Aneka Kacang dan Umbi
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 143
- ItemStabilitas dan Hasil Beberapa Galur Harapan Kedelai(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Ayda Krisnawati; M. Muchlish AdieDi Indonesia kedelai dibudidayakan pada lingkungan yang beragam sehingga diperlukan varietas berdaya hasil optimal pada berbagai lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk menilai stabilitas 10 galur harapan kedelai di 12 lokasi. Bahan penelitian terdiri atas 10 galur harapan kedelai yaitu SHRW60/100H-21-16- 33-9, SHRW60/100-36-47-45-16, SHRW60/100-37-4-46-17.. SHRW60/100-37-4-47-18, SHRW60/100-39-5-48-19, SHRW60/ 100H-154-131-36-78-1, SHRW60/100H-136-42-160-33, SHRW60/ 100H-154-131-36-78-2, A/W-C-6-60, dan A/W-C-6-62 serta dua varietas pembanding berukuran biji besar (Burangrang dan Anjasmoro). Penelitian dilaksanakan pada MT 2008 di 12 lokasi. Rancangan percobaan yang digunakan di setiap lokasi penelitian adalah acak kelompok, 12 perlakuan, dan setiap perlakuan diulang empat kali. Setiap galur ditanam pada petak berukuran 2,8 m x 4,5 m, jarak tanam 40 cm x 15 cm, dua tanaman per rumpun. Stabilitas dan adaptabilitas galur-galur yang diuji dihitung menurut metode analisis AMMI. Kisaran hasil 12 galur adalah 1,94-2,39 tha, dengan rata-rata 2,11 t/ha. Varietas pembanding Burangrang memiliki daya hasil (2,22 t/ha) lebih tinggi daripada Anjasmoro (2,17 t/ha). Hasil tertinggi dimiliki oleh galur Aochi/W.C.6.62, yaitu 2,39 t/ha. Hasil analisis gabung memperlihatkan bahwa lokasi dan galur, serta interaksinya sangat nyata untuk hasil biji. Artinya, galur tertentu akan tumbuh baik pada lingkungan tertentu, tetapi belum tentu baik bila ditanam pada lingkungan yang lain. Penggunaan model AMMI (Additive Main Effects and Multiplicative Interaction) untuk analisis data hasil kedelai menunjukkan bahwa galur Shr.W.60/IAC.100-39- 5-48-19 teridentifikasi stabil (beradaptasi luas), sedangkan sebelas galur lainnya tidak stabil (beradaptasi spesifik lokasi). Galur Shr.W.60/IAC.100-39-5-48-19 memiliki hasil lebih tinggi daripada varietas pembanding Anjasmoro, dan hampir sama dengan varietas Burangrang. Galur Aochi/W.C.6.62 yang berdaya hasil paling tinggi dan beradaptasi spesifik lokasi. Galur Shr.W.60/IAC.100-39-5-48- 19 dapat diusulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul berdaya hasil tinggi.
