Padi
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Padi by Title
Now showing 1 - 20 of 260
Results Per Page
Sort Options
- ItemAcuan Rekomendasi Penumpukan Spesifik Lokasi Untuk Padi Sawah di Jawa Timur 1999(BPTP Karangploso, 1999) SUWONO; Hasil Sembiring
- ItemAdaptasi Enam Genotipe Padi Lokal Pada Lingkungan Pemupukan Organik dan Anorganik(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) Sri Lestari Purnamaningsih, Khoirul Arifin, Desti Margi UtamiABSTRACT Adaptation of Six Local Rice Genotypes Organik and in-organik Fertilizing Environment. Six local rice genotypes were tested in two different fertilizer applications (organic and in-organic fertilizer) to study their adaptation to organic and in-organic fertilizing condition, seven genotypes were evaluated intens study. Research conducted irrigation in rice field Sumbersari Village, Lowokwaru District, Malang City at November 2008 until May 2009 (rainy season), using randomized completed block design with three replications and seven trials. Adaptation of testing materials were evaluated based on their grain yield (t/ha) using combined analysis of variance do properly with standard procedure. Not significant genotype x environment interaction found in tiller number, number of productive tiller, panicle length and average of yield. Significant genotype x environment interaction found in 1000 grain weight. Highly significant genotype x environment interaction found in plant height, age of flowering, age of harvest, number of filled grain per panicle and number of filled grain per clump, number of grain per panicle and percentation of empty grain per panicle. Tambak Urang and Hoing have high yield average in two fertilizer environments. ABSTRAK Enam genotip padi lokal diuji adaptasinya terhadap dua lingkungan berbeda berdasarkan jenis pemupukan yang diaplikasikan (organik dan anorganik). Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2008-Mei 2009 (MH) di lahan sawah irigasi Desa Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Desain lapang menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan dan tujuh perlakuan. Analisis ragam gabungan dilakukan sesuai dengan prosedur baku untuk mengetahui ada tidaknya interaksi. Interaksi genotip x lingkungan tidak nyata terdapat pada karakter jumlah anakan, jumlah anakan produktif, panjang malai, malai, dan hasil gabah gagangan kering/hektar. Interaksi genotip x lingkungan nyata terdapat pada karakter bobot 1.000 butir. Interaksi genotip x lingkungan sangat nyata terdapat pada karakter tinggi tanaman, umur bunga, umur panen, jumlah gabah isi/malai, jumlah gabah isi/rumpun, jumlah gabah/mala /malai dan persentase ersentase gabah hampa/malai. Tambak Urang dan Hoing memiliki rata-rata pontensi hasil gabah malai kering/hektar tertinggi pada lingkungan pemupukan organik dan anorganik.
- ItemAdaptasi Varietas Padi Pada Lahan Tadah Hujan(BPTP Jatim, 2002) ROESMARKAM, S.; A. Suryadi; S.Zunaini SaadaH
- ItemAnalisis dan Sintesis Pengembangan Model Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah(Balai Penelitian Tanaman Padi, 2005) Makarim, A. Karim; Pasaribu, Djuber; Zaini, Zulkifli; Las, IrsalUpaya peningkatan produksi padi perlu mendapat prioritas yang lebih tinggi mengingat komoditas ini tidak hanya diperlukan sebagai bahan makanan pokok tetapi juga sumber penghasilan sebagian besar masyarakat di pedesaan. Kenyataannya, laju peningkatan produksi padi dalam dua dekade terakhir cenderung melandai, sementara kebutuhan terus meningkat. Keuntungan yang diperoleh petani dari usahatani padi pun adakalanya tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang mereka keluarkan. Untuk meningkatkan pendapatan petani dan ketahanan pangan nasional perlu terobosan dalam peningkatan produksi padi. Penelitian di berbagai lokasi menunjukkan bahwa produktivitas dan efisiensi produksi padi masih dapat ditingkatkan melalui pendekatan atau model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Hal ini telah mendorong Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian untuk mengembangkan model PTT padi sawah melalui Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) di beberapa daerah di Indonesia pada MT 2002 dan 2003. Dalam publikasi ini diketengahkan strategi, keragaan penerapan komponen teknologi, analisis dan dampak pengembangan model PTT terhadap peningkatan produktivitas padi dan pendapatan petani di daerah pengembangan.
