Pembibitan dan Produksi
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Pembibitan dan Produksi by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 195
Results Per Page
Sort Options
- ItemBeternak Kerbau(Balai Informasi Pertanian Gedong Johor - Medan, 1984) Balai Informasi Pertanian Gedong Johor - Medan; Balai Informasi Pertanian Gedong Johor - MedanKerbau didapati dimana-mana di seluruh Indonesia. Masyarakat memeliharanya untuk bermacam-macam tugas dan pekerjaan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kerbau masih pegang peranan yang cukup penting di bidang pertanian. Terutama dalam pengolahan tanah-tanah yang berat karena tenaganya lebih kuat dari sapi atau kuda. Juga dimanfaatkan sebagai sumber pupuk, ternak potong dan ternak perah. Di samping itu, kerbau dimanfaatkan sebagai tenaga pengangkut beban/muatan, kenderaan, pacuan ataupun dilatih untuk upacara-upacara.
- ItemIntensifikasi Itik(BPTP Kalteng, 1990) BPTP KaltengSelain ternak ayam kampung, ternak unggas lain yang cukup dikenal di daerah pedesaan adalah ternak itik. Namun umumnya pengelolaannya masih bersifat tradi sional, belum benar-benar memperhitungkan untung rugi usaha peternakannya.
- ItemBudi Daya Ternak Itik(Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian, 1994) Setioko, Argono; Syamsudin, A.; Rangkuti, M.; Budiman, Hadi; Gunawan, AgusPerkembangan peternakan di Indonesia khususnya unggas menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Hal ini terlihat dari peranannya dalam menyediakan protein hewani bagi masyarakat, meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat, bahkan dapat meningkatkan sumber devisa negara. Ternak unggas masih diusahakan oleh peternak secara tradisional (digembalakan). Unggas umumnya dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok unggas unggul (ayam ras) dan unggas non unggul seperti ayam buras itik dan entog. Salah satu unggas non unggul adalah itik, yang merupakan unggas lokal, sangat potensial untuk dikembangkan sebagai penghasil telur. Sampai saat ini perkembangan itik di Indonesia masih sangat terbatas, bahkan publikasi dalam peritikan di Indonesia masih langka.
- ItemTeknologi Inseminasi Buatan Pada Ayam Buras(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran, 1997) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran; Balai Pengkajian Teknologi Pertanian UngaranAyam buras yang sudah memasyarakat merupakan sum ber gizi dan sumber pendapatan keluarga di pedesaan. Sebagai sumber gizi dari daging dan telur ayam buras memenuhi selera umum dan sebagai sumber pendapatan keluarga harga daging dan telur ayam buras relatif lebih stabil dan daya jualnya cukup tinggi dibandingkan dengan produk ayam ras. Permasalahan dan tantangan dalam pengembangan ayam buras salah satunya adalah belum tersedianya bibit yang baik serta dalam jumlah yang cukup. Upaya yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bibit tersebut diperlukan teknologi yang mudah dan relatif murah untuk menghasilkan telur tetas dalam jumlah cukup dan waktu yang bersamaan. Brosur tentang teknologi inseminasi Buatan (IB) pada ayam buras disusun dengan harapan dapat menjadi pegangan maupun petunjuk bagi para Penyuluh Pertanian, para peternak maupun para pengguna informasi lainnya.
- ItemPENGKAJIAN TEKNIK PRODUKSI BENIH VARIETAS UNGGUL JAGUNG(BPTP Karangploso, 1999) GUNTORO, Suprio; IAP Parwati; Alit A.W.
