Browsing by Author "Balai Besar Penelitian Tanaman Padi"
Now showing 1 - 20 of 170
Results Per Page
Sort Options
- Item1. Adopsi Teknologi PTT Padi Berbasis Limbah Cair Pabrik Gula Kwala Madu (Langkat) Menuju Pertanian Bioindustri di Sumatera Utara(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Wasito; Rinaldo; Hermanto, Catur; Winarto, Loso; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPertanian bioindustri sebagai konsep pengembangan pertanian, tidak semata-mata berbasis sumberdaya alam namun juga industri. Pertanian bioindustri memanfaatkan seluruh faktor produksi untuk menghasilkan pangan guna mewujudkan ketahanan pangan, serta produk lain yang dikelola menjadi bioenergi serta bebas limbah dengan menerapkan prinsip mengurangi, memanfaatkan kembali dan mendaur ulang. Pemanfaatan limbah cair Pabrik Gula Kwala Madu (PGKM) di Langkat yang mengandung senyawa organik dan anorganik pada usahatani padi mempunyai banyak manfaat dalam mewujudkan pertanian bioindustri. Untuk itu, telah dilakukan pengkajian pemanfaatan limbah cair PGKM (P1: pupuk organik + anorganik) pada usahatani padi di Desa Sambirejo dan Sendangrejo, Kabupaten Langkat (2013, 2014); serta tanpa limbah cair (P0 pupuk anorganik). P1 atau P0 masing-masing melibatkan 5 petani. Parameter utama yang diamati, yaitu adopsi teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT), persepsi terhadap PTT padi berbasis limbah cair PGKM menuju pertanian bioindustri, dan analisis lainnya. Analisis Cohran dan himpunan digunakan untuk mengukur senjang hasil dan adopsi teknologi PTT. Hasil kajian, terjadi senjang adopsi teknologi PTT mencapai 0,25–0,35 (P1> P0), sedangkan senjang hasil sekitar 0,10–0,15 (P1>P0). Kondisi biofisik, cekaman abiotik, iklim, modal sebagai penghambat adopsi teknologi pada PTT padi. Persepsi terhadap PTT padi berbasis limbah cair PGKM menuju pertanian bioindustri dengan nilai akhir 3,83 (nilai ideal=5,00), perlu mengejar ketertinggalan 1,17 (22,23%). Analisis secara kualitatif, limbah cair pabrik gula memberi keunggulan pada produktivitas padi, bermanfaat ganda, mencegah pencemaran dan daya guna air, sehingga menghemat cadangan air bersih dan sebagai penyubur tanah. Hal ini mempunyai manfaat dalam mewujudkan pertanian bioindustri.
- Item10. Daya Hasil dan Adaptasi Galur-galur Harapan Padi Pada Beberapa Tipologi Lahan Pasang Surut(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Sinaga, Parlin H.; Usman; Jahari, Marsid; Jamil, Ali; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiAdopsi varietas unggul baru yang masih rendah di tingkat petani lahan pasang surut disebabkan VUB tidak sesuai dengan preferensi petani. Penelitian bertujuan untuk mengetahui daya hasil dan preferensi petani terhadap galur-galur hasil persilangan kultivar lokal. Penelitian dilaksanakan di enam lokasi pada bulan Januari – Desember 2011. Percobaan dirancang sesuai rancangan acak kelompok lengkap yang diulang tiga kali. Setiap unit percobaan berukuran 5 x 5 m. Bibit berumur 21 hari sejak semai (hss) ditanam 1 bibit per lubang tanam dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Tanaman utama dipupuk dengan 400 kg ha-1 Ponska dan 100 kg ha-1 Urea. Data dianalisis varians gabungan dan diuji lanjut menggunakan Uji Tukey 0.05. Stabilitas hasil diuji menurut Finley dan Wilkinson (1963). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persilangan kultivar lokal padi pasang surut Kabupaten Pelalawan (betina) dengan kultivar unggul Fatmawati (jantan) menghasilkan galur-galur harapan yang relatif mirip dengan kultivar lokal kecuali umur tanaman dan hasil panen. Telah diperoleh 5 galur berdaya hasil tinggi (sedikitnya 7 t ha1), yaitu: P4, P6, P8, P16, dan P17. Galur P6 dan P8 stabil, galur P4 beradaptasi pada lingkungan suboptimal, dan galur P16 dan P17 beradaptasi pada lingkungan optimal. Perakitan varietas berbasis kultivar lokal dengan mengubah karakter yang tidak diinginkan saja, membuat galur-galur yang dihasilkan mudah diterima petani.
- Item10. Pertumbuhan Dan Produksi Tiga Varietas Unggul Baru(VUB) Padi Sawah Pada Dua Sistem Tanam Berbeda(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Suratmin, Putu; K.K.Sukraeni; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiVarietas unggul padi merupakan salah satu komponen teknologi yang berperan penting di dalam meningkatkan produksi beras nasional. Pengkajian dengan tujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan daya hasil (tingkat produksi) dari tiga varietas unggul padi sawah telah dilaksanakan di Subak Tembuku Kawan, Kecamatan Tembuku Kabupaten Bangli Provinsi Bali pada tahun 2012. Pengkajian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dimana faktor pertama adalahVarietas Unggul Baru yaitu: Inpari 10 (V1), Inpari 13(V2) dan Cigeulis (V3 = sebagai kontrol), dan cara tanam sebagai faktor kedua yaitu : tanam pindah legowo 2:1(T1) dan tanam pindah sistem tegel atau cara petani (T2) dengan 5 ulangan. Penanaman dilakukan dengan inovasi teknologi PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi seperti : tanam bibit muda (umur + 13 hst), tanam 1-3 bibit/lubang, pemupukan dengan urea dan ponska, pengairan berselang dan pengelolaan hama penyakit secara terpadu. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, panjang malai dan berat gabah kering panen (t/ha). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa hasil gabah kering untuk ketiga varietas menunjukkan perbedaan yang nyata pada cara tanam yang berbeda, dimana cara tanam legowo 2:1 memberikan hasil gabah kering yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara tanam tegel. Berat gabah kering panen dengan cara tanam legowo 2:1, terlihat paling tinggi pada varietas inpari 13 (7.5 t/ha) kemudian diikuti oleh varietas Cigeulis (6,8 t/ha) dan paling rendah pada Inpari 10 (6,3 t/ha). Dibandingkan dengan cara tanam sistem tegel (cara petani) berat gabah kering panen meningkat 0,6 t/ha atau 9,23 % pada cara tanam legowo 2:1.
