Aneka Kacang dan Umbi
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Aneka Kacang dan Umbi by Author "Agus Setyono"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemPenanganan Pascapanen Ubi Jalar(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Agus Setyono; Yetty Setiawati,; SudaryonoUbi jalar (Ipomoea batatas L.) potensial sebagai bahan pangan dan bahan baku industri sehingga penanganan setelah panen perlu mendapat perhatian. Penyimpanan umbi dalam tumpukan jerami lembab cukup baik karena rendahnya tingkat kerusakan, tetapi umbi sebagian besar (90%) bertunas. Ubi jalar segar dapat diolah menjadi berbagai jenis produk olahan, seperti ceriping, keremes, saos, dan selai. Sebagian industri pangan menggunakan ubi jalar sebagai bahan baku saos. Selai campuran ubi jalar dan nenas, bermutu baik apabila pembuatannya dilakukan dengan cara yang tepat. Penggunaan larutan Ca(OH)2 0,5% dalam pembuatan chip ubi jalar menghasilkan chip yang bermutu, yang selanjutnya dapat diolah menjadi tepung. Tepung ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis kue, roti, cake, mi, dan makanan lainnya. Ditinjau dari ragam penggunaannya, ubi jalar mempunyai prospek yang baik dalam kaitannya dengan pengembangan agroindustri di pedesaan.
- ItemPenanganan Pascapanen Ubi Kayu Menunjang Pengembangan Agroindustri di Pedesaan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Agus Setyono; Ridwan Thahir; SoeharmadiPanen raya ubi kayu biasanya jatuh pada bulan Juli-Oktober, menjelang musim tanam padi. Melimpahnya produksi ubi kayu pada bulan-bulan tersebut menyebabkan merosotnya harga sampai Rp15- Rp30/kg ubi. Untuk mengatasi kerugian, petani memerlukan teknologi pascapanen yang memadai. Hasil penelitian menunjukkan, ubi kayu yang disimpan dalam sekam lembab, kesegarannya dapat diperpanjang sampai 3 bulan. Selain itu, ubi kayu segar dapat diolah menjadi tape dan enyek-enyek, atau bahan setengah jadi berupa gaplek, sawut kering, dan tepung kasava, yang selanjutnya dapat diolah menjadi produk makanan seperti cake, roti, cookies, gula sirup, alkohol, asam sitrat, dan asam glutamat. Sistem pengembangan agroindustri ubi kayu di pedesaan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan sistem pembinaan secara individu, kelompok, koperasi, dan sistem plasma inti (Bapak Angkat) -- tergantung kepada kondisi daerah.