Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 173
  • Item
    Teknologi Padi Mendukung Lumbung Pangan Dunia 2045
    (IAARD PRESS, 2016) Hasil Sembiring; Erythrina
    Padi atau beras merupakan pangan utama sebagian besar penduduk Indonesia yang kini berjumlah 250an juta jiwa. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat, Indonesia dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Mengandalkan beras impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan dalam negeri berisiko tinggi ditinjau dari berbagai aspek, baik sosial, ekonomi maupun politik. Keinginan pemerintah untuk berswasembada beras telah dimulai sejak tahun 1970an melalui program intensifikasi. Pada tahun 1984 Indonesia berhasil meraih swasembada beras untuk pertama kalinya. Sayangnya kondisi kecukupan pangan dari produksi dalam negeri tidak berlangsung lama karena semakin beragamnya masalah dan kendala yang dihadapi dalam berproduksi. Masalah yang menonjol antara lain degradasi lahan, keterbatasan sumber daya air, ketersediaan lahan subur untuk perluasan areal, konversi lahan sawah untuk nonpertanian yang terus berlangsung, perubahan iklim global dan populasi hama penyakit tanaman yang terus berkembang. Kompleksitas masalah ini berdampak terhadap pelandaian produksi padi pada lahan sawah intensif. Selain itu, di perdesaan terjadi kekurangan tenaga kerja produktif dan tingkat kehilangan hasil gabah pada saat panen dan pascapanen masih relatif tinggi. Untuk mengatasi masalah yang semakin komplek dikembangkan inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Pengembangan inovasi ini berawal dari penelitian mega proyek Reversing Trends of Declining Productivity, kerja sama antara Badan Litbang Pertanian dan Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI), yang menghasilkan berbagai komponen tekologi. Setelah melalui penelitian dan pengkajian di beberapa sentra produksi padi di Indonesia, inovasi PTT dikembangkan sejak tahun 2002. Dalam perjalanannya, PTT mengalami dinamika sejalan dengan perkembangkan teknologi perpadian dari waktu ke waktu. Kinerja inovasi PTT dalam meningkatkan produktivitas padi di beberapa daerah meyakinkan pemerintah untuk mengembangkan lebih lanjut dalam skala yang lebih luas melalui Program Peningkatan Mutu Intensifikasi, Sekolah Lapang PTT, Gerakan Percepatan PTT, dan Program Upaya Khusus (UPSUS). Melalui program UPSUS, produksi padi pada tahun 2016 meningkat hingga 79,1 juta ton atau naik 4,96% dibanding tahun 2015 pada posisi 75,4 juta ton. Oleh karena itu, pemerintah pada tahun 2016 tidak lagi mengimpor beras karena produksi dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan sendiri.
  • Item
    Teknologi Produksi Benih Vub Padi Khusus
    (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2022) Irma Calista; Shannora Yuliasari; Herlena Bidi Astuti; Wilda Mikasari; Hertina Artanti
    Buku Petunjuk Teknis ini berisikan panduan atau acuan teknologi budidaya dalam memproduksi benih VUB padi khusus berikut deskripsi dari beberapa VUB Padi Khusus.
  • Item
    Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi 2025
    (Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi, 2025) Muhammad Thamrin; Rina Hapsari Wening; Idrus Hasmi; Cucu GUnarsih; Nita Kartina; Joko Sugiharto; Suprihanto; Dody Handoko; Nafisah
    Ketersediaan beras sebagai pangan pokok masyarakat Indonesia tidak hanya dituntut untuk terpenuhi dari sisi jumlahnya, tetapi juga dari kemampuannya mendukung pencapaian swasembada pangan yang berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika kebutuhan pangan nasional terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi, perubahan pola produksi, serta tantangan ketahanan pangan di berbagai daerah. Upaya penyediaan beras yang stabil dan bermutu menjadi aspek penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Sejalan dengan itu, BRMP Padi – Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi terus menguatkan perannya dalam merakit dan menyediakan varietas-varietas unggul yang adaptif dan berdaya saing untuk mendukung pertanian padi modern. Tantangan produksi padi pada musim-musim mendatang diperkirakan semakin kompleks. Perubahan iklim yang semakin ekstrem, pergeseran pola musim tanam, kejadian banjir dan kekeringan yang muncul dengan intensitas lebih tinggi, serta meningkatnya serangan organisme pengganggu tumbuhan menuntut adanya strategi antisipasi dan mitigasi yang tepat. Modernisasi pertanian menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan tersebut. Varietas Unggul Baru (VUB) padi merupakan salah satu komponen teknologi yang terbukti berkontribusi dalam meningkatkan produktivitas serta menjaga keberlanjutan produksi. Melalui kegiatan perakitan varietas, BRMP Padi telah menghadirkan berbagai VUB yang memberi keleluasaan bagi petani dalam menentukan varietas yang sesuai dengan teknik budidaya dan kondisi agroekosistem masing-masing. Ketersediaan alternatif VUB yang beragam diharapkan mendukung stabilitas produksi dan meningkatkan daya adaptasi varietas terhadap berbagai cekaman biotik dan abiotik. Edisi 2025 ini merupakan penyempurnaan dari terbitan sebelumnya. Beberapa pembaruan dilakukan untuk meningkatkan kejelasan dan kemudahan penggunaan buku, antara lain penambahan deskripsi delapan VUB serta perluasan daftar istilah teknis agar informasi yang disajikan lebih komprehensif dan aplikatif. Buku ini tetap memuat karakteristik VUB padi populer yang dilepas pada periode 2000–2024 dan diharapkan dapat membantu petugas lapang, penyuluh, dan petani dalam menentukan varietas yang sesuai dengan kondisi spesifik lokasi.
  • Item
    Penelitian Padi Mendukung Upaya Peningkatan Produksi Beras Nasional
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007) Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
    Kebutuhan beras dalam negeri terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan tingkat konsumsi yang masih tinggi. Kebutuhan beras nasional memang dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri dan impor. Namun karena jumlah penduduk yang besar (lebih dari 200 juta orang) dan terus bertambah serta tersebar di ribuan pulau, maka ketergantungan terhadap pangan impor menyebabkan ketahanan pangan rentan sehingga berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Agar persediaan beras dalam negeri aman, pada tahun 2007 secara nasional Pemerintah mengupayakan tambahan peningkatan produksi beras 2 juta ton dari tahun 2006, sementara pada tahun 2008-2009 berikutnya diharapkan terjadi peningkatan produksi.5% per tahun. Keberhasilan peningkatan produksi padi dari 20,2 juta ton pada tahun 1971 menjadi lebih dari 54 juta ton pada tahun 2006 lebih banyak disumbang oleh peningkatan produktivitas daripada peningkatan luas panen. Peningkatan produktivitas memberikan kontribusi sekitar 56,1% terhadap peningkatan produksi padi, sedangkan peningkatan luas panen dan interaksi keduanya memberikan kontribusi masing-masing hanya 26,3% dan 17,5%. Hal tersebut menunjukkan
  • Item
    Bank Pengetahuan Padi Indonesia
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2008) Unang G. Kartasasmita; Adi Widjono; K. Pirngadi; Bambang Sriyono; Achmad Subaidi; A. Kasno; Sigit Nugraha; Penny I. Iskak
    BPPI berisi kumpulan pengetahuan mengenai padi untuk mendiseminasikan pengetahuan mengenai hasil-hasil penelitian dan inovasi teknologi padi. Aspek yang dimuat antara lain aspek teknis, sosial budaya, ekonomi, lingkungan, kebijakan menyangkut beras, gabah, dan pengelolaan jerami.