- ItemKAJIAN TEKNIK PENGGEMUKAN DOMBA(BPTP Karangploso, 1999) WAHYONO, D.E.; Gunawan; D. Pamungkas
- ItemPetunjuk Teknis Budidaya Itik(Direktorat Bina Produksi, 1999) Direktorat Bina Produksi
- ItemPetunjuk Teknis Budidaya Ternak Kuda(Direktorat Budidaya Peternakan, 2000) Direktorat Budidaya Peternakan; Direktorat Budidaya PeternakanDalam rangka peningkatan sumber daya manusia salah satu tujuannya adalah meningkatkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Budidaya kuda adalah merupakan salah satu usaha dibidang peternakan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian masyarakat. Hal tersebut dikarenakan kuda mempunyai fungsi sosial dan ekonomi yang cukup tinggi dalam berbagai peranannya. Untuk memberikan gambaran tentang cara-cara budidaya kuda, maka disusunlah buku ini, agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang berminat.
- ItemPedoman Teknis Budidaya Ternak Kambing/Domba(Direktorat Budidaya Peternakan, 2002) Direktorat Budidaya Peternakan; Direktorat Budidaya PeternakanUsaha peternakan kambing/domba membutuhkan sarana produksi yang berkualitas baik seperti bibit, pakan dan tatalaksana pemeliharaan, yang harus sesuai dengan kondisi sosial ekonomi dan agroekologi setempat. Faktor kelayakan ekonomi usaha peternakan diharapkan dapat meningkatkan aktifitas ekonomi dalam suatu kawasan peternakan.
- ItemPanduan Teknis Sistem Integrasi Padi - Ternak(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2002) Haryanto, Budi; Inounu, Ismeth; Arsana, IGM Budi; Diwyanto, Kusumo; Badan Penelitian dan Pengembangan PertanianSistem Integrasi Padi-Ternak (Crop Livestock System) merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi padi, daging, susu, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Dalam implementasinya, sistem ini dapat berbeda (bervariasi) untuk setiap wilayah, bergantung pada kondisi geografis, ekologi, dan sosial ekonomi masyarakat setempat. Oleh karenanya sangat diperlukan suatu panduan atau petunjuk umum sebagai acuan dalam pengembangan Sistem Integrasi Padi-Ternak. Diharapkan setiap daerah dapat melakukan penyesuaian secara tepat, misalnya dalam hal pemilihan jenis ternak (sapi potong, sapi perah, atau kerbau), budidaya (breeding, pembesaran atau penggemukan), pengandangan (kelompok, individu, atau perusahaan), maupun komponen teknologi dan sistem kelembagaannya.
- ItemTeknologi Pemeliharaan Ayam Buras(BPTP Jambi, 2002) Syafrial; Susilawati, Endang; BPTP JambiTernak ayam buras (bukan ras) merupakan salah satu jenis unggas yang cukup populer dikalangan masyarakat, baik dipedesaan maupun perkotaan. Hal ini disebabkan karena peranan dan sumbangan ayam buras cukup penting bagi penyediaan komoditi pangan bernilai gizi tinggi dalam bentuk telur dan daging. Namun demikian perkembangan ternak ini sangat lambat karena produktivitasnya rendah dan manajemen pemeliharaannya masih sangat sederhana. Penyusunan brosur ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan bagi para petugas maupun petani-peternak dalam usaha budidaya ayam buras.
- ItemManajemen Terpadu Pemeliharaan Sapi Bali(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat, 2003) Panjaitan, Tanda S.; Sasongko WR; Muzani, A.; Mashur; Arief, WildanUsaha ternak sapi di Nusa Tenggara Barat sebagian besar masih merupakan peternakan rakyat, dengan skala kepemilikan 2 5 ekor. Berbagai sistem pemeliharaan yang dilakukan petani-peternak mulai dari sistem tradisional (digembalakan) hingga sistem yang lebih intensif yaitu dikandangkan. Perlakuan dan perawatan ternak sangat bergantung pada biaya dan tenaga, serta pengalaman yang dimiliki peternak. Di dalam mengembangkan peternakan rakyat dengan kondisi biofisik, sosial dan budaya dewasa ini diperlukan adanya berbagai pendekatan. Teknologi yang spesifik lokasilah yang dibutuhkan. Brosur Manajemen Pemeliharaan sapi Bali ini disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian dan pengkajian teknologi pemeliharaan sapi Bali yang telah dilaksanakan di empat lokasi yaitu desa Boak dan Simu (Kabupaten Sumbawa) serta desa Kelebuh dan Tandek (Kabupaten Lombok Tengah). Penelitian ini merupakan kerjasama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR)Tahun 2001-2003.
