Budidaya Perkebunan
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 177
- ItemBudidaya Jambu Mente(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2023) Hadipoeyanti, Endang; Yusron, M.Jambu mente merupakan tanaman introduksi yang pada mulanya dikembangkan untuk tujuan penghijauan dan konservasi tanah sehingga mutu bahan tanamannya tidak mendapat perhatian. sejak tahun 1980 tujuan tersebut mulai bergeser kepada pengembangan untuk tujuan komersil karena gelondong dan kacang banyak diminati dan harganya cukup menarik. pengembangan selanjutnya meluas dengan cepat namun tanpa didukung oleh teknik budidaya yang baik dan informasi yang cukup mengenai agribisnis Jambu mente. Produktivitas rata-rata Jambu mente saat ini hanya mencapai 350 kg gelondong/ha, sehingga komiditas ini belum dapat mengangkat taraf hidup petani.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1-4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemBiaya Produksi dan Daya Saing Relatif Usahatani Lada Hitam dan Putih Indonesia(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2021-05) Wahyudi, Agus; Pribadi, Ekswasita RiniIndonesia merupakan salah satu negara produsen utama lada (Piper nigrum L.) dunia, dengan lada hitam dan lada putih sebagai produk utamanya. Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri untuk menghasilkan diantara produk tersebut sehingga ada perbedaan sistem budidaya dan struktur biayanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya produksi lada hitam dan lada putih dan daya saing relatifnya terhadap harga lada di tingkat petani. Metode survei digunakan untuk mendapatkan data primer dari responden yang dipilih dengan metode snowball sampling. Lampung dan Bangka Belitung dipilih untuk merepresentasikan budidaya lada hitam dan lada putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan lada dengan budidaya yang konvensional kurang memiliki daya saing relatif berkelanjutan, yang ditunjukkan oleh biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga terendah yang diterima dalam jangka panjang. Daya saing relatif lebih baik di perkebunan yang telah menerapkan budidaya yang baik. Daya saing relatif lada putih lebih baik daripada lada hitam, karena produktivitas lada putih lebih tinggi meskipun biaya produksinya juga sedikit lebih tinggi