Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 88
- ItemPengaruh Oligosakarida Ubijalar terhadap Kinerja Ayam Petelur(Balai Penelitian Ternak, 2011) Tuti Haryati; SupriyatiPenelitian dilakukan untuk mengetahui penggunaan oligosakarida dari ubijalar sebagai pakan imbuhan terhadap kinerja ayam petelur. Oligosakarida diperoleh dari ubi jalar dengan cara mengekstraksinya dengan menggunakan etanol 80%. Hasil ekstraksi berupa ekstraktans dan residu diujicobakan sebagai imbuhan pakan. Sebanyak 96 ekor ayam petelur jenis CP 909 Isa Brown dikelompokkan menjadi empat perlakuan, tiap perlakuan terdiri dari enam ulangan dan tiap ulangan terdiri dari empat ekor ayam. Perlakuan terdiri: R0 (Kontrol tanpa penambahan oligosakarida), R1 = R0 + 0,1% ekstraktans ubi jalar, R2 = R0 + 0,2% residu dan R3 = R0 + 0,2% FOS komersial. Pengamatan dilakukan selama 25 minggu produksi telur. Data dianalisis secara statistik menggunakan SAT. Hasil menunjukkan terjadi perbaikan nilai FCR dan peningkatan produksi telur (P < 0,05) pada perlakuan R1, R2 dan R3. Perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi ransum. Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian oligosakarida dari ubijalar baik berupa ekstraktrans maupun residu dapat memperbaiki produksi telur dan FCR dibandingkan dengan kontrol.
- ItemBungkil Kedelai Terproteksi Tanin Cairan Batang Pisang dalam Pakan Domba Sedang Tumbuh(Balai Penelitian Ternak, 2011) Dwi Yulistiani; I-W. Mathius; W. PuastutiPenelitian dilakukan untuk mengevaluasi pemakaian yang optimal bungkil kedelai yang diproteksi dengan senyawa sekunder dari batang pisang dalam pakan dan pengaruhnya terhadap kinerja domba. Pembuatan bungkil kedelai terproteksi dilakukan dengan mencampur bungkil kedelai dengan cairan batang pisang dengan rasio 1:1 (b/v), yang kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 90oC sampai kering. Bungkil kedelai tersebut dipakai sebagai substitusi konsentrat komersial dalam pakan domba dengan level substitusi 0% (R0); 10% (R10); 20% (R20); dan 30% (R30). Penelitian dilakukan dengan menggunakan 24 ekor domba Komposit Sumatera jantan yang sedang tumbuh yang dikelompokan menjadi 6 kelompok berdasarkan bobot hidup dan diacak untuk mendapatkan salah satu perlakuan. Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, kecernaan nutrien pakan, pertambahan bobot hidup harian (PBHH), efisiensi pakan dan penggunaan nitrogen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dan data yang diperoleh dianalisa menggunakan model linier umum dari program SAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering (BK) nyata meningkat dengan substitusi konsentrat dengan bungkil kedelai terproteksi namun tidak ada perbedaan diantara R10, R20 dan R30. Peningkatan konsumsi BK diikuti pula dengan peningkatan (P < 0,05) konsumsi protein kasar (PK) dari 8,75 g/BB0.75 (R0) menjadi 10,64; 11,68 dan 12,32 g/BB0.75 masingmasing untuk R10; R20 dan R30. Substitusi konsentrat komersial dengan bungkil kedelai meningkatkan kecernaan BK dan PK pada semua level, akan tetapi substitusi ini tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) pada kecernaan bahan organik (BO), serat deterjen netral (SDN) dan serat detergen asam (SDA) hingga level 20%. Ekskresi nitrogen dalam urin hanya meningkat pada substitusi 30%, namun demikian retensi N meningkat pada level substitusi 20 dan 30%. Substitusi konsentrat dengan bungkil kedelai meningkatkan kecernaan dan retensi N pada level 20 dan 30%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa subtitusi konsentrat komersial dengan bungkil kedelai terproteksi meningkatkan konsumsi PK dan kecernaan PK tetapi tidak meningkatkan pertambahan bobot hidup harian domba.
