Aneka Kacang dan Umbi
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Aneka Kacang dan Umbi by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 140
Results Per Page
Sort Options
- ItemDiagnosis Status Hara Nitrogen Kedelai dan Padi Berdasarkan Warna Daun(PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TANAMAN PANGAN, 1985-12-16) M. ISMUNADJI; I. ZULKARNAINI; S. PARTOHARDJONO; F. YAZAWATanah pertanian di Indonesia umumnya kekurangan nitrogen. Respon tanaman terhadap nitrogen sangat cepat dengan pertumbuhan yang lebih subur dan warna daun yang lebih hijau. Diagnosis status hara nitrogen dari warna daun merupakan cara yang cepat untuk menilai apakah tanaman defisiensi, cukup atau kelebihan nitrogen. Meskipun takaran pupuk nitrogen yang tepat belum dapat ditetapkan dengan cara ini, akan tetapi dari pengalaman perkiraan takaran ini akan mendekati optimal. Metode ini merupakan cara yang praktis, bermanfaat dan dapat digunakan oleh kalangan luas, baik petugas dinas Pertanian, maupun petani. Dengan membandingkan warna daun dengan skala warna dalam brosur ini, takaran pupuk nitrogen dapat diperkirakan banyaknya. Semoga metode ini dapat menunjang pembangunan pertanian, terutama meningkatkan produksi padi dan kedelai.
- ItemKacang Gude(BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN MALANG, 1989-12-16) Suwasik Karsono; SumarnoKacang gude sebenarnya sudah cukup lama dibudidayakan oleh petani di Indonesia, namun tidak secara luas. Penelitian terhadap tanaman kacang gude masih sedikit sekali dilakukan bila dibandingkan dengan penelitian terhadap kacang-kacangan lain. Buku ini berusaha menghimpun hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan yang dilaksanakan oleh Balittan Malang, Bogor, Maros dan Sukamandi. Sebagian dana penelitian tersebut berasal dari ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Cooperation) melalui kerjasama Badan Litbang Pertanian-ACIAR. Semoga dengan diterbitkanya buku ini dapat memberikan tambahan informasi kepada masyarakat pertanian di Indonesia.
- ItemTeknologi Peningkatan Produksi Kedelai di Indonesia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1990-12-16) Ibrahim Manwan; Sumarno; A. Syarifuddin Karama; Achmad M. FagiKedelai, sebagai tanaman palawija tradisional, telah berubah dari tanaman sampingan menjadi tanaman strategis dalam ekonomi nasional. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan komoditas kedelai sebagai bahan pangan, pakan dan industri. Permintaan yang meningkat tersebut terutama didorong oleh meningkatnya industri tahu, tempe, kecap, dan pakan. Bahkan dengan adanya ekspor kecap yang meningkat, kebutuhan bahan mentah kedelai akan terus meningkat di masa depan. Peningkatan produksi dalam negeri belum dapat mengimbangi kebutuhan yang terus bertambah sehingga impor kedelai telah mencapai sekitar 600.000 t/tahun. Laporan ini menghimpun hasil penelitian yang dilakukan oleh enam balai lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Tanaman Pangan yang telah dilakukan selama lima tahun terakhir, untuk menunjang program peningkatan produksi kedelai. Di Indonesia, dalam jangka pendek, usaha peningkatan produksi kedelai guna memenuhi kebutuhan nasional dapat ditempuh melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Peluang untuk perluasan areal ini masih terbuka lebar, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Demikian pula halnya peningkatan produksi melalui intensifikasi. Dalam laporan ini dikemukakan berbagai faktor yang menunjang perluasan areal dan pencapaian produksi kedelai yang tinggi, sekitar 2,0-2,5 t/ha. Dengan mengidentifikasi faktor tersebut, diharapkan keberhasilan serupa akan lebih mudah diulangi pada lokasi/wilayah lain di Indonesia. Berbagai paket teknologi produksi dan informasi sosial ekonomi pada berbagai zone agroekologi utama, disajikan pula dalam laporan ini. Diharapkan informasi ini dapat bermanfaat dalam mendukung usaha peningkatan produksi pada berbagai sentra produksi kedelai dan pengembangannya ke daerah lain yang potensinya masih belum tergali. Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dr. Darman M. Arsyad, Dr. Made Oka Adnyana, Dr. Djoko S. Damardjati, Dr. Titis A. Sarwanto, serta para peneliti Puslitbang Tanaman Pangan lainnya yang telah memberikan sumbangan pemikiran, data, dan informasi sehingga dapat diterbitkannya laporan khusus ini.
