Prosiding Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Prosiding Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa by Title
Now showing 1 - 20 of 108
Results Per Page
Sort Options
- ItemADAPTASI BEBERAPA JENIS SAYURAN DI LAHAN RAWA PASANG SURUT(Balittra, 2007-08) Koesrini, Eddy William,Linda Indrayati, BalittraPulau Jawa sebagai wilayah yang memiliki produktivitas tinggi untuk budidaya sayuran, telah mengalami tekanan iingkungan berupa penyusutan lahan subur akibat penggunaan untuk keperluan non pertanian. Oleh karena itu perlu dicari alternatif sumber pertumbuhan lahan barudi luar Pulau Jawa. Lahan rawa pasang surut memiliki potensi untuk budidaya sayuran. Dari uji adaptasi 7 jenis sayuran di lahan rawa pasang surut di Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa terung dan kacang panjang tergolong jenis sayuran adaptif, tomat, cabai dan kubis tergolong cukup adaptif serta buncis dan mentimun tergolong kurang adaptif di lahan rawa pasang surut. Diantara varietas yang diuji menunjukkan bahwa terung varietas Mustang (29,6 tlha), kacang panjang varietas Empe (14,9 tlhaO, tomat varietas Permata (11,5 t/ha), cabai varietas Hot Chili (8,4 t/ha), kubis varietas KK Cross (9,7 t/ha), buncis varietas Lebat (4,9 t/ha) dan mentimun varietas Hercules (4,9 t/ha), selain memiliki hasil yang tinggi juga adaptif di lahan rawa pasang surut. Dengan pengelolaan lahan, hara dan tanaman yang tepat, dapat menjadikan lahan rawa pasang surut sebagai sumber pertumbuhan baru untuk budidaya beragam jenis sayuran.
- ItemANALISIS FINANSIAL USAHATANI PADI PASANG SURUT DI KECAMATAN ANGGANA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA(Balittra, 2007-08) Sriwulan P. R., Dhyani N.P., Mastur, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan TimurBPTP Kalimantan Timur sejak berdiri tahun 1995/1996 telah banyak menghasilkan paket teknologi dari hasi I Iitkaj i teknologi ditingkat lapangan guna mcnghasilkan rekornendasi spesifik lokasi. Tujuan penelitian adalah untuk rnengetahui kelayakan pengernbangan pola tata air mikro yang diperkenalkan BPTP pad a tahun 1999/2000, dan kelayakan finansial teknologi ini. Waktu penelitian yaitu bulan Juli-Desember 2004, dengan tempat di lokasi litkaji yang dilakukan BPTP yaitu di Kecarnatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara. Hasil penelitian menunjukkan ; (I) RJC bagi petani kooperator lebih tinggi (1,36) dengan pendapatan Rp 1.093.830,97, dibandingkan non kooperator (1,17) dengan pendapatan Rp 475.123,96. (2) Angka marginal B/C dari perubahan tersebut adalah sebesar 2,06, (3) titik impas tambahan produksi (TIP) sebesar 2.282,23 kg/ha, (4) titik impas harga (TIH) padi sebesar 949,82/kg.
- ItemANALISIS FINANSIAL USAHATANI PADI PASANG SURUT DI KECAMATAN ANGGANA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Sriwulan P. R; Dhyani N.P; MasturBPTP Kalimantan Timur sejak berdiri tahun 1995/1996 telah banyak menghasilkan paket teknologi dari hasil litkaji teknologi ditingkat lapangan guna menghasilkan rekomendasi spesifik lokasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelayakan pengembangan pola tata air mikro yang diperkenalkan BPTP pada tahun 1999/2000, dan kelayakan finansial teknologi ini. Waktu penelitian yaitu bulan Juli-Desember 2004, dengan tempat di lokasi litkaji yang dilakukan BPTP yaitu di Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara. Hasil penelitian menunjukkan ; (1) R/C bagi petani kooperator lebih tinggi (1,36) dengan pendapatan Rp 1.093.830,97, dibandingkan non kooperator (1,17) dengan pendapatan Rp 475.123,96. (2) Angka marginal B/C dari perubahan tersebut adalah sebesar 2,06, (3) titik impas tambahan produksi (TIP) sebesar 2.282,23 kg/ha, (4) titik impas harga (TIH) padi sebesar 949,82/kg.
