Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat by Title
Now showing 1 - 20 of 552
Results Per Page
Sort Options
- ItemADAPTASI DELAPAN NOMOR HARAPAN KUNYIT (Curcuma domestica Vahl.) TOLERAN NAUNGAN(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2012) Syahid, Sitti Fatimah; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat; Syukur, Cheppy; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat; Kristina, Nathalini Nova; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat; Pitono, Joko; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
- ItemADAPTASI DELAPAN NOMOR HARAPAN KUNYIT (Curcuma domestica Vahl.) TOLERAN NAUNGAN : Volume 23, Nomor 2, Desember 2012(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2013-12-01) Sitti Fatimah Syahid, Cheppy Syukur, N. Nova Kristina, dan Joko PitonoBudidaya kunyit di tingkat petani umumnya dilakukan di bawah naungan sehingga diperlukan varietas unggul kunyit toleran naungan. Penelitian bertujuan menganalisis daya adaptasi berdasarkan stabilitas hasil dan mutu simplisia nomor-nomor harapan kunyit di bawah naungan pada kondisi agroekologi yang berbeda.Uji adaptasi untuk pelepasan warietas unggul kunyit toleran naungan dilakukan di tiga lokasi pengembangan kunyit yaitu Bringin, 464 m dpl (Kabupaten Semarang), Nogosari, 425 m dpl (Boyolali), dan Simo, 484 m dpl (Boyolali). Pengujian dilakukan sejak 2008 sampai 2010 di bawah tegakan jati milik petani. Bahan tanaman yang digunakan adalah delapan nomor harapan kunyit toleran naungan buatan (paranet) yang terpilih dari 70 nomor koleksi di bawah naungan paranet tahun 2007/2008 di Cicurug, Sukabumi (Jawa Barat) dan satu nomor lokal sebagai pembanding. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Setiap plot terdiri dari 48 tanaman. Parameter yang diamati adalah komponen pertumbuhan pada umur lima bulan, produksi rimpang, dan kandungan bahan aktif umur sembilan bulan. Hasil analisis gabungan menunjukkan tidak ada interaksi antara genotip yang diuji dengan lingkungan tumbuh terhadap produksi rimpang dan kandungan kurkumin. Namun, genotip yang diuji nyata berpengaruh terhadap kandungan kurkumin. Nomor harapan Cudo 04, dengan produksi rata rata 7,4 ton ha², memiliki keunggulan kandungan kurkumin (7,05%) paling tinggi dibandingkan nomor lainnya, dengan kadar minyak atsiri (4,77%) di atas SNI dan toleran terhadap bercak daun. Nomor harapan Cudo 04 stabil di ketiga lokasi pengujian dan beradaptasi luas sehingga sesuai untuk dikembangkan pada kondisi di bawah naungan dan memenuhi standar nasional industri obat untuk produksi bahan aktif kurkumin.
- ItemADAPTASI DELAPAN NOMOR HARAPAN KUNYIT (Curcuma domestica Vahl.) TOLERAN NAUNGAN : Volume 23, Nomor 2, Desember 2012(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2012-12-01) Sitti Fatimah Syahid, Cheppy Syukur, N. Nova Kristina, dan Joko PitonoBudidaya kunyit di tingkat petani umumnya dilakukan di bawah naungan sehingga diperlukan varietas unggul kunyit toleran naungan. Penelitian bertujuan menganalisis daya adaptasi berdasarkan stabilitas hasil dan mutu simplisia nomor-nomor harapan kunyit di bawah naungan pada kondisi agroekologi yang berbeda.Uji adaptasi untuk pelepasan varietas unggul kunyit toleran naungan dilakukan di tiga lokasi pengembangan kunyit yaitu Bringin, 464 m dpl (Kabupaten Semarang), Nogosari, 425 m dpl (Boyolali), dan Simo, 484 m dpl (Boyolali). Pengujian dilakukan sejak 2008 sampai 2010 di bawah tegakan jati milik petani. Bahan tanaman yang digunakan adalah delapan nomor harapan kunyit toleran naungan buatan (paranet) yang terpilih dari 70 nomor koleksi di bawah naungan paranet tahun 2007/2008 di Cicurug, Sukabumi (Jawa Barat) dan satu nomor lokal sebagai pembanding. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Setiap plot terdiri dari 48 tanaman. Parameter yang diamati adalah komponen pertumbuhan pada umur lima bulan, produksi rimpang, dan kandungan bahan aktif umur sembilan bulan. Hasil analisis gabungan menunjukkan tidak ada interaksi antara genotip yang diuji dengan lingkungan tumbuh terhadap produksi rimpang dan kandungan kurkumin. Namun, genotip yang diuji nyata berpengaruh terhadap kandungan kurkumin. Nomor harapan Cudo 04, dengan produksi rata rata 7,4 ton ha, memiliki keunggulan kandungan kurkumin (7,05%) paling tinggi dibandingkan nomor lainnya, dengan kadar minyak atsiri (4,77%) di atas SNI dan toleran terhadap bercak daun. Nomor harapan Cudo 04 stabil di ketiga lokasi pengujian dan beradaptasi luas sehingga sesuai untuk dikembangkan pada kondisi di bawah naungan dan memenuhi standar nasional industri obat untuk produksi bahan aktif kurkumin. Kata kunci: Curcuma domestica, adaptasi, toleran naungan, kurkumin
- ItemAKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG Calophyllum pulcherrimum, C. soulattri DAN C. teysmannii:Volume 29, Nomor 2, Desember 2018(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2018-12-01) Eris Septiana dan Partomuan Simanjuntak1,2)Kualitas udara yang menurun akibat polusi dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas di dalam tubuh. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menangkal radikal bebas sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Salah satu tanaman yang merupakan sumber antioksidan alami yaitu bintangur (Calophyllum spp.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan terbaik dari ekstrak etanol kulit batang tiga spesies bintangur baik ekstrak tunggal maupun kombinasi. Penelitian dilaksanakan sejak September sampai Desember 2017 di Laboratrorium Kimia Bahan Alam, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat. Percobaan terdiri atas tujuh perlakuan diulang tiga kali. Perlakuan terdiri atas ekstrak etanol kulit batang a) Calophyllum pulcherrimum (CP), b) C. soulattri (CS), c) С. teysmannii (CT), d) kombinasi C. pulcherrimum dan C. soulattri (CP+CS), e) kombinasi C. pulcherrimum dan C. teysmannii (CP+CT), f) kombinasi C. soulattri dan C. teysmannii (CS+CT), dan g) kombinasi C. pulcherrimum, C. soulattri dan C. teysmannii (CP+CS+CT) dengan perbandingan masing-masing ekstrak 1: 1 untuk perlakuan yang menggunakan dua kombinasi serta 1: 1: 1 untuk perlakuan yang menggunakan tiga kombinasi. Uji antioksidan menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH. Uji kadar fenol dan flavonoid total masing-masing berdasarkan pada reaksi reagen Follin-Ciocalteu dan aluminium klorida. Hasil pengujian menunjukkan kombinasi ekstrak etanol kulit batang bintangur memiliki aktivitas antioksidan, kadar fenol dan flavonoid total yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak tunggalnya. Perlakuan CP+CS+CT memiliki nilai IC50 terendah sebesar 3,12 mg.l¹ sehingga berpotensi sebagai sumber antioksidan alami.
- ItemAKTIVITAS ANTIOKSIDAN KECIBELING, BAKAU MERAH, DAN KATUK PADA METODE EKSTRAKSI DAN RASIO EKSTRAK YANG BERBEDA: Volume 31, Nomor 1, Mei 2020(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2020-05-01) Lilik Sulastri, Ika Oktavia¹, dan Partomuan Simanjuntak23)Tumbuhan obat Indonesia, seperti kecibeling {Strobilanthes crispa (L.) Blume}, bakau merah (Rhizophora stylosa Griff.) dan katuk {Sauropus androgynus (L.) Merr.} mengandung senyawa aktif yang berperan sebagai antioksidan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi (maserasi dan infusa) dan rasio perbandingan ekstrak daun kecibeling dan bakau merah, serta batang katuk, baik secara tunggal maupun kombinasi terhadap aktivitas antioksidan ekstrak. Serbuk simplisia kering berukuran 40 mesh dari daun kecibeling, daun bakau merah, dan batang katuk diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96 % (metode maserasi) dan dengan pelarut air (metode infusa). Ekstrak tunggal atau kombinasi ekstrak tunggal daun kecibeling, daun bakau merah, dan batang katuk (1:1:1; 1:1:2; 1:2:1; dan 2:1:1) diuji aktivitas antioksidannya berdasarkan metode radikal bebas 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Metode maserasi dengan etanol lebih baik dibandingkan dengan metode infusa dengan air. Antioksidan dari ekstrak etanol daun kecibeling menunjukkan aktivitas paling kuat dengan nilai konsentrasi penghambatan (IC50) sebesar 37,65 ppm dibandingkan dengan ekstrak air. Kombinasi ekstrak etanol tunggal dari daun kecibeling, daun bakau merah, dan batang katuk (2:1:1) bersifat sinergis dengan aktivitas antioksidan paling kuat (IC50= 18,78 ppm), tetapi masih di bawah aktivitas antioksidan vitamin C (ICs0 = 4,24 ppm). Ekstrak etanol daun kecibeling secara tunggal atau dikombinasikan dengan ekstrak etanol daun bakau merah dan batang katuk berpotensi dikembangkan sebagai antioksidan.
