Pemilikan dan Pengusaha Traktor di Sulawesi Selatan

Loading...
Thumbnail Image
Date
1984-01-01
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Pusat Penelitian Agro-Ekonomi
Abstract
Pada umumnya (± 94%) traktor dibeli dengan cara kredit, yang terdiri dari 74% melalui Bank dan 20% melalui penyalur. Yang dibeli secara tunai hanya 6%. Komposisi tersebut selalu berubah sejalan dengan kebijaksanaan Pemerintah di sektor perbankan dan moneter serta perkembangan harga traktor. Adopsi teknologi traktor didasari oleh pertimbangan teknis (pengolahan tanah dan waktu tanam dapat dilakukan lebih cepat), pertimbangan sosial (peningkatan prestise) dan karena mengharapkan hasil yang lebih tinggi. Analisa biaya untuk pembelian traktor pada tahun 1975 dan tahun 1976 menunjukkan "Benefit Cost Ratio" sebesar 0,81 (untuk tahun 1975) dan 0,97 (untuk tahun 1976), masing-masing pada tingkat bunga 12% tiap tahun. Dengan traktor dan tingkat bunga yang sama, "Net Present Value" adalah Rp 539.000,- untuk traktor 1975 dan -Rp 88.000,- bagi traktor 1976. "Internal Rate of Return" besarnya hanya 1% (untuk traktor 1975) dan 10,5% untuk traktor pembelian tahun 1976. Titik impas akan tercapai bila traktor pembelian 1975 mengolah tanah seluas 60,4 ha, sedangkan traktor pembelian tahun 1976 adalah 55,8 ha. Di samping itu, sewa traktor juga dapat dinaikkan untuk mencapai titik impas, yakni menjadi Rp 18.141,- bagi traktor tahun 1975 dan Rp 16.850,- bagi traktor pembelian tahun 1976. Kenyataan ini konsisten dengan terjadinya penunggakan pengembalian kredit pembelian.
Description
Keywords
E Economics, development, and rural sociology/Ekonomi, Pembangunan dan Sosiologi Pedesaan::E20 Organization, administration and management of agricultural enterprise or farms// Organisasi, Administrasi dan Pengelolaan Perusahaan Pertanian/Usaha tani, N Machinery and buildings/Mesin dan Bangunan Pertanian::N20 Agricultural machinery and equipment/Mesin-mesin dan peralatan pertanian
Citation