Budidaya Perkebunan
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Budidaya Perkebunan by Title
Now showing 1 - 20 of 235
Results Per Page
Sort Options
- ItemAKLIMATISASI LIDAH BUAYA (Aloe vera Linn) HASIL IN VITRO PADA BERBAGAI MEDIA DI RUMAH KАСА(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Amalia; NursalamTanaman lidah buaya (Aloe vera linn) mempunyai potensi cukup besar sebagai bahan baku kosmetik maupun farmasi, serta banyak dimanfaatkan dalam industri makanan maupun minuman untuk kesehatan. Meningkatnya permintaan akan bahan baku sampai saat ini belum diimbangi pasokan yang mencukupi. Untuk pembudidayaan lidah buaya dalam skala basar dibutuhkan bibit yang seragam dalam jumlah banyak. Salah satu upaya mendapatkan bibit yang banyak secara singkat dan seragam adalah melalui kultur in vitro. Sebelum ditanam di lapang, planlet yang dihasilkan perlu diaklimatisasi. Aklimatisasi merupakan salah satu tahap penting yang menetukan keberhasilan perbanyakan melalui in vitro. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi proses aklimatisasi adalan media tumbuh. Planlet yang digunakan berasal dari induksi tunas dari media terbaik yaitu MS + BAP 0,8 mg/l.Aklimatisasi dilakukan di rumah kaca Balittro dengan 6 perlakuaan yaitu: A). Tanah + Sekam + Kompos (1 : 1 : 1); B) Tanah + Sekam (1 : 1); C) Tanah + Kompos (1: 1); D) Sekam + Kompos (1: 1); E) Tanah dan F Pasir. Rancangan yang digunakan adalah Acak Lengkap, disusun secara faktorial dengan 10 ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah tunas, tinggi tunas dan jumlah daun. Hasil percobaan menunjukkan bahwa bibit membentuk tunas, panjang dan jumlah daun terbaik pada media E yaitu media tanah dengan persentase tumbuh 100%, jumlah tur as 4.00 dan tinggi tunas 24,06 cm serta jumlah daun 19.00 pada umur 8 minggu.
- ItemANALISIS EKONOMI INCOME OVER FEED COST (IOFC PRODUKSI TELUR AYAM KAMPUNG DAN RAS YANG DIBERI SUPLEMENTASI SERBUK DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia) KEDALAM RANSUM(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Supriadi, Herman; Zainuddin, DesmayatiDaun Mengkudu (Morinda citrifolia) merupakan tanaman obat yang sangat potensial di Indonesia, tetapi belum optimal dimanfaatkan sebagai suplementasi dalam pakan ternak unggas. Pengkajian bertujuan untuk mengetahui pengaruh serbuk daun mengkudu (Morinda citrifolia) dalam ransum ayam kampung dan ayam ras terhadap nilai ekonomis Income Over Feed Cost (IOFC) dari produksi telur. Ternak ayam kampung petelur diberi perlakuan daun men zkudu dengan level :R0 (tanpa daun mengkudu); R0 + 1% serbuk daun mengkudu; R0 + 1,5% serbuk daun mengkudu, dan RO + 2% serbuk daun mengkudu. Pada ayam ras petelur diberi tiga perlukuan ransum mengandung 3%; 6% dan 9% serbuk daun mengkudu Pengamatan dilakukan selama 12 minggu produksi telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IOFC per kg telur pada ayam kampung yang diberi suplementasi serbuk daun mengkudu, lebih tinggi daripada ayam ras. Ayam kampung yang diberi 1,5% serbuk daun mengkudu diperoleh nilai IOFC yang tertinggi yaitu Rp 9 729,60 dibandingkan perlakuan lainnya ( RO Rp 8900; R0+1% DM = Rp 8423; dan R0 +2% DM Rp 7847). Selanjutnya nilai 1OFC per kg telur ayam ras yang diberi suplementasi 3% DM (Rp2659) lebih tinggi daripada 6% DM (Rp 2450 ) dan 9% DM (Rp 2501). Pemanfatan daun mengkudu perlu dioptimalkan untuk menekan biaya pakan dan obat-obatan sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak ayam buras maupun ras. Studi kelayakan sosial-ekonomi untuk pemanfaatan daun mengkudu dalam suplemen pakan ayam perlu dilakukan dalam skala lebih luas dan partisipatif bersama peternak.