- ItemAnalisis dan Sintesis Pengembangan Model Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah(Balai Penelitian Tanaman Padi, 2005) Balai Penelitian Tanaman PadiUpaya peningkatan produksi padi perlu mendapat prioritas yang lebih tinggi mengingat komoditas ini tidak hanya diperlukan sebagai bahan makanan pokok tetapi juga sumber penghasilan sebagian besar masyarakat di pedesaan. Kenyataannya, laju peningkatan produksi padi dalam dua dekade terakhir cenderung melandai, sementara kebutuhan terus meningkat. Keuntungan yang diperoleh petani dari usahatani padi pun adakalanya tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang mereka keluarkan. Untuk meningkatkan pendapatan petani dan ketahanan pangan nasional perlu terobosan dalam peningkatan produksi padi. Penelitian di berbagai lokasi menunjukkan bahwa produktivitas dan efisiensi produksi padi masih dapat ditingkatkan melalui pendekatan atau model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Hal ini telah mendorong Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian untuk mengembangkan model PTT padi sawah melalui Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) di beberapa daerah di Indonesia pada MT 2002 dan 2003. Dalam publikasi ini diketengahkan strategi, keragaan penerapan komponen teknologi, analisis dan dampak pengembangan model PTT terhadap peningkatan produktivitas padi dan pendapatan petani di daerah pengembangan. Publikasi ini diharapkan dapat dijadikan referensi dalam pengembangan model PTT lebih lanjut, terutama dari segi teknis operasional.
- ItemAnomali Iklim dan Produksi Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2002-12-14)Kemarau panjang yang disebabkan oleh fenomena alam El-Nino hampir terjadi setiap 3-4 tahun sekali dan selalu mengancam produksi padi dan ketahanan pangan nasional. El-Nino yang terjadi pada tahun 1997 mengakibatkan krisis pangan pada tahun 1998/99 dengan penurunan produksi sebesar 6,8%. Dalam upaya menekan kerugian yang disebabkan oleh fenomena alam ini diperlukan suatu pedoman sebagai bahan acuan dalam menyusun program aksi sebelum, selama, maupun sesudah terjadinya kemarau panjang. Setelah melalui beberapa diskusi Tim Peneliti Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) berhasil menyusun bahan ini sebagai partisipasi Badan Litbang Pertanian dalam upaya penanggulangan kekeringan dan anomali iklim pada tanaman padi. Buku panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan atau pedoman bagi petugas di lapang dan para pelaku yang terlibat dalam produksi padi maupun pengambil kebijakan terkait. Kami menyadari bahwa bahan ini masih jauh dari sempurna sehingga kritik dan saran untuk perbaikan selanjutnya sangat diharapkan. Kepada semua pihak yang telah memberikan masukan hingga diterbitkannya buku ini, kami ucapkan terima kasih.
- ItemAyo Kenali Padi(IAARD Press, 2016) IAARD PressAdik-adik, buku ini akan membawamu bertemu Abi yang selalu ingin tahu dan Ibra yang asyik diajak jalan ke mana saja. Berawal dari pertanyaan Abi, kenapa nasi di meja makan tantenya ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna merah, kalian akan mengenal tanaman padi dengan lebih mendalam dengan cara yang menyenangkan. Pak Ino seorang peneliti pertanian, sahabat baru Abi, dengan sabar menerangkan bagaimana menciptakan varietas padi unggul. Bukan hanya menerangkan, Pak Ino mengajak Abi dan Ibra turun ke sawah untuk menanam padi. Kalau ada bagian dalam buku ini yang kamu belum paham, tanyakan pada orang tua atau gurumu ya.
- ItemBank Pengetahuan Padi Indonesia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2008) Unang G. Kartasasmita; Adi Widjono; K. Pirngadi; Bambang Sriyono; Achmad Subaidi; A. Kasno; Sigit Nugraha; Penny I. IskakBPPI berisi kumpulan pengetahuan mengenai padi untuk mendiseminasikan pengetahuan mengenai hasil-hasil penelitian dan inovasi teknologi padi. Aspek yang dimuat antara lain aspek teknis, sosial budaya, ekonomi, lingkungan, kebijakan menyangkut beras, gabah, dan pengelolaan jerami.
