Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 237
  • Item
    Mina-Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Sadeli Suriapermana; Iis Syamsiah; Putu Wardana; Zainal Arifin; Ahmad M. Fagi
    Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) Sukamandi mulai merintis penelitian sistem usahatani padi-ikan dan parla-bek sejak tahun 1984. Dari hasil penelitian itu dan berdasarkan pemantauan di lapang, disusun petunjuk praktis ini, untuk me-lengkapi informasi yang telah ada guna menunjang program intensifikasi minapadi (inmindi). Publikasi ini merupakan pe-nyempurnaan dari "Petunjuk Praktis Sistem Usahatani Padi-ikan dan Parlabek di lahan sawah" yang diterbitkan tahun 1993 oleh Balittan Sukamandi. Diharapkan publikasi ini bermanfaat bagi para penyuluh pertanian dalam membina dan membimbing petani, dan semua pihak yang memerlukannya.
  • Item
    Dampak Penggunaan Insektisida dalam Pengendalian Hama Wereng Coklat dan Penggerek Batang Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Djatnika Kilin; I.W. Laba; P. Panudju
    Penggunaan insektisida pada tanaman padi di Indonesia mulai intensif sejak program Bimas. Penyaluran insektisida pada tahun 1985 тепcарai 11 kali lipat dibanding tahun 1974. Karena dapat menurunkan populasi dengan cepat, insektisida bermanfaat untuk mengatasi ledakan hama. Namun, apabila penggunaan insektisida ini tidak dilakukan dengan bijaksana dapat menimbulkan resistensi, resurgensi, dan terbunuhnya musuh alami. Hasil penelitian pada tahun 1986/87 menunjukkan bahwa tingkat resistensi wereng coklat (Wck) terhadap insektisida di pulau Jawa cukup beragam. Tingkat resistensi tertinggi, terutama terhadap insektisida karbaril, terjadi pada populasi dari Bantul. Penggerek batang padi (PBP) populasi Plumbon dan Kandanghaur resisten terhadap insektisida karbofuran, sedangkan populasi Lohbener, Karangampel, Sukamandi dan Pedes masih rentan. Insektisida buprofezin tidak menimbulkan resurgensi pada Wck, sedangkan BPMC dan MIPC kadang-kadang menyebabkan resurgensi, sedangkan insektisida yang tidak dianjurkan, menimbulkan resurgensi. Insektisida yang dianjurkan dapat menurunkan populasi musuh alami. Waktu aplikasi insektisida turut menentukan keberadaan parasit telur PBP. Aplikasi yang dilakukan sehari setelah infestasi tidak berpengaruh terhadap parasitasi Tetrastichus sp. Sebaliknya, aplikasi sebelum infestasi mengurangi parasitasi Tetrastichus sp. Aplikasi karbofuran dan bensultaf dengan dosis anjuran tidak berpengaruh terhadap peneluran dan penetasan parasit telur PBP.
  • Item
    Biosistematika Wereng Hijau Genus Nephotettix (Homoptera, Cicadellidae) sebagai Vektor Penyakit Virus Tungro Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Sri Suharni Siwi
    Biosistematika adalah teknik multidisiplin ilmu dasar morfologi, biologi, ekologi, embriologi, dan sitogenetika untuk memahami spesies kompleks di alam dengan berbagai variasi, baik intra- maupun interspesifik. Spesies adalah unit isolasi genetis dan sumber keanekaragaman yang pada dasarnya merupakan perubahan susunan genetis dari populasi yang diakibatkan oleh tekanan seleksi. Spesies Nephotettix terdiri dari berbagai populasi lokal atau ekotipe. Segregasi intraspesifik akan tercermin secara jelas dengan adanya variasi morfologi, biologi, preferensi inang, dan habitat. Vektor Nephotettix virescens sebagai ekotipe mempunyai keragaman daya efektivitas sebagai penular virus. Populasi wereng hijau dari berbagai negara juga mempunyai perbedaan virulensi pada beberapa varietas padi tahan tungro dan telah dinamakan sebagai alopatrik biotipe. Spesies Nephotettix sendiri mempunyai sifat gen yang plastis, mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap perubahan lingkungan. Ada korelasi antara ciri morfologi dengan biospesies sehingga dapat dipakai sebagai indikator adanya isolasi reproduksi. Salah satu cara lama untuk meneliti isolasi reproduksi adalah dengan meneliti morfologi kromosom. Teknik yang baru adalah menggunakan deret DNA dan protein gel elektrophoresis. Dengan mengetahui perubahan komposisi genetis dalam proses evolusi, diharapkan dapat dipahami masalah kompleks spesies seperti biotipe, sibling, ekotipe atau unit geografis. Hubungan kekerabatan spesies juga dapat diteliti lebih lanjut.
