Modul Pendidikan
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Modul Pendidikan by Subject "C Education, extension, and advisory work/Pendidikan, Penyuluhan Pertanian"
Now showing 1 - 10 of 10
Results Per Page
Sort Options
- ItemDigitalisasi Pelayanan Agroeduwisata Berbasis QR C(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026) Yogana Saragih, A.Md.PPenyampaian informasi secara manual pada kawasan agroeduwisata sering kali memiliki keterbatasan dalam menjangkau pengunjung secara interaktif dan efisien. Inovasi ini bertujuan untuk mentransformasi pelayanan agroeduwisata konvensional menjadi layanan digital yang interaktif berbasis QR Code di kawasan Teaching Factory SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru. Melalui teknologi ini, pengunjung dapat dengan mudah mengakses informasi digital komprehensif berupa teks, gambar, hingga video hanya dengan memindai QR Code yang tersedia. Tahapan implementasi (best practice) mencakup: (1) identifikasi objek edukasi, (2) penyusunan konsep konten digital, (3) pembuatan kode QR, (4) integrasi dengan kegiatan edukasi, serta (5) pemantauan dan pembaruan informasi secara berkala. Keunggulan utama dari teknologi ini adalah kemudahannya dalam menyajikan informasi secara cepat, mendukung sistem pembelajaran berbasis digital, serta fleksibilitas pembaruan konten tanpa perlu mengganti media fisik. Di samping itu, inovasi ini efisien dari segi biaya karena dapat memanfaatkan aplikasi pembuat QR Code gratis. Kendati memerlukan kesiapan perangkat smartphone pengunjung dan ketergantungan pada jaringan internet, digitalisasi pelayanan ini efektif meningkatkan kualitas edutainment dan modernisasi pengelolaan kawasan agroeduwisata.
- ItemDigitalisasi Peminjaman dan Pengembalian Alat dan Penggunaan Bahan(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026) Erina Dwi Ramadhani, S.TTata kelola sarana dan prasarana pembelajaran praktik secara manual sering kali menghadapi kendala efisiensi, potensi kesalahan pencatatan (human error), serta lambatnya pemantauan persediaan alat dan bahan. Penelitian/inovasi ini bertujuan untuk menerapkan sistem digitalisasi pencatatan peminjaman dan pengembalian alat praktik serta penggunaan bahan praktik secara terintegrasi berbasis web dan barcode di SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru. Penerapan inovasi ini mengikuti tahapan best practice, meliputi: (1) pendaftaran inventaris ke dalam database, (2) pemasangan barcode pada papan informasi, (3) pemindaian barcode saat peminjaman alat, (4) pencatatan otomatis transaksi peminjaman, (5) pengurangan stok bahan secara otomatis sesuai pemakaian, (6) pemindaian barcode saat pengembalian alat, serta (7) monitoring dan pelaporan secara berkala oleh pengelola. Hasil implementasi menunjukkan bahwa sistem ini mampu mempercepat proses transaksi, meminimalisir kesalahan manual, menyediakan data stok secara real-time, dan meningkatkan akuntabilitas pelayanan di laboratorium serta teaching factory. Meskipun menghadapi beberapa kendala seperti ketergantungan pada perangkat/jaringan dan perlunya pendataan awal, inovasi ini terbukti mendukung transformasi digital tata kelola sarana sekolah secara optimal.