- ItemBeberapa Penyakit Penting Padi dan Pengendaliannya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1993) M. Kosim Kardin; Mukelar Amir; Hartini R. HifniAdopsi teknologi maju di samping dapat meningkatkan produksi padi telah menyebabkan terjadinya perubahan status penyakit. Gerlachia oryzae dan Mycovellosiella oryzae yang sebelumnya dianggap tidak penting, bahkan belum pernah dilaporkan keberadaannya di Indonesia, ternyata banyak menimbulkan kerusakan, khususnya di daerah yang beriklim sejuk dan berkelembaban tinggi. Outbreak penyakit kembang api yang disebabkan oleh Ephelis oryzae cukup serius walaupun skala penyebarannya relatif terbatas. Penyakit hawar daun jingga (HDJ) banyak menimbulkan kerusakan, khususnya pada tanaman padi di dataran rendah. Berbagai penelitian dalam rangka pengendalian penyakit tersebut telah dilakukan, baik dalam aspek biologi, epidemiologi, kehilangan hasil maupun pengembangan teknik seleksi untuk mencari sumber ketahanan varietas. M. oryzae telah berhasil diisolasi dan ditumbuhkan dalam media agar. Suhu optimum untuk pertumbuhannya bervariasi antara 25-30°C, sehingga dapat menjelaskan pola penyebaran penyakit yang umumnya terdapat di dataran sedang-tinggi. Teknik seleksi ketahanan varietas terhadap M. oryzae dan E. oryzae telah berhasil dikembangkan, bahkan sumber ketahanan terhadap G. oryzae telah ditemukan. Walaupun patogennya belum berhasil diisolasi, penyakit HDJ telah berhasil dipelihara dan diperbanyak di rumah kasa. Penyisipan tanaman sakit di sela-sela tanaman sehat pada kondisi lapang ternyata dapat menularkan/ menyebarkan penyakit. Teknik ini dapat dikembangkan untuk pengujian ketahanan di lapang dalam skala luas.
- ItemBercocok Tanam Padi Pasang Surut dan Rawa(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1993) H. Anwarhan
- ItemBercocok Tanam Padi Sawah(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1993) Haeruddin Taslim; Soetjipto Partohardjono; Djunainah
- ItemBionomi dan Pengendalian Hama Penggerek Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) J. SoejitnoDi Indonesia terdapat enam spesies penggerek padi yaitu penggerek padi kuning Scirpophaga incertulas Walker, penggerek padi putih Scirpophaga innotata Walker, penggerek padi merah jambu Sesamia inferens Walker, penggerek padi bergaris Chilo suppressalis Walker, penggerek padi kepala hitam Chilo polychrysus Meyrick, dan penggerek padi berkilat Chilo auricilius Dudgeon (58). Penggerek padi kuning merupakan spesies yang paling dominan di Jawa, Bali, dan Lampung sedangkan penggerek padi putih dominan di Sulawesi Selatan. Namun sejak 1988/89 terjadi pergeseran dominasi spesies di daerah jalur pantai utara Jawa Barat, yaitu dari penggerek padi kuning ke penggerek padi putih. Selanjutnya pada MT 1989/90 terjadi ledakan hama penggerek padi putih di daerah Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon (43). Pergeseran dominasi spesies tersebut diduga ada hubungannya dengan perubahan tata tanam/pola tanam, iklim, dan sifat biologi penggerek padi putih.
- ItemBiosistematika Wereng Hijau Genus Nephotettix (Homoptera, Cicadellidae) sebagai Vektor Penyakit Virus Tungro Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Sri Suharni SiwiBiosistematika adalah teknik multidisiplin ilmu dasar morfologi, biologi, ekologi, embriologi, dan sitogenetika untuk memahami spesies kompleks di alam dengan berbagai variasi, baik intra- maupun interspesifik. Spesies adalah unit isolasi genetis dan sumber keanekaragaman yang pada dasarnya merupakan perubahan susunan genetis dari populasi yang diakibatkan oleh tekanan seleksi. Spesies Nephotettix terdiri dari berbagai populasi lokal atau ekotipe. Segregasi intraspesifik akan tercermin secara jelas dengan adanya variasi morfologi, biologi, preferensi inang, dan habitat. Vektor Nephotettix virescens sebagai ekotipe mempunyai keragaman daya efektivitas sebagai penular virus. Populasi wereng hijau dari berbagai negara juga mempunyai perbedaan virulensi pada beberapa varietas padi tahan tungro dan telah dinamakan sebagai alopatrik biotipe. Spesies Nephotettix sendiri mempunyai sifat gen yang plastis, mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap perubahan lingkungan. Ada korelasi antara ciri morfologi dengan biospesies sehingga dapat dipakai sebagai indikator adanya isolasi reproduksi. Salah satu cara lama untuk meneliti isolasi reproduksi adalah dengan meneliti morfologi kromosom. Teknik yang baru adalah menggunakan deret DNA dan protein gel elektrophoresis. Dengan mengetahui perubahan komposisi genetis dalam proses evolusi, diharapkan dapat dipahami masalah kompleks spesies seperti biotipe, sibling, ekotipe atau unit geografis. Hubungan kekerabatan spesies juga dapat diteliti lebih lanjut.