  • Item
    Penggerek Batang Padi dan Strategi Pengendaliannya di Sulawesi Selatan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Djafar Baco; M. Yasin; Surtikanti
    Ada tiga spesies penggerek batang padi yang umum dijumpai di Sulawesi Selatan yaitu penggerek batang putih (Scirpophaga innotata), penggerek batang bergaris (Chilo suppressalis), dan penggerek batang merah jambu (Sesamia inferens). Di antara ketiga spesies tersebut, penggerek batang padi putih merupakan spesies yang paling dominan. Larva penggerek batang padi putih ada yang mengalami diapause hanya sekitar dua bulan bahkan ada pula yang tidak mengalami diapause. Informasi ini sangat penting dalam hal peramalan maupun penentuan strategi pengendalian hama tersebut. Pola serangan dan dinamika populasi penggerek batang putih berbeda antara musim hujan dengan musim kemarau, sehingga memerlukan pengelolaan yang berbeda. Dari sejumlah varietas/galur padi yang diuji belum ada yang memiliki sifat ketahanan yang tinggi terhadap penggerek batang padi putih. Namun demikian, terdapat varietas yang memperlihatkan tingkat serangan yang relatif lebih baik dibanding varietas lainnya. Tanaman padi yang mengandung silika tinggi relatif tahan terhadap serangan penggerek batang. Hasil penelitian menunjukkan, pemberian silika 20 kg/ha memberikan hasil sebanding dengan penggunaan Carbofuran 0,5 kg b.a/ha. Pemaduan dari komponen-komponen pengendalian yang telah ada dapat mengurangi, bahkan meniadakan, penggunaan insektisida.
  • Item
    Strategi Pengendalian Hama Utama Padi Menggunakan Musuh Alami
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Baehaki S.E.; M. Arifin²
    Sepanjang tahun, proses pengendalian hama secara terpadu (PHT) alamі terangkai dalam siklus pemanfaatan komponen pengendalian: varietas tahan - kultur teknik - musuh alami - varietas tahan. Dalam siklus tersebut, musuh alami belum banyak dimanfaatkan, walaupun arti pentingnya sebagai penyeimbang biologi (biological balance) populasi hama telah diketahui. Ada tiga strategi pengendalian hama dengan musuh alami, yaitu importasi, perbanyakan massal, dan manipulasi musuh alami. Manipulasi musuh alami dapat dilakukan dengan (1) konservasi, yaitu usaha melestarikan musuh alami yang sudah ada di lapang agar dapat bertahan hidup dan berkembang sesuai dengan sifatnya, dan (2) augmentasi, yaitu usaha meningkatkan efektivitas musuh alami di lapang agar mampu mengendalikan populasi hama. Pemantauan populasi hama dan musuh alami secara berkala harus dilakukan untuk menentukan perlu tidaknya populasi hama dikendalikan. Khusus untuk wereng coklat, keseimbangan populasi antara wereng dan musuh alaminya akan tercapai bila tingkat parasitasi telur wereng oleh Anagrus dan Oligosita lebih dari 25%. Dalam hal ini, wereng tidak perlu dikendalikan.