 1865 dalam Kebun Tanaman (Cultuurtuin) tapi sampai sekarang tidak sepopuler rumput gajah. Tahun 1974 Program Hijauan Pakan Ternak, Balitnak mengintroduksi kembali dari berbagai negara, hingga sekarang 8 kultivar yang ada didalam koleksi yaitu cultivar Gatton, Guinea, Riversdale, Natsuyutaka, Hamil, Natsukaze, T58 dan Petrie. Hasil penelitian yang telah dikarakterisasi sifat agronominya digunakan rumput potong. Produksi bahan kering hijauan, nilai gizi, palabilitas dan kecernaan mendekati rumput gajah dan kelebihannya, rumput P.maximum lebih tahan terhadap kekeringan dibanding rumput gajah. Produktivitas yang optimum dicapai pada interval potong yaitu 30 – 40 hari dan setelah umur tersebut tanaman menuju fase pertumbuhan generatif dan tidak bertambah produksi daunnya. Produksi bahan kering mencapai 36,70 t ha -1th-1 dengan nilai palatabilitas pada ternak domba 46 % dan konsumsi per ekor sebanyak 537,84 g sedangkan pada Pennisetum purpureum 346,6 g. Morfologi tanaman memiliki batang yang kecil sehingga hampir semua dapat dimakan ternak. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk kandang tanpa pupuk kimia yang mempunyai efektifitas produksi hingga pemotongan ke empat dengan interval potong 6 minggu. Penanaman rumput ini pada lahan miring juga dapat mengurangi laju erosi yang sekaligus penyedaan hijauan pakan serta meningkatkan produktivitas lahan.
- ItemBAHAN AJAR STRATEGI PEMBERIAN PAKAN(2020-02) Rip Krishaditersanto, S.Pt; Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang
- ItemBercocok Tanam Murbei(Balai Informasi Pertanian Padang, 1984) Balai Informasi Pertanian PadangMurbei (Morus Sp) dan Ulat Sutera adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam setiap usaha pemeliharaan ulat sutera, perkebunan Murbei merupakan syarat mutlak. Murbei merupakan satu-satunya makanan bagi ulat sutera dan jumlah daun Murbei yang dibutuhkan cukup banyak. Untuk 1 box ulat ( 土 20.000 ekor), selama pemeliharaan akan membutuhkan 土 975 kg daun Murbei. Jika Murbei ditanam secara tumpang sari dengan jarak tanam 1 x 2 m (5.000 batang/Ha), akan menghasilkan 土 2.500 kg daun dan ini akan bisa memenuhi kebutuhan untuk 3 box ulat. Produksi Murbei akan dipengaruhi pula oleh jenis Murbei, cara pemeliharaan, pemangkasan, pemupukan dan kesuburan tanah.
- ItemBungkil Inti Sawit Terproteksi Molases sebagai Sumber Protein pada Kambing Peranakan Etawah Jantan Muda(Balai Penelitian Ternak, 2011) Supriyati; B. HaryantoBungkil inti sawit mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi namun degradasi di dalam rumen sangat tinggi sehingga kehilangan fungsinya sebagai sumber protein untuk ternak. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh pemberian bungkil inti sawit terproteksi molasses (BIS-M) terhadap pertumbuhan kambing PE jantan muda. Dua puluh empat (24) ekor kambing jantan muda PE dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan BIS-M yang dicampur dengan konsentrat. Perlakuan meliputi Kelompok R0 = kontrol (tanpa BIS-M), kelompok R1 = 15% BIS-M, kelompok R2 = 30% BIS-M dan kelompok R3 = 45% BIS-M. Semua ternak mendapatkan konsentrat sebanyak 400 g e-1 h-1 dan rumput gajah (Pennisetum purpureum) ad libitum. Bobot awal ternak berkisar antara 17-18 kg. Pakan diberikan selama periode pertumbuhan selama 14 minggu yang terdiri dari masa adaptasi terhadap pakan selama 2 minggu, dilanjutkan dengan pengamatan selama 12 minggu dan percobaan kecernaan zat gizi dilakukan pada akhir periode pengamatan selama 7 hari. Percobaan dilakukan menggunakan RAL dengan 6 ulangan. Air minum tersedia setiap saat. Pakan diukur setiap hari sedangkan bobot hidup ternak diukur setiap 2 minggu. Parameter produksi yang diukur meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot hidup, efisiensi pakan serta kecernaan zat gizi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan pakan mempengaruhi konsumsi zat gizi, kecernaan zat gizi, pertambahan bobot hidup harian (PBHH) dan efisiensi pakan (P < 0,05). Konsumsi total BK adalah 599,30; 620,74; 690,19 dan 740,04 ge-1h-1 dengan nilai kecernaan BK dan PK adalah 64,74 dan 75,99; 67,47 dan 73,05; 70,06 dan 73,02; serta 72,88 dan 72,25% masing-masing untuk R0, R1, R2 dan R3. Besarnya PBHH adalah 42,06; 52,78; 61,90; serta 70,24 g dengan konversi pakan 14,68; 10,51; 9,08; serta 9,85 masing-masing untuk R0, R1, R2 dan R3. Dari percobaan ini disimpulkan bahwa BIS-M dapat menjadi sumber protein dengan efisiensi penggunaan pakan optimal pada tingkat 30% dalam konsentrat.