- ItemTeknik Budidaya Kedelai di Lahan Sawah Irigasi(BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN SUKAMANDI, 1991-12-19) J. Rachman Hidajat; S. A. S. Wityanara; K. Pirngadi; S. Kartaatmadja; A. M. FagiDalamjangka lima belas tahun, produksi padi di Indonesia telah meningkat pesat, akan tetapi tidak demikian halnya dengan produksi palawija, khususnya produksi kedelai. Produksi kedelai belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Jika upaya peningkatan produksi kedelai tidak berhasil, maka kesenjangan antara produksi dan kebutuhan akan makin melebar dan Indonesia akan selalu tergantung pada kedelai impor. Untuk itu, pemerintah berusaha meningkatkan produksi kedelai baik dengan intensifikasi maupun ekstensifikasi. Sasaran diarahkan pada daerahdaerah produksi maupun daerah-daerah pengembangan seperti lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan dan lahan darat. Buku ini disusun sebagai petunjuk praktis bagi para pengguna, penyuluh, dan petani kedelai di lahan sawah dalam upaya turut menunjang program pemerintah dalam mencapai swasembada kedelai.
- ItemPerbaikan Komponen Teknologi Budidaya Kacang Tanah(BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN MALANG, 1992-12-16) Nasir Saleh; T. Adisarwanto; Achmad WinartoBuku ini merupakan rangkuman hasil penelitian dari Peanut Improvement Project 8834 yang merupakan proyek kerjasama Penelitian antara Badan Litbang Pertanian Republik Indonesia dengan Australian Centre International for Agricultural Research (ACIAR), Australia. Proyek kerjasama berlangsung selama tiga tahun mulai November 1988 hingga November 1991. Kegiatan proyek tersebut dilaksanakan bersama oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) Bogor, Sukamandi, Malang, Sukarami dan Maros, di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) yang berkedudukan di Bogor bersama dengan Department of Primary Industries, Queenslands (QDPI). Beberapa penemuan dan informasi penting telah dihasilkan dari kegiatan penelitian ini yang berkaitan dengan pengelolaan penyakit bakteri, penyakit layu, penyakit virus belang (PStV), penelitian tentang pemupukan, dan pengelolaan lahan masam untuk budidaya kacang tanah. Ucapan terima kasih disampaikan kepada ACIAR, yang telah memberi bantuan dana baik untuk penelitian maupun untuk penerbitan buku ini. Juga kepada para peneliti serta penyunting yang telah menyelesaikan laporan ini disampaikan penghargaan.
- ItemPenyakit Virus Belang Kacang Tanah (peanut Stripe Virus) dan Usaha Pengendaliannya(BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN MALANG, 1992-12-16) Nasir Saleh; Yuliantoro BaliadiKeberhasilan tanaman kacang tanah sangat ditentukan oleh kesehatan tanaman. Penyakit yang sering menjadi kendala produksi, selain bercak daun dan karat daun, adalah penyakit virus belang yang disebabkan oleh Peanut Stripe Virus. Peanut Stripe Virus (PStV) merupakan penyakit yang relatif baru di Indonesia. Pengenalan penyakit ini secara baik merupakan awal untuk pengendalian serangan penyakit ini. Penerbitan buku ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk mengenali gejala, bentuk/tanda serangan dan cara penularan penyakit ini, sehingga pengendaliannya dapat dilaksanakan seawal mungkin. Usaha untuk mendapatkan varietas tahan terhadap PStV telah dilaksanakan secara ekstensif, namun dari sekitar 10.000 plasma nutfah kacang tanah yang diteliti tidak diperoleh satu pun yang bersifat tahan. Untuk sementara pengendalian secara kultur teknis tampaknya masih merupakan alternatif terbaik. Dalam buku ini dibahas berbagai aspek yang berkaitan dengan pengendalian virus belang. Kepada para peneliti yang secara aktif menangani penelitian virus belang sehingga diperoleh informasi dalam bentuk publikasi buku ini, disampaikan penghargaan. Juga kepada penyunting disampaikan terima kasih. Semoga informasi dalam buku ini bermanfaat untuk peningkatan produksi kacang tanah di Indonesia.