- ItemPedoman Penetasan Ayam Ras Yang Baik(Direktorat Pembibitan, 2005) Direktorat Pembibitan
- ItemReview Hasil-Hasil Penelitian Dan Dukungan Teknologi Dalam Pengembangan Ayam Lokal(Balai Penelitian Ternak, 2005) ARGONO RIO SETIOKO; S. ISKANDARSampai saat ini sebagian besar ayam lokal dipelihara oleh petani kecil di perdesaan dengan sistem pemeliharaan yang masih tradisionil. Tujuan dari paper ini adalah untuk menyampaikan review hasil penelitian ayam lokal dan dukungan teknologi yang diharapkan dapat digunakan sebagai acuan pengembangan ayam lokal. Ayam lokal yang ada di Indonesia berasal dari ayam hutan merah (Gallus gallus). Di Indonesia telah teridentifikasi sekitar 31 galur ayam lokal, yang tersebar di beberapa propinsi. Keberadaan ayam lokal yang sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat pedesaan sehari-hari mampu menambah pendapatan keluarga secara signifikan. Produktivitas ayam lokal pada kondisi peternakan rakyat sangat rendah. Namun pemeliharaan intensif dengan menggunakan teknologi perbaikan ransum dapat meningkatkan produktifitas. Seleksi untuk menghilangkan sifat mengeram dapat meningkatkan produksi telur, sementara perbaikan produksi daging baru dilakukan dengan persilangan dengan ayam pelung dan ayam ras. Upaya pelestarian ayam lokal belum banyak dilakukan, oleh karena itu kerjasama dengan instansi pemerintah daerah yang memiliki plasma nutfah ayam lokal sangat disarankan/direkomendasikan.
- ItemSuplementasi Asam Amino Lisin Dalam Ransum Basal Untuk Ayam Kampung Petelur Terhadap Bobot Telur, Indeks Telur, Daya Tunas Dan Daya Tetas Serta Korelasinya(Balai Penelitian Ternak, 2005) Desmayati Zainuddin; Ida Raudhatul JannahAyam kampung yang merupakan plasma nutfah Indonesia mempunyai potensi untuk dikembangkan karena memiliki daya adaptasi tinggi dalam lingkungan ex-situ di kawasan pedesaan yang berorientasi tanaman pangan. Ransum ayam kampung sebagian besar digunakan bahan pakan lokal yang umumnya defisiensi asam amino esensial terutama lisin dan metionin.Bahan pakan lokal yang defisiensi asam amino esensial dapat diatasi dengan suplementasi asam amino sintetis. Penelitian suplementasi asam amino lisin dalam ransum ayam kampung petelur terdiri dari tiga perlakuan yaitu R1 (ransum basal/kontrol); R2 (R1 + 0,10% lisin); dan R3 (R1 + 0,20% lisin). Setiap perlakuan 5 ulangan masing-masing 4 ekor ayam. Ayam ditempatkan di kandang batere individual, pakan dan air minum diberikan ad libitum. Ransum basal mengandung 15% protein, 2750 kkal/kg energi metabolis dan 0,7% lisin. Pengamatan dilakukan selama 12 minggu, data parameter yang diukur yaitu bobot telur, indeks telur, daya tunas dan daya tetas pada minggu ke 6 dan ke 12. Data dianalisis dengan Rancangan Acak Lengkap, dan untuk melihat hubungan antara peubah indeks telur dengan daya tunas dan daya tetas digunakan analisis korelasi dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suplementasi asam amino lisin sebanyak 0,10 dan 0,20% dalam ransum basal ayam kampung, tidak berpengaruh nyata terhadap bobot telur, indeks telur, persentase daya tunas dan daya tetas. Hubungan antara indeks telur dan daya tunas tidak dipengaruhi oleh perlakuan ransum baik pada periode penetasan minggu ke 6 maupun ke 12. Hubungan antara indeks telur dan daya tetas pada perlakuan R1 di periode penetasan minggu ke 6 berpengaruh nyata (P<0,10), tetapi tidak nyata pada perlakuan R2 dan R3, sedangkan pada periode penetasan minggu ke 12, semua perlakuan ransum tidak menunjukkan hubungan yang nyata.