- ItemInfografis Penerapan Pipa Kapiler Sebagai Sarana Penyiraman Tanaman(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026-07-19) Danang AtmadiKeterbatasan waktu dalam pemeliharaan tanaman serta tingginya frekuensi penyiraman manual sering kali memicu fluktuasi kelembaban tanah yang dapat mengganggu pertumbuhan optimal tanaman. Inovasi teknologi tepat guna ini dirancang untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui sistem irigasi tetes mandiri (DIY capillary pipe irrigation) memanfaatkan prinsip kapilaritas udara dan air. Sistem ini mengandalkan gaya kapilaritas, yaitu gaya tarik-menarik antarmolekul air (adhesi-kohesi), menggunakan media perantara berupa kain atau tali kaos bekas untuk mengalirkan air secara perlahan dari botol penampung ke media tanam. Metode perakitan alat peraga dan sarana ini dirancang secara sangat ekonomis dengan estimasi biaya per set sekitar $\pm$ Rp 2.000, menggunakan material ramah lingkungan dan limbah domestik yang meliputi botol bekas, gunting, kain/tali bekas, batang kayu/ajir penyangga, serta paku/solder sebagai pelubang. Prosedur pembuatan diawali dengan melubangi tutup botol bekas, memasukkan salah satu ujung kain ke dalam lubang secara kuat, mengisi botol dengan air, lalu membalikkan botol (posisi terbalik) dengan penyangga ajir kayu di dekat tanaman agar ujung kain menyentuh tanah. Hasil penerapan teknologi ini menunjukkan keunggulan langsung dalam menjaga kelembaban tanah secara stabil dan otomatis, menghemat air dan waktu, serta mengurangi risiko limpasan air maupun erosi tanah. Kendati demikian, sistem ini memiliki keterbatasan teknis seperti ketidakcocokan untuk komoditas yang membutuhkan volume air tinggi secara cepat, risiko penyumbatan kotoran pada pori kain, serta perlunya pengisian ulang berkala apabila menggunakan ukuran wadah botol yang kecil. Penggunaan inovasi ini sangat ideal diterapkan pada tanaman buah, sayur, hias, dan tanaman pot/polybag, khususnya di daerah panas atau selama musim kemarau. Sarana ini memiliki potensi pengembangan lanjutan untuk diintegrasikan dengan katup pengatur tetes otomatis (auto drip) maupun sensor kelembaban tanah berbasis notifikasi pintar guna mendukung sistem pertanian presisi skala rumah tangga maupun edukasi di sekolah. Kata Kunci: Pipa Kapiler, Irigasi Otomatis, Kapilaritas, Bahan Daur Ulang, Kelembaban Tanah.
- ItemInovasi Media Video Edukatif Prosedur Praktikum Kultur Jaringan(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026) Sheirinda Akhirusani SamsuriPelaksanaan praktikum kultur jaringan pada pendidikan vokasi pertanian sering kali menghadapi kendala tingginya risiko kesalahan teknis prosedur akibat keterbatasan visualisasi dalam metode instruksi lisan konvensional. Inovasi media video edukatif dirancang sebagai media pembelajaran digital interaktif untuk memberikan panduan visual yang sistematis, runtut, dan mudah dipahami oleh siswa sebelum melakukan kerja nyata di laboratorium. Tujuan dari penerapan teknologi pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan efektivitas pemahaman mandiri, meminimalkan kesalahan teknis penggunaan alat-bahan, serta mendukung adaptasi teknologi digital di lingkungan sekolah. Prosedur praktik terbaik (best practice) dalam implementasi teknologi ini disusun melalui enam tahapan berurutan: (1) pelaksanaan pre-test untuk mengukur basis pemahaman awal siswa; (2) penyusunan naskah (script) dan papan cerita (storyboard); (3) perekaman video dokumentasi seluruh tahapan prosedur kultur jaringan di laboratorium; (4) penyuntingan (editing) dan publikasi video; (5) pemanfaatan video sebagai media pembelajaran mandiri pra-praktikum; serta (6) pelaksanaan post-test guna mengevaluasi tingkat peningkatan pemahaman kognitif siswa dan efektivitas media. Syarat implementasi memerlukan perangkat dokumentasi (kamera/telepon genggam, tripod, mikrofon, komputer editing), gawai akses (smartphone/laptop), serta fasilitator materi dari guru atau Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP). Hasil penerapan teknologi ini menunjukkan keunggulan langsung dalam menyajikan materi demonstrasi laboratorium secara visual dan adaptif, serta fleksibel untuk diputar secara berulang guna mendukung metode belajar mandiri. Keterbatasan dari inovasi ini terletak pada ketergantungan terhadap ketersediaan perangkat elektronik penunjang akses serta dibutuhkannya waktu, keterampilan penyuntingan, dan sumber daya khusus dalam proses produksinya. Saat ini, status adopsi video edukatif ini telah disebarluaskan secara internal kepada siswa SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru dan belum menyasar petani adopter luar. Kata Kunci: Video Edukatif, Kultur Jaringan, Media Pembelajaran Digital, Pendidikan Vokasi, Eksperimen Laboratorium.