- ItemAnalisis fitokimia dan penampilan polapita protein tanaman pegagan (Centella asiatia) hasil konservasi in vittro(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2009-05) Kristina,Natalini Nova; Kusumah, Edy Djauhari; Lailani, Putri KarinaPegagan (Centella asiatica) merupakan salah satu tanaman obat yang digunakan untuk mentasi pikun dan juga sebagai bahan industri farmasi, kosmetika, suplemen makanan dan minuma. Tanaman ini telah dikonservasi secar in vitro dan telah memasuki usia kultur lima tahun. Selama masa periode tersebut terlihat ada perubahan pada penampilan kultur. Untuk itu tanaman hasil konservasi in vitro tersebut dikeluarkan dari botol kultur dan di aklimatisasi di rumah kaca. Penelitian bertujuan untuk melihat kandungan fitokimia dan pola pita protein tanaman tersebut dibandingkan dengan tanaman induknya yang berasal dari kebun percobaan Cimanggi. Sampel daun pegagan in vitro dan yang tumbuh di lapang diekstrak untuk analisis fitokimia alkaloid, flavonoid, saponin dan triterpenoid berdasarkan metode Harbone (1987). Kadar protein ditentukan dengan menggunakan metode lowry dan pola pita protein ditentukan berdasarkan elektrophoresis dengan gel poliakrilamida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan metabolit sekunder pegagan in vitro berbeda dengan tanaman induk yang tumbuh di lapang. Pegagan asal in vitro menghasilkan tannin dan alkaloid positif (2+) saponin positif kuat (3+) serta ditemukan steroid dengan kandungan positif kuat sekali (4+). Sementara pada tanaman pegagan lapang, kandungan metabolit sekunder tannin, alkaloid dan flavonoid positif kuat (3+), saponin, tanin dan triterpenoid kuat sekali (4+), tetapi tidak ditemukan steroid. Konsentrasi protein total pada pegagan asal in vitro 17.092 µg/mL lebih tinggi dibandingkan dengan di lapang 8.559 µg/mL. Pola pita protein asal in vitro lebih tebal daripada yang di lapangan dan menunjukkan adanya 2 pita protein yang dominan dengan masing-masing bobot molekul 53,7 Kda dan 31 Kda.
- ItemANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHATANI VARIETAS UNGGUL KUNYIT (Turino 1, Turino 2 dan Turino 3)(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09) Ermiati; Syukur, Cheppyelah dilepas tiga varietas unggul kunyit, yaitu Turina 1, 2 dan 3 pada tahun 2005 yang merupakan hasil uji multilokasi di tiga lokasi yang berbeda agro ekologinya, yaitu di daerah Garut, Sumedang dan Subang, mulai dari tahun 2001 sampai tahun 2004. Keunggulan dari ke tiga varietas tesebut, yaitu dari segi produksi dan kadar kurkuminnya tinggi. Potensi produksi Turina 1 (Cudo 21) sebesar 23,87 ton/ha dengan kadar kurkumin tinggi (8,36%). Turina 2 (Cudo 30), sebesar 24,07 ton/ha dengan kadar kurkumin tertiggi (9,95 dan Turina (Cudo 38) dengan produksi tertingi 25,05 ton/ha dan kadar kurkumin 8,55%. Produksi rmasing-masing varietas adaptif dan stabil di dua lokasi (Sumedang dan Subang). Sedangkan kadar kurkuminnya stabil di tiga lokasi. (Garut, Subang dan Sumedang). Namun kelayakar pengembangan usahatani ke tiga varietas tersebut belum diketahui. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah pengembangan ke tiga varietas unggul kunyit tersebut layak diusahakan secara teknis dan ekonomis menguntungkan. Data yang dikumpulkan meliputi faktor-faktor produksi, biaya faktor produksi, harga jual, penerimaan dan pendapatan. Pendapatan dari usahatani varietas unggul kunyit ini dianalisis dengan analisis pendapatan, sedangkan kelayakan usahataninya dianalisis melalui pendekatan analisis Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) dan Internal Rate Of Return (IRR). Hasil analisis finansial menunjukkan, bahwa usahatani ketiga varietas unggul kunyit baik Turina 1, 2 maupun 3 layak dilakukan secara teknis dan menguntungkan secara ekonomis, ini ditunjukkan oleh NPV, B/C Ratio dan IRR masing-masing varietas tersebut positif (+), >1 dan di atas tingkat suku bunga bank yang berlaku (18%/tahun). NPV untuk Turina 1 sebesar Rp 5385 887,-., untuk Turina 2 sebesar Rp 5 449 166,- dan untuk Turina 3 tertinggi, yaitu Rp 5 758 548,-/1000 m². Sedangkan B/C Ratio dan IRR untuk masing-masing varietas sama, yaitu 4 dan 17%/1000 m². Hasil dari analisis sensitivitas (harga benih Rp 5000,-/kg., harga konsumsi Rp 500,-/kg) dan produksi masig-masing varietas tetap, maka titik impas (Break Event Point) untuk Turina 1 terjadi jika harga benih turun sebesar 74,8% (Rp 3 740,-)/kg atau menjadi Rp 1260/kg., untuk Turina 2, terjadı jika harga benih turun sebesar 75% (Rp 3 750,-)/kg atau menjadi Rp 1 250,-/kg dan untuk Turina 3, baru terjadi jika harga benih turun sebesar 76,2% (Rp 3 810,-/kg) atau menjadi Rp 1 190,-/kg.
