Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 122
Results Per Page
Sort Options
- ItemPendugaan Ketersediaan Air Bagi TANAMAN KELAPA dan Kedelai di paguyaman, Sulawesi Utara(Balai Penelitian Kelapa Manado, 1987-05) Noil. L. Barri, Nursuestini'Masih kurangnya perhatian terhadap faktor iklim dalam usaha pengembangan pertanian, menyebabkan sering timbulnya kerugian dan kegagalan yang tidak sedikit. Salah satu faktor iklim tersebut adalah curah hujan yang membagi dua musim di Indonesia, yaitu musim hujan dan musim kemarau.Contoh kerugian karena iklim adalah banjir yang terjadi tahun 1977 dan 1978 yang telah merusak areal persawahan berturutturut seluas 99.494 ha dan 14.554 ha, kemudian pada periode yang sama terjadi kerusakan areal persawahan akibat kekeringan berturut-turut seluas 122.215 ha dan 130.637 ha2.
- ItemLaporan Kunjungan Philippines Coconut Authority: Zamboanga Research Center(Balai Penelitian Kelapa Manado, 1987-05) H.T.Luntungan, Tine RompasLaporan kunjungan ke PCA Research Center, San Ramon, Zamboanga, Filipina ini merupakan sebagian dari pada tugas yang dibebankan oleh Balai Penelitian Kelapa Manado untuk menghadiri suatu pertemuan gabungan yang diadakanoleh IBPGR/SEAP Working Group on Palms dan Working Group on Coconut Genetic Improvement of UNDP/FAO Project RAS/80/032 di Zamboanga, Filipina.
- ItemKeanekaragaman Hayati sebagai Sumber Pangan dan Perbaikan Genetik(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) A. Dimyati; Z. Harahap; S. Moeljopawiro; T.S. SilitongaUntuk menunjang pembangunan pertanian, khususnya dalam mendukung pemantapan swasembada pangan dalam PJP II, plasma nutfah memegang peranan penting dalam perbaikan genetik tanaman. Mengingat derasnya laju erosi keragaman hayati sebagai akibat samping dari laju pembangunan, maka konservasi, karakterisasi dan dokumentasi plasma nutfah tanaman pangan perlu mendapat perhatian yang lebih besar. Selain itu, perlu digali potensi plasma nutfah yang memilikifungsi sebagai bahanpangan, pakan, dan bahan baku industri. Dari segi pemanfaatan lahan perlu diusahakan jenis tanaman yang memiliki keunggulan spesifik lokasi. Untuk menentukan pola tanam yang sesuai pada masing-masing ekosistem, perbaikan varietas tanaman pangan ditekankan pada peningkatan produktivitas, umur lebih genjah, mutu hasil baik, dan lebih toleran terhadap kendala biotik maupun abiotik. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada, termasuk pemaduan metode bioteknologi dan konvensional, akan mendukung usaha pemuliaan tanaman yang efektif dan efisien. Pemanfaatan kerabat liar untuk ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit maupun cekaman lingkungan perlu lebih ditingkatkan.
- ItemEvaluasi Keragaman Genetik Plasma Nutfah Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) T. Sudiaty Silitonga; Hartini R. Hifni; Mukelar Amir; Kosim Kardin; Irwan Nasutionarietas unggul merupakan salah satu unsur penting dalam peningkatan produksi. Akan tetapi, perkembangan dan penyebaran varietas unggul padi telah menyebabkan terdesaknya padi lokal. Padahal padi lokal sangat penting artinya sebagai sumber genetik dalam perbaikan atau perakitan varietas unggul baru dengan sifat-sifat yang diinginkan. Untuk memperluas keberadaan keragaman genetik maka plasma nutfah perlu dilestarikan dan dimanfaatkan. Dalam kaitan ini telah diidentifikasi dan dievaluasi sejumlah plasma nutfah padi. Dari 1.500 varietas lokal yang diuji, terdapat 89 yang tahan terhadap delapan ras penyakit blas, 19 agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain IV, 36 bereaksi tahan terhadap penyakit daun bergaris putih, 167 tahan terhadap hama ganjur, 21 toleran kekeringan, 5 toleran terhadap kemasaman tanah PMK, 5 toleran terhadap keracunan aluminium, dan 20 varietas toleran terhadap keracunan besi.