- Item11. Hasil dan Komponen Hasil Galur Harapan Padi Beras Merah Ampibi di Lokasi Dataran Rendah(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Aryana, I Gusti Putu Muliarta; Bambang BS; Sudharmawan, Anak Agung Ketut; Allin, Sefty; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil dan komponen hasil galur harapan padi beras merah ampibi yang di tanam pada lokasi dataran rendah Lombok Barat. Percobaan dilaksanakan di lahan sawah Desa Yur Lembang Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat, pada ketinggian 50 mdpl. Waktu kegiatan MH Januari – Mei 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulanga, serta 14 genotipe sebagai perlakuan ( 10 galur harapan, 3 tetua dan 1 varietas pembanding). Penanaman setiap perlakuan genotipe pada petak dengan ukuran 4 x 5 m, jarak tanam 25 cm x 25 cm, dengan 1 tanaman per rumpun. Data hasil pengukuran yang diperoleh dianalisis dengan uji F. Apabila uji F menunjukkan perbedaan nyata dilanjutkan dengan menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Kesimpulan : Galur harapan padi beras merah ampibi yang menunjukkan hasil tinggi dan komponen hasil yang baik pada lokasi dataran rendah di kabupaten Lombok Barat adalah F2BC4 52 (42), F2BC4 86 (32), F2BC4 52 S1, F2BC4 52 (44) dan F2BC4 86 (36) dengan hasil secara berurutan 7,75 t/ha, 7,44 t/ha, 7,28 t/ha, 7,19 t/ha dan 7,08 t/ha
- Item11. Potensi Pemanfaatan Pupuk Nano Untuk Mendukung Bio-Industri Budidaya Padi di Indonesia(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Rohaeni, Wage R.; Susanto, Untung; Abdulrahman, Sarlan; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPupuk sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Namun demikian, saat ini efi siensi pemupukan masih sangat rendah, sedangkan pemupukan yang berlebihan dapat merusak sifat fi sik, kimia, dan biologi tanah. Melalui aplikasi teknologi nano diharapkan permasalahan tersebut dapat diatasi. Review ini mengungkapkan perkembangan terkini aplikasi pupuk nano pada tanaman padi. Teknologi nano, yaitu teknologi untuk memanipulasi suatu benda dengan memperkecil ukurannya hingga 1 – 100 nanometer. Terdapat 2 metode untuk pembuatan pupuk nano, yaitu metode top-down dan bottom up. Metode top-down yaitu metode penghancuran secara mekanis. Metode bottom up yaitu metode yang dilakukan secara kimia, diantaranya : Proses sol-gel, proses berbasis aerosol, deposisi uap kimia, kondensasi atom atau molekuler, kondensasi fase gas, dan sintesis fl uida superkritis. Unsur hara yang dapat dijadikan pupuk nano adalah unsur hara makro dan mikro serta pupuk organik. Teknologi ini tidak hanya mengubah ukuran bahan, namun juga karakteristik bahan. Perubahan terjadi pada sifat fi sik dan kimia material yaitu meningkatnya luas permukaan, meningkatnya bioviabilitas, dosis efektif lebih kecil, meningkatnya kemampuan penetrasi, serta mempercepat onset of action (terjadinya tindakan). Penelitian pupuk nano di Indonesia ini baru sebatas formulasi pupuk P-nano dan pengujian efektivitas pada padi dan jagung. Penelitian membuktikan bahwa penggunaan pupuk nano meningkatkan efi siensi penggunaan pupuk, mengurangi toksisitas tanah, serta meminimalkan potensi terjadinya dampak negatif akibat penggunaan pupuk yang berlebihan. Varietas berpotensi memberikan respon yang berbeda terhadap aplikasi pupuk nano. Penelitian lebih mendalam diharapkan dapat mengungkapkan peluang aplikasi teknologi pupuk nano untuk meningkatkan efi siensi dan produktivitas padi untuk setiap spesifi k agroekosistem dan varietas dalam bio-industri budidaya padi di Indonesia.
- Item12. Dampak Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Rawa Lebak Di Kecamatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Kiswanto; Fauziah YA; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiDampak penerapan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi rawa lebak dilaksanakan di Desa Cempaka Dalam Kecamatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penerapan PTT terhadap produktivitas padi, pendapatan petani, efi siensi usahatani dan sikap petani terhadap PTT padi. Pengumpulan data menggunakan metode survei sebanyak 30 responden, dilakukan pada bulan Oktober - November 2012. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik petani, penerapan teknologi, struktur biaya dan penerimaan usahatani, produktivitas dan pendapatan petani. Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan menerapkan PTT padi rawa lebak dapat meningkatnya produktivitas padi dari 3,69 ton/ha menjadi 5,78 ton/ha (56,64%) dan pendapatan petani dari Rp.6.786.000/ha menjadi Rp.11.987.000/ha (76,64%), nilai R/C ratio dari 1,85 menjadi 2,08, nilai BEP dari Rp.2.160,98/kg menjadi Rp.1.926,12/kg. Sikap petani terhadap penerapan PTT padi 77,58% memberikan sikap positif, 17,58% sikap netral dan 4,85% sikap negatif. Agar adopsi komponen PTT padi rawa lebak dapat berkelanjutan, maka diperlukan penyediaan sarana produksi yang tepat jenis dan tepat waktu, pendampingan dan pengawalan oleh petugas secara kontinyu dan dukungan pemerintah daerah dalam program peningkatan produktivitas dan pendapatan petani.