- ItemAnalisis Potensi Pengembangan Komoditas Unggulan Perkebunan Indonesia(Pertanian Press, 2024) Agnes Verawaty Silalahi, dkkKajian ini berusaha mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting tentang arah masa depan subsektor perkebunan di Indonesia: komoditas mana yang akan menjadi unggulan, wilayah mana yang memiliki potensi besar, serta bagaimana menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya saing di pasar global. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki demi kesejahteraan masyarakat dan generasi mendatang.
- ItemAplikasi Beberapa Strain Beauveria bassiana terhadap Helopeltis antonii Sign pada Bibit Jambu Mete(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Atmaja, Warsi Rahmat; Wahyono, Tri Eko; Dhalimi, AzmiPenelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), mulai Mei sampai Agustus 2005. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh strain dan konsentrasi B. bassiana yang efektif terhadap H. antonii pada bibit jambu mete. Sebagai perlakuan, B. Bassiana terdiri dari strain Leptocorisa, Lophobaris, dan Hipothenemous, dan konsentrasi masing-masing strain adalah 104 , 106 , dan 108 serta kontrol. Aplikasi dilakukan dengan cara menyemprotkan larutan B. bassiana sesuai dengan konsentrasi masing-masing perlakuan yang diuji. Infestasi masing-masing 10 ekor serangga dewasa H. antonii pada setiap perlakuan dilakukan sesaat setelah aplikasi. Pengamatan dilakukan setiap hari dengan menghitung tingkat kematian H. antonii. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. bassiana strain Lophobaris konsentrasi 106 dan 108 , strain Leptocorisa 104 , 106 , dan 108 , strain Hipothenemous 106 dan 108 efektif terhadap H. antonii. Tingkat kematian tertinggi H. antonii pada masingmasing strain B. bassiana berturut-turut 100; 96,66; dan 100%.
- ItemAren: Untuk Pangan, Bioenergi, dan Konservasi(IAARD Press, 2017) Lay, A.; Syakir, Muhammad; Alamsyah, Andi NurTanaman aren telah lama di kenal masyarakat Indonesia, yang manfaatnya sebagai sumber pangan, bahan baku industri dan bahan kerajinan. Aren merupakan tanaman yang unik, sebagai tanaman hutan, perkebunan dan pangan. Pengembangannya terbatas dan hampir dilupakan, walaupun tanpa budi daya yang intensif dapat tumbuh baik dan menghasilkan. Buku ini disusun berdasarkan rujukan dari hasil penelitian dan observasi tanaman aren pada berbagai sentra produksi aren, informasi lapang dan literatur, yang menguraikan tentang aspek produksi, ekspor, iklim, tanah, jenis aren, budi daya, panen dan penyadapan, pengolahan, sosial ekonomi dan pengembangannya. Pada buku ini, juga diuraikan pengolahan aneka produk aren skala kelompok tani, serta sosial ekonomi aren pada berbagai daerah sentra produk aren di Indonesia. Informasi yang disajikan ini, diharapkan dapat memberi pemahaman dan wawasan untuk menunjang pengembangan aren di masa mendatang.