- ItemBudi Daya Padi di Lahan Rawa(Pertanian Press, 2025) Hendri Sosiawan; Ani Susilawat; Wahida Annisa Yusuf; Izhar Khairullah; Mukhlis; Astu UnadiCita-cita terwujudnya swasembada pangan harus terus diupayakan melalui berbagai program dan kegiatan, diantaranya yaitu pemanfaatan lahan rawa. Budi daya padi dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan rawa yang berada di beberapa daerah rawa di Indonesia diantaranya pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua. Upaya ini sebagai wujud pemanfaatan lahan marginal untuk meningkatkan produksi padi. Peningkatan, produksi, produktivitas dan indek pertanaman padi yang berasal dari lahan rawa diharapkan dapat lebih optimal dan dicapai secara efektif dan efisien.
- ItemBUDI DAYA PADI PADA SAWAH BUKAAN BARU(BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN, 2013-12-25) Sukristiyonubowo; Ali Jamil; Didik S. HastonoKedudukan padi atau beras di Indonesia sangat strategis, baik ditinjau dari segi sosial, ekonomi, dan politik. Beras adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Peningkatan produksi beras baik untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri menuju kemandirian beras menjadi salah satu program strategis. Pemerintah bertekat mencapai swasembada berkelanjutan beras dan pencapaian surplus 10 juta ton beras pada tahun 2014. Dilain pihak, keberadaan sawah beririgasi semakin menyempit akibat alih fungsi lahan dan keberadaan air irigasi menjadi semakin langka akibat meningkatnya kompetisi penggunaan air dengan sektor lain seperti industri dan rumah tangga. Oleh sebab itu, program pencetakan sawah baru dipandang sebagai salah satu upaya penciptaan lumbung beras nasional yang pada hakikatnya diperlukan petunjuk teknis (Juknis) Pengelolaan Sawah Bukaan Baru untuk pencapaian produktivitas yang tinggi. Teknologi dalam Petunjuk Teknis ini telah disosialisasikan kepada para pemangku kebijakan, penyuluh pertanian lapang (PPL). Bentuk sosialisasi adalah pelatihan, focus group discussion (FGD), dan temu lapang (farm field day) pada lokasi demplot di lapangan dan petak demonstrasi (demo plot) seperti halnya telah dilakukan di Kab. Pesisir Selatan, Bulungan, Banggai, Merauke, dan Bangka Selatan. Produktivitas padi pada sawah bukaan baru, awalnya (sebelum teknologi produksi dintroduksikan) adalah sekitar 1,5 – 2,5 t/ha, namun dengan teknologi introduksi maka produktivitas meningkat menjadi sekitar 3,5 – 4,5 t/ha. Petunjuk Teknis ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya PPL, petani, dinas pertanian, bakorluh/lembaga penyuluhan, direktorat teknis dan praktisi dalam mengelola sawah bukaan baru agar terwujud lumbunglumbung beras baru dimasa yang akan datangUcapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang telah memfasilitasi untuk diterbitkannya Juknis ini serta kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan Juknis ini. Saran konstruktif untuk penyempurnaan Juknis ini senantiasa diharapkan dan semoga buku ini bermanfaat.
- ItemBudi Daya Padi Ramah Lingkungan: Menuju Pertanian Lebih Baik(Pertanian Press, 2023) BudionoBudi daya padi untuk mendukung produksi beras harus terus menjadi perhatian. Diantaranya terkiat cara budi daya ramah lingkungan yang aman untuk lingkungan. Selain itu, budi daya padi ini menghindarkan dari ketergantungan terhadap faktor luar misalnya ketersediaan pupuk kimia. Buku ini mengupas pengalaman penulis sebagai pelaku usaha, akademisi, pemerhati sains dan teknologi, pengalaman pelatih dan konsultan pemberdayaan masyarakat dalam menerapkan budi daya padi ramah lingkungan. Teknik penyajian bahasa yang mudah dipahami semua kalangan, mengandung unsur ilmiah populer, novelisme membahas sesuatu secara lugas, familier, dan menceritakan kejadian kejadian nyata yang dipublikasikan sehingga mudah dipahami alur ceritanya. Hal hal inovatif, kreatif, integral, komprehensif dibahas diangkat dari pengalaman penulis.
- ItemBudidaya Padi(BPTP Kalteng, 1995) BPTP KaltengPotensi lahan pasang surut di Kalimantan Tengah cukup potensial untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian yang produktif. Tetapi di dalam pengelolaan tersebut ditemukan beberapa masalah dianta ranya lahannya bergambut serta aimya masam, kedua hal tersebut merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tanaman.
