Aneka Kacang dan Umbi
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 140
- ItemTelaah Hasil Penelitian Ubi-ubian untuk Mendukung Peningkatan Produksi dan Pengembangan Agroindustri(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Ahmad Dimyati; Koes Hartojo; M. Djazuli; A. Husni Malian¹Dengan pengembangan agroindustri diharapkan akan tercipta nilai tamтbah yang terdistribusi secara adil kepada para pelakunya, terutama para petani yang selama ini hanya memperoleh bagian sedikit. Untuk keperluan pemahaman masalah, sistem komoditas ubi-ubian dipilah menjadi tiga subsistem yaitu subsistem produksi, pengolahan, dan konsumsi, sedangkan tataniaga dianggap berada di dalam dan di antara ketiga subsistem itu. Makalah ini menguraikan karakteristik subsistem yang ideal untuk pengembangan agroindustri yang andal, serta gambarkan dan analisis keragaan setiap subsistem yang ada dewasa ini berdasarkan telaahan atas laporan hasil penelitian selama lima tahun terakhir. Secara teknis agronomis, subsistem produksi yang mampu menghasilkan marketable surplus dengan kualitas yang baik secara kontinyu sepanjang tahun sebenarnya dimungkinkan, tetapi diperlukan insentif yang memadai bagi para petani produsen dalam bentuk kepastian harga yang menguntungkan. Teknik pengolahan yang diperlukan juga sudah tersedia tetapi memerlukan pengaturan yang transparan tentang penggunaan bahan asal ubi-ubian agar dengan permintaan aktual, mатри memberikan keuntungan yang menggairahkan bagi petani. Pengaturan yang paling diperlukan adalah agar subsistem tataniaga berjalan efisien dan adil sehingga menguntungkan produsen, menyajikan harga yang layak bagi konsumen, sambil tetap memelihara kelangsungan subsistem tataniaga sendiri. Margin yang ada sudah memungkinkan tetapi dibutuhkan political will yang kuat dan pengawasan yang efektif dari pemerintah. Peraturan dan kebijakan itu hendaknya memperhitungkan secara cermat karakteristik para pelaku dalam setiap subsistem. Secara sederhana, pengaturan itu harus mampu mendorong partisipasi petani produsen dalam proses pengolahan dan mendorong tanggung-jawab yang jujur dari pengolah dan pedagang terhadap keberlanjutan subsistem produksi yang merupakan prasyarat bagi kelangsungan sistem agroindustri secara keseluruhan. Investasi, baik oleh pemerintah maupun swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana serta dalam pembinaan sumber daya manusia, merupakan prasyarat yang juga esensial. Tetapi, tanpa pengaturan dan pengawasan, semuanya akan sia-sia.
- ItemTeknologi Peningkatan Produksi Kacang-kacangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Sumarno; D. Pasaribu; HarnotoProduksi kacang-kacangan nasional belum dapat mencukupi kebutuhan, karena luas panen aktual masih belum memadai dan produktivitas masih rendah. Untuk mencukupi kebutuhan komoditas kacang-kacangan secara nasional, maka luas panen kedelai aktual harus mencapai 3 juta ha, kacang tanah 0,9 juta ha, dan kacang hijau 0,8 juta ha/tahun. Usaha perluasan areal perlu dilakukan, terutama di luar Jawa pada lahan sawah musim kemarau, lahan bukaan baru, dan pada lahan usaha kehutanan dan perkebunan yang tanaman pokoknya masih muda. Teknologi untuk peningkatan produksi kacang-kacangan nasional secara umum telah tersedia, terutama ditekankan pada penyiapan lahan agar pertumbuhan optimal, penggunaan benih varietas unggul bermutu tinggi, penyiangan tanaman agar bebas gulma sejak tumbuh hingga berbunga, dan pengendalian hama/ penyakit berdasarkan ambang kerusakan. Peningkatan hasil dengan peningkatan produktivitas terutama ditujukan agar kacang-kacangan kompetitif terhadap komoditas lain. Dengan penerapan teknologi budi daya maju, produktivitas kedelai dapat mencapai 2,0 t/ha, kacang tanah 2,5 t/ha (polong kering) dan kacang hijau 1,6 t/ha. Peningkatan produksi kacang-kacangan nasional diharapkan akan dapat menambah ketersediaannya di pasaran untuk mendorong laju peningkatan diversifikasi pangan dan gizi masyarakat. Kacang hijau теmiliki peluang yang besar untuk dikembangkan sebagai upaya peningkatan gizi masyarakat karena produksinya mudah ditingkatkan dan dapat diolah menjadi beragam produk yang bergizi. Dalam PJP II, selama konsumsi protein hewani belum terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, protein asal kacang-kacangan dapat dijadikan andalan dalam program perbaikan gizi masyarakat.