- ItemBahan Tanaman Unggul Mendukung Bioindustri Kakao(IIARD Press, 2014) Setiyono, Rudi T.; Badan Penelitian dan Pengembangan PertanianTanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas yang cukup penting di Indonesia. Sampai saat ini, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Lebih dari 90% dari keseluruhan luas areal tanaman kakao yang ada di Indonesia merupakan perkebunan rakyat. Meskipun demikian, produktivitas kakao masih tergolong rendah, yaitu hanya mencapai rata-rata 900 kg/ha/thn. Penyebab rendahnya produktivitas tanaman kakao adalah masih beragamnya adopsi petani terhadap teknologi budidaya, keterbatasan tersedianya bahan tanam unggul, serta serangan hama dan penyakit utama. Penemuan bahan tanaman kakao unggul seperti ICCRI 07 dan Sulawesi 03 yang tahan terhadap hama penggerek buah kakao (PBK) serta klon hibrida ICCRI 06H yang tahan terhadap penyakit vascular streak dieback (VSD) merupakan salah satu solusi dalam mengatasi masalah hama dan penyakit utama yang menjadi permasalahan serius pada tanaman kakao saat ini. Bahan tanaman kakao unggul tersebut dapat digunakan pada pengembangan tanaman kakao dalam rangka penerapan inovasi teknologi bioindustri kakao, serta dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam kegiatan perakitan bahan tanam kakao tahan PBK dan VSD di Indonesia. Keberhasilan penanganan masalah VSD dan PBK tersebut tentu tidak hanya mengandalkan pada bahan tanamnya saja, akan tetapi juga tergantung pada penerapan cara budidaya yang baik. Pemuliaan ketahanan terhadap PBK dan VSD selanjutnya akan tergantung pada seberapa besar tingkat keragaman genetik yang dapat terbentuk melalui persilangan dengan memanfaatkan klon-klon tahan tersebut, serta manajemen proses seleksinya.
- ItemBEBERAPA SIFAT PENTING UNTUK PERBAIKAN VARIETAS UNGGUL TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)(Bayumedia Publishing, 2008) HARTATI, Rr. Sri; Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor; Pusat Penelitian dan Pengembangan PerkebunanSebagaimana halnya komoditas yang mulai dikembangkan, program pemuliaan dibutuhkan untuk mendukung penyediaan bahan tanaman yang unggul yang memiliki karakter-karakter sesuai kebutuhan. Demikian juga pada ta-naman jarak pagar yang semakin menjadi perhatian banyak pihak karena potensinya sebagai bahan bakar nabati. Bahan tanaman yang mulai dikembangkan saat ini masih terbatas dari hasil seleksi pada populasi yang ada. Meskipun populasi terpilih tersebut telah menunjukkan ”keunggulan” dibanding populasi asalnya, dengan berkembangnya tanaman, maka tuntutan untuk tersedianya varietas unggul yang memiliki sejumlah keunggulan lainnya juga akan semakin besar. Ma-kalah ini membahas beberapa sifat penting yang perlu diintegrasikan dalam program penelitian jarak pagar.
- ItemBiaya Produksi dan Daya Saing Relatif Usahatani Lada Hitam dan Putih Indonesia(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2021-05) Wahyudi, Agus; Pribadi, Ekswasita RiniIndonesia merupakan salah satu negara produsen utama lada (Piper nigrum L.) dunia, dengan lada hitam dan lada putih sebagai produk utamanya. Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri untuk menghasilkan diantara produk tersebut sehingga ada perbedaan sistem budidaya dan struktur biayanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya produksi lada hitam dan lada putih dan daya saing relatifnya terhadap harga lada di tingkat petani. Metode survei digunakan untuk mendapatkan data primer dari responden yang dipilih dengan metode snowball sampling. Lampung dan Bangka Belitung dipilih untuk merepresentasikan budidaya lada hitam dan lada putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan lada dengan budidaya yang konvensional kurang memiliki daya saing relatif berkelanjutan, yang ditunjukkan oleh biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga terendah yang diterima dalam jangka panjang. Daya saing relatif lebih baik di perkebunan yang telah menerapkan budidaya yang baik. Daya saing relatif lada putih lebih baik daripada lada hitam, karena produktivitas lada putih lebih tinggi meskipun biaya produksinya juga sedikit lebih tinggi
- ItemBudidaya Coklat(1978) Departemen Pertanian Balai informasi Pertanian ITBDalam upaya meningkatkan pendapatan petani serta untuk menunjang program pemerintah guna meningkatkan komoditi ekspor non migas, di daerah Nusa Tenggara Barat dewasa ini telah mulai dirintis upaya pengembangan tanaman coklat. Luasnya lahan berpotensi, harga jual beli coklat yang tinggi serta laju permintaan pasar yang kian meningkat pertanda prospek cerah bagi tanaman coklat yang sekaligus akan mendorong petani untuk mengusahakannya. Disadari bahwa petunjuk praktis yang berkenaan dengan budidaya coklat sangat terbatas, karena itulah Balai lnformasi Pertanian Nusa Tenggara Barat membantu memenuhi kebutuhan tersebut melalui penerbitan Brosur yang diberi judul " Budidaya Coklat "
- ItemBudidaya dan Pasca Panen KARET(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Damanik, Sabarman; Syakir, Muhammad; Tasma, Made; SiswantoTanaman Karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu komoditas ekspor yang menjadi sumber pemasukan untuk pendapat-an negara dan permintaan karet dunia meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia mempunyai peluang paling besar untuk memanfaatkan potensi pasar tersebut. Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi nasional adalah mendukung pengembangan karet melalui buku petunjuk Budidaya dan Pasca Panen yang dapat membantu masyarakat pekebun untuk berusaha tani secara tepat dan optimal serta menguntungkan.