- ItemPeningkatan Keragaman Genetik Ketahanan Varietas Padi Sawah Terhadap Wereng Coklat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) T. Soewito; A.A.N.B. Kamandalu; SularjoWereng coklat menjadi hama utama padi sawah di Indonesia sejak tahun 1972. Perkembangannya dapat membatasi penyebaran varietas padi unggul. Sampai saat ini, wereng coklat telah menurunkan tiga biotipe. Biotipe 1 mematahkan varietas tanpa gen tahan, seperti varietas Pelita I-1, C4-63, dan PB5. Selanjutnya muncul wereng coklat biotipe 2 yang telah menyerang varietas PB26, PB30 dan PB34 yang dikenal memiliki gen tahan Bph 1. Kemudian muncul pula wereng coklat biotipe Sumatera Utara (SU) yang mematahkan sifat tahan varietas PB42 yang mengandung gen Bph 2. Biotipe SU, pertama kali berjangkit di Sumatera Utara pada tahun 1982. Reaksi varietas-varietas unggul dengan gen tahan Bph 2 terhadap biotipe SU sangat beragam. Varietas IR64 yang telah menyebar sekitar limä tahun terakhir belum menunjukkan reaksi peka terhadap biotipe yang berkembang di lapang. Mengingat hama wereng coklat dapat berkembang dan beradaptasi dalam waktu yang relatifcepat maka upaya perbaikan varietas padi diarahkan untuk menghasilkan varietas yang memiliki ragam ketahanan yang lebih luas. Program perbaikan varietas dominan telah dilakukan sejak tahun 1989 dengan memanfaatkan sejumlah tetua donor, antara lain varietas Ptb 33, Kelara, Kencana Bali, Rathu Heenati, dan Oryza officinalis. Melalui kegiatan ini telah dihasilkan enam calon varietas dan sejumlah galur harapan padi sawah yang tahan terhadap wereng coklat.
- ItemBuku Saku Bimbingan Penumbuhan Sentra Agribisnis Tanaman Hias(Direktorat Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1998) Tanaman Pangan dan Hortikultura, Direktorat
- ItemPedoman Pelaksanaan Pengujian Keamanan Hayati Produk Bioteknologi Pertanian Hasil Rekayasa Genetik(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1998-09-01) Sumantadinata ...[at al], Komar; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
- ItemPedoman Pelaksanaan Pengujian Keamanan Hayati Produk Bioteknologi Pertanian Hasil Rekayasa Genetik(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1998-09-01) Winugroho ...[at al], Winugroho; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
- ItemPedoman Pelaksanaan Pengujian Keamanan Hayati Produk Bioteknologi Pertanian Hasil Rekayasa Genetik(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1998-09-01) Damardjati ...[at al], Djoko; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
- ItemPedoman Pelaksanaan Pengujian Keamanan Hayati Produk Bioteknologi Pertanian Hasil Rekayasa Genetik(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1998-09-01) Budianto, Joko; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
- ItemPedoman Pelaksanaan Pengujian Keamanan Hayati Produk Bioteknologi Pertanian Hasil Rekayasa Genetik(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1998-09-01) Susono ...[at at], Saono; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
- ItemPedoman Teknik Operasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada Tanaman Hias dan Tanaman Obat (Sedap Malam, Anyelir, Kencur)(Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2001) Perlindungan Hortikultura,Direktorat
- ItemPanduan Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Talas(Komisi Nasional Plasma Nutfah, 2002) Diterjemahkan oleh: Minantyorini; Ida Hanarida SomantriSalah satu mandat Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian adalah menangani koleksi plasma nutfah pertanian. Guna mendukung salah satu kegiatan pengelolaan plasma nutfah tersebut, maka karakterisasi plasma nutfah harus dilakukan dengan baik agar lebih efisien pengelolaannya. Untuk memudahkan kurator dan pengguna lainnya, telah diterjemahkan Panduan Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Talas Taro (Colocasia esculenta) dan Talas Kimpul (Xanthosoma sagittifolium). Panduan Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Talas Taro diterjemahkan dari buku Descriptors for Taro Colocasia esculenta yang dikeluarkan oleh International Plant Genetic Resources Institute (1999). Sedangkan Panduan Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Talas Kimpul diterjemahkan dari buku Descriptions for Xanthosoma yang dikeluarkan International Board for Plant Genetic Resources (1989). Diharapkan, panduan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukan.
- ItemTeknologi Pemangkasan(Direktorat Tanaman Buah, 2002) Tanaman Buah,Direktorat
- ItemNorma Budidaya Hortikltura Yang Baik(Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, 2002) Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Direktorat
- ItemBudidaya Buah Potensial(Direktorat Tanaman Buah, 2002) Tanaman Buah, Direktorat
- ItemPedoman Penerapan Teknologi Seri Pertanian Organik(Direktorat Pedoman Penerapan Teknologi Seri Pertanian Organik, 2002) Tanaman Sayuran,Hias dan Aneka Tanaman,Direktorat
- ItemPengembangan Budidaya Ikan Air Tawar Dengan Sistem Keramba di Kali Konto Kabupaten Jombang(BPTP Jatim, 2002) IRIANTO, B.; H. Sutanto; T. Zuaidi
- ItemBuku Pegangan Hama-hama Kedelai di Indonesia(Balai Penelitian BioteknologI dan Sumberdaya Genetik Pertanian, 2002-05) Iman ...[at al], Mohammad; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
- ItemPanduan Pengoperasian Program Numerical Taxonomy System (NTSYS-pc) Versi 1.8 dan WinBoot untuk Analisis Klaster(Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, 2003) Bustamam ...[at al], Masdiar; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian