Padi
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Padi by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 260
Results Per Page
Sort Options
- ItemMasalah Bertanam Padi(Lembaga Pusat Penelitian Pertanian Bogor, 1979-12-16) Lembaga Pusat Penelitian Pertanian BogorBuku saku ini disusun untuk membantu para petugas pertanian dalam menghadapi masalah-masalah yang umum dalambertanam padi. Buku saku ini bukan bersifat tehnis: istilah-istilah umum secara luas dipergunakan (istilah-istilah ilmiah dapat dijumpai di halaman 48 dan 49). Mengingat bahwa pupuk dan obat-obatan yang tersedia maupun varietas padi yang ditanam berbeda-beda di setiap tempat, maka cara pemberantasan secara khusus tidaklah diterangkan
- ItemPenelitian Pemuliaan Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1982-12-02) Adi Widjono; Mahyuddin SyamBuku ini berisikan penelitian pemuliaan padi yang telah dan sedang dijalankan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan untuk dijadikan bahan informasi
- ItemHasil Penelitian Jagung di Tingkat Petani Studi Kasus di Tanah Vulkanik Muda Kabupaten Malang(Hasil Penelitian Jagung di Tingkat Petani Studi Kasus di Tanah Vulkanik Muda Kabupaten Malang, 1988) Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman PanganPenelitian jagung di tingkat petani di wilayah Malang, Jawa Timur. Tulisan ini melukiskan hasil-hasil utama dari program penelitian di tingkat petani dengan suatu gambaran sistem usahatani bagi palawija di wilayah Malang, Propinsi Jawa Timur, Indonesia, yang dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang dalam periode 1986. Kegiatan dilakukan di daerah-daerah yang menjadi sentra produksi jagung di tanah-tanah vulkanik muda. Tujuan utama penelitian adalah: (1) mengidentifikasi kendala-kendala utama terhadap produktivitas tanaman, (2) melakukan penelitian guna memecahkan kendala tersebut di lahan petani, (3) menerjemahkan hasil-hasil penelitian tersebut menjadi rekomendasi praktis bagi petani. Program ini dilaksanakan oleh suatu tim yang terdiri dari pemulia tanaman, peneliti-peneliti hama, penyakit, agronomi dan sosial ekonomi. Tim bekerjasama erat dengan petani dan penyuluh di wilayah studi. Pendekatan yang digunakan adalah seperti yang dikembangkan oleh CIMMYT, setelah disesuaikan dengan kondisi setempat. Aspek-aspek yang menonjol dari pendekatan ini meliputi: eratnya kaitan antara survei dan pengujian di tingkat petani; pendekatan yang berurutan, yang tiap siklus kegiatan penelitian direncanakan dan dihubungkan dengan penemuan-penemuan penelitian sebelumnya; perumusan dan pengujian hipotesis secara eksplisit mengenai permasalahan yang membatasi produktivitas serta penyebab dan interaksinya. Program tersebut dimulai pada bulan Januari 1984 dengan survei eksplorasi (penjajakan). Sejak itu, telah dilakukan 5 siklus pertanaman pengujian di tingkat petani, survei produksi jagung dan survei lain serta kegiatan penelitian. Siklus keenam dari pengujian tersebut sedang berjalan (November 1986 - Februari 1987). Sampai sekarang penelitian telah berhasil mengidentifikasi permasalahan utama dan penyebabnya, bersama-sama dengan interaksi antara masalah-masalah tersebut dalam konteks parameter sistem usahatani, termasuk : Infestasi lalat bibit. - Overplanting (populasi tanaman terlalu banyak) dan kompetisi dini antara tanaman. - Manipulasi populasi tanaman mengakibatkan rendahnya populasi waktu panen. Ketidak seimbangan hara nitrogen/fosfat. - Waktu aplikasi pemupukan tidak efektif. Di samping itu, masalah berikut juga telah