- ItemTelaah Hasil Penelitian Ubi-ubian untuk Mendukung Peningkatan Produksi dan Pengembangan Agroindustri(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Ahmad Dimyati; Koes Hartojo; M. Djazuli; A. Husni Malian¹Dengan pengembangan agroindustri diharapkan akan tercipta nilai tamтbah yang terdistribusi secara adil kepada para pelakunya, terutama para petani yang selama ini hanya memperoleh bagian sedikit. Untuk keperluan pemahaman masalah, sistem komoditas ubi-ubian dipilah menjadi tiga subsistem yaitu subsistem produksi, pengolahan, dan konsumsi, sedangkan tataniaga dianggap berada di dalam dan di antara ketiga subsistem itu. Makalah ini menguraikan karakteristik subsistem yang ideal untuk pengembangan agroindustri yang andal, serta gambarkan dan analisis keragaan setiap subsistem yang ada dewasa ini berdasarkan telaahan atas laporan hasil penelitian selama lima tahun terakhir. Secara teknis agronomis, subsistem produksi yang mampu menghasilkan marketable surplus dengan kualitas yang baik secara kontinyu sepanjang tahun sebenarnya dimungkinkan, tetapi diperlukan insentif yang memadai bagi para petani produsen dalam bentuk kepastian harga yang menguntungkan. Teknik pengolahan yang diperlukan juga sudah tersedia tetapi memerlukan pengaturan yang transparan tentang penggunaan bahan asal ubi-ubian agar dengan permintaan aktual, mатри memberikan keuntungan yang menggairahkan bagi petani. Pengaturan yang paling diperlukan adalah agar subsistem tataniaga berjalan efisien dan adil sehingga menguntungkan produsen, menyajikan harga yang layak bagi konsumen, sambil tetap memelihara kelangsungan subsistem tataniaga sendiri. Margin yang ada sudah memungkinkan tetapi dibutuhkan political will yang kuat dan pengawasan yang efektif dari pemerintah. Peraturan dan kebijakan itu hendaknya memperhitungkan secara cermat karakteristik para pelaku dalam setiap subsistem. Secara sederhana, pengaturan itu harus mampu mendorong partisipasi petani produsen dalam proses pengolahan dan mendorong tanggung-jawab yang jujur dari pengolah dan pedagang terhadap keberlanjutan subsistem produksi yang merupakan prasyarat bagi kelangsungan sistem agroindustri secara keseluruhan. Investasi, baik oleh pemerintah maupun swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana serta dalam pembinaan sumber daya manusia, merupakan prasyarat yang juga esensial. Tetapi, tanpa pengaturan dan pengawasan, semuanya akan sia-sia.
