Perlindungan Tanaman Pangan

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 58
  • Item
    Prospek Penggunaan Feromon Sintetis dalam Pengendalian Hama Tanaman Pangan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1993) Hendarsih Suharto; S. Kartaatmadja
    Feromon sintetis telah banyak digunakan untuk pemantauan ataupun pengendalian serangga hama. Kerja feromon sangat spesifik dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan hidup, sehingga kompatibel sebagai komponen Pengendalian Hama Terpadu. Populasi ulat grayak Spodoptera litura F pada kedelai dapat dipantau populasinya dengan feromon sintetis (campuran senyawa = cis-9, trans-11 TDDA dan = cis-9, trans-12 TDDA) yang dipasang pada perangkap air. Hasil pemantauan tersebut selain dipakai untuk mempelajari distribusi dan fluktuasi ulat grayak juga dapat dipakai untuk menentukan saat aplikasi insektisida. Ulat grayak terdapat di seluruh pulau Jawa dan di Pantai Utara Jawa Barat populasinya lebih rendah pada musim hujan daripada di musim kemarau. Jika dalam satu minggu tertangkap lebih dari 65 ekor ulat grayak pada kedelai yang berumur kurang dari 6 minggu, insektisida dapat diaplikasikan. Pengendalian dengan cara memutus perkawinan (mating disruption) telah berhasil dilakukan pada penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis di Spanyol. Feromon seks betina penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata Walker) telah berhasil diidentifikasi pada pada tahun 1992, yaitu Z11-18:CHO. Sintetis dari feromon tersebut telah dievaluasi di Sukamandi dan daya tariknya sama dengan feromon asli yang keluar dari betina yang belum kawin. Pengendalian penggerek batang padi putih dengan teknik mating disruption menunjukkan gangguan perkawinan mencapai 98%. Penerapan mating disruption pada generasi awal akan mengurangi populasi berikutnya dan akhirnya akan mengurangi tingkat serangan.
  • Item
    Aplikasi Teknik Serologi dalam Mendiagnosis Penyakit Virus Tanaman Pangan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) M. Muhsin; Manzila; Jumanto H.; Roechan M.
    Cara yang umum dilakukan untuk mendiagnosis penyakit tanaman pangan yang disebabkan oleh virus adalah berdasarkan timbulnya gejala. Akan tetapi dalam kondisi tertentu gejala tersebut tidak jelas, bahkan tidak ada. Teknik serologi, antara lain uji bentonit, uji lateks, uji ELISA dan IEM telah berhasil diterapkan dalam mendeteksi dan mengidentifikasi virus tungro, virus kerdil hampa, virus kerdil rumput, virus kerdil kedelai, virus mosaik kedelai, virus mosaik samar kacang tunggak, virus belang dan virus bilur kacang tanah. Uji ELISA merupakan salah satu teknik yang paling luas digunakan, karena akuratan dalam menentukan jenis dan jumlah virus. Modifikasi teknik ELISA dan pengembangannya antara lain ELISA ringkas, ELISA kertas saring, dan ELISA tusuk gigi, telah digunakan untuk mendeteksi virus dari biji, kecambah, daun tanaman kacang-kacangan. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan teknik yang murah, mudah, dan tetap sensitif. Kegunaan lainnya antara lain untuk menghasilkan benih bebas virus, menyimpan isolat virus dalam biji, uji penyaringan varietas untuk ketahanan terhadap penyakit, dan mempelajari epidemiologi penyakit virus.
  • Item
    Teknologi Produksi Padi di Lahan Sawah Bergejala Asem-Asem
    (BPTP Jatim, 2007) PRATOMO, Al. Gamal; Suwomno; F. Kasijadi
  • Item
    Teknik Penangkaran Burung Hantu
    (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 2021) Fakih Zakaria, SP.; Abriani Fensionita, SP., M.Sc; Gandi Purnama, SP., M.Si; Mochamad Nurhidayat, SP., M.Si
    Tikus merupakan salah satu hama utama pada tanaman pangan, khususnya padi. Setiap tahun hama ini menyubabkan kerugian hasil panen, baik kualitas maupun kuantitasnya. Pada tingkat serangan berat, tikus mampu menyebabkan gagal panen atau puso. Oleh karenanya perlu dilakukan upaya pengendalian. Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan berbagai teknik pengendalian yang ada, dengan berpegang pada Prinsip Pengendalian Hama Terpadu. Pemanfaatan burung hantu Tyto alba menawarkan teknik pengendalian hama tikus yang ramah lingkungan dan sekaligus berkelanjutan. Tidak hanya itu, pengendalian dengan menggunakan predator alami tikus ini efektivitasnya cukup tinggi, dan mampu mengamankan produksi tanaman pangan.