- Item13. Peningkatan Produksi Padi Pada Lahan Sub Optimal (Lahan Sawah Tadah Hujan) Melalui Penerapan Kalender Tanam Terpadu Terpadu di Sumatera Utara(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) EL Ramija, Khadijah; Sudrajat, Ayi; Batubara, Siti Fatimah; Hermanto, Catur; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiSalah satu indikator penting kinerja pemerintah adalah terpenuhinya kebutuhan pangan secara cukup dan berkualitas berdasarkan prinsip-prinsip kemandirian pangan. Upaya peningkatan produksi memerlukan strategi yang cermat berdasarkan prakiraan iklim yang akurat, antara lain melalui percepatan tanam di beberapa lokasi, terutama di wilayah yang masih tinggi curah hujannya. Untuk memandu upaya ini diperlukan alat bantu antisipatif, berupa Kalender Tanam yang telah dikembangkan sejak 2007 oleh Badan Litbang Pertanian, kemudian disempurnakan menjadi Kalender Tanam Terpadu yang memuat rekomendasi teknologi dan kebutuhan sarana produksi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi guna memenuhi swasembada pangan adalah dengan meningkatkan indeks pertanaman padi melalui penerapan KATAM TERPADU di lahan sawah suboptimal (lahan sawah tadah hujan). Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan Kalender Tanam Terpadu Pada Lahan Sub Optimal (Lahan Sawah Tadah Hujan) Di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dalam Pencapaian 10 Juta Ton Surplus Beras Tahun 2014 dan mengkaji Ketepatan Kalender Tanam Terpadu Pada Lahan Sawah Tadah Hujan di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Dampak yang diperoleh adalah penerapan Katam Terpadu di Lahan Sawah Tadah Hujan di Sumatera Utara menunjukkan peningkatan produksi dan produktivitas padi pada lahan sub optimal di Sumatera Utara sebesar 25%. Hasil pengkajian yang dilakukan pada 2 musim tanam (Katam MT III 2013 dan Katam MT I 2013/2014). Produktivitas tertinggi diperoleh pada MT 2 (Katam MT I 2013/2014) dengan produksi GKP sebesar 8.0 t/ha dan Indeks Panen sebesar 0,48. Hasil validasi data iklim (curah hujan) di 2 MT (Katam MT III 2013 dan Katam Mt I 2013/2014) menunjukan adanya perbedaan antara rekomendasi jadwal tanam pada kalender tanam dengan kondisi eksisting terutama pada MT Verifi kasi prakiraan bulanan yang dikeluarkan oleh BMKG berdasarkan pada pewilayahan ZOM > 80 % (83%), namun untuk wilayah yang lebih kecil khususnya kecamatan Binjai verfi kasinya < 50 % (33%).
- Item14. Daya Hasil Padi Sawah Varietas Inpari 13 di Beberapa Lokasi SL PTT di Sulawesi Tengah(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Saidah; Syafruddin; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPenggunaan varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi penting dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas padi nasional. Varietas padi yang unggul untuk suatu daerah belum tentu menunjukkan keunggulan yang sama di daerah lain, karena di Indonesia sangat beragam agroekologinya. Sejak dilepas tahun 2010, Inpari 13 telah banyak dikenal dan ditanam oleh petani di Indonesia. Berdasarkan deskripsi, Inpari 13 memiliki potensi hasil 8,0 t/ha dengan hasil rata-rata 6,6 t/ha GKP. Di Sulawesi Tengah, Inpari 13 baru dikenal tahun 2012 melalui display varietas yang dilaksanakan oleh BPTP Sulawesi Tengah dalam rangka pelaksanaan tugas pendampingan SL-PTT padi. Tujuan kajian adalah untuk mengetahui kemampuan adaptasi Inpari 13 dibeberapa kabupaten lokasi display SL-PTT padi. Kajian dilaksanakan di 6 (enam) kabupaten di Sulawesi Tengah, yaitu Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, Poso, Donggala, Toli-Toli dan Banggai. Total keseluruhan terdapat 16 lokasi display. Luasan masing-masing lokasi kajian sebesar 0,25 hektar. Metode kajian menggunakan analisis rata-rata dan selanjutnya dideskriptifkan. Teknologi budidaya yang diterapkan dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Produktivitas dimasing-masing lokasi sangat bervariasi antara 2,3 hingga 8,8 t/ha GKP. Produktivitas terendah berada pada desa Minti Makmur Kec. Rio Pakava Kab. Donggala dan tertinggi berada pada Desa Bantayan Kec. Luwuk Timur Kab. Banggai, Desa Siboang Kec. Sojol Kab. Donggala dan Desa Kombo Kec. Dampal Selatan Kab. Toli-Toli.