- ItemTeknologi Peningkatan Produksi Kacang-kacangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Sumarno; D. Pasaribu; HarnotoProduksi kacang-kacangan nasional belum dapat mencukupi kebutuhan, karena luas panen aktual masih belum memadai dan produktivitas masih rendah. Untuk mencukupi kebutuhan komoditas kacang-kacangan secara nasional, maka luas panen kedelai aktual harus mencapai 3 juta ha, kacang tanah 0,9 juta ha, dan kacang hijau 0,8 juta ha/tahun. Usaha perluasan areal perlu dilakukan, terutama di luar Jawa pada lahan sawah musim kemarau, lahan bukaan baru, dan pada lahan usaha kehutanan dan perkebunan yang tanaman pokoknya masih muda. Teknologi untuk peningkatan produksi kacang-kacangan nasional secara umum telah tersedia, terutama ditekankan pada penyiapan lahan agar pertumbuhan optimal, penggunaan benih varietas unggul bermutu tinggi, penyiangan tanaman agar bebas gulma sejak tumbuh hingga berbunga, dan pengendalian hama/ penyakit berdasarkan ambang kerusakan. Peningkatan hasil dengan peningkatan produktivitas terutama ditujukan agar kacang-kacangan kompetitif terhadap komoditas lain. Dengan penerapan teknologi budi daya maju, produktivitas kedelai dapat mencapai 2,0 t/ha, kacang tanah 2,5 t/ha (polong kering) dan kacang hijau 1,6 t/ha. Peningkatan produksi kacang-kacangan nasional diharapkan akan dapat menambah ketersediaannya di pasaran untuk mendorong laju peningkatan diversifikasi pangan dan gizi masyarakat. Kacang hijau теmiliki peluang yang besar untuk dikembangkan sebagai upaya peningkatan gizi masyarakat karena produksinya mudah ditingkatkan dan dapat diolah menjadi beragam produk yang bergizi. Dalam PJP II, selama konsumsi protein hewani belum terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, protein asal kacang-kacangan dapat dijadikan andalan dalam program perbaikan gizi masyarakat.
- ItemAgroindustri Tepung Ubi Kayu di Pedesaan Sumatra Barat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Darsono Sastrodipuro; Marzempi; Yulmar JastraUbi kayu mempunyai adaptasi yang sangat luas dan mudah dibudidayakan. Komoditas ini dapat digunakan sebagai pangan, pakan, dan bahan baku industri. Namun demikian, harga ubi kayu berfluktuasi karena mudah rusak dan tidak dapat disimpan lama. Untuk meningkatkan nilai tambahnya, ubi kayu dapat diproses jadi tepung. Di Sumatra Barat telah berkembang agroindustri tepung ubi kayu. Hal ini tercermin dari berkembangnya penggunaan alat dan mesin pengolah ubi kayu di tingkat pengusaha kecil. Tepung yang dihasilkan umumnyа bermutu relatif rendah karena diproses dari gaplek gelondong. Hasil penelitian menunjukkan, mutu tepung yang dihasilkan dari sawut lebih baik dibandingkan dengan yang diproduksi dari gaplek. Nilai tambah yang diberikan oleh setiap 10 ton ubi kayu setelah diolah jadi tepung lebih dari Rp600.000.
- ItemTeknologi Produksi dan Pascapanen Ubi Kayu dan Ubi Jalar: Hasil Penelitian di Beberapa Sentra Produksi di Jawa Timur(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Bambang Guritno; Nur Basuki; Yudi Widodo; SumarnoPenerapan teknologi usahatani berperan penting dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Untuk menghasilkan teknologi produksi dan pascapanen ubi kayu dan ubi jalar, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang melakukan penelitian di beberapa sentra produksi di Jawa Timur (Malang Selatan, Kediri, Tulungagung, Blitar, Magetan, dan Karanganyar). Tanpa pupuk, hasil ubi kayu hanya 3,2 t/ha. Dengan pemupukan 100 kg urea + 50 kg TSP + 50 kg KCl/ha hasil meningkat lima kali lipat. Apabila pupuk kandang (3 t/ha) turut diberikan, peningkatan hasil ubi kayu mencapai lebih dari tujuh kali lipat. Hasil ubi kayu dalam pola tanam ubi kayu + jagung/kacang-kacangan berkisar antara 21-28 t/ha. Klon ubi kayu UB 457-3, UB 12-8, dan CM 4049-2 mampu berproduksi di atas 30 t/ha, sementara varietas lokal Mentik hanya menghasilkan 22,7 t/ha. Dalam penelitian di lahan petani, hasil ubi kayu dengan menerapkan teknologi introduksi berkisar antara 26-34 t/ha. Peningkatan umur panen ubi kayu dari 8 menjadi 10 bulan meningkatkan kadar pati. Selain enak, klon ubi jalar Ciceh 16 mampu berproduksi 40 t/ha. Pemupukan 100 kg urea dan 100 kg KCl/ha meningkatkan hasil klon ubi jalar introduksi antara 29-56% dibanding tanpa pupuk. Pupuk diberikan dua kali, 30% pada saat tanam dan sisanya dua bulan setelah tanam. Penggunaan natrium bisulfit dengan takaran di atas 1000 ppm dapat meningkatkan warna tepung ubi jalar menjadi lebih putih.