diidentifikasi secara tentatif berdasarkan: Rendahnya potensi hasil jagung pada varietas tradisional. - Rendahnya mutu benih jagung yang digunakan. - Ketersediaan kalium dan belerang. Pemecahan yang mungkin dilakukan untuk masalah tersebut telah diidentifikasi dan diuji. Hasilnya adalah, bahwa petani koperator telah sanggup meningkatkan hasil jagungnya dari 1,8 menjadi 4,8 ton pipilan kering setiap ha. Rekomendasi budidaya vii dapat diimplementasikan sepotong-sepotong, atau dalam urutan adopsi maupun sebagai paket. Urutan adopsi secara spontan yang diamati adalah pertama-tama dimulai dengan perlindungan tanaman, populasi tanaman yang lebih sedikit (biasanya terkait dengan varietas), kemudian baru adopsi cara pengelolaan pupuk. Cara berproduksi yang direkomendasikan hanyalah menyangkut penambahan sedikit masukan, serta perubahan sederhana dalam pengelolaan. Adopsi cara ini masih dalam batas-batas kemampuan petani di wilayah studi, karena semua pengelolaan yang telah diperbaiki tersebut mudah dipahami oleh petani yang kondisinya mewakili kondisi petani di wilayah studi
- ItemPerbaikan Teknis Pasca Panen Padi di Tingkat Petani(BPTP Kalteng, 1990) BPTP KaltengIndonesia menurut hasil survei BPS pada MT 1986 1987 sebesar 19,54 % (14,17% pada saat panen dan perontokan) karena masih banyak petani yang belum menerapkan teknis pasca panen padi yang tepat, Sedang di Kalimantan Tengah menurut hasil survei pada MT 1987 diperoleh angka kehilangan/suaut sebesar22.5 %Adanya susut kuantitatif yaitu berkurangnya volume atau bobot berarti berkurangnya penyedian beras dan susut kualitatif berarti penurunan muto Hal ini berkaitan pula dengan berkurangnya pendapatan petani karena berkurangnya jumlah yang dijual dan rendahnya harga yang diterima petani dari hasil penjualan produksinya yang bermutu rendah
- ItemEfisiensi Pemupukan pada Padi dan Palawija(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1990-12-16) Subandi Sudarman; Djamaluddin; Sania Saenong; Andi HasanuddinPeran pemupukan semakin penting dalam usaha intensifikasi pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan. Permintaan akan pupuk buatan (pupuk anorganik) meningkat dengan cepat dan diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan pengembangan intensifikasi tersebut. Pemerintah menyediakan dana yang cukup besar untuk subsidi pupuk. Oleh karena itu, efisiensi pemakaian pupuk buatan perlu ditingkatkan dengan teknologi yang sesuai. Laporan ini menghimpun hasil penelitian tentang pemupukan yang dilakukan oleh enam Balai lingkup Puslitbang Tanaman Pangan. Dengan berbagai teknologi tentang pupuk dan pemupukan yang dihasilkan, efisiensi pemupukan diharapkan dapat ditingkatkan sehingga permintaan akan pupuk dapat ditekan tanpa mengorbankan produksi. Berbagai bentuk, dosis, dan cara penggunaan pupuk yang meliputi upaya optimalisasi pemakaian pupuk disajikan dalam laporan ini. Penggunaan pupuk yang optimal sangat tergantung pada komoditas dan varietasnya serta keadaan hara dan fisik tanah setempat. Dengan menyajikan percobaan dan penelitian yang dilakukan di berbagai agro-ekosistem laporan ini diharapkan cukup bermanfaat dalam upaya meningkatkan efisiensi pemupukan, yang tidak hanya penting bagi pengambil kebijaksanaan, tetapi juga penting bagi petani untuk mengurangi biaya produksi yang tidak perlu. Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para peneliti yang mengkompilasikan dan menyumbangkan pikiran dan hasil penelitiannya, serta kepada semua pihak yang telah membantu sampai diterbitkannya laporan ini.