- Item15. Evaluasi Metode Untuk Skrining Varietas Padi yang Dapat Berkecambah Pada Kondisi Anaerob(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Mulsanti, Indria W.; Rumanti, Indrastuti A.; Wahyuni, Sri; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiKondisi lingkungan tergenang merupakan salah satu cekaman abiotik yang banyak ditemui di lahan-lahan pertanian di Indonesia. Walaupun padi dikenal sebagai tanaman yang dapat beradaptasi padi kondisi tergenang tetapi banyak varietas yang sensitif terhadap kondisi oksigen terbatas atau anaerob saat masa perkecambahan. Saat ini asesi palasma nutfah, galur dan varietas yang ada belum diIdentifi kasi kemampuan berkecambahnya dalam kondisi anaerob, selain itu metode standard untuk pengujian benih yang dapat berkecambah pada kondisi anaerob juga belum ditetapkan. Varietas atau galur yang dapat berkecambah pada kondisi anaerob tidak hanya berguna untuk lahan-lahan yang rawan banjir dan selalu tergenang seperti rawa lebak. tetapi juga untuk pola pertanaman tebar benih langsung. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan metode yang efektif untuk evaluasi galur/ varietas yang dapat berkecambah pada kondisi anaerob/perkecambahan tergenang. Evaluasi metode skrining galur/varietas padi dilakukan dua tahap, tahap pertama adalah tujuh perlakuan yang merupakan kombinasi metode perendaman dan media perkecambahan benih. Dari kegiatan pertama akan dipilih empat perlakuan untuk dilanjutkan pada kegiatan kedua dengan metode yang dimodifi kasi agar lebih mendekati kondisi lapang. Hasil penelitian menunjukkan mutu awal benih yang diuji memiliki mutu fi siologis yang cukup baik dicerminkan oleh nilai persentase daya berkecambah 94.5 – 97 %. Pada kegiatan pertama didapatkan bahwa metode perkecambahan dengan membenamkan benih dalam media tanam dan kemudian diairi sedalam 5 cm merupakan metode yang dapat digunakan untuk skrining perkecambahan anaerob. Selanjutnya hasil pada kegiatan kedua perlakuan perkecambahan pada tanah lumpur dan tanah kebun dengan membenamkan benih sedalam 1 cm yang kemudian direndam air dalam 5 cm dapat digunakan untuk pengujian benih yang dapat berkecambah pada kondisi anaerob. Tetapi perlakuan pembenaman benih 1,5-2 cm dan rendaman air sedalam 10 cm selama 11 hari adalah perlakuan yang paling efektif untuk evaluasi perkecambahan anaerob karena dapat membedakan antara varietas yang rentan dengan varietas-varietas toleran. Selanjutnya perlakuan tersebut dapat digunakan untuk skrining varietas padi toleran perkecambahan anaerob
- Item15. Pemanfaatan Limbah Ternak Untuk Membangun Sistem Budidaya Padi Organik Guna Mendukung Pertanian Bioindustri(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Joko, Pramono; Ambarsari, Indrie; Abadi; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiTuntutan konsumen terhadap bahan pangan yang berkualitas, beragam dan dengan citarasa yang bervariasi, merupakan tantangan yang tidak mudah untuk direalisasikan. Di negara-negara maju dengan tingkat pendapatan tinggi dan kesadaran pola hidup sehat, tuntutan akan produk pangan yang aman bagi kesehatan sangat tinggi. Kondisi tersebut telah mendorong berkembangnya “Pertanian Organik” di negara-negara agraris termasuk di kawasan Asia seperti Thailand, Jepang, Philipina dan Indonesia. Pengkajian inisiasi budidaya padi organik telah dilakukan selama 5 musim tanam (MT) di Desa Blimbing, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Lokasi kegiatan merupakan desa kegiatan MP3MI sejak tahun 2011, dan telah diintroduksikan ternak kambing, kerbau dan sapi melalui berbagai program. Pada tahun 2011 telah dikembangkan unit pengelola pupuk organik (UPPO) yang difasilitasi oleh pemerintah pusat. Salah satu pemanfaatan produk pupuk organik adalah untuk inisiasi budidaya padi organik di desa tersebut. Pada MT pertama sampai ke empat, hasil tanaman padi yang hanya mengandalkan penggunaan pupuk organik berupa kompos dengan takaran 2 t/ha dan pupuk organik cair (POC) yang dibuat petani dari bahan-bahan lokal hanya mampu menghasilkan gabah pada kisaran 2 t/ha GKG. Kendala selama empat musim antara lain adalah hama tikus, penggerek batang dan burung. Pada MT ke lima, di lahan yang sama telah dicoba membuat perlakuan aras penggunaan kompos 4, 6, dan 8 t/ha. Sebagai kontrol adalah pola petani dengan penggunaan pupuk 200 kg Urea dan 750 kg/ha pupuk kandang. Varietas padi yang digunakan adalah “Mentik Wangi”. Hasil gabah padi organik tertinggi dicapai pada perlakuan pupuk organik 8 t/ha dengan hasil mencapai 5,41 t/ha GKG sedikit lebih tinggi dari pola non organik sebagai kontrol yang mencapai 5,16 t/ha GKG. Keberhasilan ini membuat semangat petani pelaksana bertambah dan kemudian bergabung dengan Kelompok Petani Organik “Boja Mandiri” yang telah memiliki sertifi kat organik dari Inofi ce.