- ItemANALISIS HUBUNGAN KARAKTERISTIK LAHAN GAMBUT DENGAN PRODUKSI KELAPA SAWIT(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) WINARNA WIRATMOKO; PUSATPenelitian untuk mengetahui model hubungan komponen-komponen (karakteristik) lahan gambut dengan produksi kelapa sawit telah dilakukan di 19 lokasi yang tersebar di beberapa perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut di wilayah kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Di daerah penelitian dimana kondisi iklim seperti curah hujan, bulan kering, dan temperatur bukan merupakan faktor pembatas, produksi kelapa sawit di lahan gambut memiliki hubungan korelasi dengan kematangan gambut, kedalaman gambut, kandungan bahan kasar, kadar abu, kedalaman sulfidik, dan pH tanah. Model hubungan tersebut adalah Y = —27,364 + O,045*Kematangan + O, 162*Kedalaman + 0, 145* Kanda. Bahan. Kasar 0,202*Kadar abu. Abu + 0,207*Kedalaman Sulfidik + 0, 170* pH tanah, dengan R2 = 0,972. Lahan gambut yang mempunyai potensi tinggi untuk budidaya tanaman kelapa sawit dapat menghasilkan 22,07 - 23,08 ton TBS/ha/tahun.
- ItemBAHAN TUMBUHAN SEBAGAI AGENSIA PENGENDALI HAMA TANAMAN RAMAH LINGKUNGAN(Balittra, 2007) A.N.Ardiwinata l dan S.Asikin1 2), Peneliti Balingtan 1) Peneliti Balittra 2)Pada akhir-akhir ini sering terjadi ledakan hama yang menyerang pertanaman petani, yang salah satunya akibat pengguaan bahan kimia beracun yang kurang bijaksana dan terus-menerus dalam mengendalikan harna. Adapun dampak negatif dari bahan kimia beracun (pestisida/insektisida) tersebut adalah terjadinya pencemaran lingkungan, terbunuhnya musuh alami dan jasad bukan sasaran serta keracunan bagi konsumen dan hewan peliharaan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dicari alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan yaitu penggunaan bahar. tumbuhan sebagai agensia pengendali hama yang ramah lingkungan. Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa kedelai varietas Deing dan tanaman jagung berturut-turut iebih disukai oleh Etiella zinckenella dan Heliothis armigera untuk hingga dan bertelur yang merupakan inang dari hama-hama tersebut. Purun tikus (Eleocharis dulcis) sangat disukai oleh penggerek batang padi putih untuk meletakkan teluryang dibanding tanaman padi itu sendiri dan ekstrak dari E.dulcis tersebut berpotensi sebagai bahan attraktan bagi penggerek batang padi putih. Tanaman kapayang (Pangium edule), rumput minjangan (Chromolaena odorata), lukut (Patycerium bifurcatum) dan galam (Malaleuca leucandra) berpotensi sebagai insektisida nabati dalam mengendalikan penggerek batang padi, ulat daun, ulat grayak dan ulat buah serta wereng coklat. Tanaman Melaleuca bracteaca bekerja sebagai sex pheromone untuk mengendalikan lalat buah. Tanaman gadung (Dioscorea compos ita) digunakan sebagai umpan dalam mengendalikan hama tikus dan tanaman tuba (Derris eliptica) sangat beracun terhadap keong mas, namun sebaiknya tidak dilakukan pada sawah sistem nina padi karena sangat membahayakan pada ikan.