- ItemBungkil Inti Sawit Terproteksi Molases sebagai Sumber Protein pada Kambing Peranakan Etawah Jantan Muda(Balai Penelitian Ternak, 2011) Supriyati; B. HaryantoBungkil inti sawit mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi namun degradasi di dalam rumen sangat tinggi sehingga kehilangan fungsinya sebagai sumber protein untuk ternak. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh pemberian bungkil inti sawit terproteksi molasses (BIS-M) terhadap pertumbuhan kambing PE jantan muda. Dua puluh empat (24) ekor kambing jantan muda PE dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan BIS-M yang dicampur dengan konsentrat. Perlakuan meliputi Kelompok R0 = kontrol (tanpa BIS-M), kelompok R1 = 15% BIS-M, kelompok R2 = 30% BIS-M dan kelompok R3 = 45% BIS-M. Semua ternak mendapatkan konsentrat sebanyak 400 g e-1 h-1 dan rumput gajah (Pennisetum purpureum) ad libitum. Bobot awal ternak berkisar antara 17-18 kg. Pakan diberikan selama periode pertumbuhan selama 14 minggu yang terdiri dari masa adaptasi terhadap pakan selama 2 minggu, dilanjutkan dengan pengamatan selama 12 minggu dan percobaan kecernaan zat gizi dilakukan pada akhir periode pengamatan selama 7 hari. Percobaan dilakukan menggunakan RAL dengan 6 ulangan. Air minum tersedia setiap saat. Pakan diukur setiap hari sedangkan bobot hidup ternak diukur setiap 2 minggu. Parameter produksi yang diukur meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot hidup, efisiensi pakan serta kecernaan zat gizi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan pakan mempengaruhi konsumsi zat gizi, kecernaan zat gizi, pertambahan bobot hidup harian (PBHH) dan efisiensi pakan (P < 0,05). Konsumsi total BK adalah 599,30; 620,74; 690,19 dan 740,04 ge-1h-1 dengan nilai kecernaan BK dan PK adalah 64,74 dan 75,99; 67,47 dan 73,05; 70,06 dan 73,02; serta 72,88 dan 72,25% masing-masing untuk R0, R1, R2 dan R3. Besarnya PBHH adalah 42,06; 52,78; 61,90; serta 70,24 g dengan konversi pakan 14,68; 10,51; 9,08; serta 9,85 masing-masing untuk R0, R1, R2 dan R3. Dari percobaan ini disimpulkan bahwa BIS-M dapat menjadi sumber protein dengan efisiensi penggunaan pakan optimal pada tingkat 30% dalam konsentrat.
- ItemKebutuhan Pakan Ayam Kampung Pada Reriode Pertumbuhan(Balai Penelitian Ternak, 2005) Heti Resnawati; Ida A.K. BintangPemeliharaan ayam kampung secara intensif bertujuan untuk meningkatkan produksi daging maupun telurnya. Pakan merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan. Oleh karena itu pakan yang diberikan harus memenuhi persyaratan kebutuhan secara kuantitas dan kualitas. Patokan kebutuhan zat-zat nutrisi untuk pakan ayam kampung masih belum tersedia secara optimal, sehingga penyusunan formula pakan dan cara pemberiannya sangat bervariasi. Pemberian pakan komersial ayam ras pedaging atau petelur dalam perbandingan tertentu dapat meningkatkan pertumbuhan. Respon ayam kampung terhadap pakan yang berkualitas tinggi dengan memanfaatkan bahan pakan lokal menunjukkan penampilan yang baik. Imbangan protein, asam amino lisin dan energi metabolis dalam ransum dapat mempengaruhi pertumbuhan. Kebutuhan lisin ayam kampung cenderung lebih rendah dibandingkan kebutuhan ayam ras pedaging, tapi sebaliknya justru lebih tinggi dari pada kebutuhan ayam ras petelur. Program penelitian yang berkesinambungan dan terarah diharapkan dapat membuat patokan kebutuhan zat-zat nutrisi yang tepat untuk menunjang pengembangan ayam kampung.
- ItemStrategi Pemanfaatan Pakan Sumberdaya Lokal Dan Perbaikan Manajemen Ayam Lokal(Balai Penelitian Ternak, 2005) DESMAYATI ZAINUDDINProduktivitas ayam lokal masih relatif rendah karena sistem pemeliharaan dan manajemen pakan yang kurang baik. Sementara ayam lokal dan produknya merupakan komoditi andalan strategis yang berpotensi dan berpeluang yang menjanjikan baik secara ekonomis maupun sosial, sehingga perlu penanganan dan pengembangan yang lebih intensif. Harga bahan baku pakan unggas (sebagian besar impor) sangat menentukan biaya produksi, Sementara bahan baku pakan lokal sebagian besar diperoleh dari hasil ikutan agroindustri pertanian yang kualitas dan daya cernanya rendah. Dalam memilih bahan pakan lokal dipertimbangkan jaminan kontinuitas ketersediaan dalam jumlah banyak.Oleh karena itu perlu dilakukan suatu teknologi dan strategi memanfaatkan pakan sumberdaya lokal dalam penyusunan ransum yang berkualitas dan relatif murah serta memberi respon positif terhadap produktivitas ternak ayam lokal. Teknologi untuk meningkatkan kualitas bahan pakan lokal yaitu dengan pengolahan secara fisik seperti pemanasan, pengeringan atau difermentasi. Selanjutnya untuk keseimbangan kandungan gizi maka dalam formulasi perlu ditambahkan asam amino esensial yang kritis bagi ternak ayam yaitu lisin dan metionin sintetik sebanyak 0,1% dalam ransum, sehingga daya cerna dan penggunaan pakan lebih efisien. Strategi pemberian pakan harus dibedakan berdasarkan kebutuhan zat nutrisi dan umur ayam lokal. Pemberian aditif melalui air minum berupa probiotik, jamu hewan dan sejenisnya, dapat meningkatkan stamina ayam sehingga daya tahan tubuh lebih sehat disamping bau kotoran di sekitar kandang/litter berkurang Untuk mencapai produktivitas dan nilai ekonomi yang optimal perlu dilakukan perbaikan manajemen pemberian pakan yang sesuai umur dan kebutuhan gizi ayam, perkandangan, sanitasi kandang serta peralatannya, dan peningkatan biosekuriti dalam budidaya ayam lokal.