- ItemAktivitas Makan Maenas maculifascia WLK. Serta Serangannya Terhadap Ylang-Ylang dan Kenanga(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 1989) Wiratno, NFN; Munaan, Amri; -
- ItemAKTIVITAS NEMATISIDAL BEBERAPA EKSTRAK TANAMAN OBAT DAN AROMATIK TERHADAP Meloidogyne sp. PADA JAHE(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2012) Djiwanti, Setyowati Retno; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat; ., Supriadi; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
- ItemAKTIVITAS NEMATISIDAL BEBERAPA EKSTRAK TANAMAN OBAT DAN AROMATIK TERHADAP Meloidogyne sp. PADA JАНЕ : Volume 23, Nomor 2, Desember 2012(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2012-12-01) Setyowati Retno Djiwanti dan SupriadiPengendalian nematoda dengan senyawa kimia asal tanaman cukup prospektif. Penelitian yang dilakukan bertujuan mengevaluasi aktivitas nematisidal 13 macam ekstrak tanaman obat dan aromatik (TOA) terhadap mortalitas juvenil Meloidogyne sp. di laboratorium dan enam formula pestisida nabati (minyak cengkeh, serai wangi, kayu manis, mimba, dan temulawak) terhadap populasi Meloidogyne sp. pada akar tanaman jahe di rumah kaca sejak 2009 sampai 2010. Pengujian aktivitas nematisidal di laboratorium dilakukan dengan merendam J2 Meloidogyne sp. dalam 0,5-1,0% utan ekstrak TOA selama satu jam kemudian diamati persentase kematiannya. Pengujian keefektifan formula pestisida nabati di rumah kaca dilakukan dengan menyiramkan 100 ml larutan pestisida nabati (1,5-2,0%) pada perakaran tanaman jahe yang telah diinokulasi dengan J2 Meloidogyne sp. (800 ekor tanaman¹). Aplikasi penyiraman pestisida nabati diulang tiga kali setiap tujuh hari, dimulai pada saat inokulasi nematoda. Rancangan penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan pada penelitian laboratorium, dan dua ulangan (setiap ulangan terdiri dari 10 tanaman) pada penelitian rumah kaca. Ekstrak daun cengkeh, daun serai wangi, dan biji mengkudu pada onsentrasi 1,0% menyebabkan 100% kematian J2 Meloidogyne sp.; perlakuan ekstrak mahkota dewa, brotowali, sambiloto, jarak, kunyit, kacang babi, kenikir, legundi, cabe jawa, dan babadotan sama sekali tidak menyebabkan kematian J2. Empat dari enam jenis formula pestisida nabati yang diuji, yaitu minyak cengkeh + serai wangi, serai wangi asam salisilat, cengkeh + serai wangi + asam salisilat, dan cengkeh + serai wangi + mimba efektif menekan lebih dari 50% populasi Meloidogyne sp. sebanding dengan karbofuran (69,70%). Namun, aplikasi tersebut menghambat pertumbuhan tanaman kecuali pada aplikasi serai wangi + asam salisilat.
