Pembibitan dan Produksi

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 195
  • Item
    Pengaruh Kepadatan Kandang terhadap Pertumbuhan dan Perilaku Ayam Wareng-Tangerang Dara
    (Balai Penelitian Ternak, 2009) Sofjan Iskandar; S.D. Setyaningrum; Y. Amanda; Iman Rahayu H.S.
    Sebanyak 108 ekor ayam Wareng-Tangerang betina putih umur 13 minggu, yang dialokasikan dalam kandang kawat dengan luasan 4050 cm2 per unit kandang dipergunakan dalam penelitian. Percobaan untuk menukur respon pertumbuhan dirancang dengan tiga perlakuan kepadatan (4, 6 dan 8 ekor) dengan enam ulangan. Percobaan untuk mengukur respon tingkah laku pada kelompok ayam yang sama, dirancang dengan menambahkan tiga faktor waktu pengamatan (07.00-08.00, 12.00-13.00 dan 17.00-18.00) dan menggunakan tiga ulangan setiap perlakuan. Ransum komersial yang mengandung protein kasar, 20,86%; kalsium (Ca), 3,22% total fosfor (P total), 0,87% dan energi 2982 kkal metabolizable energy (ME)/kg, dan air minum diberikan secara ad libitum. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kepadatan kandang secara statistik tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertumbuhan (bobot hidup, pertambahan bobot hidup, konsumsi atau efisiensi penggunaan ransum). Analisis sidik ragam menunjukkan interaksi faktor kepadatan dengan faktor waktu pengamatan tidak nyata (P>0,05) berpengaruh terhadap peubah perilaku, kecuali perilaku berdiri. Sementara itu perlakuan kepadatan kandang tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap peubah perilaku, kecuali terhadap perilaku menelisik bulu. Persentase perilaku tidur, makan, istirahat dan mematuk, nyata (P0,05) dipengaruhi baik oleh kepadatan kandang maupun waktu pengamatan. Percobaan ini menunjukkan bahwa aktifitas perilaku tertinggi pada umumnya terlihat pada pagi hari. Kepadatan kandang 8 ekor/ 4050 cm2 setara dengan 506 cm2 /ekor memberikan ruang yang cukup nyaman untuk hidup sesuai dengan potensi genetik.
  • Item
    Pertumbuhan Kambing Peranakan Etawah Prasapih, yang Diberi Susu Pengganti
    (Balai Penelitian Ternak, 2012) Supriyati
    Pada penelitian ini dipelajari pengaruh pemberian susu pengganti terformulasi dan susu sapi terhadap pertumbuhan kambing Peranakan Etawah prasapih. Sebanyak 38 ekor anak kambing yang baru lahir dibagi dalam 2 kelompok, kelompok A mendapatkan susu sapi dan kelompok B mendapatkan susu pengganti terformulasi. Selama 3 hari pertama anak kambing mendapatkan kolostrum dari induknya. Susu pengganti disusun dari tepung susu skim, tepung tapioka, tepung kedelai, tepung maizena, vitamin, mineral, garam dan asam amino (lisin dan metionin). Susu pengganti diencerkan sepuluh kali dengan air hangat, kemudian ditambahkan probiotik serta gula pasir. Pemberian susu pada anak kambing, dilakukan pada pagi dan sore hari, sebanyak 300-600 ml per pemberian. Anak kambing ditimbang setiap 2 minggu dan percobaan dilakukan selama 12 minggu. Parameter yang diukur adalah konsumsi nutrien, PBHH dan tingkat kematian anak. Data dianalisis dengan uji “T”. Hasil analisis proksimat susu pengganti adalah kadar BK 93,50%, PK 22,20%, LK 4,62%, EK 3869 kkal/kg, SK 1,31%, abu 4,22%, Ca 0,60% dan P 0,46%. Konsumsi BK dan PK adalah 111,98 dan 28,93 g/h; 97,31 dan 23,10 g/h, dengan EM sebesar 659 dan 379 kkal/kg masing-masing untuk kelompok A dan B. Rataan PBHH anak kambing untuk kelompok A dan B selama 12 minggu berbeda nyata (P < 0,05), masing-masing adalah 96,03 ± 11,83 dan 83,62 ± 16,34 g/h dengan tingkat kematian 0 dan 10%. Dapat disimpulkan bahwa anak kambing prasapih yang diberi susu pengganti tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan anak kambing yang mendapatkan susu sapi.