- ItemTeknik Budi Daya Ubi Kayu dalam Menunjang Sistem Usahatani Terlanjutkan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) J. Wargiono; E. Tuherkih; N. HeryaniSelain untuk bahan pangan, ubi kayu banyak digunakan sebagai bahan baku industri sehingga upaya peningkatan produksinya perlu dikaitkan dengan agroindustri. Di sebagian daerah, pemilikan lahan yang relatif sempit serta keterbatasan tenaga kerja dan modal menyebabkan petani mengusahakan ubi kayu secara tumpangsari dengan padi gogo, jagung, dan kacang-kacangan. Hasil penelitian dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa rata-rata hasil ubi kayu dalam pola tumpangsari adalah 25 ton ubi basah. Terdapat korelasi negatif antara hasil ubi kayu dan tanaman sela. Oleh sebab itu, pola tumpangsari lebih menguntungkan daripada pola monokultur karena penurunan hasil ubi kayu dapat disubstitusi oleh tanaman sela. Erosi sebagai faktor penyebab degradasi lahan dapat ditekan melalui perbaikan kultur teknis. Sistem tumpangsari dapat menekan erosi sekitar 15% dibandingkan dengan monokultur. Selain berperan penting dalam memperbaiki pertumbuhan tanaman, pemupukan NPK dapat menekan erosi sebesar 23% dibandingkan dengan tanpa pemupukan. Efisiensi pemupukan tertinggi diperoleh pada kombinasi pemupukan 90-120 kg N + 50-90 kg P2Os + 90-120 kg K2O/ha, baik untuk ubi kayu maupun tanaman sela. Waktu tanam ubi kayu berpengaruh terhadap hasil dan berkorelasi positif dengan curah hujan selama 3 bulan pertama serta berkorelasi negatif dengan curah hujan selama 2 bulan terakhir menjelang panen. Pengembalian bahan organik sisa panen tanaman sela ke dalam tanah dapat memperbaiki kondisi tanah sehingga meningkatkan produktivitas lahan.
- ItemSistem Pengembangan Agroindustri Tepung Kasava di Pedesaan: Studi Kasus di Kabupaten Ponorogo(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) D.S.Damardjati; S.Widowati; SuismonoPengembangan teknologi pengolahan tepung kasava (ubi kayu) di pedesaan berperan penting dalam mendukung program diversifikasi pangan, menambah peluang kerja, dan meningkaikan nilai tambah ubi kayu bagi petani. Kegiatan penelitian telah menghasilkan paket peralatan dan teknologi produksi sawut dan tepung kasava. Teknologi agroindustri ini telah dikembangkan di Ponorogo dalam tiga model, yang didasarkan kepada kemampuan yang ada dan pemerataan nilai tambah. Model I dikembangkan kepada petani plasma dan Model II kepada kelompok tani. Model III adalah inti dalam agroindustri ubi kayu, yang dapat berupa KUD, pengolah hasil, dan pabrik tepung kasava. Model inti berperan dalam menampung sawut kering dari petani/kelompok tani plasma, serta memproduksi dan memasarkan tepung. Hasil studi menunjukkan bahwa sebagian besar petani telah menguasai teknis produksi sawut. Pengembangan agroindustri tepung kasava di pedesaan diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah ubi kayu. Keberhasilan pengembangan agroindustri tepung kasava antara lain ditentukan oleh partisipasi petani/KUD/intiplasma serta dukungan kebijakan dan faktor eksternal seperti penyuluhan dan pasar yang kondusif.