- ItemAKTIVITAS PENGHAMBATAN POLIMERISASI HEME EKSTRAK DAUN SEMBUNG (Blumea balsamifera) SEBAGAI ANTIMALARIA(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2017-02-21) Septiana, Eris; Umaroh, Aulia; Fakultas Farmasi,Universitas Pancasila, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12640; Gangga, Erlindha; Fakultas Farmasi,Universitas Pancasila, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12640; Simanjuntak, Partomuan; Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Fakultas Farmasi,Universitas Pancasila, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12640
- ItemAKTIVITAS PENGHAMBATAN POLIMERISASI HEME EKSTRAK DAUN SEMBUNG (Blumea balsamifera) SEBAGAI ANTIMALARIA: Volume 28, Nomor 1, Mei 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-01-01) Eris Septiana¹, Aulia Umaroh², Erlindha Gangga2) dan Partomuan Simanjuntak1,2)Penyakit malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang dalam siklusnya akan mendegradasi hemeoglobin menjadi asam amino dan heme bebas yang toksik untuk parasit. Untuk menetralkan toksisitas heme bebas, parasit akan mengubahnya menjadi hemeozoin melalui proses polimerisasi heme. Proses ini sangat penting dalam siklus hidup parasit sehingga dapat dijadikan sebagai target obat antimalaria. Daun sembung dilaporkan mempunyai aktivitas antimalaria baik secara in vitro maupun in vivo, tetapi mekanismenya belum pernah dilaporkan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas penghambatan polimerisasi heme ekstrak daun sembung dan golongan senyawa yang terdapat pada ekstrak dengan aktivitas penghambatan terbaik. Daun sembung diekstrak dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan etanol 70%. Uji antimalaria in vitro dilakukan dengan menggunakan metode penghambatan polímerísasi heme. Ekstrak dengan aktivitas penghambatan terbaik diukur nilai ICso dan dilanjutkan dengan skrining fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol 70% mempunyai aktivitas penghambatan polimerisasi heme pada konsentrasi 1 mg ml-¹ masing-masing sebesar 11,28; 26,26; dan 56,88%. Nilai ICso ekstrak etanol 70% sebesar 0,978 mg ml1. Ketiga ekstrak memiliki aktivitas penghambatan polimerisasi heme dan ekstrak etanol 70% memiliki aktivitas tertinggi. Skrining fitokimia menunjukkan daun sembung yang diekstrak dengan etanol 70% mengandung golongan senyawa flavonoid, triterpenoid, kuinon, tanin, dan saponin.
- ItemAlbert Husein Wawo, Ning Wikan Utami dan Ninik Setyowati: Volume 28, Nomor 2, Desember 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-12-01) Albert Husein Wawo, Ning Wikan Utami dan Ninik SetyowatiGyrinops verstegii Domke adalah salah satu jenis gaharu yang memiliki nilai ekonomi tinggi yang saat ini terancam kelangkaan, sehingga perlu dilestarikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemangkasan cabang dan pemupukan daun pada pertumbuhan bibit G. verstegii, sebagai salahsatu upaya untuk mendukung pelestariannya. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Pusat Penelitian Biologi, LIPI di Cibinong Science Center (CSC) yang dirancang secara faktorial menggunakan Rancangan Acak Lengkap diulang 3 kali. Perlakuan yang diuji adalah pemangkasan dan penggunaan pupuk daun. Pemangkasan terdiri dari 2 perlakuan yaitu tanpa pemangkasan cabang (PO) dan pemangkasan cabang (P1). Pemupukan daun menggunakan pupuk daun majemuk terdiri dari 4 perlakuan yaitu tanpa pemupukan (D0), pemupukan dengan dosis 1 g.l¹ (D1), 2 g.l¹ (D2) dan 3 g.1 (D3). Pemangkasan cabang mampu merangsang tinggi bibit dan jumlah cabang bibit namun menghambat ukuran diameter bibit. Pemupukan daun berdosis 2 g.1 mampu merangsang pertumbuhan tinggi batang dan jumlah cabang bibit G. Verstegii. Pemangkasan dan pemupukan daun dengan dosis 2 g.l¹ memberikan pengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi batang bibit, jumlah cabang bibit walaupun tidak berpengaruh nyata pada pertumbuhan diameter batang bibit G. verstegii.