- ItemMutu Beras(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Djoko S. Damardjati; Endang Y. PurwaniSecara umum, mutu beras dapat dikategorikan atas 4 kelompok yaitu (i) mutu giling, (ii) mutu rasa dan mutu tanak, (iii) mutu gizi, dan (iv) standar spesifik untuk penampakan dan kemurnian biji (30). Sedangkan dalam program pemuliaan padi, komponen dari mutu beras dapat dikelompokkan atas (i) rendemen giling, (ii) penampakan, bentuk, dan ukuran biji, dan (iii) sifat-sifat tanak dan rasa nasi (17). Semua kategori tersebut penting digunakan bersama-sama dalam penetapan kriteria beras yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Walaupun demikian, pada akhirnya penggolongan kriteria mutu beras harus mempunyai hubungan langsung dengan penerimaan konsumen akhir. Karena beras di konsumsi sebagian besar dalam bentuk nasi, maka penetapan kriteria mutu beras didasarkan atas pola konsumsi tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh ahli kimia, teknologi, dan gizi diharapkan dapat menentukan kriteria mutu beras yang dihubungkan dengan sifat fisik, kimia, dan fisikokimia beras, dalam mengidentifikasi sifat dan mutu beras yang dikehendaki konsumen untuk menunjang para pemulia tanaman merakit varietas padi baru. Data tentang sifat dan mutu beras diperlukan pula untuk menentukan metode pengeringan, penyimpanan, prosesing, dan pemasaran beras serta metode pengolahan dalam teknologi pangan.
- ItemPemanfaatan Limbah Padi untuk Industri(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Budi TangendjajaPemanfaatan limbah padi di Indonesia sudah banyak dilakukan, terutama untuk bidang pertanian, seperti dedak padi untuk makanan ternak, sekam padi untuk alas kandang ayam (litter), dan jerami padi untuk makanan ternak ruminansia atau media penanaman jamur. Pemanfaatannya untuk bidang industri masih terbatas, padahal beberapa sifat yang ada dalam limbah tersebut, baik sifat fisik ataupun kimia, dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk bidang industri. Beberapa kendala yang umum dijumpai dalam memanfaatkan limbah padi adalah sifatnya yang kamba (bulky) dan tersebar di berbagai tempat. Hal ini mengakibatkan mahalnya biaya transportasi dan pengumpulan. Sebagai contoh, biaya pengumpulan jerami cukup mahal dibandingkan nilai yang ada pada jerami itu sendiri. Pemanfaatan minyak dalam dedak padi menghadapi kendala lamanya pengumpulan dari penggilingan padi yang berskala kecil dan tersebar di desa-desa. Lamanya pengumpulan ini mengakibatkan proses hidrolisis minyak sulit untuk dicegah dan dedak padi menjadi tidak layak lagi untuk diekstrak minyaknya sebagai minyak makan. Meskipun masih dijumpai banyak kendala tetapi potensi pemanfaatan limbah padi masih sangat besar. Masih banyak penelitian yang harus dikerjakan agar dapat diciptakan teknologi yang mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar.
- ItemPenyakit Bakteri Patli dan Pengendaliannya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) M. MachmudPenyakit padi yang disebabkan oleh bakteri tidak sebanyak penyakit oleh jamur. Hingga saat ini tidak lebih sepuluh penyakit padi oleh bakteri yang telah dilaporkan. Dari jumlah tersebut hanya dua yang telah lama dikenal dan merupakan kendala utama dalam produksi padi, yaitu penyakit hawar daun bakteri (penyakit kresek = bacterial leaf blight) oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae (Uyeda et Ishiyama) Dye dan penyakit bakteri daun bergores (bacterial leaf streak) oleh X. campestris pv. oryzicola (Fang, et al.) Dye. Kedua penyakit ini tersebar luas di Indonesia maupun di negara produsen padi lainnya di daerah tropis dan subtropis, dan dapat mengakibatkan kerugian hasil yang cukup besar. Oleh karena itu, banyak sekali penelitian tentang penyakit ini telah dilakukan oleh para ahli, terutama dalam upaya mengendalikan penyakit tersebut. Di Indonesia, penelitian penyakit padi oleh bakteri telah dilakukan sejak awal tahun lima puluhan. Pada tahun 1950, Reitsma dan Schure (13) menemukan penyakit yang dinamakannya kresek dan bakteri patogennya disebut Xanthomonas kresek. Penelitian ini digiatkan kembali sejak 1970-an terutama karena adanya kerjasama penelitian antara para peneliti dari Indonesia dengan peneliti Jepang dan International Rice Research Institute (IRRI).
