Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 228
  • Item
    Pemanfaatan Limbah Padi untuk Pakan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Budi Tangendjaja
    Efisiensi produksi peternakan sangat tergantung kepada ketersedian pakan (makanan ternak) sepanjang tahun. Di daerah-daerah tertentu pada musim kering, sering dijumpai kekurangan pakan ketika rumput yang hijau tidak tersedia. Hal ini merupakan masalah untuk ternak-ternak memamah biak (ruminansia) karena makanan utamanya adalah rumput. Bagi ternak non-ruminansia seperti ayam, itik, dan babi, masalahnya tidak terlalu besar karena makanan utamanya biasanya biji-bijian. Limbah padi merupakan hasil sampingan yang diperoleh dari pemanenan sampai pengolahannya menjadi beras. Limbah padi yang paling utama adalah jerami padi, dedak, dan sekam. Jerami padi dan dedak mempunyai potensi yang sangat besar untuk penyediaan bahan pakan ternak, baik ternak yang memamah biak seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing, maupun yang tidak memamah biak. Salah satu keuntungan utama dari limbah padi adalah tidak bersaing dengan makanan manusia.
  • Item
    Pemanfaatan Limbah Padi untuk Industri
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Budi Tangendjaja
    Pemanfaatan limbah padi di Indonesia sudah banyak dilakukan, terutama untuk bidang pertanian, seperti dedak padi untuk makanan ternak, sekam padi untuk alas kandang ayam (litter), dan jerami padi untuk makanan ternak ruminansia atau media penanaman jamur. Pemanfaatannya untuk bidang industri masih terbatas, padahal beberapa sifat yang ada dalam limbah tersebut, baik sifat fisik ataupun kimia, dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk bidang industri. Beberapa kendala yang umum dijumpai dalam memanfaatkan limbah padi adalah sifatnya yang kamba (bulky) dan tersebar di berbagai tempat. Hal ini mengakibatkan mahalnya biaya transportasi dan pengumpulan. Sebagai contoh, biaya pengumpulan jerami cukup mahal dibandingkan nilai yang ada pada jerami itu sendiri. Pemanfaatan minyak dalam dedak padi menghadapi kendala lamanya pengumpulan dari penggilingan padi yang berskala kecil dan tersebar di desa-desa. Lamanya pengumpulan ini mengakibatkan proses hidrolisis minyak sulit untuk dicegah dan dedak padi menjadi tidak layak lagi untuk diekstrak minyaknya sebagai minyak makan. Meskipun masih dijumpai banyak kendala tetapi potensi pemanfaatan limbah padi masih sangat besar. Masih banyak penelitian yang harus dikerjakan agar dapat diciptakan teknologi yang mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar.
  • Item
    Penanganan Pascapanen Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Soemardi; Ridwan Thahir
    Penerapan teknologi prapanen saja ternyata belum cukup untuk mendukung upaya pencapaian sasaran kecukupan pangan, peningkatan pendapatan petani, dan pemerataan kesempatan kerja. Upaya tersebut harus didukung oleh pengamanan produksi melalui penerapan teknologi pascapanen. Usaha penyelamatan hasil padi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan kemampuan petani untuk memanen, merawat, mengeringkan, menyimpan, dan memberaskan, serta meningkatkan mutu hasil panen maupun hasil olahan. Teknologi pascapanen dapat mengamankan hasil panen dan mengolah hasil menjadi komoditas bermutu, siap dikonsumsi, selain dapat pula meningkatkan daya guna hasil maupun limbah hasil olahan. Petani melaksanakan proses pengamanan produksi pada tahap paling rawan, yakni panen, perawatan dan pengeringan. Upaya ini lebih banyak ditujukan untuk menyelamatkan hasil panen dari kerusakan daripada mengurangi susut maupun meningkatkan mutu karena masih terbatasnya kemampuan petani, baik dalam penguasaan teknologi, penyediaan sarana, maupun permodalan.
  • Item
    Mutu Beras
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Djoko S. Damardjati; Endang Y. Purwani
    Secara umum, mutu beras dapat dikategorikan atas 4 kelompok yaitu (i) mutu giling, (ii) mutu rasa dan mutu tanak, (iii) mutu gizi, dan (iv) standar spesifik untuk penampakan dan kemurnian biji (30). Sedangkan dalam program pemuliaan padi, komponen dari mutu beras dapat dikelompokkan atas (i) rendemen giling, (ii) penampakan, bentuk, dan ukuran biji, dan (iii) sifat-sifat tanak dan rasa nasi (17). Semua kategori tersebut penting digunakan bersama-sama dalam penetapan kriteria beras yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Walaupun demikian, pada akhirnya penggolongan kriteria mutu beras harus mempunyai hubungan langsung dengan penerimaan konsumen akhir. Karena beras di konsumsi sebagian besar dalam bentuk nasi, maka penetapan kriteria mutu beras didasarkan atas pola konsumsi tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh ahli kimia, teknologi, dan gizi diharapkan dapat menentukan kriteria mutu beras yang dihubungkan dengan sifat fisik, kimia, dan fisikokimia beras, dalam mengidentifikasi sifat dan mutu beras yang dikehendaki konsumen untuk menunjang para pemulia tanaman merakit varietas padi baru. Data tentang sifat dan mutu beras diperlukan pula untuk menentukan metode pengeringan, penyimpanan, prosesing, dan pemasaran beras serta metode pengolahan dalam teknologi pangan.
  • Item
    Penyakit Virus dan Mikoplasma Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Nasir Saleh; D.M. Tantera
    Di Indonesia terdapat beberapa penyakitvirus pada padi yaitu penyakit-penyakit tungro, kerdil rumput, dan kerdil hampa. Di samping itu, masih terdapat dua penyakit padi yang disebabkan oleh mikoplasma (mycoplasma-like organism/MLO) yaitu kerdil kuning dan daun oranye. Di antara penyakit-penyakit tersebut, tungro, kerdil rumput, dan kerdil hampa sering menimbulkan kerugian yang besar. Dalam tulisan ini akan dikemukakan mengenai gejala, penyebab, daerah penyebaran, bioekologi, penularan virus, tanaman inang, dan vektornya, serta usaha pengendalian virus tungro, kerdil rumput, dan kerdil hampa. Untuk penyakit kerdil kuning dan penyakit daun oranye akan dibahas sekilas mengenai gejala, penyebab, dan penularan oleh vektornya.