Strategi Dan Kebijakan Pengembangan Ayam Lokal Di Lahan Rawa Untuk Memacu Ekonomi Perdesaan
No Thumbnail Available
Date
2005
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Balai Penelitian Ternak
Abstract
Lahan rawa di Indonesia luas totalnya mencapai sekitar 33,4 juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian. Dari luasan tersebut hanya sebagian kecil (29%) saja yang dapat diusahakan untuk areal pertanian. Jenis tanaman yang diusahakan pada umumnya padi dan palawija, namun produksinya rendah dan tidak stabil. Hal ini disebabkan lahan rawa tergolong lahan marjinal karena terdiri dari tanah gambut dan tanah sulfat masam serta sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut, air sungai dan air lebak. Disamping itu seringnya terjadi serangan hama dan penyakit tanaman menyebabkan seringnya mengalami kegagalan panen, yang pada gilirannya pendapatan petani menjadi rendah. Untuk mengatasi kondisi yang demikian petani memelihara ternak seperti kerbau, sapi, domba, kambing, itik dan ayam lokal, dengan berbagai tujuan yaitu sebagai sumber tenaga kerja, sumber pupuk, dan yang lebih utama sebagai sumber pendapatan. Dari berbagai jenis ternak yang ada di lahan rawa yang paling berkembang dan banyak dipelihara petani khususnya transmigran adalah ayam lokal. Hampir setiap petani memiliki ayam lokal 5-10 ekor induk, yang dipelihara secara tradisional sampai semi intensif. Dengan jumlah pemeliharaan tersebut hanya mampu memberikan pendapatan yang relatif rendah yaitu Rp 50.000 per bulan. Namun jumlah pendapatan tersebut lebih pasti dibandingkan yang diperoleh dari tanaman. Melihat potensi lahan rawa yang cukup luas dan ayam lokal yang cukup berperan bagi petani, maka perencanaan pengembangan pertanian lahan rawa harus mempertimbangkan komoditas usahatani yang mendasar dimiliki petani dan mempunyai prospek dalam memacu ekonomi perdesaan, disamping kondisi biofisik lahan, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan ketersediaan teknologi yang siap pakai. Oleh karena itu komoditas yang tepat untuk dikembangkan adalah ayam lokal. Namun dalam pengembangannya ayam lokal di lahan rawa masih ada kendala yang dihadapi. Oleh karena itu diperlukan strategi dan kebijakan baik secara teknis, maupun sosial ekonomis yang mendukung secara langsung maupun tidak langsung. Dalam jangka pendek prioritas utama dalam pengembangan ayam lokal di lahan rawa adalah 1) pemberantasan dan pencegahan penyakit menular, 2) perbaikan mutu genetik ayam, 3) peningkatan skala pemilikan menjadi minimal 300 ekor, 4) adanya spesifikasi usaha, 5) fasilitasi proteksi dan promosi pemerintah, 6) pemberdayaan petani melalui sistem kelembagaan yang dinamis, dan 7) penyediaan sarana pendukung di lokasi pengembangan.
Description
Keywords
L Animal production/Produksi Hewan::L01 Animal husbandry/Peternakan