- Item16. Potensi dan Pemanfaatan Arang Sekam Padi Sebagai Pembenah Tanah dan Pengaruhnya Terhadap Tanah dan Tanaman di Lampung(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Barus, Junita; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiLahan yang terdegradasi ditunjukkan oleh kandungan bahan organik (C-Organik) yang rendah < 2 %, sehingga berdampak terhadap penurunan kualitas lahan. Untuk memperbaiki kualitas lahan yang terdegradasi digunakan pupuk organik (pupuk kandang, kompos tanaman, dll) serta bahan pembenah tanah (kapur, bahan organik, bahan fosfat alam, zeolit, dan biochar/arang hayati). Bahan organik sulit lapuk seperti sekam padi, brangkasan kacang hijau, tongkol jagung, batok kelapa, tandan kosong kelapa sawit, dan lain sebagainya yang diproses dengan teknik phiyrolisis dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah atau biochar, yang berfungsi selain sebagai sumber karbon, diantaranya dalam meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Limbah sekam padi cukup berpotensi di Lampung mengingat areal sawah di Lampung tergolong luas yaitu 456.725 ha dengan produksi padi pada tahun 2012 sekitar 3.101.455 ton dan produktivitas rata-rata 4,83 t/ha. Pembuatan arang sekam di Lampung telah banyak dilakukan petani, namun kebanyakan masih menggunakan alat sederhana. Salah satu kelompok tani yang telah membuat arang sekam kapasitas besar adalah Kelompok Tani Suka Maju di Desa Sukajaya, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung. Arang sekam yang dihasilkan merupakan hasil sampingan dari proses pengeringan gabah padi dengan menggunakan alat Bed Dryer dengan bahan bakar sekam padi yang berkapasitas 3 – 3,5 ton. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pemberian arang sekam sebagai pembenah tanah mampu memperbaiki sifat fi sik dan kimia tanah dan meningkatkan hasil tanaman.
- Item17. Pengaruh Pemupukan Kompos Jerami Terhadap Beberapa Varietas Padi di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Irmadamayanti, Andi; Padang, Irwan Suluk; Saidah; Syafruddin; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPenurunan kualitas tanah akibat pemupukan dengan pupuk anorganik yang intensif dapat ditanggulangi dengan pengelolaan lahan sawah terpadu secara berkelanjutan dengan meminimalisasi pemberian input dari bahan kimia dan melakukan upaya perbaikan nutrisi secara alami dengan pemberian bahan – bahan organik yang dapat mengembalikan kualitas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian kompos jerami terhadap peningkatan produktivitas tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan September hingga Desember 2013 di Desa Poleganyara Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso dengan ketinggian lokasi + 300 m dpl. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 5 kombinasi pemupukan yaitu P1 : kompos jerami 5 t/ha + NPK Phonska 250 Kg/ ha, P2 : kompos jerami 5 t/ha + NPK Phonska 187,5 Kg/ha, P3 : kompos jerami 5 t/ha + NPK Phonska 125 Kg/ha, P4 : kompos jerami 5 t/ha + NPK Phonska 62,5 Kg/ha, P5 : Kontrol, pemupukan ditingkat petani (tanpa kompos jerami) dengan 5 varietas : Banyuasin, Mendawak, Dendang, dan Inpara 3, masing-masing dengan tiga kali ulangan. Analisis data menggunakan analisis sidik ragam (Anova). Hasil tertinggi di peroleh pada perlakuan pemupukan P1 pada varietas Banyuasin yaitu 9,13 ton/ha.
- Item2. Uji Adaptasi Galur Padi Pada Lahan Rawa Lebak di Kebun Percobaan Kayuagung Sumatera Selatan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Suparwoto; Waluyo; Setiawan, Usman; Supartopo; Rumanti, Indrastuti A.; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiSalah satu komponen teknologi yang memiliki peran nyata dalam meningkatkan produksi dan kualitas hasil komoditas pertanian adalah varietas unggul, diantaranya varietas unggul yang adaptif dan berpotensi hasil tinggi di lahan rawa lebak. Tujuan dari penelitian adalah untuk mendapatkan beberapa galur calon varietas yang memiliki potensi hasil tinggi, berpenampilan baik, umur genjah sampai sedang dan adaptif pada lahan rawa lebak. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Kayuagung, Desa Sidakersa, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan pada lebak tengahan, dimulai pada musim kemarau tahun 2013. Galur/varietas yang diteliti sebanyak 12 galur dan 2 varietas sebagai pembanding yaitu : 1) B13135-1-MR-2-KA-1, 2) B13131-9-MR-2, 3) B13133-9- MR-2, 4) B13100-2-MR-3-KY-2, 5) B13134-2-MR-2-KA-8-3, 6) B13134-4-MR1-KA-3-4, 7) B13134-2-MR-2-KA-1-2, 8) B13136-6-MR-2-KA-2-1, 9) B13144- 1-MR-2-KA-2-1, 10) B13100-3-MR-1-KA-2-2, 11) B13100-3-MR-1-KA-2-3, 12) B13100-3-MR-1-KA-2-3, 13) Inpara 3 dan 14) IR 42. Penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan, luas petak 4 m x 5m, jarak tanam 25 cm x 25 cm, umur bibit 30 HSS, ditanam 2-3 bibit/ rumpun. Pupuk yang digunakan 150 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha. Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pada umur 0 hari setelah tanam (HST) dengan takaran 75 kg urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha dan pada umur 4 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 75 kg urea/ha, diberikan secara disebar. Pemeliharan tanaman dilakukan secara intensif. Peubah yang diamati adalah : tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, bobot 1000 butir gabah dan hasil gabah kering giling/petak setelah dihilangkan satu baris pinggir. Analisis data menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa Galur-galur yang mempunyai potensi hasil di atas 2,7 ton/ha yaitu galur B13100-3-MR-1-KA-2-3, B13134-4-MR-1-KA-3-4, B13133-9-MR-2, B13144- 1-MR-2-KA-2-1 dan B13136-6-MR-2-KA-2-1.