- ItemStrategi Dan Kebijakan Pengembangan Ayam Lokal Di Lahan Rawa Untuk Memacu Ekonomi Perdesaan(Balai Penelitian Ternak, 2005) Uka KusnadiLahan rawa di Indonesia luas totalnya mencapai sekitar 33,4 juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian. Dari luasan tersebut hanya sebagian kecil (29%) saja yang dapat diusahakan untuk areal pertanian. Jenis tanaman yang diusahakan pada umumnya padi dan palawija, namun produksinya rendah dan tidak stabil. Hal ini disebabkan lahan rawa tergolong lahan marjinal karena terdiri dari tanah gambut dan tanah sulfat masam serta sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut, air sungai dan air lebak. Disamping itu seringnya terjadi serangan hama dan penyakit tanaman menyebabkan seringnya mengalami kegagalan panen, yang pada gilirannya pendapatan petani menjadi rendah. Untuk mengatasi kondisi yang demikian petani memelihara ternak seperti kerbau, sapi, domba, kambing, itik dan ayam lokal, dengan berbagai tujuan yaitu sebagai sumber tenaga kerja, sumber pupuk, dan yang lebih utama sebagai sumber pendapatan. Dari berbagai jenis ternak yang ada di lahan rawa yang paling berkembang dan banyak dipelihara petani khususnya transmigran adalah ayam lokal. Hampir setiap petani memiliki ayam lokal 5-10 ekor induk, yang dipelihara secara tradisional sampai semi intensif. Dengan jumlah pemeliharaan tersebut hanya mampu memberikan pendapatan yang relatif rendah yaitu Rp 50.000 per bulan. Namun jumlah pendapatan tersebut lebih pasti dibandingkan yang diperoleh dari tanaman. Melihat potensi lahan rawa yang cukup luas dan ayam lokal yang cukup berperan bagi petani, maka perencanaan pengembangan pertanian lahan rawa harus mempertimbangkan komoditas usahatani yang mendasar dimiliki petani dan mempunyai prospek dalam memacu ekonomi perdesaan, disamping kondisi biofisik lahan, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan ketersediaan teknologi yang siap pakai. Oleh karena itu komoditas yang tepat untuk dikembangkan adalah ayam lokal. Namun dalam pengembangannya ayam lokal di lahan rawa masih ada kendala yang dihadapi. Oleh karena itu diperlukan strategi dan kebijakan baik secara teknis, maupun sosial ekonomis yang mendukung secara langsung maupun tidak langsung. Dalam jangka pendek prioritas utama dalam pengembangan ayam lokal di lahan rawa adalah 1) pemberantasan dan pencegahan penyakit menular, 2) perbaikan mutu genetik ayam, 3) peningkatan skala pemilikan menjadi minimal 300 ekor, 4) adanya spesifikasi usaha, 5) fasilitasi proteksi dan promosi pemerintah, 6) pemberdayaan petani melalui sistem kelembagaan yang dinamis, dan 7) penyediaan sarana pendukung di lokasi pengembangan.