- ItemPenanganan Pascapanen Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Soemardi; Ridwan ThahirPenerapan teknologi prapanen saja ternyata belum cukup untuk mendukung upaya pencapaian sasaran kecukupan pangan, peningkatan pendapatan petani, dan pemerataan kesempatan kerja. Upaya tersebut harus didukung oleh pengamanan produksi melalui penerapan teknologi pascapanen. Usaha penyelamatan hasil padi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan kemampuan petani untuk memanen, merawat, mengeringkan, menyimpan, dan memberaskan, serta meningkatkan mutu hasil panen maupun hasil olahan. Teknologi pascapanen dapat mengamankan hasil panen dan mengolah hasil menjadi komoditas bermutu, siap dikonsumsi, selain dapat pula meningkatkan daya guna hasil maupun limbah hasil olahan. Petani melaksanakan proses pengamanan produksi pada tahap paling rawan, yakni panen, perawatan dan pengeringan. Upaya ini lebih banyak ditujukan untuk menyelamatkan hasil panen dari kerusakan daripada mengurangi susut maupun meningkatkan mutu karena masih terbatasnya kemampuan petani, baik dalam penguasaan teknologi, penyediaan sarana, maupun permodalan.
- ItemPengendalian Penyakit Jamur(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) A. Mukelar; M.K KardinPenelitian kehilangan hasil oleh patogen-patogen utama di Indonesia masih sangat terbatas. Kerugian hasil sangat bervariasi tergantung kepada varietas, lokasi, musim, teknik budi daya, populasi serangga penular, dll. Pada padi gogo, misalnya, penyakit blas masih merupakan masalah utama dan kehilangan hasil pada varietas peka Bicol mencapai 50-90%. Sedangkan di lahan sawah, bakteri hawar daun dan penyakit lempuh daun (leaf scald) pada IR64 sangat menonjol. Sejak dilepasnya IR64 dan PB36, bakteri hawar daun menimbulkan kerusakan berat pada padi. Dengan makin populernya IR64, makin meluas pula penyakit bakteri-bakteri tersebut. Tetapi petani tampaknya tidak menganggap penyakit itu penting, selama aman dari wereng coklat, karena dengan kedua varietas tersebut petani masih memperoleh hasil 7-8 t/ha gabah kering panen.
- ItemPenyakit Virus dan Mikoplasma Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Nasir Saleh; D.M. TanteraDi Indonesia terdapat beberapa penyakitvirus pada padi yaitu penyakit-penyakit tungro, kerdil rumput, dan kerdil hampa. Di samping itu, masih terdapat dua penyakit padi yang disebabkan oleh mikoplasma (mycoplasma-like organism/MLO) yaitu kerdil kuning dan daun oranye. Di antara penyakit-penyakit tersebut, tungro, kerdil rumput, dan kerdil hampa sering menimbulkan kerugian yang besar. Dalam tulisan ini akan dikemukakan mengenai gejala, penyebab, daerah penyebaran, bioekologi, penularan virus, tanaman inang, dan vektornya, serta usaha pengendalian virus tungro, kerdil rumput, dan kerdil hampa. Untuk penyakit kerdil kuning dan penyakit daun oranye akan dibahas sekilas mengenai gejala, penyebab, dan penularan oleh vektornya.
- ItemPenyakit Nematoda Padi dan Pengendaliannya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) M. Macid; M. HermanPenelitian penyakit padi oleh nematoda telah lama dilakukan di Indonesia. Pada tahun 1902 van Breda de Haan (22) telah melaporkan penyakit oleh nematoda yang erat hubungannya dengan gejala "mentek" dan patogennya disebut Tylenchus oryzae (van Breda de Haan) yang kemudian diberi nama Hirschmanniella oryzae (van Breda de Haan) Luc & Goodey. Setelah itu tidak ada lagi perkembangan hingga tahun lima puluhan, pada saat van der Vecht dan Bergman (23) meneliti lebih lanjut hubungan antara nematoda dan penyakit mentek serta pengendalian penyakitnya. Setelah itu penelitian penyakit nematoda padi terhenti hingga beberapa tahun terakhir ini.