- Item20. Penerapan Sistem Tanam dan Pemupukan N untuk Menekan Serangan Penggerek Batang Padi dan Penyakit Hawar Daun Bakteri di Gorontalo(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Iswati, Rida; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPopulasi tanaman dan keadaan iklim mikro sebagai konsekwensi aplikasi sistem tanam serta dosis pupuk N sangat mempengaruhi serangan hama maupun penyakit. Dengan demikian maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem tanam dan dosis pupuk yang paling baik dalam menekann serangan hama penggerek batang padi dan penyakit hawar daun bakteri. Penelitian dilakukan di Kabupaten Gorontalo bulan Maret sampai Juni 2012, merupakan percobaan Split Plot 3 x 3 x 3 yang ditata dengan pola RAK dimana 3 sistem tanam sebagai petak utama (legowo 2:1(L1), legowo 3:1 (L2), dan legowo 4:1 (L3)) dan 3 kombinasi dosis pemupukan N sebagai anak petak (P1 180 ponska dan 190 Urea; P2 300 Posnka dan 225 Urea; P3 325 Ponska dan 275 Urea). Variabel yang diamati meliputi awal munculnya gejala dan intensitas serangan sundep, beluk dan hawar daun bakteri. Data dianalisis dengan ANOVA dengan uji lanjut menggunakan LSD pada taraf 5% menggunakan software SAS, Hasil analisis menunjukkan bahwa Sistem tanam dan Dosis pemupukan N berpengaruh secara sendiri-sendiri baik terhadap kecepatan munculnya gejala dan intensitas serangan hama penggerek batang dan serangan hawar daun bakteri . Gejala serangan hama penggerek batang muncul bersamaan pada minggu 2 mst sedang gejala penyakit hawar daun bakteri muncul paling cepat pada dosis pupuk N tertinggi (325 kg Ponska dan 275 kg urea). Intensitas serangan hama penggerek batang dan hawar daun bakteri paling rendah pada sistem tanam jajar legowo 4:1 dan dosis pupuk N terendah (180 kg ponska dan 190 kg Urea ).
- Item22. Pencapaian Produksi dan Usahatani Pada 3 Varietas Padi Sistem Budi Daya SRI dan PTT(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Zarwazi, Lalu M.; Widyantoro; Guswara, Agus; Abdulrachman, Sarlan; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPertanian organik dan SRI (System of Rice Intensifi cation) adalah dua pendekatan budidaya yang serupa tapi tidak sama. Pertanian organik mengklaim sebagai pertanian rendah masukan (low input), sedangkan SRI adalah pendekatan budidaya yang mengintegrasikan komponen teknologi yang bersinergis dan ramah lingkungan, diantaranya penggunaan bahan organik. Konsep SRI, tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup dengan kesehatan tanah menjadi dasar untuk mendapatkan hasil gabah yang tinggi. Dengan demikian perhatian tentang pemanfaatan pupuk organik menjadi prioritas utama. Beberapa hasil kajian tentang budidaya padi pola SRI masih menjadi bahan perdebatan di kalangan pengambil kebijakan. Berdasarkan pemikiran tersebut telah dilakukan penelitian dalam bentuk verifi kasi budidaya padi pola SRI. Penelitian dilaksanakan di KP Sukamandi MT III 2010 dan bertujuan untuk mendapatkan informasi tingkat produktivitas dan usahatani padi pola SRI, SRI plus, PTT, dan petani. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan tanaman padi pada tinggi tanaman dan jumlah anakan pada perlakuan PTT lebih nyata jika dibandingkan dengan perlakuan SRI. Nilai hijau dengan pengukuran SPAD pada perlakuan PTT relatif stabil pada setiap rentang 7 hari pengamatan di kisaran angka 40, sedangkan pada perlakuan SRI kurang dari 38. Terdapat perbedaan nyata pada setiap komponen hasil perlakuan PTT dan SRI pada ketiga varietas padi yang digunakan utamanya pada varietas Inpari 7. Terdapat perbedaan nyata antara perlakuan PTT dan SRI pada varietas Inpari 7 dan Inpari 8, dimana pada varietas Inpari 7 perlakuan PTT memberikan hasil gabah 7,63 t/ha GKG berbeda nyata dengan perlakuan SRI yang memberikan hasil gabah sebesar 6,36 t/ha GKG, sedangkan pada varietas Inpari 8 perlakuan PTT memberikan hasil gabah sebesar 6,15 t/ha GKG berbeda nyata dengan perlakuan SRI hanya memberikan hasil gabah sebesar 4,49 t/ha GKG. Persentase butir hampa dan kotoran pada perlakuan SRI lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan PTT kecuali pada varietas Inpari 8, namun sebaliknya pada perlakuan SRI mempunyai butir hijau kapur lebih tinggi dibanding perlakuan PTT. Persentase beras kepala pada perlakuan PTT lebih tinggi dibanding perlakuan SRI. Penggunaan tenaga kerja pada perlakuan SRI mulai kegiatan pesemaian sampai panen membutuhkan 198 HOK/ha, sedangkan pada perlakuan PTT membutuhkan tenaga kerja sebanyak 147 HOK/ha atau terdapat perbedaan dalam penggunaan tenaga kerja sebesar 51 HOK/ha atau senilai Rp.1.785.000/ha.