- ItemAnalisi Usaha Diversefikasi Peoduk Buah Semu Jambu Mente di Kabupaten Tuban(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2002) Mauludi, Ludi; Sumangat, Djajeng; -
- ItemANALISIS ADOPSI TEKNOLOGI JAMBU METE DI NUSA TENGGARA TIMUR(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Sudjarmoko, Bedy
- ItemAnalisis Efisiensi Pemasaran Jahe Gajah di Daerah Sentra Produksi Sumatera Utara(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 1992) Mauludi, Ludi; Sitorus, D.T.; -; Mahdi, Nana; -
- ItemAnalisis Efisiensi Produksi Lada Pada Pola Usahatani Tradisional dan Pola Usahatani Intensif di Kabupaten Lampung Tengah(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 1989) Yuhono, J.T; Mauludi, Ludi; -
- ItemAnalisis Ekonomi Tiga Genotipe Kumis Kucing di Tiga Agroekologi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2014) Pribadi, Ekwasita Rini; Balai Peneltian Tanaman Obat dan Aromatik; Rostiana, Otih; Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik; SMD, Rosita; Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
- ItemANALISIS EKONOMI TIGA GENOTIPE KUMIS KUCING DI TIGA AGROEKOLOGI Economic Analysis of Three Genotypes Java Tea Plants at Three Agroecologies: Volume 25, Nomor 2, Desember 2014(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2014-12-01) Ekwasita Rini Pribadi, Otih Rostiana, dan Rosita SMDVarietas tanaman dapat dilepas sebagai varietas unggul setelah melalui uji adaptasi/observasi. Keunggulan suatu varietas dapat berupa produksi, mutu dan kandungan bioaktif, yang didukung dengan kelayakan finansial budidayanya. Untuk memperoleh varietas unggul kumis kucing, telah dilakukan uji adaptasi enam genotipe harapan di tiga lokasi yang berbeda, selama dua kali penanaman. Penelitian dilakukan sejak November 2011 sampai Desember 2013, di KP. Cimanggu (240 m dpl.) Bogor, KP. Cicurug (550 m dpl.), dan KP. Sukamulya (350 m dpl.), Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang merupakan sentra produksi kumis kucing. Percobaan dilakukan dalam rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan (enam genotipe), diulang empat kali. Data dianalisa secara diskriptif. Tingkat kelayakan genotipe yang akan dikembangkan, diukur berdasarkan tingkat efisiensi teknis yaitu produksi terna basah dan kering per satuan luas, efisiensi ekonomis berdasarkan (1) pendapatan/satuan luas, (2) rasio antara pendapatan bersih dan pendapatan kotor, serta efisiensi alokatif (harga) berdasarkan rasio antara biaya operasional dan pendapatan kotor. Hasil penelitian menunjukkan, genotipe kumis kucing C menghasilkan kelayakan teknis dan ekonomis lebih unggul dibandingkan dengan genotipe A dan B pada agroekologi dan sosial KP. Sukamulya, dengan potensi produksi terna basah sebesar 2.243 kg, terna kering 690 kg, pendapatan bersih Rp.1.138.676,- B/C rasio 1,34, proporsi sisa pendapatan setelah dikurangi dengan biaya operasional 52,04% dan efisiensi alokatif 74,62% per 1.000 m² selama dua kali panen.
- ItemANALISIS EKONOMI USAHATANI SERAI WANGI (Studi Kasus Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Selatan)(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2007) Damanik, Sabarman
- ItemANALISIS FINANSIAL PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI PADA USAHATANI JAHE PUTIH BESAR (STUDI KASUS KECAMATAN TANJUNGKERTA, SUMEDANG): Volume 28, Nomor 2, Desember 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-12-01) ErmiatiPestisida nabati sangat potensial dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada sistem pertanian organik dan penggunaannya sudah umum dilakukan petani jahe di Sumedang. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kelayakan finansial dan sensitivitas usahatani jahe putih besar (JPB) menggunakan pestisida nabati di Tanjungkerta-Sumedang, Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada November 2013 dengan metode survey. Analisis harga, input-output dikonversi ke harga Juni 2017. Dua puluh responden dipilih secara acak sederhana dari 33 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Gemahrita. Kelayakan finansial usahatani dikaji dengan analisis Net Present Value, Benefit Cost Ratio, Internal Rate of Return. Sensitifitas dengan BEP (Break Event Point) Produksi dan BEP Harga. Berdasarkan hasil observasi, OPT yang ditemukan di lapangan yaitu bercak daun (Phyllosticta sp.) dan kepik (Epilachna sp), dikendalikan petani menggunakan pestisida nabati racikan sendiri dari rimpang lengkuas, seraiwangi, daun mimba dan daun sirih. Produktivitas jahe 22.525 kg ha dengan harga yang berlaku Rp 3.000,-/kg. Biaya pestisida nabati Rp 678.000,- per panen. Usahatani JPB menggunakan pestisida nabati secara finansial layak karena nilai NPV>0 (Rp 32.081.22,-), B/C Ratio>1 (2,35), IRR 13 % di atas suku bunga bank yang berlaku (1,5% per bulan). BEP harga Rp 1.279,-/kg, BEP produksi 9.601 kg.ha¹, 57 % lebih rendah dari produktivitas dan harga aktual. Jika produktivitas dan harga JPB turun sebesar <57 %, usahatani tersebut masih layak dilakukan. Usahatani JPB menggunakan pestisida nabati terbukti menguntungkan petani, aman untuk tanaman, tanah dan tidak mengganggu kesehatan petani, sehingga layak untuk dikembangkan.
- ItemAnalisis Finansial Usaha Penyulingan Minyak Lada(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 1993) Mahruf, Machdar; Mauludi, Ludi; -