- ItemBAHAN TUMBUHAN SEBAGAI AGENSIA PENGENDALI HAMA TANAMAN RAMAH LINGKUNGAN(Balittra, 2007-08) A.N.Ardiwinatal, Peneliti Balingtan, S.Asikin, Peneliti BalittraPada akhir-akhir ini sering terjadi ledakan hama yang menyerang pertanaman petani, yang salah satunya akibat pengguaan bahan kimia beracun yang kurang bijaksana dan terus-menerus dalam mengendalikan harna. Adapun dampak negatif dari bahan kimia beracun (pestisida/insektisida) tersebut adalah terjadinya pencemaran lingkungan, terbunuhnya musuh alami dan jasad bukan sasaran serta keracunan bagi konsumen dan hewan peliharaan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dicari alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan yaitu penggunaan bahar. tumbuhan sebagai agensia pengendali hama yang ramah lingkungan. Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa kedelai varietas Deing dan tanaman jagung berturut-turut iebih disukai oleh Etiella zinckenella dan Heliothis armigera untuk hingga dan bertelur yang merupakan inang dari hama-hama tersebut. Purun tikus (Eleocharis dulcis) sangat disukai oleh penggerek batang padi putih untuk meletakkan teluryang dibanding tanaman padi itu sendiri dan ekstrak dari E.dulcis tersebut berpotensi sebagai bahan attraktan bagi penggerek batang padi putih. Tanaman kapayang (Pangium edule), rumput minjangan (Chromolaena odorata), lukut (Patycerium bifurcatum) dan galam (Malaleuca leucandra) berpotensi sebagai insektisida nabati dalam mengendalikan penggerek batang padi, ulat daun, ulat grayak dan ulat buah serta wereng coklat. Tanaman Melaleuca bracteaca bekerja sebagai sex pheromone untuk mengendalikan lalat buah. Tanaman gadung (Dioscorea compos ita) digunakan sebagai umpan dalam mengendalikan hama tikus dan tanaman tuba (Derris eliptica) sangat beracun terhadap keong mas, namun sebaiknya tidak dilakukan pad a sawah sistem nina padi karena sangat membahayakan pada ikan
- ItemBAHAN TUMBUHAN SEBAGAI AGENSIA PENGENDALI HAMA TANAMAN RAMAH LINGKUNGAN(Balai Pengunjian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) A.N.Ardiwinata; S.Asikin
- ItemBUDIDAYA PADI DI LAHAN GAMBUT(Balittra, 1991-02-20) Muhammad Noor, Agus Supriyo, Sudirman Umar dan Isdijanto Ar-RizaL:zhan gambut 'merupakan yang terluas dari lahan-lahan bermasalah di Indonesia yang tersebar di tiga pulau besar Kalimantan, Sumatera dan Irian Jaya. Luas lahan gambut diperkirakan 18-24 juta ha atau 9,6 - 12,6% darijumlah keseluruhan lahan pertanian. Sifat kesuburan dan kimia tanah gambut dikenal sangat rendah seperti pH rendah, nisbah Clhara rendah, kadang-kadang pada lapisan bawah didapati pirit. Tingkat kesuburan tanah gambut ditentukan oleh dekomposisi (kematangan), ketebalan gambut, lapisan mineral di bawahnya, dan kualitas air yang meluapinya. Padi merupakan tanaman yang toleran terhadap kendala -lingkungan yang ada pada lahan gambut. Bercocok tanam padi di lahan gambut memerlukan pengetahuan dan teknologi khusus karena sifatnya yang khas dan berbeda dengan lahan-lahan lain seperti lahan aluvial.umumnya. Beberapa hasil penelitian menunjukkan lahan gambut eukup mempunyai prospek sebagai lahan pertanian apabila dikelola dengan baik dan tepat. Pengolahan tanah, pemberian herbisida, pemupukan hara makro dan mikro memberikan peluahg terhadap peningkatan hasil padi. Pengolahan tanah dieangkul1 kali yang dipadukan dengan pemberian herbisida dapat memberikan hasil padi rata-rata 4,58 tonlha. Pemberian pupuk makro NPK (45-60-50) dan ditambahkan 5kg Culha memberikan peningkatan hasil sebesar 146% dibandingkan hanya dengan pemupukan NPK Hasil penelitian peneampuran bahan mineral tanah setebal6 em pada lahan meningkatkan hasil padi sebesar 25%.
- ItemCARA PENGOLAHAN TANAH, PEMBERIAN MULSA DAN KOMPOS PADA TANAMAN MENTIMUN DI LAHAN RAWA LEBAK(Balittra, 2007-08) R. Smith Simatupang, Hidayat Dj Noor, Y. Raihana, BalitraSalah satu masalah yang menjadi faktor pembatas pada tanaman budidaya di lahan rawa lebak adalah kekeringan. Tanaman menjadi mati atau gagal panen sering terjadi, oleh karena itu diperlukan teknologi yang dapat mengendalikan kelembaban tanah sehingga tanaman tidak kekeringan. Salah satu eara adalah melalui pemberian mulsa dan kompos atau dengan eara pengolahan tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh eara pengolahan tanah dan pemberian mulsa serta kompos dalam hubungannya dengan kadar air tanah dan pertumbuhan tanaman mentimun di lahan rawa lebak. Penelitian telah dilakukan di lahan rawa lebak tengahan di Desa Tawar Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada MK. 2006. Dua eara pengolahan tanah dan beberapa eara pengelolaan lengas tanah diteliti menggunakan raneangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Tanaman mentimun verietas Hercules ditanam pada petak pereobaan berukuran 1,5 m x 5,0 m dengan jarak tanam 50 em x 100 em. Hasil penelitian menunjukkan bahwa olah tanah minimum (OTM) dan pemberian mulsa serasah sebanyak 6,0 tlha mampu mempertahankan kadar air tanah dan dapat meningkatkan pertumbuhan serta hasil tanaman mentimun.