- ItemLaporan Pelaksanaan Pembuatan Perangkap Lalat Buah Menggunakan Atraktan Metil dan Botol Plastik Bekas(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2025) Rizky AmalliaLalat buah merupakan salah satu hama utama pada berbagai komoditas hortikultura yang menyebabkan penurunan mutu, pembusukan, hingga kerontokan buah dini. Sebagai bagian dari komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT), teknik penjebakan mekanis menggunakan senyawa penarik (paraferomon) menjadi solusi yang aman dan efisien. Praktikum ini bertujuan untuk membekali 30 siswa kelas XI ATPH dengan pemahaman konsep PHT, prosedur perakitan alat perangkap ramah lingkungan, serta penerapan protokol Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) penanganan bahan kimia. Kegiatan dilaksanakan pada 22 Desember 2025 di Laboratorium dan Lahan Praktik SMK-PP Negeri Banjarbaru. Metode pelaksanaan berbasis kerja kelompok, meliputi langkah pembersihan limbah botol plastik, pembuatan 2–4 lubang masuk berhadapan pada sisi botol, pengisian air deterjen di dasar botol sebagai cairan penjebak, penetesan metil eugenol pada kapas gantung tengah, serta pemasangan tiang di bagian tajuk tanaman yang teduh. Evaluasi keberhasilan dinilai melalui rubrik observasi proses kerja kelompok, mutu fisik fungsional perangkap, penerapan K3, serta format lembar monitoring berkala. Hasil praktikum menunjukkan bahwa seluruh kelompok siswa terampil menghasilkan perangkap gantung mandiri yang stabil dan fungsional. Di samping penguasaan kompetensi teknis perlindungan tanaman, kegiatan ini berhasil menumbuhkan sikap kolaboratif, ketelitian, serta kesadaran pemanfaatan limbah plastik. Efektivitas perangkap secara kuantitatif direkomendasikan untuk dievaluasi lebih lanjut melalui pencatatan jumlah serangga berkala setiap 3–7 hari guna mengamati dinamika populasi hama di lapangan. Kata Kunci: Paraferomon, Metil Eugenol, Lalat Buah, Botol Bekas, Pengendalian Hama Terpadu.
- ItemLaporan Pelaksanaan Praktikum Pembuatan Perangkap Atraktan Nanas untuk Kumbang Tanduk (Oryctes Rhinoceros L.) pada Tanaman Kelapa Sawit(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2025-09-18) Rizky AmalliaPembuatan Perangkap Atraktan Nanas untuk Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros L.) pada Tanaman Kelapa SawitOleh: Rizky Amallia, S.P., M.Sc.Instansi: SMK-PP Negeri Banjarbaru, Pusat Pendidikan Pertanian, BPPSDMP, Kementerian Pertanian Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros L.) merupakan salah satu hama penting yang menyerang titik tumbuh tanaman kelapa sawit muda di areal perkebunan. Upaya pengendalian secara fisik dan mekanis melalui pembuatan perangkap dengan pemanfaatan senyawa volatil nabati (atraktan) menjadi alternatif pengendalian yang aman, ekonomis, dan ramah lingkungan. Praktikum ini bertujuan untuk membekali peserta didik kelas XI ATP dengan kompetensi nyata dalam merancang, merakit, dan memasang perangkap atraktan secara fungsional serta menerapkan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lapangan. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 18 September 2025 di Lahan Praktik Guntung Lua, SMK-PP Negeri Banjarbaru, dengan melibatkan 25 peserta didik. Metode pelaksanaan praktikum berbasis kerja kelompok yang meliputi tahapan persiapan alat-bahan, pengukuran dan pemotongan pelat seng, pengeboran wadah ember plastik, perakitan bilah pengarah, penyiapan umpan nanas dalam botol, pembuatan tiang penyangga bambu, hingga instalasi akhir di lahan kelapa sawit. Analisis keberhasilan kegiatan dinilai berdasarkan lembar observasi proses kerja, fungsi awal produk, kepatuhan K3, dan kemandirian penyusunan rencana monitoring berkala. Hasil praktikum menunjukkan bahwa seluruh kelompok berhasil menyelesaikan produk fungsional berupa perangkap gantung kokoh dengan spesifikasi wadah penampung berwarna gelap, bilah pelat seng vertikal sebagai pemutus arah terbang, serta botol berisi potongan buah nanas segar di bagian tengah perangkap. Implementasi praktikum ini berhasil mengembangkan keterampilan teknis (hard skills) perlindungan tanaman serta kompetensi nonteknis (soft skills) berupa kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab lingkungan. Evaluasi efektivitas tangkapan kumbang secara kuantitatif belum dapat disimpulkan pada fase ini dan direkomendasikan untuk dilanjutkan melalui pengamatan terjadwal minimal dua kali seminggu menggunakan format monitoring harian yang seragam. Kata Kunci: Oryctes rhinoceros, Atraktan Nanas, Perangkap Perkebunan, Kelapa Sawi, SMK-PP Negeri Banjarbaru.
- ItemPengembangan Kawasan Agroeduwisata Berbasis Teknologi Pertanian(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026) Yogana Saragih, A.Md.POptimalisasi fungsi lahan pertanian sekolah sebagai sarana edukasi sekaligus destinasi wisata merupakan langkah strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual. Penelitian/inovasi ini bertujuan untuk mengembangkan kawasan agroeduwisata terpadu berbasis teknologi pertanian di SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru. Kawasan ini mengintegrasikan penerapaan Good Agricultural Practices (GAP), teknologi pembibitan modern, serta digitalisasi promosi dan penyebaran informasi melalui media sosial (Instagram, Facebook, dan TikTok). Metodologi pengerjaan (best practice) mencakup perencanaan dan analisis potensi lahan, penerapan teknik GAP sebagai sarana praktik peserta didik dan edukasi pengunjung, hingga pengelolaan lingkungan yang mengacu pada prinsip ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Hasil pengembangan menunjukkan bahwa kawasan agroeduwisata ini berhasil menggabungkan fungsi pendidikan, produksi pertanian, kewirausahaan, dan kebersihan lingkungan dalam satu kawasan terintegrasi. Meskipun memerlukan biaya investasi awal serta perawatan rutin, inovasi ini terbukti efektif dalam meningkatkan daya guna lahan pertanian dan memberikan pengalaman belajar berbasis praktik (experiential learning) bagi siswa maupun pengunjung.
- ItemTeknik Pembuahan Anggur Impor(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026-07-18) Abdul WahidTeknik Pembuahan pada Tanaman Anggur Impor di Daerah TropisTanaman anggur (Vitis vinifera) merupakan tumbuhan perdu berkayu merambat yang memiliki kecenderungan pertumbuhan vegetatif kontinu apabila dibiarkan tanpa perlakuan khusus, sehingga menghambat fase generatifnya. Artikel ini bertujuan untuk mengulas dua metode utama inisiasi pembungaan pada anggur di daerah tropis, yaitu metode potes pucuk dan metode pruning (pemangkasan produksi), serta tahapan manajemen pemeliharaan prapemangkasan hingga pascaproduksi. Potes pucuk dilakukan dengan memotong 3–5 cm ujung pucuk aktif tanaman sehat dan menyisakan 10–15 helai daun untuk mengalihkan hasil fotosintesis ke pembentukan bunga. Sementara itu, metode pruning diaplikasikan dengan memangkas cabang produksi matang (berwarna cokelat dengan diameter minimal sebesar rokok) dan menyisakan 2–5 mata tunas dari pangkal guna mematahkan dominansi apikal. Keberhasilan kedua teknik ini didukung oleh tiga tahapan persiapan krusial