- ItemWalang Sangit, Kepinding Tanah, Hama Putih, Hama Putih Palsu, Ulat Grayak, dan Lalat Hidrelia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Hendarsih Suharto; Sri Suharni SiwiSelain hama utama seperti wereng coklat dan penggerek batang, masih banyak jenis serangga yang merusak tanaman padi. Namun karena ekologinya belum terganggu, populasi serangga tersebut tidak meningkat sehingga kerusakan yang ditimbulkannya pun belum begitu merugikan. Beberapa jenis serangga yang merupakan ancaman sporadik pada beberapa daerah antara lain adalah walang sangit, kepinding tanah, ulat grayak, hama putih, hama putih palsu, dan dan lalat hidrelia. Di Indonesia, dibandingkan dengan luas tanaman yang terserang tikus (125.223 ha dengan intensitas 17,1%), luas areal yang terserang keenam jenis serangga ini lebih rendah. Namun jika dibandingkan dengan serangan penggerek batang (75.736 ha dengan intensitas 11,1%) atau wereng coklat (31.127 ha dengan intensitas 14,4%), luas tanaman yang terserang lebih besar yaitu 116.340 ha dengan intensitas antara 11,6 sampai 17,5% (2).
- ItemStatus Hama Wereng pada Tanaman Padi dan Pengendaliannya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Baehaki S.E; Mohammad ImamBeberapa jenis wereng merupakan hama utama padi dan tersebar luas di dunia (Tabel 1). Di Indonesia, populasi wereng sering ditemukan dalam jumlah yang tinggi yang dapat mengakibatkan keringnya tanaman padi atau disebut "hopperburn". Jenis wereng yang sangat merusak adalah wereng coklat (Nilaparvata lugens Stål) dari famili Delphacidae dan wereng hijau (Nephotettix spp.) dari famili Cicadellidae. Hama wereng ini, di samping merusak langsung dengan mengisap cairan tanaman dengan alat mulut yang khusus untuk menusuk dan mengisap, juga sebagai vektor yang dapat menularkan penyakit virus. Penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa ditularkan oleh wereng coklat dan penyakit kerdil padi, kerdil padi kuning, tungro, penyakit merah serta transitory yellowing ditularkan oleh wereng hijau. Bila populasi wereng yang mengisap cairan makanan itu tinggi, maka tanaman padi menjadi layu dan mati kering (hopperburn).
- ItemPengendalian Hama Tikus(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Rochman; Dandi SukarnaSerangan tikus yang cukup berat pada tanaman padi telah dilaporkan sejak tahun 1915 dan 1938. Kemudian pada tahun 1960-63, serangan tikus di Jawa, Sumatera Selatan, Lampung, dan Tanjung (Kal-Sel) meliputi 800.000 ha sawah dengan kerusakan rata-rata 40%. Pada tahun yang sama, dilaporkan pula 14.000 ha tanaman tebu terserang dengan kerusakan 30-100% (10, 36). Pada periode tahun 1963-73, serangan tikus mencapai rata-rata 327.726 ha tiap tahun dengan kehilangan hasil 32%. Selama periode Pelita II (1974/75-1978/79) luas serangan rata-rata 211.705 ha tersebar di seluruh Indonesia. Luas serangan di atas 18.000 ha terjadi di Propinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan (13). Pada tahun 1979 luas serangan sekitar 400.000 ha. Pada Pelita IV serangan tersebut menurun hingga pada tahun 1987 tercatat serangan seluas 74.265 ha dengan intensitas berkisar antara 14-21%
- ItemBionomi dan Pengendalian Hama Penggerek Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) J. SoejitnoDi Indonesia terdapat enam spesies penggerek padi yaitu penggerek padi kuning Scirpophaga incertulas Walker, penggerek padi putih Scirpophaga innotata Walker, penggerek padi merah jambu Sesamia inferens Walker, penggerek padi bergaris Chilo suppressalis Walker, penggerek padi kepala hitam Chilo polychrysus Meyrick, dan penggerek padi berkilat Chilo auricilius Dudgeon (58). Penggerek padi kuning merupakan spesies yang paling dominan di Jawa, Bali, dan Lampung sedangkan penggerek padi putih dominan di Sulawesi Selatan. Namun sejak 1988/89 terjadi pergeseran dominasi spesies di daerah jalur pantai utara Jawa Barat, yaitu dari penggerek padi kuning ke penggerek padi putih. Selanjutnya pada MT 1989/90 terjadi ledakan hama penggerek padi putih di daerah Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon (43). Pergeseran dominasi spesies tersebut diduga ada hubungannya dengan perubahan tata tanam/pola tanam, iklim, dan sifat biologi penggerek padi putih.