- ItemCARA PENGOLAHAN TANAH, PEMBERIAN MULSA DAN KOMPOS PADA TANAMAN MENTIMUN DI LAHAN RAWA LEBAK(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) R. Smith Simatupang; HIDAYAT DJ NOOR; Y. RAIHANASalah satu masalah yang menjadi faktor pembatas pada tanaman budidaya di lahan rawa łebak adalah kekeringan. Tananłan menjadi mati atau gagal panen sering terjadi, oleh karena iłu diperlukan teknologi yang dapat mengendalikan kelembaban tanah sehingga tanaman tidak kekeringan. Salah satu cara adalah melalui pemberian mulsa dan kompos atau dengan cara pengolahan tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara pengolahan tanah dan pemberian mulsa serta kompos dałam hubungannya dengan kadar air tanah dan pertumbuhan tanaman mentimun di lahan rawa łebak. Penelitian telah dilakukan di lahan rawa łebak tengahan di Desa Tawar Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada MK. 2006. Dua cara pengolahan tanah dan beberapa cara pengelolaan lengas tanah diteliti menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Tanaman mentimun verietas Hercules ditanam pada petak percobaan berukuran 1,5 m x 5,0 m dengan jarak tanam 50 cm x 100 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa olah tanah minimum (OTM) dan pemberian mulsa serasah sebanyak 6,0 t/ha mampu mempertahankan kadar air tanah dan dapat meningkatkan pertumbuhan serta hasil tanaman mentimun. Kata kunci : pengolahan tanah, mulsa dan kompos, mentimun, rawa łebak
- ItemDINAMIKA pH DAN Fe TANAH SERTA TOLERANSI KERACUNAN BESI GENOTIPE PADI Dl LAHAN SULFAT MASAM POTENSIAL KALIMANTAN SELATAN(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007)Lahan rawa pasang surut sulfat masam potensial memiliki faktor pembatas tanah untuk pertumbuhan padi, terutama cekaman pH tanah yang rendah dan kandungan Fe tanah yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika pH dan Fe tanah serta toleransi terhadap keracunan besi dan daya hasil genotipe padi di lahan sulfat masam potensial. Penelitian dilaksanakan di lahan rawa pasang surut sulfat masam potensial di Kebun Percobaan Belandean pada MK 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Sebanyak i8 genotipe padi digunakan dalam penelitian ini yang terdiri dari 15 galur dan tiga varietas unggul, yaitu Margasari, Lambur, dan IR64. Parameter yang diamati mencakup Fe tanah, pH tanah, Fe-akar, Fe-daun, pertumbuhan dan hasil tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah mengalami peningkatan seiring waktu pertumbĽhannya, sebaliknya Fe tanah menunjukkan penurunan. Kondisi tanah pada awal pertumbuhan vegetatif dengan pH antara 2,88-3,95 dan Fe-tanah sekitar perakaran antara 1.358,6-3.750,8 ppm. Pada fase reproduktif pH tanah antara 3,254,33 dan Fe tanah berkisar antara 308,3-1356,2 ppm Fe. Tingkat toleransi terhadap keracunan besi genotipe padi pasang surut di lahan sulfat masam potensial cukup bervariasi. Terdapat 8 galur unggul yang tingkat toleransinya lebih baik, yaitu IR70215-40-CPA-I -3-B l, IR663366-M-7-l-l-l-l, KAL 9408D-BJ-69-4, KAL 9420D-BJ-212-2, IR66295-36-2, KAL9407D-MR-21-7-5, IR53709-36-lO-2, dan KAL 9407-MR-4-l. Kisaran hasii galurgalur ini antara 3,13-3,28 t/ha, sedangkan IR64, Lambur, dan Margasari masing-masing dengan hasil 1,94, 3,17, dan 3,01 t/ha.