- ItemBungkil Kedelai Terproteksi Tanin Cairan Batang Pisang dalam Pakan Domba Sedang Tumbuh(Balai Penelitian Ternak, 2011) Dwi Yulistiani; I-W. Mathius; W. PuastutiPenelitian dilakukan untuk mengevaluasi pemakaian yang optimal bungkil kedelai yang diproteksi dengan senyawa sekunder dari batang pisang dalam pakan dan pengaruhnya terhadap kinerja domba. Pembuatan bungkil kedelai terproteksi dilakukan dengan mencampur bungkil kedelai dengan cairan batang pisang dengan rasio 1:1 (b/v), yang kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 90oC sampai kering. Bungkil kedelai tersebut dipakai sebagai substitusi konsentrat komersial dalam pakan domba dengan level substitusi 0% (R0); 10% (R10); 20% (R20); dan 30% (R30). Penelitian dilakukan dengan menggunakan 24 ekor domba Komposit Sumatera jantan yang sedang tumbuh yang dikelompokan menjadi 6 kelompok berdasarkan bobot hidup dan diacak untuk mendapatkan salah satu perlakuan. Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, kecernaan nutrien pakan, pertambahan bobot hidup harian (PBHH), efisiensi pakan dan penggunaan nitrogen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dan data yang diperoleh dianalisa menggunakan model linier umum dari program SAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering (BK) nyata meningkat dengan substitusi konsentrat dengan bungkil kedelai terproteksi namun tidak ada perbedaan diantara R10, R20 dan R30. Peningkatan konsumsi BK diikuti pula dengan peningkatan (P < 0,05) konsumsi protein kasar (PK) dari 8,75 g/BB0.75 (R0) menjadi 10,64; 11,68 dan 12,32 g/BB0.75 masingmasing untuk R10; R20 dan R30. Substitusi konsentrat komersial dengan bungkil kedelai meningkatkan kecernaan BK dan PK pada semua level, akan tetapi substitusi ini tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) pada kecernaan bahan organik (BO), serat deterjen netral (SDN) dan serat detergen asam (SDA) hingga level 20%. Ekskresi nitrogen dalam urin hanya meningkat pada substitusi 30%, namun demikian retensi N meningkat pada level substitusi 20 dan 30%. Substitusi konsentrat dengan bungkil kedelai meningkatkan kecernaan dan retensi N pada level 20 dan 30%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa subtitusi konsentrat komersial dengan bungkil kedelai terproteksi meningkatkan konsumsi PK dan kecernaan PK tetapi tidak meningkatkan pertambahan bobot hidup harian domba.
- ItemEffect of Traditional Herbal Suplementation on Performance of PO BULL(Indonesian Center for animal Reserch and Development Indonesian agency for Agricultural Reserch and Development minstry of agriculture republic of Indonesia IAARD Press, 2012) Dian Ratnawati; M.Luthfi; L.Affandhy; Indonesian Center for animal Reserch and Development Indonesian agency for Agricultural Reserch and Development minstry of agriculture republic of IndonesiaEffect of Traditional Herbal Suplementation on Performance of PO BULL
- ItemFeed Block Supplement Sebagai Pakan Tumbuhan Sapi Perah(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta, 2005) Saenab, Andi; Bakrie, Bachtar; Side, Rachmawati La; Lotulung, Benny V.; Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta
- ItemFREKUENSI PEMBERIAN PAKAN BROILER FASE FINISHER YANG MUDAH DAN MENGUNTUNGKAN(Polbangtan Gowa, 2023) Soraya Faradila, S.Pt., M.Si.Usaha Peternakan broiler memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Hal tersebut sejalan dengan kebutuhan daging sebagai sumber protein hewani masyarakat Indonesia. Salah satu kelebihan broiler yang berbeda dengan ternak lain adalah tumbuh dengan waktu yang singkat. Bahkan umur 27 hari sudah bisa dipanen dan tentunya untuk konsumsi masyarakat. Hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya broiler salah satunya adalah manajemen pemberian pakan. Pakan mencapai 70% dari faktor produksi beternak. Waktu pemberian pakan perlu diperhatikan dalam arti pemberian pakan harus disesuaikan dengan waktu-waktu yang tepat dimana ayam mebutuhkan pakan untuk kebutuhannya. Frekuensi dan priode pemberian pakan juga berhubungan dengan iklim Indonesia yang mana beriklim tropis, Pagi hari cenderung suhu tinggi dan udara sejuk oleh karena itu pemberian pakan tepat dilakukan supaya ayam saat mengonsumsi pakan dapat efisien dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Tetapi pemberian siang hari saat suhu tinggi ayam akan mengalami cekaman panas dan pakan yang dikonsumsi akan berkurang atau penurunan. Buku ini menjawab pertanyaan besar peternak berapa kali kami memberikan pakan pada broiler umur finisher atau umur akhir. Penelitian penulis berhasil menjawab tanda tanya besar di kepala peternak broiler finisher perlu diberi makan berapa kali???