- ItemPengendalian Hama Terpadu(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) I.N. Oka; BahagiawatiA.HUsaha pengendalian hama dengan pendekatan yang simplistik tidak akan efektif dan berhasil baik. Tapi sebaliknya, pendekatan yang komprehensif, berencana, dan terintegrasi, mengharuskan kerja sama antara para ahli berbagai disiplin ilmu seperti entomologi, fitopatologi, gulma, agronomi, pemuliaan tanaman, sosial-ekonomi dan penyuluhan untuk menghasilkan program pengendalian terpadu yang mantap. Program tersebut harus dirancang agar merupakan bagian integral dari sistem secara keseluruhan.
- ItemHama Pascapanen dan Pengendaliannya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Suyono; Dandi SukarnaSerangga dan tikus merupakan hama yang paling penting yang merusak dan menurunkan mutu tanaman pangan. Dari 700.000 jenis serangga, dikenal sekitar 100 jenis berasosiasi dengan komoditas yang disimpan, dan sekitar 20 di antaranya merupakan hama yang hidup dan berkembang biak pada komoditas pangan dalam penyimpanan (10). Hama ini dapat menimbulkan kerusakan atau kehilangan hasil, baik kualitas maupun kuantitas. Serangga hama dalam penyimpanan dapat berbeda dalam bentuk, ukuran, sumber pakan yang disukai, dan lingkungan fisik yang sesuai untuk hidup dan perkembangbiakannya.
- ItemPengendalian Hama Ganjur(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Edi SoenarjoHama ganjur Orseolia oryzae (Wood-Mason) (Diptera: Cecidomyiidae), merupakan salah satu hama utama tanaman padi. Di Jawa, penyebarannya terpusat di beberapa daerah tertentu yang sekaligus merupakan daerah endemik. Dari segi luas areal serangan di daerah endemik, hama tersebut menempati urutan kedua atau ketiga setelah hama wereng coklat atau tikus atau penggerek batang.
- ItemPemanfaatan Limbah Padi untuk Pakan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Budi TangendjajaEfisiensi produksi peternakan sangat tergantung kepada ketersedian pakan (makanan ternak) sepanjang tahun. Di daerah-daerah tertentu pada musim kering, sering dijumpai kekurangan pakan ketika rumput yang hijau tidak tersedia. Hal ini merupakan masalah untuk ternak-ternak memamah biak (ruminansia) karena makanan utamanya adalah rumput. Bagi ternak non-ruminansia seperti ayam, itik, dan babi, masalahnya tidak terlalu besar karena makanan utamanya biasanya biji-bijian. Limbah padi merupakan hasil sampingan yang diperoleh dari pemanenan sampai pengolahannya menjadi beras. Limbah padi yang paling utama adalah jerami padi, dedak, dan sekam. Jerami padi dan dedak mempunyai potensi yang sangat besar untuk penyediaan bahan pakan ternak, baik ternak yang memamah biak seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing, maupun yang tidak memamah biak. Salah satu keuntungan utama dari limbah padi adalah tidak bersaing dengan makanan manusia.