- ItemDUKUNGAN PRIMA TANI TERHADAP PENGEMBAGAN KAWASAN PLG KALIMANTAN TENGAH(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) MASGANTIABSTRAK Presiden Republik Indonesia telah INPRES No. 2 Tahun 2007 tanggal 16 Maret 2007 tentang Pereepatan Rehabilitasi dan Rehabilitasi Kawasan PLG di Kalimantan Tengah. Sesuai Inpres tersebut sek'itar 23% (3Ä0.000 Ha) dari total luas kawasan PLG yaitu 1 .457.280 Ila dapat dilnanfaatkan untuk kegiatan budidaya, baik untuk budidaya pertanian tanmnan pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, maupun k'ehutanan. Badan Litbang Pertanian telah banyak menghasilkan inovasi pertanian, baik inovasi teknologi roaupun kelembagaan. Narnun hasil evaluasi eksternal maupun internal menunjukkan bahwa kecepatan dan tingkat pelnanfaatan inovasi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian cenderung tnelatnbat, bahkan Inenurun. Salah satu upaya Badan Litbang Pertanian untuk tueningkatkan kecepatan dan petnanfaatan inovasi pertanian yang dihasilkannya, maka sejak tahun 2005 Ielah diitnpletnentasikan Progratn Rintisan dan Akselerasi Pejnasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Pritna Tani). Di Kalimantan Tengah Prograjn ini dimulai pada tahun 2()()6 untuk: (I) tnendukung Revitalisasi Pertanian di Kawasan PLG. Tujuan titajna Pritna Tani adalah utituk mempercepat disetninasi dan adopsi teknologi invatif yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian, (2) tnetnperoleh utnpan balik mcngenai karakteristik teknologi tepat guna spesifik pengguna dan lokasi. serta (3) meningkatkan pendapaton petani suatu wilayah petvontohan melalui inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan. Untuk tuendukung Progralll Pervepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi kawasan PLG, pada tahun 2()()7 - 2010 BPTP Kalintantan Tengah telah mengalokasikan 3 (tiga) kegiatan Prinut Tant di Kawasat) tet•scbut, yaitu Pritna Tani Lahan Pasang Surut Kawason PLG di Desa Sekata Bangun, Latnunti Il C-2, Kecatuatan Ntantangai
- ItemEMISI GAS RUMAH KACA DARI VARIETAS PADI PASANG SURUT(Balittra, 2007) Prihasto Setyanto dan Helena Lina Susilawati;Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balingtan Jakenan pada rnusim kemarau tahun 2005. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi pengaruh varietas padi pasang surut terhadap emisi gas rumah kaca (ORK). Kurang lebih 18 ton tanah pasang surut salin (rata-rata pH air 9,0 I) diambil dari lahan sawah di pantai utara Kabupaten Demak dan ditempatkan dalam 12 mikroplot untuk ditanami empat varietas padi yaitu Punggur, Sei Lalan, Indragiri dan Martapura. Contoh udara dari dalam boks berukuran 1 m x 1 m x 1 m diambil dengar pompa otornatik dan konsentrasi metananya (C~) diukur dengan kromatografi gas yang dilengkapi detektor FID (Flame Ionization Detector). Contoh udara untuk analisa karbondioksida (C02) dan dinitrogen oksida (N20) diambil dengan jarum suntik (5 rnl) secara manual setiap 7 hari sekali rnenggunakan boks berukuran 40 em x 20 em x 20 em. Kandungan CO2 dan N20 dalam eontoh dianalisis dengan menggunakan kromatografi gas yang dilengkapi detektor ECD (Electron Capture Detector) dan TCD (Thermal Conductivity Detector). Hasil peneJitian menunjukkan bahwa padi varietas Martapura paling tinggi dalam mengemisi CH4 yaitu sebesar 171.5 kg/ha, diikuti Sei Lalan, Indragiri dan Punggur, berturut-turut sebesar 152,6, 141,1 dan 105,4 kg/ha. Emisi CO2 dari plot yang ditanam varietas Punggur, Martapura, Sei Lalan dan Indragiri berturut-turut sebesar 4386, 7303, 3622 dan 3853 kg/ha, serta emisi N20 sebesar 0,204,0,207,0,262, dan 0,448 kg/ha. Hasil padi antar varietas tidak berbeda nyata berkisar antara 5,65 - 6,75 t/ha.