- ItemBudidaya Padi Berkelanjutan dengan Penggunaan ECO FARMING(Polbangtan Gowa, 2023) Dr. Ramli, S.P., M.P.; Rachmat, S.P., M.P.; Ir. Dahlan, M.M.Buku Budidaya Padi Berkelanjutan dengan Penggunaan Eco Farming ini mencoba mengulas tentang bahaya penggunaan pupuk sintetis atau kimia yang terus menerus serta upaya para akademisi dan ahli bidang pertanian untuk mengatasi hal tersebut dengan penggunaan pupuk organik dalam rangka mendukung pertanian berkelanjutan. Salah satu pupuk organik yang sudah teruji adalah pupuk eco farming. Sebab eco farming adalah pupuk yang berbahan dasar organik super aktif, mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
- ItemBudidaya Padi Berkelanjutan Dengan Penggunaan ECO Farming(Polbangtan Gowa, 2023, 2023-06-18) Ramli; Dahlan; Rahmat
- ItemBudidaya Padi Gogo, Sebagai Tanaman Tumpangsari Hutan Tanaman Industri (HTI)(Husin M.Toha, Widyantoro,Made Jana Mejaya, Priatna Sasmita, Agus Guswara, 2013) Husin M.Toha, Widyantoro,Made Jana Mejaya, Priatna Sasmita, Agus GuswaraBadan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang mempunyai tugas sebagai penghasil inovasi teknologi baru telah berhasil membuka peluang untuk pengembangan tanaman pangan pada areal peremajaan hutan melalui sisttim tumpangsari. Budidaya tanaman pangan khususnya padi gogo pada lorong jati dapat dilakukan sampai naungan tanaman pokok mencapai 50%. Pada peremajaan hutan tanaman industri (HTI) seperti hutan jati, sistim tumpangsari bisa sampai tahun kedua pada jarak tanam (3 x 3) m. Bila jarak tanam Jati diubah menjadi (6 x 2) m (tanpa mengurangi populasi), sistim "tumpangsari bisa dilakukan sampai tahun ke empat. Melalui sistim tumpangsari, masyarakat sekitar hutan dapat menarik manfaat untuk malakukan budidaya tanaman pangan sekaligus meningkatkan produksi dan penghasilannya. Pada pihak kehutanan juga terbantu dalam persiapan lahan untuk penanaman ulang, pemeliharaan tanaman pokok hutan dan mengurangi pengembalaan ternak liar serta kemungkinan adanya kebakaran hutan. Menurut data BPS 2009, rata-rata 4 (empat) tahun program reboisasi hutan negara dan peremajaan hutan rakyat mencapai sekitar 450.000 ha/th. Berdasarkan batas naungan tanaman pokok 50%, untuk peremajaan hutan negara dan hutan rakyat penerapan sistim tumpangsari minimal dapat dilakukan 2 kali atau mencapai 900.000 ha/tahun. Bedasarkan hasil penelitian sepuluh tahun terakhir, baik di KPH Randublatung (Jawa Tengah), KPH Indramayu (Jawa Barat), dan KPH Banten hasil padi gogo sistim tumpangsari tahun pertama dapat mencapai diatas 5,0 t/ha dan tahun kedua lebih dari 4,0 t/ha GKG. Berdasarkan data hasil penelitian ini, tumpangsari padi gogo pada program peremajaan hutan dapat menyumbang lebih dari 4 juta ton gabah/tahun cukup signifikan untuk peningkatan produksi padi nasional (P2BN). Nilai tambah sistim tumpangsari dapat ditingkatkan lagi, bila setelah panen padi gogo diikuti dengan penanaman kedelai dengan sistim tanpa olah tanah. Penanaman kedelai setelah padi gogo mempunya keuntungan finansial dari hasil biji kedelai, dapat meningkatkan kesuburan tanah dan hasil biji kedelai dapat dijadikan sebagai sumber benih untuk penerapan pola tanam padi-padi-kedelai pada ekosistim lahan sawah irigasi. Panduan teknis budidaya padi gogo sebagai tanaman tumpangsari hutan jati muda, juga dapat digunakan sebagai panduan sistim tumpangsari padi gogo pada peremajaan tanaman perkebunan muda seperti karet dan kelapa sawit. Buku ini diharapkan bisa menjadi acuan untuk pengembangan padi gogo dan palawija dilahan hutan dan membantu petani sekitar hutan untuk peningkatan produksi padi dan pendapatannya.