- ItemToleransi Genotipe Kacang Tanah terhadap Lahan Masam(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Trustinah; A. Kasno; A. WijanarkoPenyebaran lahan kering masam di Indonesia cukup luas yang umumnya berkadar hara rendah. Keracunan aluminium (Al) merupakan penyebab buruknya pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe kacang tanah yang toleran kemasaman tanah. Penelitian di laboratorium pemuliaan Balitkabi dilakukan pada tahun 2006 dalam dua tahap. Tahap pertama menentukan konsentrasi Al yang sesuai untuk penyaringan bahan genetik (0 ppm Al, pH netral, berikutnya konsentrasi Al 30, 40, 50, 60, dan 70 ppm masing-masing pada pH 4,0). Tahap kedua ditujukan untuk menilai toleransi genotipe kacang tanah terhadap cekaman Al. Sebanyak 225 genotipe kacang tanah dievaluasi pada tiga lingkungan: L1 (0 ppmAI, pH netral), L2 (0 ppm Al, pH 4), L3 (60 ppm Al, pH 4), dan dilakukan pewarnaan akar dengan menggunakan hematoxilin. Sebanyak 50 genotipe hasil penelitian di laboratorium diuji pada lahan masam di lapang. Penelitian lapang dilakukan pada MK 2007 di lahan masam Jasinga (Bogor) dengan kandungan Al tinggi di dua lingkungan, E1 (lingkungan masam) dan E2 (lingkungan masam dengan penambahan kapur). Rancangan percobaan acak kelompok dengan dua ulangan. Perlakuan adalah 50 genotipe hasil pengujian di laboratorium. Indeks toleransi cekaman (ITC) atau Stress tolerance index (STI) digunakan sebagai tolok ukur penilaian toleransi suatu genotipe. Genotipe kacang tanah yang diuji menunjukkan keragaman dan perbedaan toleransi terhadap cekaman aluminium pada stadia perkecambahan. Pemberian larutan Al 60-70 ppm menurunkan panjang akar dan bobot kering akar perkecambahan kacang tanah. Dari 225 genotipe yang dievaluasi pada pH4 dan Al 60 ppm tidak terdapat genotipe yang akarnya benar-benar bebas dari penetrasi aluminium dengan skor pewarnaan berkisar antara 3,05-4,45. Dengan menggunakan indeks toleransi cekaman untuk panjang akar dan bobot akar, terpilih 50 genotipe kacang tanah yang toleran cekaman Al pada stadia kecambah. Sebanyak 50 genotipe yang diuji menunjukkan keragaman pada hasil dan terdapat interaksi antara genotipe dengan lingkungan. Hasil polong pada lingkungan E1 (masam, pH tanah 4,4, dan kejenuhan Al 91,5%) dan E2 (pemberian dolomit 2 t/ha, pH tanah 5,4, kejenuhan Al 61,1%) masing-masing adalah 1,27 dan 1,44 t/ha. Terdapat dua genotipe yang konsisten memiliki nilai indeks toleransi cekaman dan hasil tertinggi pada lingkungan masam (E1 dan E2), yaitu MLGA 0297 dan MLGA 0112 dengan hasil 2,11-2,21 t/ha.
- ItemManajemen penelitian dan pengembangan pertanian(IAARD PRESS, 2016) Sumarno; Didik HarnowoBuku ini ditulis untuk pegangan Kepala UKP, agar Kepala UKP mampu berfungsi sebagai “Kapten UKP” yang bekerja secara efektif bersama staf peneliti dan penyuluh dalam rangka mencapai tujuan yang tercantum dalam tugas-fungsi dan Misi UKP. Dalam buku ini diuraikan tugas Kepala UKP yang diharapkan berperan aktif dalam memberikan contoh dalam hal bekerja, baik pembimbingan, motivasi, dorongan, dan sekaligus supervisi dan pengawasan kepada seluruh staf peneliti dan penyuluh (Hing ngarso sung tulodo, hing madyo mbangun karso, tut wuri handayani). Dalam buku ini, contoh kasus menggunakan obyek penelitian tanaman pangan, akan tetapi dapat berlaku juga untuk tanaman hortikultura, biofarmaka, perkebunan, dan peternakan, dengan penyesuaian seperlunya. Dalam kondisi Kepala UKP belum mempunyai Buku Pegangan “Manajemen
