Serealia
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Serealia by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 127
Results Per Page
Sort Options
- ItemHasil dan Strategi Penelitian Jagung, Sorgum, dan Terigu dalam Pencapaian dan Pelestarian Swasembada Pangan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Subandi; Marsum Dahlan; Amsir RifinDengan mengasumsikan petani menanam varietas unggul yang tersedia dan 60% dari hasil rata-rata percobaan dapat direalisasi oleh petani (faktor konversi hasil, FKH= 0,6), maka prakiraan produksi jagung pada tahun 1998 adalah 7,6 juta lon. Untuk mencapai produksi sebesar 8,9 juta ton sesuai prakiraan Departemen Pertanian, maka FKH harus ditingkatkan menjadi 0,7. Untuk itu diperlukan penanganan intensif dalam perbenihan dan sarana produksi lainnya, penyuluhan teknologi, pengolahan produk dan pemasarannya, serta penyediaan kredit. Penelitian di lahan petani untuk mendapatkan paket teknologi perlu diperluas. Penelitian paket teknologi bagi lahan berproduktivitas rendah/marginal dengan masukan rendah perlu dipertajam. Penelitian rintisan di berbagai disiplin perlu terus dipacu guna mendukung penelitian terapan yang adaptif. Sorgum memiliki potensi untuk dikembangkan di lahan atau pada musim di mana tanaman lain sepertijagung dan padi tidak dapat memberi hasil baik. Selain itu, dua galur terigu diidentifikasi sebagai varietas unggul.
- ItemRamapil: Mesin Pemipil Jagung untuk Pedesaan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) I.K. TastraSalah satu kendala dalam pengembangan usahatani jagung adalah belum berkembangnya teknologi pemipilan. Kapasitas pemipilan jagung dengan cara tradisional sangat rendah sehingga memerlukan waktu yang relatif lama. Dalam kondisi ketersediaan tenaga yang terbatas atau mahalnya upah kerja, pemipilan jagung dengan cara tradisional tidak efisien. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang telah merakit mesin pemipil jagung RAMAPIL, yang dapat diproduksi oleh bengkel lokal di pedesaan. Makalah ini membahas kelayakan operasionalisasi RAMAPIL (diproduksi oleh bengkel lokal di Malang Selatan dan Maumere pada tahun 1992) di tingkat kelompok tani. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada kadar air biji jagung 12-14%, rata-rata kapasitas kerja RAMAPIL mencapai 164,5 kg jagung pipilan/jam, kerusakan biji 1,1%, dan efisiensi pemipilan mencapai 97,8%. Pada tingkat ongkos pemipilan Rp5,00/kg jagung, jam kerja efektif 600 jam/tahun, upah seorang operator Rp3.500/hari, dan harga RAMAPIL Rp250.000/unit, maka keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan RAMAPIL adalah sebesar Rp164.000, nisbah antara keuntungan dengan biaya = 1,12, tingkat pengembalian modal 43,98%, biaya pokok mesin Rp3,7/kg, titik impas operasionalisasi 36,9 t jagung pipilan/tahun, dan waktu pengembalian modal 1,9 tahun. Berdasarkan hasil analisis ini disimpulkan bahwa RAMAPIL produksi bengkel lokal tersebut layak dikembangkan di pedesaan.
- ItemPenelitian Pengendalian Hama Jagung di Lahan Kering(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Suaidi Raihan; Hairunsyah; Syaiful Asikin; M. ThamrinDewasa ini terdapat dua jenis hama yang dapat dikategorikan sebagai hama utama jagung di lahan kering, yaitu penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan lalat bibit (Atherigona oryzae). Beberapa jenis insektisida dinilai efektif untuk mengendalikan kedua hama tersebut. Dalam hubungannya dengan pengendalian hama penggerek batang dan lalat bibit, waktu tanam yang tepat adalah pada awal musim hujan (Oktober-November). Pengendalian secara terpadu (waktu tanam awal musim hujan, pemangkasan bunga jantan, pengaturan jarak tanam, dan pemberian insektisida granular melalui pucuk daun) cukup efektif menekan serangan penggerek batang.
- ItemMesin Pemipil Jagung Tipe MP-210(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Sugeng RakhmadionoPemipilan jagung dengan cara tradisional tidak efisien karena membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak. Penggunaan mesin pemipil dapat mempercepat proses pemipilan. Pemipil jagung MP- 210 rancangan Universitas Brawijaya Malang memiliki beberapa kelebihan. Selain berkapasitas cukup tinggi (115-235 kg/jam), mesin pemipil MP-210 cukup sederhana sehingga dapat dikembangkan di tingkat petani. Dibandingkan dengan cara konvensional, biaya pemipilan de3ngan menggunakan MP-210 sekitar 30-50% lebih rendah.
