Penanganan Pascapanen Ubi Kayu Menunjang Pengembangan Agroindustri di Pedesaan
No Thumbnail Available
Date
1996
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
Abstract
Panen raya ubi kayu biasanya jatuh pada bulan Juli-Oktober, menjelang
musim tanam padi. Melimpahnya produksi ubi kayu pada bulan-bulan tersebut
menyebabkan merosotnya harga sampai Rp15- Rp30/kg ubi. Untuk mengatasi
kerugian, petani memerlukan teknologi pascapanen yang memadai. Hasil penelitian menunjukkan, ubi kayu yang disimpan dalam sekam lembab, kesegarannya dapat diperpanjang sampai 3 bulan. Selain itu, ubi kayu segar dapat diolah
menjadi tape dan enyek-enyek, atau bahan setengah jadi berupa gaplek, sawut
kering, dan tepung kasava, yang selanjutnya dapat diolah menjadi produk
makanan seperti cake, roti, cookies, gula sirup, alkohol, asam sitrat, dan asam
glutamat. Sistem pengembangan agroindustri ubi kayu di pedesaan dapat
dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan sistem pembinaan secara individu,
kelompok, koperasi, dan sistem plasma inti (Bapak Angkat) -- tergantung kepada
kondisi daerah.