Pembibitan dan Produksi

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 208
  • Item
    Sistem Pembibitan Itik Mojosari Alabio Di Kabupaten Blitar: Sistem Pembibitan Masa Depan
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) Broto Wibowo; E. Juarini; M. Purba
    Suatu usaha peternakan itik akan memperoleh hasil dan optimal dengan mempertimbangkan sumberdaya bibit, lingkungan, aspek manajemen. Rendahnya produksi telur di tingkat petani disebabkan salah satunya oleh penggunaan bibit dengan kualitas yang belum terkontrol. Beberapa tahun terakhir, telah dirintis suatu model kerjasama antara Balai Penelitian Ternak dengan UD Majujaya di Blitar untuk menangkarkan bibit itik hasil seleksi (Mojosari dan Alabio) sebagai tetua yang akan disilangkan sehingga menghasilkan itik MA sebagai itik niaga. UD Majujaya yang berperan sebagai inti telah melakukan model kemitraan dengan masyarakat dengan pola inti-plasma, dengan peternak sebagai plasma. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penangkaran itik Mojosari dan Alabio dilakukan dengan pemeliharaan secara intensif. Pola pemeliharaan ini didukung antara lain: (1) pengembangan jumlah areal perkandangan dengan daya tampung mencapai 12.000 ekor yang terdiri dari 3 lokasi bangunan kandang, (2) penyediaan sarana pakan yang memadai dan (3) pembangunan penetasan telur oleh inti, sebanyak 90 buah mesin tetas dengan kapasitas tampung 27.000 butir telur setiap bulan. Ternak itik hasil penetasan (itik MA) sebagai itik niaga penghasil telur dikembangkan oleh peternak dan sebagian dipelihara langsung oleh inti dengan maksud sebagai kontrol terhadap pengembangan itik MA ditengah-tengah masyarakat. Proporsi populasi itik MA dari itik lokal (Mojosari) dalam suatu kepemilikan cenderung semakin meningkat, bahkan sejumlah peternak termasuk inti telah memelihara seluruhnya itik MA. Hal ini menunjukkan bahwa itik MA betul-betul diperlukan ditengah-tengah usaha peternakan itik penghasil telur secara intensif dan komersial di Blitar.
  • Item
    Peluang Budidaya Ayam Buras Di Pedesaan Sebagai Penyangga Industri Boga
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) Sri Nastiti Jarmani
    Ayam buras atau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan ayam kampung, memiliki rasa yang khas terutama dalam masakan citarasa asli Indonesia. Hal ini dimungkinkan oleh cara budidaya ekstensif, diumbar, sehingga kandungan lemaknya lebih rendah dan perototan lebih liat dibandingkan dengan ayam ras. Namun, dengan budidaya ekstensif produktivitasnya rendah sehingga dikhawatirkan tidak mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat yang semakin meningkat, yang terbukti dengan berkembangnya usaha rumah makan dengan menu utama ayam buras. Harga yang lebih tinggi dari harga ayam ras, merupakan peluang usaha bagi masyarakat terutama di pedesaan. Program Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat Pedesaan (rural development programe) melalui inovasi teknologi budidaya ayam buras secara intensif berwawasan lingkungan, perlu dipertimbangkan sebagai sarana pendidikan kepada masyarakat untuk lebih produktif dan memacu kreatifitasnya dalam peningkatan pendapatan melalui penyediaan bakalan industri boga rumah makan ayam buras dengan harapan ayam buras dapat menjadi primadona boga di negeri sendiri.
  • Item
    Identifikasi Sifat-Sifat Kualitatif Dan Ukuran Tubuh Pada Itik Tegal, Itik Magelang, Dan Itik Damiaking
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) S. Sopiyana; A.R. Setioko; M.E. Yusnandar
    Penelitian ini dilakukan di tiga kabupaten masing-masing Brebes, Magelang dan Serang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran umum, ukuran-ukuran tubuh, dan sifat kualitatif itik Tegal, Magelang, dan Damiaking betina dewasa. Penelitian ini dilakukan dengan metoda survai melibatkan sebanyak 66 ekor itik Tegal, 50 ekor itik Magelang, dan 50 ekor itik Damiaking diamati di habitat asalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa itik Tegal memiliki spesifik warna totol coklat (warna kaki). Itik Magelang umumnya berwarna coklat muda dengan cincin putih ditengah leher menyerupai ”kerah putih”. Warna bulu itik Damiaking bervariasi dari coklat kekuningan sampai dengan warna coklat tua, namun demikian mayoritas berwarna coklat muda. Data karakteristik kuantitatif lainnya dari ketiga itik tersebut juga diuraikan dalam naskah ini. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan pangkalan data, mendukung standarisasi, dan mengembangkan itik lokal termasuk mendukung program konservasi sumberdaya genetik.
  • Item
    SAPI POGASI AGRINAK
    (Loka Perakitan dan Pengujian Ruminansia Besar, 2026-04-13) DEWI SEPMAWATI
    Sapi Pogasi Agrinak adalah galur sapi lokal unggul hasil seleksi dari rumpun Sapi Peranakan Ongole (PO) yang diseleksi di Grati, Pasuruan. Singkatan POGASI adalah PO Grati Hasil Seleksi, dan Agrinak merujuk pada kegiatan seleksi yang dilakukan di Agrinak. Sapi ini dikembangkan untuk tumbuh optimal pada kondisi pakan yang minimal dan telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 05/KPTS/PK.040/M/1/2020.
  • Item
    SAPI PESISIR
    (2026-04-10) DEWI SEPMAWATI
    Sapi pesisir merupakan salah satu rumpun sapi lokal Indonesia yang telah ditetapkan Menteri melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 2908/Kpts/OT.140/6/2011 dengan sebaranasli geografis di Sumatera Barat