prapemangkasan: pemupukan generatif tinggi fosfor (P) dan kalium (K) selama satu bulan, perlakuan axel break untuk penyeragaman cabang tersier, serta cekaman (stres) air selama dua minggu untuk akumulasi karbohidrat di dalam batang. Pascapemangkasan, mata tunas umumnya pecah pada 7–14 hari, diikuti kemunculan calon dompol bunga pada 14–21 hari, dan bunga mulai mekar dalam waktu 3–5 minggu. Perawatan fase generatif difokuskan pada aplikasi fungisida dan insektisida berkala yang dihentikan satu bulan sebelum panen, penyiraman teratur, serta pemenuhan nutrisi pembesaran buah. Unsur kalium (K) diaplikasikan lewat $KNO_3$ putih atau ZK untuk meningkatkan ukuran buah, kalsium (Ca) untuk memperkuat tekstur kulit, dan magnesium sulfat ($MgSO_4$) untuk memacu tingkat kemanisan. Penerapan seluruh tahapan budidaya ini secara konsisten terbukti efektif menyeragamkan waktu pembungaan, meningkatkan produktivitas, serta menghasilkan kualitas buah anggur impor yang optimal di iklim tropis. Kata Kunci: Anggur Impor, Pruning, Potes Pucuk, Stres Air, Fase Generatif.
- ItemTEKNOLOGI FILTRASI AIR DENGAN MATERIAL SEDERHANA(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026) Febriyanti Puteri LestariAkses terhadap air bersih merupakan salah satu prasyarat utama dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan. Penelitian ini menyajikan inovasi teknologi filtrasi air sederhana bertingkat sebagai solusi aplikatif untuk menurunkan tingkat kekeruhan air akibat padatan tersuspensi, lumpur, dan partikel kasar. Sistem filtrasi ini memanfaatkan botol plastik bekas sebagai wadah pelapis (korong) yang disusun secara modular dengan media alami berupa tisu/kain, kerikil, batu, pasir, dan arang kayu. Hasil pengujian secara visual menunjukkan adanya penurunan kekeruhan secara signifikan sehingga menghasilkan air yang lebih jernih. Teknologi ini memiliki keunggulan berupa biaya produksi yang sangat ekonomis (berkisar antara Rp10.000 hingga Rp20.000 per unit), ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah plastik, serta tidak memerlukan tenaga listrik. Namun demikian, teknologi ini memiliki keterbatasan karena belum mampu mengeliminasi mikroorganisme dan zat terlarut secara penuh, sehingga air hasil filtrasi belum siap dikonsumsi langsung tanpa pengolahan lanjutan. Secara keseluruhan, sistem filtrasi sederhana ini sangat potensial diaplikasikan oleh masyarakat, petani, kelompok tani, dan institusi sekolah sebagai sarana konservasi lingkungan serta penyedia air bersih skala domestik
- ItemTEKNOLOGI FILTRASI AIR DENGAN MATERIAL SEDERHANA(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026) Febriyanti Puteri LestariKetersediaan air bersih merupakan tantangan penting bagi masyarakat dan sektor pertanian. Teknologi Filtrasi Air dengan Material Sederhana hadir sebagai solusi tepat guna untuk mengurangi kekeruhan air secara fisik. Alat ini memanfaatkan limbah botol plastik bekas sebagai wadah modular bertingkat. Komponen penyaring terdiri dari tisu, kerikil, batu, pasir, dan arang kayu. Proses filtrasi ini efektif menahan lumpur dan padatan tersuspensi. Inovasi ini sangat ekonomis dengan biaya berkisar ± Rp10.000 hingga Rp20.000 per unit. Sistem operasionalnya ramah lingkungan dan tidak memerlukan energi listrik sama sekali. Namun, teknologi ini belum mampu mengeliminasi mikroorganisme patogen dan zat terlarut. Oleh karena itu, air hasil filtrasi hanya direkomendasikan untuk kebutuhan nonkonsumsi. Inovasi ini sangat potensial diterapkan oleh petani, institusi sekolah, maupun masyarakat luas.