- ItemBudidaya dan Pasca Panen KOPI(2010) Prastowo, Bambang; Karmawati, Elna; Rubiyo.; Siswanto.; Indrawanto, Chandra; Munarso, S. JoniTanaman kopi (Coffea sp. ) merupakan salah satu komoditas unggulan nasional. Untuk mendukung pengembangan kopi dan terutama untuk membantu masyarakat yang tertarik kepada tanaman kopi, maka disusun buku ini. Budidaya sampai Pasca Panen kopi perlu diketahui masyarakat untuk menjadi pedoman umum terutama bagi praktisi di lapangan.
- ItemBudidaya dan Pasca Panen TEBU(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Indrawanto, Chandra; Purwono.; Siswanto.; Syakir, Muhammad; Rumini, WidiHingga saat ini Indonesia mengimpor sekitar 2 juta ton gula dengan nilai sekitar US$900 juta setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Kekurangan pasokan gula di dalam negeri ini disebabkan kurangnya luas areal pertanaman tebu dan rendahnya produktivitas tebu dan rendemen gula yang ada. Penanaman tebu melibatkan banyak petani. Keberhasilan penanaman tebu oleh petani tergantung dari teknik penanamannya. Dengan penerapan teknik penanaman dan pasca panen yang baik akan didapat tingkat produktivitas tebu dan rendemen yang tinggi.
- ItemBudidaya dan Pasca Panen TEH(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Effendi, Dedi Soleh; Syakir, Muhammad; Yusron, MuhammadDalam rangka mendukung pengembangan teh di Indonesia yang produktivitasnya masih rendah. Puslitbang Perkebunan telah menyusun buku Budidaya dan Pasca Panen Teh dalam upaya meningkatkan produk-tivitas teh rakyat.
- ItemBudidaya dan Pengolahan Gambir(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara, 2013) Sebayang, LukasBuku ini menyajikan informasi mengenai teknologi budidaya yang berasal dari biji, pengolahan secara tradisional (Pakpak Bharat) dan pengolahan secara Cina serta deskripsi 3 varietas gambir sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 115, 116 dan 117 /Kpts/SR. 120/2/2007 tanggal : 20 Februari 2007.
- ItemBudidaya dan Pengolahan KELAPA(Pertanian Press, 2024) Bahrun, Abd. Haris, dkkKelapa merupakan tanaman tanpa limbah, tanaman multiproduk sehingga disebut sebagai tanaman kehidupan (tree of life). Semua bagian kelapa, dari akar, batang, daun, pelepah, mayang, dan buah dapat dimanfaatkan menjadi produk pangan dan nonpangan yang memiliki nilai ekonomi. Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan luas areal sekitar 3,34 juta ha pada tahun 2022 (Ditjenbun, 2022).
- ItemBudidaya Jambu Mente(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2023) Hadipoeyanti, Endang; Yusron, M.Jambu mente merupakan tanaman introduksi yang pada mulanya dikembangkan untuk tujuan penghijauan dan konservasi tanah sehingga mutu bahan tanamannya tidak mendapat perhatian. sejak tahun 1980 tujuan tersebut mulai bergeser kepada pengembangan untuk tujuan komersil karena gelondong dan kacang banyak diminati dan harganya cukup menarik. pengembangan selanjutnya meluas dengan cepat namun tanpa didukung oleh teknik budidaya yang baik dan informasi yang cukup mengenai agribisnis Jambu mente. Produktivitas rata-rata Jambu mente saat ini hanya mencapai 350 kg gelondong/ha, sehingga komiditas ini belum dapat mengangkat taraf hidup petani.
- ItemBudidaya Kelapa dan Penyadapannya(Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 1996) AR, Adeny Rozak; Damiri, Ahmad; Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu
- ItemBudidaya KELAPA SAWIT(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Allorerung, David; Syakir, Muhammad; Poeloengan, Zulkarnain; Syafaruddin; Rumini, Widi