- ItemTeknologi Budi Daya Jagung untuk Lahan Kering di Jawa Timur(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Sudaryono; A. Taufiq; S. PrayitnoUntuk mendukung program intensifikasi jagung di Jawa Timur telah tersedia paket teknologi spesifik lokasi. Paket teknologi budi daya jagung pada prinsipnya dapat dipilah menjadi dua bagian, yaitu (1) komponen teknologi yang secara nisbi dapat bersifat umum (varietas, kerapatan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, dan pascapanen), dan (2) komponen teknologi spesifik lokasi (pengolahan tanah, pemupukan). Populasi optimal tanaman untuk varietas unggul Arjuna, Rama, Hibrida CPI-1, Semar-1 dan Semar-2 adalah sekitar 60.000 tanaman/ha, dengan jarak tanam 80 x 40 cm, dengan dua tanaman/lubang, atau jarak tanaт 80 x 20 cm dengan satu tanaman/lubang. Hama lalat bibit dan penggerek pucuk/daun dapat dikendalikan dengan insektisida karbofuran (Furadan 3G dengan takaran 5-10 kg/ha). Perlakuan benih dengan pestisida metalaxyl (5 g Ridomil/kg benih) dapat mencegah perkembangan penyakit bulai. Cara dan bentuk pengolahan tanah mengacu pada jenis tanah. Untuk tanah berat (lempung), pengolahan tanah perlu dilakukan agar perakaran tanaman dapat berkembang dengan baik. Paket teknologi budi daya jagung dapat disusun berdasarkan spesifikasi lokasi sebagai satuan wilayah rekomendasi. Berdasarkan ketinggian dari muka laut, tipe agroekologi tegalan dapat dipilah menjadi tiga bagian, yaitu: (1) ketinggian 0-300 m dpl., (2) ketinggian 300-600 m, dan (3) ketinggian 600 m dpl. Di samping ketinggian tempat, rekomendasi paket teknologi budi daya spesifik lokasi perlu mempertimbangkan ragam jenis tanah dan kondisi iklim setempat.
- ItemPerbaikan Genetik Jagung dan Peningkatan Efisiensi P di Lahan Kering Masam(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Firdaus Kasim; Helmidar Bahar; Syafei; ErdimanPeningkatan hasil jagung di lahan kering masam antara lain dapat dicapai melalui penggunaan varietas toleran. Seleksi awal varietas dilakukan dengan metode half-sib pada tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) yang berkadar Al tinggi dan kahat unsur P. Pada tanah PMK, unsur Al dan Fe memfiksasi P sehingga mengurangi ketersediaannya bagi tanaman. Serangkaian pengujian pemupukan P telah dilakukan dengan menggunakan varietas jagung yang toleran terhadap keracunan Al. Antasena yang merupakan varietas jagung pertama yang dilepas untuk lahan kering masam, berasal dari populasi St Al dan hasilnya 20% lebih tinggi daripada Arjuna pada kondisi tercekam Al. Populasi St Al terus diperbaiki untuk meningkatkan ketahanannya terhadap penyakit bulai. Dengan pengapuran 1 t/ha, tanaman jagung tanggap terhadap pemupukan P sampai takaran 135 kg P2O5, bahkan pada takaran 180 kg P2Os/ha hasil masih meningkat, tetapi efisiensi pemupukan menurun. Penggunaan pupuk P dapat ditekan apabila bahan organik turut diberikan. Penggunaan pupuk P dengan takaran 180 kg P205/ha memberikan hasil yang sama dengan takaran 22,5 kg P2Os/ha bila pemberiannya dicampur dengan 2 t/ha bahan organik dan 200 kg/ha kapur setelah diinkubasi selama 8 minggu.
- ItemPeranan Benih Jagung Hibrida dalam Menunjang Peningkatan Pendapatan Petani(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Nasib W.W.; Putu DarsanaJagung semakin banyak dibutuhkan, baik untuk pangan, bahan baku industri, maupun pakan. Sementara itu, peningkatan produksinya relatif lamban. Dibandingkan dengan di RRC dan Korea Selatan, hasiljagung di Indonesia masih rendah. Rendahnya hasil, antara lain, disebabkan oleh kurang tersedianya benih jagung yang bermutu. Lembaga penelitian pemerintah dan swasta telah menghasilkan sejumlah varietas unggul jagung, baik jenis komposit maupun hibrida. Pihak swasta juga telah berperan dalam pengembangan varietas unggul tersebut melalui perbanyakan benih. Dengan menggunakan benih hibrida, pendapatan petani dari usahatani jagung dapat mencapai Rp875.000/ha. Bila menggunakan varietas lokal, keuntungan yang dapat diraih hanya Rp250.000/ha.