- ItemTelaah Hasil Penelitian Ubi-ubian untuk Mendukung Peningkatan Produksi dan Pengembangan Agroindustri(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Ahmad Dimyati; Koes Hartojo; M. Djazuli; A. Husni Malian¹Dengan pengembangan agroindustri diharapkan akan tercipta nilai tamтbah yang terdistribusi secara adil kepada para pelakunya, terutama para petani yang selama ini hanya memperoleh bagian sedikit. Untuk keperluan pemahaman masalah, sistem komoditas ubi-ubian dipilah menjadi tiga subsistem yaitu subsistem produksi, pengolahan, dan konsumsi, sedangkan tataniaga dianggap berada di dalam dan di antara ketiga subsistem itu. Makalah ini menguraikan karakteristik subsistem yang ideal untuk pengembangan agroindustri yang andal, serta gambarkan dan analisis keragaan setiap subsistem yang ada dewasa ini berdasarkan telaahan atas laporan hasil penelitian selama lima tahun terakhir. Secara teknis agronomis, subsistem produksi yang mampu menghasilkan marketable surplus dengan kualitas yang baik secara kontinyu sepanjang tahun sebenarnya dimungkinkan, tetapi diperlukan insentif yang memadai bagi para petani produsen dalam bentuk kepastian harga yang menguntungkan. Teknik pengolahan yang diperlukan juga sudah tersedia tetapi memerlukan pengaturan yang transparan tentang penggunaan bahan asal ubi-ubian agar dengan permintaan aktual, mатри memberikan keuntungan yang menggairahkan bagi petani. Pengaturan yang paling diperlukan adalah agar subsistem tataniaga berjalan efisien dan adil sehingga menguntungkan produsen, menyajikan harga yang layak bagi konsumen, sambil tetap memelihara kelangsungan subsistem tataniaga sendiri. Margin yang ada sudah memungkinkan tetapi dibutuhkan political will yang kuat dan pengawasan yang efektif dari pemerintah. Peraturan dan kebijakan itu hendaknya memperhitungkan secara cermat karakteristik para pelaku dalam setiap subsistem. Secara sederhana, pengaturan itu harus mampu mendorong partisipasi petani produsen dalam proses pengolahan dan mendorong tanggung-jawab yang jujur dari pengolah dan pedagang terhadap keberlanjutan subsistem produksi yang merupakan prasyarat bagi kelangsungan sistem agroindustri secara keseluruhan. Investasi, baik oleh pemerintah maupun swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana serta dalam pembinaan sumber daya manusia, merupakan prasyarat yang juga esensial. Tetapi, tanpa pengaturan dan pengawasan, semuanya akan sia-sia.
- ItemTeknologi Peningkatan Produksi Kacang-kacangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Sumarno; D. Pasaribu; HarnotoProduksi kacang-kacangan nasional belum dapat mencukupi kebutuhan, karena luas panen aktual masih belum memadai dan produktivitas masih rendah. Untuk mencukupi kebutuhan komoditas kacang-kacangan secara nasional, maka luas panen kedelai aktual harus mencapai 3 juta ha, kacang tanah 0,9 juta ha, dan kacang hijau 0,8 juta ha/tahun. Usaha perluasan areal perlu dilakukan, terutama di luar Jawa pada lahan sawah musim kemarau, lahan bukaan baru, dan pada lahan usaha kehutanan dan perkebunan yang tanaman pokoknya masih muda. Teknologi untuk peningkatan produksi kacang-kacangan nasional secara umum telah tersedia, terutama ditekankan pada penyiapan lahan agar pertumbuhan optimal, penggunaan benih varietas unggul bermutu tinggi, penyiangan tanaman agar bebas gulma sejak tumbuh hingga berbunga, dan pengendalian hama/ penyakit berdasarkan ambang kerusakan. Peningkatan hasil dengan peningkatan produktivitas terutama ditujukan agar kacang-kacangan kompetitif terhadap komoditas lain. Dengan penerapan teknologi budi daya maju, produktivitas kedelai dapat mencapai 2,0 t/ha, kacang tanah 2,5 t/ha (polong kering) dan kacang hijau 1,6 t/ha. Peningkatan produksi kacang-kacangan nasional diharapkan akan dapat menambah ketersediaannya di pasaran untuk mendorong laju peningkatan diversifikasi pangan dan gizi masyarakat. Kacang hijau теmiliki peluang yang besar untuk dikembangkan sebagai upaya peningkatan gizi masyarakat karena produksinya mudah ditingkatkan dan dapat diolah menjadi beragam produk yang bergizi. Dalam PJP II, selama konsumsi protein hewani belum terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, protein asal kacang-kacangan dapat dijadikan andalan dalam program perbaikan gizi masyarakat.