- ItemEMISI GAS RUMAH KACA DARI VARIETAS PADI PASANG SURUT(Balittra, 2007-08) Prihasto Setyanto, Helena Lina Susilawati, Balai Penelitian Lingkungan PertanianPenelitian dilaksanakan di Kebun Pereobaan Balingtan Jakenan pada rnusim kemarau tahun 2005. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi pengaruh varietas padi pasang surut terhadap emisi gas rumah kaca (ORK). Kurang lebih 18 ton tanah pasang surut salin (rata-rata pH air 9,0 I) diambil dari lahan sawah di pantai utara Kabupaten Demak dan ditempatkan dalam 12 mikroplot untuk ditanami empat varietas padi yaitu Punggur, Sei Lalan, Indragiri dan Martapura. Contoh udara dari dalam boks berukuran 1 m x 1 m x 1 m diambil dengar pompa otornatik dan konsentrasi metananya (C~) diukur dengan kromatografi gas yang dilengkapi detektor FID (Flame Ionization Detector). Contoh udara untuk analisa karbondioksida (C02) dan dinitrogen oksida (N20) diambil dengan jarum suntik (5 rnl) secara manual setiap 7 hari sekali rnenggunakan boks berukuran 40 em x 20 em x 20 em. Kandungan CO2 dan N20 dalam eontoh dianalisis dengan menggunakan kromatografi gas yang dilengkapi detektor ECD (Electron Capture Detector) dan TCD (Thermal Conductivity Detector). Hasil peneJitian menunjukkan bahwa padi varietas Martapura paling tinggi dalam mengemisi CH4 yaitu sebesar 171.5 kg/ha, diikuti Sei Lalan, Indragiri dan Punggur, berturut-turut sebesar 152,6, 141,1 dan 105,4 kg/ha. Emisi CO2 dar i plot yang ditanam varietas Punggur, Martapura, Sei Lalan dan Indragiri berturut-turut sebesar 4386, 7303, 3622 dan 3853 kg/ha, serta emisi N20 sebesar 0,204,0,207,0,262, dan 0,448 kg/ha. Hasil padi antar varietas tidak berbeda nyata berkisar antara 5,65 - 6,75 t/ha.
- ItemEMISI GAS RUMAH KACA DARI VARIETAS PADI PASANG SURUT(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Prihasto Setyanto; Helena Lina SusilawatiPenelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balingtan Jakenan pada musim kemarau tahun 2005. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi pengaruh varietas padi pasang surut terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), Kurang lebih 18 ton tanah pasang surut salin (rata-rata pH air 9,01) diambil dari lahan sawah di pantai utara Kabupaten Demak dan ditempatkan dalam 12 mikroplot untuk ditanami empat varietas padi yaitu Punggur, Sei Lalan, Indragiri dan Martapura. Contoh udara dari dalam boks berukuran 1 mx 1 mx 1 m diambil dengar. pompa otomatik dan konsentrasi metananya (CH) diukur dengan kromatografi gas yang dilengkapi detektor FID (Flame Ionization Detector). Contoh udara untuk analisa karbondioksida (CO2) dan dinitrogen oksida (NO) diambil dengan jarum suntik (5 ml) secara manual setiap 7 hari sekali menggunakan boks berukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm. Kandungan CO2 dan N2O dalam contoh dianalisis dengan menggunakan kromatografi gas yang dilengkapi detektor ECD (Electron Cupture Detector) dan TCD (Thermal Conductivity Detector). Hasil penelitian menunjukkan bahwa padi varietas Martapura paling tinggi dalam mengemisi CH, yaitu sebesar 171.5 kg/ha, diikuti Sei Lalan, Indragiri dan Punggur, berturut-turut sebesar 152,6, 141,1 dan 105,4 kg/ha. Emisi CO₂ dari plot yang ditanam varietas Punggur, Martapura, Sei Lalan dan Indragiri berturut-turut sebesar 4386, 7303, 3622 dan 3853 kg/ha, serta emisi N2O sebesar 0,204, 0,207, 0,262, dan 0,448 kg/ha. Hasil padi antar varietas tidak berbeda nyata berkisar antara 5,65 - 6,75 t/ha
- ItemEVALUASI HARAPAN KACANG TANAH DI LAHAN RAWA KALIMANTAN SELATAN(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) NINGSIH; SABRAN; KOESRINILahan rawa lebak adalah lahan yang tergenang J bulan, dcngan masa kering sekitar 4 bulan. Pada musim kcring inilah lahan tcrscbut berpotensi ditanami kacang tanah dan palawija lainnya. Kctersediaan hara lahan rawa lebak relatif baik dan kandungan bahan organik cukup tinggi. Yang menjadi kendala selain datang dan surutnya air yang tidak biga diprediksi, pada umumnya adalah PH yang kurang dari 5 dan kandungan Ca tanah yang rendah. Sedangkan kacang tanah merupakan tanaman yang sangat memerlukan unsur Ca dalam pertumbuhan dan untuk pembentukan polong, Sebagian beşar varietas kacang tanah yang dilepas diperuntukkan pada tanah alfısol dengan PH cenderung 2 7. Peneiitian bertujuan untuk mengevaluasi daya adaptasi dan hasil galur-galur harapan kacang tanah. Penelitian dilakukan pada musim kering 2004 dan 2005 di lima lokasi lahan rawa lebak yaitu Deşa Tambangan, Deşa Panggang Marak, Deşa Setiap, Deşa Awang dan Deşa Telang. menggunakan rancangan acak kelompok, diulang 3 kali. Ada 7 galur harapan yang diuji dengan varictas Jerapah dan lokal sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil kacang tanah di lahan rawa lebak sangat bervariasi seiring dengan kondisi lingkungan dan kesuburan lahan rawa lebak yang sangat variatif Galur harapan GH5, GH8 dan GHI I pada lingkungan tunıbuh optimal dan tercekam memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata hasii di masing-masing lingkungan tumbuh Satü galur harapan yaitu GHII dapat diidentifıkasi sebagai galur harapan kacang tanah berdaya hasil tinggi dan toleran terhadap cekaman lingkungan (kemasaman lahan) di lahan rawa lebak.
