Budidaya Perkebunan
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 234
- ItemPRODUKSI DAN MUTU TIGA NOMOR JAHE MERAН (Zingiber officinale var. rubrum L.) DENGAN PEMUPUKAN ORGANIK II CIBINONG, BOGOR(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Yusron, Muchamad; Januwati, M.; Maslahah, NurUntuk memenuhi kebutuhan teknologi budidaya organik, telah dilakukan penelitian penggunaan pupuk alam dan organik pada tanaman jahe merah (Zingiber officinale var rubrurı) di Cibinong, Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi produktivitas dan mutu tiga nomor harapan jahe merah. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Cibinong, Bogor [250 m dpl jenis tanah latosol, tipe iklim B (Schimdt & Ferguson)] mulai bulan November 2005 sampai Oktober 2006. Perlakuan penelitian ini adalah 3 nomor harapan jahe merah yaitu Balittro 1, Balittro 2 dan Balittro 3, menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 9 ulangan. Pupuk yang digunakan Bokashi 10 t/ha + pupuk bio 140 kg/ha + zeolit 400 kg/ha + fosfat alam 200 kg/ha dengan jara.k tanam 40 cm x 60 cm. Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuni dengan SOP budidaya tanaman jahe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi rimpang segar dan kering dari tiga berturut-urut nomor tersebut tidak berbeda nyata. Produksi rimpang segar Balittro 1, Balittro 2 dan Balittro 3 3,82; 4,38 dan 4, 48 ton/ha, dan bobot kering rimpang 0,40; 0,54 dan 0,55 ton/ha. Kadar minyak atsiri nomor Balittro 1, Balittro 2 dan Balittro 3 masing-masing adalah 4,43%; 4,33% dan 4,17%, sedang kadar gingerol berturut-turut adalah 0, 210%; 0,188%; dan 0,225%
- ItemSKRINING EKSTRAK TANAMAN SEBAGAI ANTI FUNGI PADA KAPANG DERMATOFIT Trichophytone mentagrophytes SECARA IN VITRO(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Gholib, Djaenudin; DarmonoEkstrak tanaman dengan pelarut etanol terdiri dari daun sambiloto (Andrographis paniculata), daun ketepeng (Cassia alata), daun sirih (Peper betle), rimpang lengkuas merah dan putih (Alpinia galanga) dan Jahe (Zingiber officinale) telah diuji efek daya hambatnya terhadap pertumbuhan kapang dermatofit, Trichophyton mentagrophytes. Uji ini dilakukan dengan me tode dilusi (pengenceran) dari ekstrak dengan konsentrasi pengeneeran berbeda yang dicampur dengan larutan spora kapang dengan perbandingan volume sama (1:1) di dalam cawan petri, lalu dituangkan media SDA ke dalam cawan petri tersebut. Kemudian semua media uji diinkubasi pada suhu 37° C selama 5 hari. Perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. Efek daya hambat dapat dilihat dengan tumbuh, menghitung jumlah koloni kapang yang tumbuh, semakin sedikit populasi koloni yang berarti makin tinggi efek daya hambat ekstrak. Jika pada suatu pengenceran menunjukkan tidak ada pertumbuhan koloni, maka ini sebagai konsentrasi hambat minimal (KHM) dari suatu ekstrak tanaman. Hasil penelitian dianalisa dengan menentukan Indek KHM dari ekstrak herbal yang diuji. Semakin kecil nilai Indek tersebut, berarti semakin tinggi efek daya hambatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Indek KHM dari ekstrak yang diuji berturut-turut, dari yang terkecil sampai yang terbesar adalah 0,1056; 0,4267; 1,3333; 1,7647; 3,8095; 4,7619 masing- masing untuk ekstrak Jahe, Lengkuas merah, Daun sirih, Lengkuas putih, Daun ketepeng dan Daun sambiloto. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol rimpang jahe dan lengkuas merah mempunyai daya hambat paling tinggi, dan daun sambiloto efek daya hambatnya rendah.