- ItemHijauan Pakan Ternak(Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian, 1994) Budiman, Hadi; Djamal, Sjamsimar; Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi PenelitianDi Indonesia, produktivitas ternak ruminansia (sapi, kerbau, domba, dan kambing) pada umumnya rendah. Hal ini terutama disebabkan jumlah dan mutu pakan yang diberikan di bawah kebutuhan ternak. Umumnya, ternak hanya diberi rumput alam yang berasal dari tegalan, pekarangan, tepi jalan, dan tanah bera dengan kadar protein dalam bahan kering rata-rata 5-6%. Rumput unggul yang mudah ditanam dan disukai ternak serta produksinya tinggi antara lain rumput raja, rumput gajah, dan setaria. Namun pemberian rumput unggul secara tunggal belum dapat memberikan produktivitas ternak yang optimal, karena itu masih diperlukan makanan tambahan yang bermutu tinggi seperti konsentrat. Tetapi karena harga konsentrat mahal, maka tidak dianjurkan diberikan pada ternak ruminansia, kecuali bila bahannya mudah didapat dan harganya murah. Sebagai alternatif, disarankan penggunaan leguminosa pohon sebagai sumber protein selain rumput sebagai pakan utama. Leguminosa pohon yang mudah ditanam dan mengandung protein tinggi adalah gamal, lamtoro, kaliandra, dan turi. Keempat jenis leguminosa pohon tersebut mempunyai beberapa keunggulan, yaitu produksi hijauan tinggi, tahan terhadap iklim, mudah ditanam, dan mempunyai kandungan zat makanan cukup tinggi.
- ItemINDIGOFERA SEBAGAI PAKAN TERNAK(IAARD PRESS, 2012) Ginting, Simon P; Prawiradiputra, Bambang R; Purwantari, Nurhayati D; Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
- ItemInovasi Teknologi Pada Sistem Integrasi Tanaman Pangan Dan Peternakan(Balai Penelitian Ternak, 2005) Budi HaryantoKomponen teknologi pada sistem integrasi tanaman pangan dengan peternakan, terutama antara padi dengan ternak sapi, adalah (a) pemanfaatan jerami padi sebagai pakan melalui proses fermentasi; (b) pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi; (c) teknologi dan tatalaksana pemeliharaan ternak; serta (d) penerapan sistem integrasi melalui pendekatan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT). Dari teknologi yang diintroduksikan tersebut perlu penyesuaian dengan adanya inovasi baru. Penerapan sistem integrasi antara tanaman padi dengan ternak sapi mampu meningkatkan produktivitas padi serta pendapatan petani, oleh karena itu pengembangan sistem integrasi ini perlu dilanjutkan.
