Persepsi dan Tingkat Adopsi Petani terhadap Inovasi Teknologi Integrasi Tanaman Kakao dan Ternak Sapi: Studi Kasus di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah
Loading...
Date
2015-11
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
IAARD Press
Abstract
Pendekatan pembangunan pertanian tidak terlepas dari peran inovasi teknologi dan kelembagaan agribisnis. Tujuan kajian ini untuk mengetahui persepsi dan tingkat adopsi inovasi teknologi terintegrasi tanaman kakao dan ternak sapi. Penelitian dilaksanakan di lokasi pendampingan Model Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Inovasi (m-P2BBI) di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong dengan sebanyak 20 petani responden yang tergabung pada Kelompok Tani Karya Bersama. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan FGD. Pengukuran persepsi petani menggunakan skala Likert. Proses adopsi inovasi yang dikaji mencakup teknologi pengolahan pakan dari limbah kakao, pengolahan pupuk organik dari limbah ternak, pengendalian hama/penyakit pada kakao dengan menggunakan feromon seks serta penggunaan pupuk organik
pada tanaman kakao. Data primer dan sekunder dianalisis secara deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan persepsi petani yang cukup tinggi, yakni 88,6% pada aspek sosial budaya; sementara aspek teknis dan ekonomi
masih dalam kelas sedang, yakni 72,14%. Selanjutnya, adopsi petani terhadap inovasi teknologi cukup tinggi (91,35%) pada aspek teknologi pengendalian hama penyakit dengan menggunakan feromon seks. Artinya,
bahwa persepsi petani terhadap inovasi teknologi sangat ditentukan oleh sosial budaya masyarakat petani dalam menerima inovasi teknologi.
Description
Sektor pertanian masih menjadi prioritas utama dan memiliki peran penting dalam menopang perekonomian masyarakat Indonesia khususnya masyarakat petani yang ada di Sulawesi Tengah. Peran tersebut digambarkan melalui kontribusi nyata dalam penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergi, penyerap tenaga kerja, sumber devisa negara, sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui praktik usaha tani yang ramah lingkungan. Berbagai peran strategis pertanian yang dimaksud sejalan dengan tujuan pembangunan perekonomian nasional, yakni peningkatan kesejahteraan masyarakat, mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, menyediakan lapangan kerja, serta memelihara keseimbangan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani antara lain mempertahankan swasembada pangan serta menghasilkan produk yang memiliki daya saing di pasar lokal maupun regional. Untuk mencapai hal tersebut tidak lepas dari adanya inovasi teknologi serta dukungan dari sektor lainnya.
Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan Sulawesi Tengah yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional maupun regional. Di samping meningkatkan pendapatan masyarakat, juga dapat menciptakan apangan kerja bagi masyarakat petani di perdesaan. Produksi dan produktivitas serta mata rantai supply-demand komoditas pertanian memberikan peran yang strategis. Oleh karena itu, pengembangan pertanian ke depan lebih ke arah agribisnis. Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi terbesar penghasil kakao di Indonesia. Luas areal perkebunan kakao sebesar 16,27% dari luas tanam kakao nasional dengan produksi 17,97% dari total produksi
nasional terbesar kedua setelah Sulawesi Selatan (Kementan 2013a). Populasi ternak sapi potong di Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2012 sebesar 250.921 ekor lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya (BPS Sulteng 2013).