  • Item
    Tingkat Ovulasi dan Kelahiran Kembar Setelah Perlakuan Follicle Stimulating Hormone (FSH) pada Tingkat Siklus Berahi yang Berbeda
    (Balai Penelitian Ternak, 2012) Polmer Situmorang; D.A. Kusumaningrum; R. Sianturi
    Kelahiran kembar dapat ditingkatkan melalui pendekatan genetic atau melalui pemberian hormon. Tujuan penelitian untuk melihat pengaruh penyuntikan pertama FSH pada tingkat ovulasi. Rancangan penelitian adalah rancangan acak lengkap dengan 3 waktu penyuntikan pertama FSH yang berbeda sebagai perlakuan menggunakan 12 ekor sapi perah yang sedang laktasi. Pemberian pertama FSH dilakukan pada hari ke-2 (Perlakuan I), hari ke-10 (Perlakuan II) dan hari ke-18 (Perlakuab III) dari siklus berahi. Setiap perlakuan mendapatkan total 6 ml Folltropin (Equivalent 120 mg FSH) disuntikkan intra muskular dengan dosis menurun 2 x sehari dengan jarak penyuntikan 12 jam selama 4 hari. Untuk konsentrasi progesteron darah ditampung dari vena jugularis pada hari ke-12 dari siklus estrus. Data yang dicatat adalah diameter ovari (DO), total corpus luteum (TCL), konsentrasi progesterone (P), persentasi kebuntingan dan jumlah kelahiran. Rataan DO, TCL dan konsentrasi P didapat nyata lebih tinggi (P < 0,05) setelah penyuntikan (2,0 cm, 2,1 dan 1,6 ng/ml) dibandingkan dengan sebelum penyuntikan FSH (1,4 cm; 1,0 dan 0,6 ng/ml). Perlakuan waktu pemberian pertama FSH sangat nyata mempengaruhi laju ovulasi. Rataan DO, TCL dan konsentrasi P nyata lebih tinggi (P < 0,01) pada perlakuan II (2,6 cm; 4,0 dan 2,9 ng/ml) dibandingkan dengan perlakuan I (1,9 cm; 1,3 dan 0,9 ng/ml) dan perlakuan III (1,6 cm; 1,3 dan 0,9 ng/ml). Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan I dan III Persentase kebuntingan adalah 25,0; 75,0 dan 25,0 untuk berturut-turut perlakuan I, II dan III. Satu kelahiran kembar dan 1 kelahiran tunggal terjadi pada perlakuan II dan hanya 1 kelahiran tunggal masing masing perlakuan I dan III. Jumlah CL berkorelasi positif dengan konsentrasi progesterone tapi tidak sangat berguna untuk menentukan jumlah kelahiran. Disimpulkan bahwa sapi perah memberikan respons yang lebih baik terhadap exogenous ganadotropin ketika pemberian pertama dimulai pada hari ke-10 dari siklus berahi.
  • Item
    Respon Fermentasi Rumen dan Retensi Nitrogen dari Domba yang Diberi Protein Tahan Degradasi dalam Rumen
    (Balai Penelitian Ternak, 2012) Wisri Puastuti; D. Yulistiani; I-W. Mathius
    Penggunaan protein tahan degradasi dalam rumen dapat meningkatkan pasokan asam amino ke usus halus untuk mencukupi kebutuhan ternak. Untuk meningkatkan utilisasi protein pakan, maka sumber protein pakan yang mudah didegradasi di dalam rumen perlukan dilindungi. Penelitian bertujuan untuk mensubstitusi protein tepung ikan dengan bungkil kedelai terproteksi cairan getah pisang sebagai suplemen pascarumen untuk meningkatkan jumlah nitrogen teretensi yang dilihat dari respon fermentasinya di dalam rumen. Digunakan ternak domba bunting rumpun Komposit Sumatera sejumlah 18 ekor. Pakan terdiri atasi rumput Gajah segar yang dicacah, konsentrat komersial, mineral Comin plus dan protein suplemen sebagai perlakuan. Perlakuan berupa suplemen protein, yaitu bungkil kedelai (RK), bungkil kedelai yang diproteksi dengan cairan batang pisang (RKT) dan tepung ikan (RTI). Pakan perlakuan diberikan selama bunting dan laktasi, dengan rincian masa bunting tua selama 2 bulan dan masa laktasi 2 bulan yang didahului 2 minggu masa adaptasi. Percobaan dilakukan berdasarkan rancangan acak kelompok. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar amonia dari domba yang mendapat ransum RKT tidak berbeda (P < 0,05) dengan RTI maupun RK, namun menghasilkan perbedaan (P < 0,05) terhadap retensi nitrogen (4,92 g/e vs 12,52 g/e; 17,11 g/e). Nilai VFA total, proporsi C3, iC4, iC5 dan nC5 tidak berbeda (P > 0,05) namun proporsi C2 dan nC4 berbeda (P < 0,05) di antara ketiga suplemen protein. Emisi metana terbesar (70,3 mM atau 37,2% dari total energi VFA) dihasilkan dari ransum RKT mengindikasikan sistem fermentasi yang tidak efisien. Dapat disimpulkan bahwa suplemen protein bungkil kedelai terproteksi cairan getah pisang dalam ransum belum mampu menggantikan protein tepung ikan sebagai protein tahan degradasi rumen yang ditunjukkan dengan tingginya kadar amonia cairan rumen dan retensi nitrogen yang lebih rendah.
  • Item
    Peningkatan Produktivitas Kelinci Rex, Satin dan Persilangannya melalui Seleksi
    (Balai Penelitian Ternak, 2011) Bram Brahmantiyo; Y.C. Raharjo
    Seleksi bobot sapih pada kelinci Rex, Satin dan Persilangannya dilakukan untuk meningkatkan produktivitasnya. Data dari populasi dasar (P0), populasi terseleksi (G0) dan turunan hasil seleksi (F1) dipergunakan untuk menduga nilai heritabilitas menggunakan metode analisis tersarang (nested) dan BLUP (best linier unbiased prediction). Nilai dugaan heritabilitas bobot lahir, bobot sapih, bobot 12 minggu dan bobot 16 minggu kelinci Rex berturut-turut sebesar 0,74±0,09; 0,93±0,05; 0,81±0,09 dan 0,89±0,06. Pada kelinci Satin berturut-turut sebesar 0,96; 0,82±0,22; 0,93±0,40 dan 0,97, sedangkan pada kelinci Persilangannya berturut-turut sebesar 0,96±0,27; 0,98; 0,86±0,40 dan 0,78. Peningkatan bobot sapih kelinci terseleksi pada kelinci Rex, Satin dan Persilangannya adalah 22,77 g (3,66%); 6,83 g (1,11%) dan 65,29 g (10,67%).