- ItemEVALUASI POTENSI DAN ARAHAN PENGGUNAAAN LAHAN DESA PINANG BANJAR, KAB. MUSI BANYUASIN SUMATERA SELATAN(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) ALKASUMA; SUPRIYO AGUSPembangunan pertanian untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani, serta mempertahankan swasembada pangan, dalam dasa warsa ke depan, masih akan tetap menghadapi tantangan yang berat. Meningkatnya permintaan hasil pertanian karena meningkatnya jumlah penduduk, dan menyusutnya Iahan subur di Pulau Jawa untuk berbagai keperluan non pertanian perlu diarahkan pada pemanfaatan Iahan marginal, seperti Iahan rawa. Setelah Iahan sawah, pilihan Iahan untuk perluasan areal pertanian baru selama ini adalah Iahan rawa pasang surut dan Iahan rawa Iebak. Menurut Manwan et• al. (1992) dan Ismail et.al. (1993) Iahan rawa pasang surut memiliki potensi dan Prospek besar untuk dijadikan areal produksi pertanian produktif apabila dikelola den gan baik melalui penerapan teknologi tepat guna sesuai dengan karakteristik wilayahnya. Oleh karena itu, Iahan pasang surut perlu didayagunakan secara optimal melalui penerapan teknologi hasil penelitian secara tepat dan terpadu sehingga kelestariannya sebagai areal produksi pertanian tetap terjaga.
- ItemFAKTOR SOSIAL EKONOMI, KELEMBAGAAN DAN KEBIJAKAN UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN DI KAWASAN PLG(Balittra, 2007-08) Rachmadi Ramli, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengahinpres No.2/2007 tentang percepatan rehabilitasi dan revitalisasi kawasan PLG bertujuan untuk mendayagunakan kembali sumberdaya di kawasan PLG yang saat ini relatif terlantar, Substansi memberdayakan sumberdaya dengan mengembangkan produksi kornoditas pertanian. Kenyataan menunjukkar bahwa walaupun sebagian besar transmigran telah banyak meninggalkan lokasi, namun sebagian masih bertahan dengan mengandalkan usahatani sebagai sumber pendapatannya. Dipertukan perencanaan yang komprehensif ruenyangkut faktor teknis dan sosial ekonorni dan kelernbagaan serta kebijakan, baik pad a tingkat mikro maupun kawasan. Telah banyak hasil penelitian dan pengkajian teknologi untuk mengatasi rnasalah teknis dan yang dapat meningkatkan produktivitas, narnun belum sepenuhnya dapat diterapkan oleh petani. lvlasih ada faktor pendukung lainnya yang harus dipenuhi atau direvitalisasi. Makalah ini akan mernbahas faktor sosial ekonomi clan kclembagaan serta kebijakan yang seharusnya diciptakan dan direvitalisasi untuk mendukung pengembangan pertanian di kawasan ?LG. Faktor sosial ekonorni meliputi : kernarnpuan ekonomi petani dalam menjalankan usahataninya; pilihan kornoditas, skala usaha optimal dan orientasi produksinya baik tingkat petani maupun kawasan dikaitkan dengan daya komparatif dan kompetitifnya. Faktor kelembagaan meliputi kelembagaan yang bersifat meningkatkan keterampilan petani; kelembagaan pendukung seperti penyuluhan, keuangan mikro, pengolahan hasil bagi produk yang orientasinya untuk konsumsi masyarakat setempat; kelembagaan pemasaran. Faktor kebijakan menyangkut bagaimana rnengintegrasikan semua program bisa bersinergi untuk mencapai efisiensi usaha pertanian agar dapat meningkatkan daya kompetitif komoditas yang akan dikembangkan.
