Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 122
- ItemEvaluasi Keragaman Genetik Plasma Nutfah Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) T. Sudiaty Silitonga; Hartini R. Hifni; Mukelar Amir; Kosim Kardin; Irwan Nasutionarietas unggul merupakan salah satu unsur penting dalam peningkatan produksi. Akan tetapi, perkembangan dan penyebaran varietas unggul padi telah menyebabkan terdesaknya padi lokal. Padahal padi lokal sangat penting artinya sebagai sumber genetik dalam perbaikan atau perakitan varietas unggul baru dengan sifat-sifat yang diinginkan. Untuk memperluas keberadaan keragaman genetik maka plasma nutfah perlu dilestarikan dan dimanfaatkan. Dalam kaitan ini telah diidentifikasi dan dievaluasi sejumlah plasma nutfah padi. Dari 1.500 varietas lokal yang diuji, terdapat 89 yang tahan terhadap delapan ras penyakit blas, 19 agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain IV, 36 bereaksi tahan terhadap penyakit daun bergaris putih, 167 tahan terhadap hama ganjur, 21 toleran kekeringan, 5 toleran terhadap kemasaman tanah PMK, 5 toleran terhadap keracunan aluminium, dan 20 varietas toleran terhadap keracunan besi.
- ItemPeningkatan Keragaman Genetik Ketahanan Varietas Padi Sawah Terhadap Wereng Coklat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) T. Soewito; A.A.N.B. Kamandalu; SularjoWereng coklat menjadi hama utama padi sawah di Indonesia sejak tahun 1972. Perkembangannya dapat membatasi penyebaran varietas padi unggul. Sampai saat ini, wereng coklat telah menurunkan tiga biotipe. Biotipe 1 mematahkan varietas tanpa gen tahan, seperti varietas Pelita I-1, C4-63, dan PB5. Selanjutnya muncul wereng coklat biotipe 2 yang telah menyerang varietas PB26, PB30 dan PB34 yang dikenal memiliki gen tahan Bph 1. Kemudian muncul pula wereng coklat biotipe Sumatera Utara (SU) yang mematahkan sifat tahan varietas PB42 yang mengandung gen Bph 2. Biotipe SU, pertama kali berjangkit di Sumatera Utara pada tahun 1982. Reaksi varietas-varietas unggul dengan gen tahan Bph 2 terhadap biotipe SU sangat beragam. Varietas IR64 yang telah menyebar sekitar limä tahun terakhir belum menunjukkan reaksi peka terhadap biotipe yang berkembang di lapang. Mengingat hama wereng coklat dapat berkembang dan beradaptasi dalam waktu yang relatifcepat maka upaya perbaikan varietas padi diarahkan untuk menghasilkan varietas yang memiliki ragam ketahanan yang lebih luas. Program perbaikan varietas dominan telah dilakukan sejak tahun 1989 dengan memanfaatkan sejumlah tetua donor, antara lain varietas Ptb 33, Kelara, Kencana Bali, Rathu Heenati, dan Oryza officinalis. Melalui kegiatan ini telah dihasilkan enam calon varietas dan sejumlah galur harapan padi sawah yang tahan terhadap wereng coklat.
- ItemKeanekaragaman Hayati sebagai Sumber Pangan dan Perbaikan Genetik(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) A. Dimyati; Z. Harahap; S. Moeljopawiro; T.S. SilitongaUntuk menunjang pembangunan pertanian, khususnya dalam mendukung pemantapan swasembada pangan dalam PJP II, plasma nutfah memegang peranan penting dalam perbaikan genetik tanaman. Mengingat derasnya laju erosi keragaman hayati sebagai akibat samping dari laju pembangunan, maka konservasi, karakterisasi dan dokumentasi plasma nutfah tanaman pangan perlu mendapat perhatian yang lebih besar. Selain itu, perlu digali potensi plasma nutfah yang memilikifungsi sebagai bahanpangan, pakan, dan bahan baku industri. Dari segi pemanfaatan lahan perlu diusahakan jenis tanaman yang memiliki keunggulan spesifik lokasi. Untuk menentukan pola tanam yang sesuai pada masing-masing ekosistem, perbaikan varietas tanaman pangan ditekankan pada peningkatan produktivitas, umur lebih genjah, mutu hasil baik, dan lebih toleran terhadap kendala biotik maupun abiotik. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada, termasuk pemaduan metode bioteknologi dan konvensional, akan mendukung usaha pemuliaan tanaman yang efektif dan efisien. Pemanfaatan kerabat liar untuk ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit maupun cekaman lingkungan perlu lebih ditingkatkan.
- ItemPanduan Produksi Benih Kenaf(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2007-12) Sudjindro , Sri Rustini , dan HasnamMutu benih yang baik sangat penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Kualitas benih ditentukan oleh tiga aspek, yaitu genetik, fisiologik, dan fisik. Mutu genetik berkaitan dengan kemurnian dan kestabilan sifat tanaman, mutu fisiologik berhubungan dengan daya hidup benih agar dapat tumbuh normal, sedangkan mutu fisik dilihat dari kebersihan, kesegaran, bentuk, dan kondisi kulit benih yang utuh tanpa kerusakan. Untuk memperoleh benih berkualitas tinggi, diperlukan penanganan yang baik sebelum, saat, dan sesudah panen karena kondisi tersebut sangat memengaruhi mutu benih
- ItemPedoman Umum Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu(2013-01) Dr. HaryonoBudidaya tebu rakyat di Indonesia melibatkan banyak petani dan tenaga kerja, namun produksi gula nasional masih belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi yang terus meningkat sehingga pemerintah harus melakukan impor raw sugar untuk industri makanan dan minuman. Rendahnya produktivitas tebu dan rendemen gula menjadi penyebab utama kurang optimalnya produksi gula nasional. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya seperti pembangunan industri gula, penambahan pabrik, perluasan areal, peremajaan tanaman, serta penerapan inovasi teknologi guna meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan gula nasional