- ItemInovasi Teknologi Pemanfaatan Produk Samping Industri Kelapa Sawit Sebagai Pakan Ruminansia(Balai Penelitian Ternak, 2005) I-Wayan MathiusKetergantungan akan komponen impor bahan penyusun ransum yang semakin mahal dan ketersediaan pakan lokal yang tidak tersedia secara berkelanjutan, menyebabkan keterpurukan industri peternakan dewasa ini. Di sisi lain, dampak negatif sebagai akibat pergeseran fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian yang terus meningkat sangat dirasakan usaha ternak ruminansia. Sumber dan ketersediaan hijauan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak menjadi terbatas. Konsekuensinya adalah tingkat produktivitas ternak yang bersangkutan menjadi rendah. Oleh karena itu, dalam upaya mempertahankan kehadiran dan meningkatkan produktivitas ternak perlu dilakukan upaya mencari, menggunakan dan meningkatkan nilai nutrien sumber pakan baru/alternatif, seperti produk samping industri pertanian. Salah satu sumber pakan alternatif yang belum banyak mendapat perhatian adalah produk samping tanaman dan hasil ikutan pengolahan buah kelapa sawit. Produk samping industri kelapa sawit tersedia sepanjang tahun dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu, pemanfaatan produk samping industri kelapa sawit sebagai pakan alternatif dan dapat menjadi pakan hijauan andalan di masa mendatang perlu ditingkatkan. Tatalaksana yang baik dan benar terhadap pemanfaatan produk samping industri kelapa sawit akan sangat membantu para pekebun/pemanen pemilik ternak dalam penyediaan pakan. Pelepah kelapa sawit yang belum dimanfaatkan secara optimal merupakan salah satu bahan pakan hijauan alternatif (sumber serat) yang perlu ditangani, disamping hasil ikutan pengolahan buah sawit, seperti lumpur sawit, serat perasan, bungkil inti dan tandan kosong. Sebagai produk samping industri kelapa sawit, kualitas nutrien bahan tersebut cukup rendah, dan oleh karena itu dalam pemanfaatannya perlu mendapat perhatian khusus. Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal dibutuhkan sentuhan teknologi atau diolah sebelum dapat digunakan sebagai bahan pakan. Sejauhmana produk samping industri kelapa sawit yang tersedia dalam jumlah banyak dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak ruminansia (khusus sapi), akan diulas dalam tulisan ini.
- ItemIntegrasi tanaman kakao dan ternak kambing(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta, 2012-07) Gunawan; Sukar; Widyayanti, Setyorini
- ItemKAJIAN TEKNIK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS INDUK DOMBA EKOR GEMUK MELALAUI PENGATURAN PERKAWINAN DAN PENYAPIHAN ANAK DALAM KONDISI SISTEM USAHATANI TERNAK DOMBA DI JAWA TIMUR(BPTP Karangploso, 1999) YUSRON, Mohammad Ali; Mariono; Komarudin
- ItemKajian Teknologi Budidaya dan Pengaruhnya Terhadap Penampilan Ternak Babi(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, 2007-12-07) Tiro, Batseba MW; Fernandez, Paskalis Th.; Kementrian PertanianPemeliharaan temak babi di Kabupaten Jayawijaya masih dilakukan secara tradisional, dimana pakan yang diberikan hanya terdiri dari ubi dan daun ubi jalar. Disamping itu kandang babi umumnya sangat tertutup dan masih menyatu dengan tempat tinggal (honai). Kajian untuk melihat pengaruh po/a perkandangan terhadap penampilan ternak babi telah dilaksanakan di kampung Okoloma Pisugi Distrik Kurulu Kabupaten Jayawijaya sejak bu/an September - Desember 2006. Menggunakan 18 ekor babi umur lepas sapih yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan. Perlakuan I : kandang perbaikan, dan perlakuan II : kandang introduksi. Pakan yang diberikan pada kedua po/a sama yaitu terdiri dari 75% ubi ja/ar + 25% daun ubi jalar + legume lokal dan limbah sayuran. Hasil kajian menunjukkan pertambahan bobot badan temak babi pada kandang introduksi lebih tinggi (0, 1 O kglekorlhari) dibanding pada kandang perbaikan (0, 06 kglekorlhari). Konsumsi pakan pada kandang introduksi juga lebih tinggi (854,59 glekorlhari) dibanding pada kandang perbaikan (827,26 glekorlhari). Hasil ana/isa ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan terbesar dicapai pada po/a kandang introduksi sebesar Rp 10.674.392 atau Rp 3.558.130/bulan dengan nilai RIC 1,9. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penampilan ternak babi pada kandang introduksi lebih baik dan lebih menguntungkan dibanding pada kandang perbaikan.
- ItemKaliandra dan Pemanfaatannya(Balai Penelitian Ternak, 1992) Tangendjaja, Budi; Wina, Elizabeth; Ibrahim, Tatang; Palmer, BrianDi Indonesia masalah pakan bagi pengembangan ternak merupakan isu yang sangat dominan. Kualitas pakan yang sangat berfluktuasi dan rendah dapat dilihat dampaknya pada tingkat reproduktivitas dan kondisi badan ternak. Untuk ini sangat diperlukan suplementasi dengan tanaman hijauan yang dapat tumbuh di daerah. Salah satu tanaman hijauan ini adalah legum pohon kaliandra yang tumbuh hampir di setiap pelosok tanah air dengan fungsi ganda seperti sumber kayu bakar, sebagai pagar, sebagai tanaman penahan erosi, sebagai tanaman pelindung dan sebagai pakan ternak.
- ItemKarakteristik Dan Pemanfaatan Kaliandra (Calliandra Calothyrsus)(Balai Penelitian Ternak, 2005) Iwan Herdiawan; Achmad Fanindi; Armiadi SemaliKaliandra merupakan salah satu leuguminosa pohon atau semak yang memiliki beberapa spesies, satu diantaranya yang paling banyak dikenal adalah jenis kaliandra bunga merah (Calliandra calothyrsus). Kaliandra dapat beradaptasi pada berbagai jenis tanah asam, ketinggian tempat diatas 1700 m dpl, dan curah hujan yang tiggi antara 2000-2400 mm/tahun. Pemanfaatan daun kaliandra sebagai hijauan pakan ternak telah banyak dilakukan, umumnya petani yang berada di areal kawasan kehutanan atau perkebunan. Peternak umumnya memberikan daun kaliandra dalam bentuk segar karena lebih disukai ternak, tetapi kadang kala dilayukan dahulu untuk menurunkan kadar tanninnya. Daun kaliandra merupakan protein bank bagi ternak ruminansia karena mengandung 20-25% protein kasar yang sangat bermanfaat bagi peningkatan produktivitas ternak. Selain digunakan sebagai hijauan pakan ternak, kaliandra juga banyak dimanfaatkan sebagai kayu bakar, produksi lebah madu, dan untuk konservasi lahan marjinal. Kebanyakan tanaman kaliandra dimanfaatkan sebagai tanaman untuk konservasi tanah marginal seperti tepi sungai, hutan, jalan, atau daerah lahan kritis yang ditumbuhi alang-alang.
- ItemKarakteristik Dan Pemanfaatan Kalopo (CALOPOGONIUM Sp.)(Balai Penelitian Ternak, 2005) Achmad Fanindi; Bambang R. PrawiradiputraKalopo atau kalopogonium (Calopogonium sp) adalah leguminosa herba yang banyak ditemukan di perkebunan-perkebunan, khususnya perkebunan karet. Herba ini ditanam sebagai penutup tanah karena karakteristik tanaman ini yang bisa menekan gulma, menjadi pupuk hijau dan toleran terhadap naungan. Tanaman ini mampu menghasilkan hijauan yang relatif tinggi dan stabil sepanjang tahun. Kelemahan dari tanaman ini adalah palatabilitasnya yang rendah. Hal ini disebabkan oleh adanya bulu-bulu pada daun atau batangnya. Walaupun demikian ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kecernaan tanaman ini tinggi dan dimakan oleh ternak di padang pengembalaan. Prospek kedepan dari tanaman ini adalah bisa digunakan sebagai pupuk hijau. Bagi para pemulia tanaman merupakan tantangan untuk menghasilkan varietas tanpa bulu pada daunnya sehingga disukai ternak.
- ItemKarakteristik Morfologi Tanaman Pakan Indigofera zollingeriana pada Berbagai Taraf Stres Kekeringan dan Interval Pemangkasan(Balai Penelitian Ternak, 2012) Iwan Herdiawan; L. Abdullah; D. Sopandie; P.D.M.H.Karti; N. HidayatiPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres kekeringan dan interval pemangkasan terhadap karakteristik morfologi tajuk dan akar tanaman Indigofera zollingeriana. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 3, terdiri atas 2 faktor dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah 3 taraf stres kekeringan yaitu 100% kapasitas lapang (KL), 50% KL, dan 25% KL. Faktor kedua 3 taraf interval pemangkasan yaitu interval pemangkasan 60, 90, dan 120 hari. Peubah yang diamati adalah berat kering tajuk dan akar, nisbah akar/tajuk, dan panjang akar. Data dianalisis dengan ANOVA dan perbedaan antar perlakuan di uji dengan LSD. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat interaksi (P < 0,05) antara stres kekeringan dan interval pemangkasan terhadap berat kering tajuk, namun terhadap berat kering akar, nisbah akar/tajuk, dan panjang akar tidak. Stres kekeringan berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap penurunan berat kering tajuk, dan akar, akan tetapi nisbah akar/tajuk, dan panjang akar mengalami peningkatan. Interval pemangkasan berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk, akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering akar, nisbah akar/tajuk, dan panjang akar.