Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 130
- ItemKarakterisasi Morfologi, Anatomi dan Fisiologi Galur Mutan Gandum yang Ditanam di Dataran Rendah Tropik(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2016) Laela Sari; Agus Purwito; Didy Sopandie; Ragapadmi Purnamaningsih; Enny SudarmonowatiInformasi karakter mutan gandum diperlukan untuk mengetahui sifat unggul mutan dalam program pemuliaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kriteria seleksi untuk mendapatkan mutan unggul berasal dari tanaman gandum varietas Alibey yang adaptif di dataran rendah. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan SEAMEO-BIOTROP Bogor (± 250 m dpl) dari bulan April 2013 sampai Desember 2013. Materi yang diteliti terdiri atas 16 galur mutan generasi M3 dari perlakuan EMS terhadap varietas Alibey dan varietas Alibey sebagai pembanding. Data diolah menggunakan rancangan pembesaran dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan mutan Alibey berbeda nyata dengan varietas pembanding untuk peubah panjang tangkai malai (8 mutan), bobot biji/malai (1 mutan), bobot 100 biji (4 mutan) dan bobot biji /tanaman (9 mutan). Peubah waktu berbunga, gabah masak/panen, panjang malai, tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah malai, dan luas daun tidak berbeda nyata dibanding mutan Alibey. Penampilan karakter anatomi termasuk ketebalan daun dan ukuran stomata memperlihatkan perbedaan nyata antara tanaman Alibey mutan (AB0.1.60-1-7-1) dan pembanding. Karakter fisiologi menunjukkan perbedaan yang nyata antara mutan dengan pembanding pada jumlah prolin, yaitu pembanding (4,15 ug/gBB), mutan AB-0.1.60-3- 16-1 (263,47 ug/gBB), AB-0.1.60-3-3-2 (235,90 ug/gBB) dan memiliki kadar glukosa yang berbeda yaitu pembanding (132,88 mg/ml), mutan AB-0.1.60-3-16-1 (181,48 mg/ml), AB-0.1.60-3-3-2 (287,41 mg/ml). Mutan Alibey dapat diseleksi berdasarkan karakter panjang tangkai malai (PTM) dan bobot biji/tanaman (BBT). Kedua karakter tersebut menghasilkan lebih banyak mutan dibanding karakter lainnya. Analisis korelasi PTM dan JM pada semua karakter tidak nyata, sedangkan tinggi tanaman berkorelasi nyata dengan bobot biji/malai dan bobot biji/tanaman. Diharapkan beberapa mutan yang dihasilkan dapat beradaptasi di dataran rendah tropis, sehingga menambah keragaman sumber daya genetik gandum di Indonesia untuk adaptasi di dataran rendah.
- ItemEfisiensi Penggunaan Pupuk NPK melalui Pemanfaatan Cendawan Mikoriza Arbuskular pada Jagung(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Musfal; Delvian; A. JamilHasil jagung di tingkat petani masih rendah. Upaya peningkatan hasil dan efisiensi penggunaan pupuk melalui pemanfaatan cendawan mikoriza (CMA) adalah salah satu alternatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2007 hingga Februari 2008 di rumah kasa KP Pasar Miring, Sumatera Utara. Percobaan disusun menurut rancangan acak lengkap berfaktor. Sebagai faktor utama adalah CMA (0, 5, 10, 15 dan 20 g/pot) faktor kedua tingkat rekomendasi pupuk dari PHSL jagung di Tiga Binanga (0, 25, 50, 75 dan 100% dari 1,30-0,64-0,80 g/pot urea-SP36-KCI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur N adalah faktor pembatas utama dalam peningkatan hasil jagung di Tiga Binanga. Pemberian CMA yang diikuti oleh pemberian pupuk pada dosis yang lebih rendah meningkatkan efisiensi agronomis pada tingkat yang lebih tinggi. Hasil tertinggi diperoleh pada pemberian 100% pupuk dan 20 g CMA/pot. Pemberian 75% pupuk dan 5 g CMA/pot memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan pemberian 100% pupuk.
- ItemPetunjuk Teknis Produksi Benih Gandum Terstandar(Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Serealia, 2026) Amin Nur; Fauziah Koes; Jamaluddin; Muzdalifah Isnaeni; Sukmawati Mawardi; Annisa S. SalsabilaPanduan ini disusun untuk memberikan pemahaman teknis yang komprehensif tentang tahap-tahap budidaya, mulai dari persiapan lahan, pemilihan benih bermutu, teknik penanaman, pemeliharaan, hingga panen. Diharapkan petani dan pelaku agribisnis dapat mengaplikasikan langkahlangkah tersebut untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil gandum secara optimal. Penerbitan buku gandum diharapkan dapat menjadi rujukan dan sekaligus bahan pertimbangan, mendorong timbulnya ide dan pemikiran untuk pengembangan gandum di Indonesia.
- ItemHasil dan Strategi Penelitian Jagung, Sorgum, dan Terigu dalam Pencapaian dan Pelestarian Swasembada Pangan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Subandi; Marsum Dahlan; Amsir RifinDengan mengasumsikan petani menanam varietas unggul yang tersedia dan 60% dari hasil rata-rata percobaan dapat direalisasi oleh petani (faktor konversi hasil, FKH= 0,6), maka prakiraan produksi jagung pada tahun 1998 adalah 7,6 juta lon. Untuk mencapai produksi sebesar 8,9 juta ton sesuai prakiraan Departemen Pertanian, maka FKH harus ditingkatkan menjadi 0,7. Untuk itu diperlukan penanganan intensif dalam perbenihan dan sarana produksi lainnya, penyuluhan teknologi, pengolahan produk dan pemasarannya, serta penyediaan kredit. Penelitian di lahan petani untuk mendapatkan paket teknologi perlu diperluas. Penelitian paket teknologi bagi lahan berproduktivitas rendah/marginal dengan masukan rendah perlu dipertajam. Penelitian rintisan di berbagai disiplin perlu terus dipacu guna mendukung penelitian terapan yang adaptif. Sorgum memiliki potensi untuk dikembangkan di lahan atau pada musim di mana tanaman lain sepertijagung dan padi tidak dapat memberi hasil baik. Selain itu, dua galur terigu diidentifikasi sebagai varietas unggul.
- ItemSorgum: Kegunaan, Pola Tanam, dan Teknik Budi Daya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Sukarno Roesmarkam; Sutoro; SubandiProduksi sorgum berfluktuasi dari tahun ke tahun. Sebagian besar (70-90%) produksi digunakan untuk pakan dan sebagian lagi untuk pangan dan industri. Pemasaran komoditas ini di sentra produksi berjalan lancar. Dalam Pelita telah dilepas dua varietas unggul, yakni Sangkur dan Mandau. Selain itu telah diperoleh pula sejumlah galuryang memiliki kualitas biji baik dan cocok dijadikan sebagai bahan penganekaragaman pangan. Beberapa galur hibrida memberikan hasil yang lebih tinggi dan mantap, tetapi umurnya agak dalam dan batangnya cukup tinggi. Penanaman sorgum di lahan sawah tadah hujan bekas padi dengan pengolahan tanah minimum memberikan hasil yang setara dengan tanah diolah sempurna. Biji sorgum dapat digunakan untuk roti tawar. Kemekaran dan rasa roti dari sorgum tidak berbeda nyata dengan roti dari tepung terigu. Biji sorgum juga telah digunakan untuk media starter dalam memproduksi jamur kayu.