- ItemPertumbuhan Ayam-Ayam Lokal Sampai Dengan Umur 12 Minggu Pada Pemeliharaan Intensif(Balai Penelitian Ternak, 2005) Sofjan IskandarBertahannya permintaan daging ayam lokal di tanah air membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan usahatani ayam lokal. Namun produktivitas (pertumbuhan juga produksi telur) masih relatif rendah. Oleh karena itu upaya pemeliharaan secara intensif telah dicoba oleh para peneliti untuk melihat sampai sejauhmana kinerja yang diinginkan dapat dicapai. Pemeliharaan ayam lokal secara intensif sampai dengan umur 12 minggu ternyata dapat mendekati (rata-rata 0,85 kg/ekor) permintaan bobot potong pasar (1–1.3 kg/ekor). Persilangan dengan ayam ras ternyata lebih mempercepat pencapaian bobot potong yang diminta konsumen tanpa menurunkan rasa dan penampilan ayam lokal.
- ItemPeranan Perempuan Dalam Mengatasi Kemiskinan Dan Meningkatkan Kualitas Konsumsi Gizi Keluarga Melalui Budidaya Ayam Kampung Di Daerah Urban Dan Perdesaan(Balai Penelitian Ternak, 2005) Sri Nastiti JarmaniJumlah penduduk perempuan di Indonesia yang hampir mencapai separo dari jumlah populasi penduduk dan sebagian tersebar di perdesaan, merupakan potensi yang sangat besar untuk kemajuan pembangunan sub sektor peternakan. Ayam kampung yang keberadaannya sudah sangat dikenal di masyarakat perdesaan dan daerah urban, sangat cocok dilakukan oleh kaum perempuan karena dapat menggantikan waktu senggang dengan kegiatan postif dan produktif. Peningkatan peran dan pemberdayaan kaum perempuan dalam mengatasi kemiskinan dan peningkatan konsumsi gizi keluarga yang masih merupakan isu nasional sampai saat ini, dapat dilakukan dengan memelihara ayam kampung secara berkelompok melalui organisasi kewanitaan (PKK dan Dasawisma) yang banyak tersebar di daerah urban dan perdesaan
- ItemLAPORAN AKHIR ANALISIS PERFORMANS KAMBING BOER DAN PERSILANGANNYA DENGAN KAMBING KACANG(Loka Penelitian Kambing Potong, 2007) Mahmilia, Fera; Loka Penelitian Kambing PotongPenelitian ni adalah kegiatan lanjutan dari serangkaian kegiatan penelitian untuk mendapatkan kambing unggul baru yang merupakan kambing komposit dari hasil persilangan antara kambing kacang dan kambing Boer. Kegiatan penelitian yang dilakukan pada tahun ini yaitu "Analasis Performans Kambing Boer dan Persilangannya dengan Kambing Kacang". Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans kambing hasil persilangan (Boerka-1 dan Boerka-2), kambing kacang dan kambing Boer murni. Hasil pengamatan bobot lahir, bobot sapi, mortalitas prasapih da litter size pada Boerka-1 masing masing adalah : 2.12+0.52 kg, 6.60+1.83 kg, 23.48% dan 1.37. Pada Boerka-2 masing-masing adalah ; 2.51+0.54 kg, 9.97+2.23 kg, 36.36% dan 1.36. Pada kambing Boer berturut-turut adalah ; 3.03+0.53, 10.75+2.06 kg, 21.43% dan 1.71 dan pada kambing Kacang adalah ; 1.64+0.44, 6.12 +1.57 kg, 43.86% dan 1.47.
- ItemPetunjuk Teknis Manajemen Perkawinan Sapi Potong(Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, 2007) Affandhy, Lukman; Dikman, Dicky Mohammad; AryogiBuku ini disusun untuk memberikan informasi kepada para pelaku usaha dan pemerhati peternakan sapi potong dalam memperbaiki tatalaksana perkawinan pada budidaya sapi potong, dengan tujuan untuk : (1) memberikan informasi kepada petani, khususnya dalam usaha budidaya sapi potong tentang manajemen perkawinan yang tepat, sesuai dengan kondisi ternak dan spesifik lokasi, (2) menambah keterampilan petugas dan tingkat pengetahuan peternak tentang teknik IB beku, cair dan kawin alam dan (3) meningkatkan kebuntingan sapi melalui pelaksanaan perkawinan yang benar.