- Item23. Respon Pertumbuhan dan Hasil Vub Padi Inbrida dan Hibrida Terhadap Penerapan Standar Pengelolaan Tanaman Padi Secara Terpadu(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Hasmi, Idrus; Sasmita, Priatna; Guswara, Agus; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPeningkatan produksi padi dapat dicapai dengan penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) padi hibrida dan inbrida berpotensi hasil tinggi. Satu hal yang menarik adalah sifat heterosis padi hibrida yang dapat memberikan hasil lebih tinggi dibanding inbrida. Idealnya Padi Hibrida dapat meningkatkan hasil sekitar 20% dibandingkan dengan padi Indrida. Fakta di lapangan ternyata tidak demikian, bahkan produksi VUB Inbrida sama atau lebih tinggi dari pada produksi Hibrida. Untuk itu diperlukan penelitian verifi kasi pertumbuhan dan hasil dari VUB Inbrida dan Hibrida. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sukamandi pada Musim Tanam (MT) II 2014 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 3 ulangan. Perlakukan yang dicoba 9 VUB Padi yang terdiri dari 5 VUB Inbrida (INPARI 16, INPARI 25, INPARI 30, INPARI 31, INPARI 32), dan 4 VUB Hibrida (HIPA JATIM 2, HIPA 8, HIPA 18 dan HIPA 19). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan VUB berbeda nyata dalam hal tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum dan nilai kehijauan daun. Tanaman tertinggi dicapai oleh VUB Hibrida (HIPA 8) berturut-turut pada umur 4 Minggu Setelah Tanam (MST), 6 MST, 8 MST dan 10 MST adalah 81,22 cm, 119,78 cm, 135,31 cm dan 143,06 cm. Pada Komponen pertumbuhan jumlah anakan maksimum terbesar dicapai oleh VUB Hibrida (HIPA 19), yaitu 21 anakan pada umur 6 MST. Nilai kehijauan daun yang diukur berdasarkan SPAD meter, diperoleh nilai terendah pada umur tanaman 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST pada VUB Hibrida (HIPA 18) yaitu masingmasing mencapai 47,93, 42,97, 32,20 dan 37,20. Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa komponen hasil jumlah gabah isi per malai berbeda nyata antar VUB. Jumlah gabah isi per malai tertinggi dicapai oleh HIPA 8 (263,04 gabah/malai). Berdasarkan penerapan standar pengelolaan tanaman padi secara terpadu VUB Hibrida menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibanding dengan VUB Inbrida. Hasil rata-rata VUB Hibrida adalah 8,59 t/ha, sedangkan rata-rata hasil VUB Inbrida adalah 6,26 t/ha.
- Item24. Keragaan Produktivitas Varietas Unggul Baru Padi di Berbagai Daerah Target Pengembangan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Sasmita, Priatna; Guswara, Agus; Idrus, Hasmi; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPenggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) Padi berpotensi hasil tinggi dan adaptif terhadap agroekosistem spesifi k lokasi merupakan salah satu komponen utama dalam penerapan Pengelolaan Tanaman Padi secara Terpadu (PTT). Lima tahun terakhir ini telah banyak VUB padi yang dilepas oleh Kementerian Pertanian, namun baru sebagian kecil saja yang digunakan oleh petani di berbagai provinsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan produktivitas VUB padi di berbagai daerah target pengembangan (provinsi) sebagai bahan rekomendasi penggunaan VUB. Percobaan lapang dilakukan pada Musim Tanam 2013 melalui kerjasama antara Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) sebagai penyedia VUB dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), sebagai pelaksana pengkajian atau uji adaptasi VUB spesifi k lokasi di masing-masing provinsi. Sebanyak 30 VUB Inbrida Padi Sawah Irigasi (Inpari), 6 VUB Inbrida Padi Gogo (Inpago), dan 6 VUB Inbrida Padi Rawa (Inpara) diuji produktivitasnya di beberapa provinsi oleh BPTP sesuai dengan target lokasi pengembangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas berbagai VUB Inpari di berbagai daerah target pengembangan mencapai 6,80 t/ha. Hasil tersebut lebih tinggi dari produktivitas VUB yang dilepas sebelumnya yaitu Ciherang (6,29 t/ ha) sebagai varietas pembanding. Hasil penelitian ini menunjukkan pula bahwa rata-rata produktivitas VUB Inpago mencapai 5,30 t/ha dan VUB Inpara mencapai 4,85 t/ha keduanya lebih tinggi dari rata-rata produktivitas padi gogo dan padi rawa nasional.
- Item25. Pertanian Terintegrasi Menuju Ketahanan Pangan & Energi Dalam Pertanian Bioindustri Berkelanjutan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Mejaya, Made Jana; Wardana, Putu; Kusdiaman, Dede; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPertanian yang berkelanjutan merupakan sistem pertanian menyeluruh yang didalamnya melibatkan tidak hanya faktor petani, produksi atau saprodi pertanian saja, tetapi juga mengintegrasikan sistem politik, ekonomi dan sosial. Sementara pengembangan bioindustri berkelanjutan menerapkan konsep biorefi nery yang terdiri dari beberapa tahapan proses untuk menghasilkan produk, dengan menggunakan residu proses sebagai sumber energi. Tiga program Kementerian Pertanian dalam pengembangan teknologi yang inovatif dan adaptif terhadap pemanasan global meliputi 1) eksplorasi, pemanfaatan dan rekayasa sumber daya genetik untuk merakit varietas unngul baru yang adaptif dan atau tahan, 2) optimalisasi dan efi siensi sumber daya lahan dan air melalui intensifi kasi dan ekstensifi kasi (selektif) berbasis tata kelola lahan dengan menggunakan teknologi pengelolaan lahan dan air, pemupukan dan konservasi; 3) optimalisasi dan efi siensi karbon, biomassa, limbah organik dan zero waste. Pertanian efi sien karbon (CEF) di Indonesia menerapkan strategi diantaranya mengembangkan pilot plan sistem pertanian dan teknologi ramah lingkungan pada skala terbatas (100 ha) dengan konsep CEF yang mempunyai produktivitas padi dan sapi yang tinggi, namun rendah emisi GRK dan ramah lingkungan. Hasil kajian CEF menunjukkan bahwa total emisi CO2e adalah sebesar 2504,5 t/ha/musim. Rata-rata emisi CO2e yang dilepaskan mencapai 28,8 t/ha/musim. Sementara total CO2e yang diserap tanaman padi sebanyak 20,4 t/ha/musim. Berdasarkan data-data tersebut maka emisi CO2e yg dapat diturunkan adalah sebesar 28,8 – 20,4 = 8,2 t/ha/musim. Kajian CEF dari peternakan menunjukkan bahwa kadar NH3 di dalam rumen untuk sapi, dengan pemberian beberapa tepung pakan yang berbeda, memiliki nilai yang setara (5,93- 8,89 mM).