- ItemPEMANFAATAN TANAMAN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb) SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI FITOFARMAКА(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Agriawati, Deliana Putri; SetiawanTanaman gambir (Uncaria gambier Roxb) merupakan tanaman tradisional yang banyak terdapat di Indonesia, yang terutama berasal dari wilayah Sumatera. Kegunaan tanaman gambir cukup luas, namun pemanfaatannya di Indonesia masih sedikit. Salah satu kegunaannya adalah sebagai bahan ramuan obat. Umumnya ekstrak gambir diekspor dalam bentuk blok. Salah satu upaya memberikan nilai tambah pada ekstrak gambir adalah dengan menjadikannya bahan baku produk industri fitofarmaka (obat, kosmetik). Untuk itu perlu diketahui berbagai jenis potensi furmaka gambir sesuai zat aktif yang terkandung di dalamnya (katekin) sebagai bahan baku fitofarmaka.
- ItemHE ASSAY OF CHEMICAL CONTENTS AND ANTІ BACTERIAL EFFECTS OF Mimusaps elengi L LEAF POWDER AND EXTRACT ON Staphylococcus aureus AND Pseudomonas aeruginosa(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Poeloengan, MasrianiIn traditional health care, the Mimusaps elengi L leaves were used to cure various skin diseases such as eczema, scabies, ulcers, and infec'ed wounds. The Mimusops lengi L ieaf powder contained alkaloid, flavonoid, tannin and saponin; whereas the leaf extract contained alkaloid, flavonoid, tannin, saponin and glycocide. In this conjunction, the diffusion method was employed to determine the bactericide effects of the four concentrations of the Mimusops elengi L leaf extract i.e., 50%, 25%, 12.5%, and 6.35%. The results demonstrated that on average, the 50% concentration produced 2.33 mm diameter of the bacterial growth inhibition zones on Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa. Further tests showed that the smallest extract's concentration to produce the bacterial growth inhibition zones was 3.125% on S. aureus, and 6.25% on P. aerouginosa.
- ItemSKRINING EKSTRAK TANAMAN OBAT SEBAGAI ANTI AGEN PENYEВАВ КАNDIDIASIS SECARA UJI IN VITRO(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Ahmad, R.ZPenggunaan tanaman obat untuk pengobatan kandidiasis (keputihan, sariawan) adalah salah satu pilihan yang baik bila dibandingkan dengan penggunaan obat yang berasal dari bahan kimia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari daya hambat ekstrak buah cabe (Capsicum annum L), daun saga (Abrus precatorius L) dan daun mindi kecil (Melia azedarach L) terhadap khamir-khamir penyebab kandidiasis (Candida albicans, C. guillermondii C. parapsilosis, dan C. tropicalis,) secara uji in vitro. Ketiga tanaman di atas diekstrak dengan pelarut etanol, kemudian diperiksa kandungan alkaloid, flavonoid, glikosida, gliserhizin, saponin dan tanin. Hasil ekstrak diuji dengan metode uji in Vitro yaitu Difusi dan dilusi pada media Sabouroud dekstrosa Agar (SDA). Perlakuan difusi tersebut dilakukan dengan 3 kali ulangan dan dilusi dengan 10 kali ulangan. Hasil pemeriksaan yang di dapat: Buah cabe mengandung alkaloid, flavonoid, glikosida dan saponin, daun mindi kecil mengandung alkaloid, flavonoid, glikosida, tannin dan Saponin dan daun saga mengandung alkaloid, glikosida, gliserhizin, saponin dan tanin. Nilai Kadar Hambat Minimum (KHM) ekstrak daun saga terhadap C. parapsilosis dan C. guilliermondii adalah 400 mg/ml; Nilai KHM ekstrak daun Mindi kecil terhadap C. albicans adalah 500 mg/ml dan C. guillermondii adalah 400 mg/ml; Nilai KHM ekstra buah cabe terhadap C. albicans adalah 500 mg/ml dan C. tropicalis adalah 300 mg/ml. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah ekstrak buah cabe, daun mindi kecil dan daun saga secara uji in vitro dapat menghambat/membunuh Candida spp (Candida albicans, C. guillermondii, C. parapsilosis, dan C. tropicalis)