Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 724
- Itembuletin PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT, Volume XVIII No 2,2002 ; buletin litro vol xviii no 2, 2002 hlmn 1-54(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-12-01) Volume XVIII No 2,2002
- ItemAnalisis Usaha Diversifikasi Produk Buah Semu Jambu Mente di Kabupaten Tuban ; buletin litro vol xviii no 2, 2002 hlmn ; 49-54(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-12-01) Ludi Mauludi dan Djajeng SumangatKajian peningkatan pendapatan petani melalui diversifikasi produk buah semu jambu mente telah dilakukan mulai bulan Agustus sampai Oktober 1997 di kabupaten Tuban yang merupakan salah satu daerah sentra produksi jambu mente di propinsi Jawa Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi dan kendala pengembangan jambu mente di Kabupaten Tuban, serta prospek/peluang pengembangan usaha diversifikasi produk buah semu jambu mente. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus pada industri rumah tangga sari buah jambu mente yang ada di desa Pongpongan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Dari hasil penelitian diketahui bahwa potensi produksi buah semu jambu mente cukup berlimpah, namun baru sebagian kecil saja petani yang telah memanfaatkan/mengusahakan diversifikasi produk dari buah semu. Kendalanya adalah buah semu jambu mente mudah busuk sehingga perlu penanganan pasca panen yang cepat. Sementara itu, bahan pengawet sari pekat (nira) buah semu jambu mente masih sulit diperoleh di pasaran bebas. Prospek/peluang pengem- bangan usaha diversifikasi produk buah semu (nira/sari buah) jambu mente di kabupaten Tuban cukup cerah, karena dapat diusahakan pada skala industri rumah tangga, tidak memerlukan investasi yang besar, secara ekonomis menguntungkan dan pemasaran produknya cukup prospektif. Kata kunci: diversifikasi produk, buah semu jambu mente, sari buah, pendapatan petani.
- ItemPengaruh Dosis dan Komposisi Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jahe Muda ; buletin litro vol xviii no 2, 2002 hlmn ; 41-48(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-12-01) Gusmaini dan Nur MaslahahPercobaan pot untuk menguji pengaruh dosis dan komposisi bahan organik terhadap pertumbuhan dan hasil jahe (Zingiber officinale Rosc.) dilakukan mulai Desember 1996 hingga Mei 1997 di Instalasi Penelitian Cimanggu, Bogor. Perlakuan yang diuji adalah tanpa pupuk organik dan dosis serta komposisi pupuk organik 0.5 kg dan 1 kg. Bahan organik yang digunakan adalah pupuk kandang, limbah kopi dan sekam, masing-masing dengan komposisi : 1:0:0, 1:0:1, 1:1:0, 1:1:1, 1:2:1, 1:1:2, 2:1:1, per pot, ukuran pot adalah 40 x 60 cm dengan berat tanah 25 kg/pot. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok, faktor tunggal dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 0.5 kg bahan organik dengan komposisi 1:1:0 memberikan jumlah anakan per rumpun (15.21) dan jumlah daun (128.11) terbanyak, berbeda nyata dengan kontrol (8.37 dan 81.11). Diameter pangkal batang terbesar dicapai pada dosis 1.0 kg bahan organik dengan komposisi 1:1:2 (11.7 mm) berbeda nyata dengan kontrol (8.18 mm). Hasil rimpang segar relatif tinggi (687-69 - 591.28 g/tanaman) dan berbeda nyata dengan kontrol (315.67 g/tanaman) dicapai pada dosis 0.5 kg komposisi 1:2:1 dan komposisi berimbang 1:1:1. Untuk mengurangi pemakaian pupuk kandang, sebaiknya dikombinasikan dengan bahan organik lain. Kata kunci: Jahe, bahan organik, limbah kopi, produksi
- ItemIdentifikasi Sifat-sifat Hantaran Panas Pada Lada ; buletin litro vol xviii no 2, 2002 hlmn ; 33-40(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-12-01) Agus Supriatna Somantri, Sri Yuliani dan Armansyah H. TambunanParameter-parameter penting pada proses yang menggunakan panas, seperti pengeringan, pasteurisasi, dan sterilisasi produk adalah sifat-sifat panasnya, mencakup kapasitas panas spesifik (Cp), difusivitas panas (α), konduktivitas panas (k), dan sebagainya. Data- data dasar ini sangat terbatas ketersediaannya, khsusnya bagi komoditas rempah dan obat Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya pada rekayasa proses lada sangat tergantung pada data dasar dan sifat bahan tersebut seperti sifat-sifat panas yang Hasil tergantung pada spesifikasi produk. penelitian menunjukkan bahwa nilai kapasitas panas spesifik lada varietas Belantung (metoda Charm) adalah 1.6063 kJkgK¹, sedangkan difusivitas panasnya adalah 0.1242 m²/s dan konduktivitas panasnya dari pengukuran langsung (dengan Kemtherm QTM-D3) adalah 0.1282 WmK¹ dan dengan pengukuran tidak langsung adalah 0.1171 WmK¹. Tingkat ketepatan kedua nilai tersebut adalah 90.52%.
- ItemKarakterisasi Morfologi dan Mutu Adas (Foeniculum vulgare MILL.) ; buletin litro vol xviii no 2, 2002 hlmn ; 25-32(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-12-01) Nurliani Bermawie, Nur Ajijah dan Otih RostianaKarakterisasi tanaman adas (Foeniculum vulgare Mill.) telah dilakukan di Manoko, Jawa Barat mulai bulan April 1995 sampai Maret 1996. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi dan mutu 2 tipe adas. Bahan tanaman yang digunakan adalah satu tipe adas asal Cepogo (Jawa Tengah) dan satu tipe asal Manoko (Jawa Barat). Parameter yang diamati meliputi karakter morfologi, agronomi serta mutu buah dan sifat fisika dan kimia minyaknya. Tidak ditemukan perbedaan dalam karakter morfologi batang, daun, bunga dan buah namun ditemukan perbedaan dalam beberapa karakter agronomi yang diamati. Tipe Cepogo memiliki rata-rata tinggi tanaman, jumlah batang, jumlah tandan bunga per batang dan produksi buah kering per rumpun yang lebih banyak dibandingkan tipe manoko yaitu berturut-turut 151.67 cm, 51.25, 29.54 cm dan 123.7 gram (data panen tahun ke-2). Tipe Manoko memiliki jumlah ruas, jumlah individu bunga per tandan dan diameter tandan bunga yang lebih besar dibanding tipe Cepogo yaitu berturut-turut 18.30, 36.59 dan 12.37 cm. Hasil analisa sifat fisika dan kimia minyak juga menunjukkan adanya perbedaan. Kadar minyak atsiri tipe Cepogo dan Manoko berturut-turut adalah 1.85% dan 2.57%, kadar minyak lemak 13.15% dan 11.64%, sari dalam etol 5.72% dan 7.58% serta kadar anetol 53.40% dan 55.08%. Untuk mendukung kegiatan pemuliaan lebih lanjut sangat diperlukan peningkatan variabilitas genetik diantaranya melalui introduksi, induksi keragaman somaklonal maupun persilangan. Kata kunci: F. vulgare Mill., kadar minyak, sari dalam ethanol, kadar anetol, keragaman genetik