- ItemFAKTOR SOSIAL EKONOMI, KELEMBAGAAN DAN KEBIJAKAN UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN Dl KAWASAN PLG(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Rachmadi RamliInpres No.2/2007 tentang percepatan rehabilitasi dan revitalisasi kawasan PLG bertujuan untuk mendayagunakan kembali sumberdaya di kawasan PLG yang saat ini relatif terlantar. Substansi memberdayakan sumberdaya dengan mengembangkan produksi komoditas pertanian. Kenyataan menunjukkan bahwa walaupun sebagian besar transmigran telah banyak meninggalkan lokasi, namun sebagian masih bertahan dengan mengandalkan usahatani sebagai sumber pendapatannya. Diperiukan perencanaan yang komprehensif menyangkut faktor teknis dan sosial ekonomi dan kelembagaan serta kebijakan, baik pada tingkat mikro maupun kawasan. Telah banyak hasil penelitian dan pengkajian teknologi untuk mengatasi masalah teknis dan Yang dapat meningkatkan produktivitas, namun belum sepenuhnya dapat diterapkan Oleh petani. Masih ada faktor pendukung Iainnya yang harus dipenuhi atau direvitalisasi. Makalah ini akan membahas faktor sosial ekonomi dan kelembagaan serta kebijakan yang seharusnya diciptakan dan direvitalisasi untuk mendukung pengembangan pertanian di kawasan PLG. Faktor sosial ekonomi meliputi kemampuan ekonomi petani dalam menjalankan usahataninya; pilihan komoditas, skala usaha optimal dan orientasi produksinya baik tingkat petani maupun kawasan dikaitkan dengan daya komparatif dan kompetitifnya. Faktor kelembagaan meliputi kelembagaan Yang bersifat meningkatkan keterampilan petani; kelembagaan pendukung seperti penyuluhan, keuangan mikro, pengolahan hasil bagi produk yang orientasinya untuk konsumsi masyarakat setempat; kelembagaan pemasaran. Faktor kebijakan menyangkut bagaimana mengintegrasikan semua program bisa bersinergi untuk mencapai efisiensi usaha pertanian agar dapat meningkatkan daya kompetitif komoditas yang akan dikembangkan.
- ItemGRAND DESIGN LAHAN RAWA(Balai Pengunjian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) lAS IRSAl; SUKARMAN; SUBAGYONO KASDI; SURIADIKARTA D.A; NOOR M; JUMBERI AHMADISumberdaya lahan rawa di Indonesia, sebagai salah satu pilihan lahan pertanian di masa depan, dan secara dominan terdapat di empat pulau besar di luar Pulau Jawa, yaitu Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua, serta sebagian kecil di Pulau Sulawesi. Menurut Puslittanak (2000) total luas lahan rawa di Indonesia adalah 34.309.958 hektar, terdiri atas tanab gambut seluas 13.302.278 hektar, dan tanah mineral seluas 21.107.682 hektar. Berdasarkan jenis tanah dan kendala pengembangan, lahan rawa pasang surut dipilah atas 4 (empat) tipologi utama, yaitu (l) lahan potensial, (2) lahan sulfat masam, (3) lahan gambut, dan (4) lahan salin (Widjaja-Adhi, 1992, 1995). Berdasarkan hidrotopografi wilayah, pengaruh luapan pasang, dan pengatusan (drainage) temporer/permanen, maka wilayah pasang surut dibagi dalam 4 (empat) tipe luapan, yaitu tipe luapan A, B, C, dan D (WidjajaAdhi et al, 1992). Pengaruh lingkungan sangat kuat terhadap sifat-sifat kimia tanah dan air pada wilayah rawa pasang surut. Kendala biofisik utama pada tanah rawa pasang surut adalah kemasaman, kelarutan ion-ion toksis, kahat hara makro, amblesan (subsidence), dan daya sangga tanah (bearing capasity). Selain biofisik, pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut juga dihadapkan pada kondisi keteknikan yaitu tata air dan kondisi sosial ekonomi. Keberhasilan subsektor pengembangap lahan rawa dibeberapa provinsi dan kegagalan proyek PLG sejuta ha di Kalimantan Tengah merupakan pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga. Oleh karena Itu diperlukan adanya suatu perencanaan melalui penyusunan grand design lahan rawa, yang bertujuan untuk memberikan aeuan pelaksana pembangunan pertanian di lahan rawa.