- Item26. Komposisi dan Sebaran Ras Jamur Pyricularia Grisea Pada Padi Sawah Irigasi di Kabupaten Subang, Karawang dan Indramayu(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Sudir; Nasution, Anggiani; Nuryanto, Bambang; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPenyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea merupakan penyakit penting pada tanaman padi di Indonesia terutama pada padi lahan kering. Akhirakhir ini penyakit blas sudah mulai banyak ditemukan di padi sawah irigasi. Penelitian untuk mengetahui komposisi dan sebaran ras jamur Pyricularia grisea penyebab penyakit blas padi sawah irigasi di Kabupaten Karawang, Subang, dan Indramayu Jawa Barat dilakukan pada musim tanam 2013. Kegiatan meliputi tiga tahapan yaitu pengamatan dan pengambilan sampel tanaman sakit dilapangan dengan metode survei, isolasi jamur P. grisea di laboratorium, dan pengujian ras di rumah kaca. Sampel tanaman bergejala sakit blas diambil secara acak di lapangan dan di masukkan ke dalam amplop kertas untuk diisolasi jamur P. grisea di laboratorium. Pengujian ras jamur dilakukan di rumah kaca dengan menginokulasikan jamur P. grisea yang diperoleh pada tujuh varietas diferensial. Hasil pengamatan di lapangan selama musim tanam 2013 menunjukkan penyakit blas leher di wilayah Kabupaten Subang ditemukan hampir merata dengan tingkat keparahan 1,0 sampai 8,0%, di Kabupaten Karawang, tingkat keparahan 2,7 sampai 4,6%, sedangkan di Kabupaten Indramayu, tingkat keparahan 3,1 sampai 10,9%. Hasil pengambilan sampel tanaman sakit blas diperoleh sebanyak 224 sampel tanaman sakit blas leher yang mewakili masing-masing wilayah, terdiri dari 60 isolat dari Kabupaten Subang, 40 isolat dari Kabupaten Karawang, dan 124 isolat dari Kabupaten Indramayu. Hasil isolasi jamur P. grisea diperoleh 224 isolat yang terdiri dari 60 isolat dari Kabupaten Subang, 40 isolat dari Kabupaten Karawang, dan 124 isolat dari Kabupaten Indramayu. Hasil identifi kasi ras dengan varietas diferensial diperoleh 18 kelompok ras. Secara umum, lima ras yang dominan keberadaannya yaitu ras 003 sebesar 19,6%, kemudian disusul dengan ras 053 (14,7%), ras 013 (14,3%), ras 001(12,5%) dan ras 073 sebesar 10,7%. Sebaran ras jamur Pyricularia grisea di Kabupaten Subang, Karawang, dan Indramayu berbeda-beda, di Kabupaten Subang ditemukan ada 16 kelompok ras, yang dominan adalah ras 053. Di Karawang ditemukan 11 kelompok ras, yang dominan adalah ras 003, sedangkan di Indramayu ditemukan 12 kelompok ras, yang dominan adalah ras 003. Hal yang perlu diwaspadai adalah ditemukannya ras yang memiliki virulensi tinggi seperti ras 353 dan ras 313 dengan frekwensi antara 0,4% sampai 5,4 %.
- Item27. Pengaruh Pestisida Nabati Dalam Menekan Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri dan Kehilangan Hasil Pada Tanaman Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Kadir, Triny Suryani; Dewi, Ratna Sari; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiKeberadaan penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi masih menjadi ancaman serius dalam usaha pemenuhan kebutuhan beras nasional. Penggunaan varietas tahan masih belum dapat mengatasi permasalahan hawar daun bakteri, hal ini dikarenakan tidak semua varietas tahan terhadap semua strain bakteri yang ada. Oleh karena itu diperlukan suatu teknologi alternatif pengendalian yang dapat digunakan secara luas. Pestisida nabati diketahui aman bagi lingkungan dan konsumen, sehingga diharapkan dapat mendukung pertanian yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi pengaruh aplikasi pestisida botani, yaitu ekstrak rimpang lengkuas A. galanga dan daun Azadirachta indica terhadap perkembangan penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi di lapangan. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Sukamandi pada MT-1 dan MT-2 Tahun 2012. Ekstrak yang digunakan berupa cairan perasan dari bahan segar dengan konsentrasi bahan dalam volume semprot adalah 10% (w/v). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari aplikasi ekstrak A. galanga, A. indica, bakterisida sintetik dengan bahan aktif tembaga oksida 56% sebagai pembanding, kontrol pelarut (detergen dan alkohol), dan kontrol air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak A. galanga dan A. indica mampu menghambat perkembangan penyakit hawar daun bakteri lebih baik dibandingkan dengan bakterisida sintetik berbahan aktif tembaga oksida 56% dengan hasil panen yang diperoleh tidak berbeda nyata. Ekstrak ini dapat digunakan/menggantikan bakterisida sintetik untuk pengendalian penyakit hawar daun bakteri, sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida sintetik.