- ItemTeknologi Produksi dan Agroindustri Ubi Jalar(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Yudi Widodo; S.S. AntarlinaPengembangan agroindustri diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Ubi jalar yang merupakan sumber karbohidrat dan vitamin memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku agroindustri. Untuk itu telah dihasilkan teknologi produksi yang mampu memberikan hasil hingga empat kali produktivitas nasional ubi jalar. Pengolahan komoditas ini menjadi produk antara (intermediate product), seperti tepung dan pati, diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dan mendukung pengembangan agroindustri ubi jalar.
- ItemPenanganan Pascapanen Ubi Jalar(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Agus Setyono; Yetty Setiawati,; SudaryonoUbi jalar (Ipomoea batatas L.) potensial sebagai bahan pangan dan bahan baku industri sehingga penanganan setelah panen perlu mendapat perhatian. Penyimpanan umbi dalam tumpukan jerami lembab cukup baik karena rendahnya tingkat kerusakan, tetapi umbi sebagian besar (90%) bertunas. Ubi jalar segar dapat diolah menjadi berbagai jenis produk olahan, seperti ceriping, keremes, saos, dan selai. Sebagian industri pangan menggunakan ubi jalar sebagai bahan baku saos. Selai campuran ubi jalar dan nenas, bermutu baik apabila pembuatannya dilakukan dengan cara yang tepat. Penggunaan larutan Ca(OH)2 0,5% dalam pembuatan chip ubi jalar menghasilkan chip yang bermutu, yang selanjutnya dapat diolah menjadi tepung. Tepung ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis kue, roti, cake, mi, dan makanan lainnya. Ditinjau dari ragam penggunaannya, ubi jalar mempunyai prospek yang baik dalam kaitannya dengan pengembangan agroindustri di pedesaan.
- ItemPengendalian Hama Lanas pada Ubi Jalar(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Waluyo; Imam PrasadjaLanas Cylas formicarius Fabr. merupakan hama penting pada ubi jalar. Di antara 16 jenis tanaman inangnya, ubi jalar paling disukai oleh hama ini. Serangan lanas dapat terjadi pada semua bagian tanaman ubijalar, namun yang paling merugikan adalah bila serangan terjadi pada umbi, yang menyebabkan gejala burik dan umbi menjadi pahit. Untuk mengendalikan hama ini telah dilakukan berbagai penelitian, antara lain penentuan saat panen, pembumbunan, pemanfaatan musuh alami, penggunaan feromon seks sintetis, penggunana klon tahan, serta penggunaan suspensi Bauveria bassiana, Metarhizium sp., dan Aspergillus sp., dan insektisida. Penundaan saat panen dari umur 3,5 bulan sampai 6 bulan terbukti meningkatkan serangan lanas. Letak umbi yang jauh di bawah permukaan tanah dan kandungan beta-karoten yang tinggi pada umbi berpengaruh negatif terhadap serangan hama ini. Oleh karena itu, perakitan klon diarahkan untuk mendapatkan klon tahan yang umbinya dalam dan mengandung beta-karoten tinggi. Dibandingkan dengan suspensi B. bassiana dan Aspergillus sp., inokulasi dengan Metarhizium sp. paling efektif membunuh kumbang. Penggunaan insektisida kurang menarik, mengingat nilai ekonomi ubi jalar yang relatif lebih rendah dari komoditas lain seperti padi, jagung, dan kedelai.