- ItemPenanganan Pascapanen Ubi Kayu Menunjang Pengembangan Agroindustri di Pedesaan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Agus Setyono; Ridwan Thahir; SoeharmadiPanen raya ubi kayu biasanya jatuh pada bulan Juli-Oktober, menjelang musim tanam padi. Melimpahnya produksi ubi kayu pada bulan-bulan tersebut menyebabkan merosotnya harga sampai Rp15- Rp30/kg ubi. Untuk mengatasi kerugian, petani memerlukan teknologi pascapanen yang memadai. Hasil penelitian menunjukkan, ubi kayu yang disimpan dalam sekam lembab, kesegarannya dapat diperpanjang sampai 3 bulan. Selain itu, ubi kayu segar dapat diolah menjadi tape dan enyek-enyek, atau bahan setengah jadi berupa gaplek, sawut kering, dan tepung kasava, yang selanjutnya dapat diolah menjadi produk makanan seperti cake, roti, cookies, gula sirup, alkohol, asam sitrat, dan asam glutamat. Sistem pengembangan agroindustri ubi kayu di pedesaan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan sistem pembinaan secara individu, kelompok, koperasi, dan sistem plasma inti (Bapak Angkat) -- tergantung kepada kondisi daerah.
- ItemPemanfaatan Tepung Ubi Kayu sebagai Substitusi Terigu dalam Pembuatan Makanan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Marzempi; Darsono Sastrodipuro; AzmanImpor terigu di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan impor terigu adalah mengembangkan penggunaan tepung ubi kayu dalam pembuatan makanan yang selama ini menggunakan tepung terigu sebagai bahan bakunya. Substitusi terigu umumnya dilakukan dalam bentuk tepung komposit, yaitu campuran tepung terigu dengan tepung ubi kayu. Pada tingkat subsitusi 10-15%, penggunaan tepung komposit masıh dimungkinkan dalam menghasilkan roti, kue, dan mi tanpa mempengaruhi mutunya. Penggunaan tepung ubi kayu sebagai bahan substitusi tepung terigu dalam pembuatan makanan menurunkan kandungan protein produk yang dihasilkan. Peningkatan kandungan protein makanan tersebut dapat dilakukan dengan fortifikasi tepung kedelai, jagung, kacang hijau, atau tepung tempe sampai 20% dari berat tepung.
- ItemPotensi Pupuk N Hayati Azospirillum dalam Peningkatan Produktivitas Ubi Jalar pada Lahan Suboptimal(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Muhamad Djazuli; Zulhaida; Murtado; Lukman GunartoTeknologi budi daya dengan masukan rendah, seperti penggunaan varietas/ klon yang toleran terhadap kondisi lahan suboptimal dan pemberian pupuk N hayati Azospirillum yang dapat memfiksasi N dari udara, relatif mudah diadopsi petani yang kurang mampu. Penggunaan pupuk N hayati dapat mengurangi pemakaian pupuk N anorganik yang bersifat tidak dapat diperbarui (unrenewable) dan merupakan sumber pencemaran nitrat pada sumber air bersih dan air irigasi. Pupuk N hayati Azospirillum dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas lahan. Tanggap klon ubi jalar terhadap pemupukan N hayati Azospirillum sangat beragam dan dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh/agroekologi. Inokulasi Azospirillum mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas umbi beberapa klon ubi jalar. Tanggap klon terhadap inokulasi Azospirillum di Bogor lebih baik daripada di Kuningan. Pada umumnya, efektivitas Azospirilluт lebih baik pada tanah yang miskin N. Selain mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk N anorganik, pemupukan N hayati juga dapat meningkatkan total serapan hara N oleh tanaman ubi jalar dan protein umbi. Beberapa strain Azospirillum sp. sangat efektif meningkatkan produktivitas ubi jalar pada lahan suboptimal, terutama pada lahan yang berkadar N rendah. Inokulasi campuran dua isolat Azospirillum, tampak lebih besar pengaruhnya terhadap peningkatan produktivitas ubi jalar dibandingkan dengan inokulasi isolat tunggal.
