Perlindungan Tanaman Pangan

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 56
  • Item
    Teknologi Produksi Padi di Lahan Sawah Bergejala Asem-Asem
    (BPTP Jatim, 2007) PRATOMO, Al. Gamal; Suwomno; F. Kasijadi
  • Item
    Teknik Penangkaran Burung Hantu
    (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 2021) Fakih Zakaria, SP.; Abriani Fensionita, SP., M.Sc; Gandi Purnama, SP., M.Si; Mochamad Nurhidayat, SP., M.Si
    Tikus merupakan salah satu hama utama pada tanaman pangan, khususnya padi. Setiap tahun hama ini menyubabkan kerugian hasil panen, baik kualitas maupun kuantitasnya. Pada tingkat serangan berat, tikus mampu menyebabkan gagal panen atau puso. Oleh karenanya perlu dilakukan upaya pengendalian. Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan berbagai teknik pengendalian yang ada, dengan berpegang pada Prinsip Pengendalian Hama Terpadu. Pemanfaatan burung hantu Tyto alba menawarkan teknik pengendalian hama tikus yang ramah lingkungan dan sekaligus berkelanjutan. Tidak hanya itu, pengendalian dengan menggunakan predator alami tikus ini efektivitasnya cukup tinggi, dan mampu mengamankan produksi tanaman pangan.
  • Item
    Pengamatan & Pengendalian Spodoptera Frugiperda pada Jagung
    (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2020) Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan
    Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam melakukan kegiatan budidaya tanaman jagung. Gangguan OPT yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan dan kehilangan hasil produksi. Perkembangan OPT di lapangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor tanaman inang, lingkungan dan faktor intern OPT. Usaha tani jagung di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan baru berupa hadirnya OPT baru yang menyerang pertanaman jagung. Organisme pengganggu tumbuhan pendatang baru tersebut adalah hama ulat grayak dari spesies Spodoptera frugiperda, yang dikenal dengan nama Fall Awrmyworm (FAW).
  • Item
    Sejarah Hukum Pertanian di Indonesia
    (Pertanian Press, 2023) Rizky Purwantoro Sukiatno
    Sejak nenek moyang kita orang-orang Austronesia memulai pengembaraan dan petualangannya dari Pulau Taiwan dan sekitarnya, hingga akhirnya sampai di kepulauan Nusantara ini, dengan membawa serta padi-padian yang konon telah mereka budidayakan di tempat asalnya. Meskipun mereka ini telah berhasil menjadi penjelajah pemberani menaklukan samudera yang maha luas, tidak melupakan salah satu aktivitas pokok yaitu bertani. Karena dari bertanilah mereka memeroleh “bahan bakar” untuk siap mempertaruhkan nyawanya menempuh bahaya yang pastinya akan menghadang di setiap lautan dan daratan yang ditemui.