- ItemPengendalian Hama Lanas pada Ubi Jalar(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Waluyo; Imam PrasadjaLanas Cylas formicarius Fabr. merupakan hama penting pada ubi jalar. Di antara 16 jenis tanaman inangnya, ubi jalar paling disukai oleh hama ini. Serangan lanas dapat terjadi pada semua bagian tanaman ubijalar, namun yang paling merugikan adalah bila serangan terjadi pada umbi, yang menyebabkan gejala burik dan umbi menjadi pahit. Untuk mengendalikan hama ini telah dilakukan berbagai penelitian, antara lain penentuan saat panen, pembumbunan, pemanfaatan musuh alami, penggunaan feromon seks sintetis, penggunana klon tahan, serta penggunaan suspensi Bauveria bassiana, Metarhizium sp., dan Aspergillus sp., dan insektisida. Penundaan saat panen dari umur 3,5 bulan sampai 6 bulan terbukti meningkatkan serangan lanas. Letak umbi yang jauh di bawah permukaan tanah dan kandungan beta-karoten yang tinggi pada umbi berpengaruh negatif terhadap serangan hama ini. Oleh karena itu, perakitan klon diarahkan untuk mendapatkan klon tahan yang umbinya dalam dan mengandung beta-karoten tinggi. Dibandingkan dengan suspensi B. bassiana dan Aspergillus sp., inokulasi dengan Metarhizium sp. paling efektif membunuh kumbang. Penggunaan insektisida kurang menarik, mengingat nilai ekonomi ubi jalar yang relatif lebih rendah dari komoditas lain seperti padi, jagung, dan kedelai.
- ItemPenanganan Pascapanen Ubi Jalar(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Agus Setyono; Yetty Setiawati,; SudaryonoUbi jalar (Ipomoea batatas L.) potensial sebagai bahan pangan dan bahan baku industri sehingga penanganan setelah panen perlu mendapat perhatian. Penyimpanan umbi dalam tumpukan jerami lembab cukup baik karena rendahnya tingkat kerusakan, tetapi umbi sebagian besar (90%) bertunas. Ubi jalar segar dapat diolah menjadi berbagai jenis produk olahan, seperti ceriping, keremes, saos, dan selai. Sebagian industri pangan menggunakan ubi jalar sebagai bahan baku saos. Selai campuran ubi jalar dan nenas, bermutu baik apabila pembuatannya dilakukan dengan cara yang tepat. Penggunaan larutan Ca(OH)2 0,5% dalam pembuatan chip ubi jalar menghasilkan chip yang bermutu, yang selanjutnya dapat diolah menjadi tepung. Tepung ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis kue, roti, cake, mi, dan makanan lainnya. Ditinjau dari ragam penggunaannya, ubi jalar mempunyai prospek yang baik dalam kaitannya dengan pengembangan agroindustri di pedesaan.
- ItemTeknologi Produksi dan Agroindustri Ubi Jalar(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Yudi Widodo; S.S. AntarlinaPengembangan agroindustri diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Ubi jalar yang merupakan sumber karbohidrat dan vitamin memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku agroindustri. Untuk itu telah dihasilkan teknologi produksi yang mampu memberikan hasil hingga empat kali produktivitas nasional ubi jalar. Pengolahan komoditas ini menjadi produk antara (intermediate product), seperti tepung dan pati, diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dan mendukung pengembangan agroindustri ubi jalar.
- ItemBudidaya dan Manfaat Koro Benguk(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran, 1997) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran; Balai Pengkajian Teknologi Pertanian UngaranKoro benguk (Mucuna prurirens) di lahan kering sudah dikenal dan ditanam sebagai tanaman pagar atau tanaman sela, untuk diambil bijinya sebagai bahan pangan. Namun demikian ternyata koro benguk juga merupakan bahan pakan alternatif karena mengandung gizi (protein) yang sangat tinggi serta bermanfaat sebagai tanaman penyubur dan penutup tanah.
- ItemKedelai Sumber Pertumbuhan Produksi dan Teknik Budi Daya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1998) Arsyad, Darman M.; Syam, Mahyuddin