- ItemJagung untuk Lahan Sawah Tadah Hujan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) A. Sudjana; R. SetiyonoAreal pertanaman jagung di Indonesia pada tahun 1991 tercatat sekitar 3 juta hektar, dengan rata-rata hasil 2,15 t/ha. Sekitar 10% dari areal pertanaman jagung berada pada ekosistem lahan sawah tadah hujan. Pada ekosistem ini, tanaman sering kali mengalami kekeringan dan kebanjiran. Varietas jagung yang banyak ditanam petani pada ekosistem tersebut adalah varietas lokal dengan hasil yang rendah, rata-rata kurang dari 2 t/ha. Untuk itu perlu dikembangkan varietas unggul untuk lahan sawah tadah hujan. Varietas berbiji kuning yang cocok untuk ekosistem ini adalah Arjuna yang rata-rata hasilnya dapat mencapai 4,3 t/ha. Jagung berbiji putih yang berpotensi baik untuk dikembangkan pada lahan sawah tadah hujan antara lain adalah varietas Bayu, dengan hasil rata-rata 4,0t/ha. Kedua varietas ini tergolong stabil hasilnya dan berumur relatif genjah, sekitar 84 hari.
- ItemSumber Daya Lingkungan Tumbuh Jagung(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Muhadji Djali MoentonоUntuk dapat berproduksi dengan baik, jagung memerlukan lingkungan tumbuh yang baik pula. Di antara beberapa tanaman pangan, jagung termasuk komoditas yang cukup luas wilayah adaptasinya, mulai dari 50 lintang utara sampai 60° lintang selatan. Di Indonesia, jagung dapat tumbuh dengan baik sepanjang musim asal curah hujan cukup, minimal 650 mm per tahun. Selain curah hujan, pertumbuhanjagung dipengaruhi pula oleh suhu udara, suhu tanah, dan sinar matahari. Dalam makalah ini juga disajikan informasi tentang pola pemakaian air bagi tanaman jagung, pengelolaan air, interaksi sumber daya lingkungan tumbuh, dan pengelolaan tanaman.
- ItemPerkembangan Produksi dan Teknologi Peningkatan Hasil Jagung di Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) A.F. Fadhly; DjamaluddinSulawesi Selatan merupakan penghasil utama jagung di luar Jawa. Dalam periode 1987-91, produksi rata-rata mencapai 441.801 t/tahun atau 62% dari total produksi jagung di Kawasan Timur Indonesia. Produksi jagung dalam periode tersebut berfluktuasi dengan simpangan sebesar 31.930 t/tahun. Untuk meningkatkan produktivitas jagung di Sulawesi Selatan diperlukan teknologi yang tepat guna. Selain sebagai pangan, jagung juga banyak digunakan untuk beragam keperluan. Permintaan terhadap jagung meningkat sejalan dengan meningkatnya perkembangan usaha peternakan. Batang dan daun jagung yang biasanya dibuang juga dapat menjadi sumber pendapatan. Jagung sayur (baby corn) banyak dikonsumsi di perkotaan. Untuk meningkatkan produksi jagung sayur, tanaman juga memerlukan pemupukan. Penggunaan pupuk urea dapat ditekan 25-50% di tanah Latosol Bulukumba dan 50-66% di tanah Grumusol Jeneponto apabila pemberiannya dilakukan secara tugal atau larik dan kemudian ditutup dengan tanah, dibandingkan dengan cara sebar di permukaan tanah seperti yang umum dilakukan petani. Pada musim hujan, jagung dapat ditanam rapat untuk kemudian dijarangkan. Hijauan yang diperoleh dari kegiatan penjarangan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Jagung hibrida C1 memberikan hasil dan hijauan yang cukup tinggi. Hibrida Cl dapat menghasilkan 11,17 t/ha jagung muda dan 8,61 t/ha berangkasan. Jumlah tongkol jagung muda (untuk sayur) varietas Super Sweet yang ditanam dengan jarak 75 x 25 сm masih meningkat dengan pemberian N hingga takaran 180 kg/haа.
- ItemStatus dan Pengendalian Hama Jagung di Lahan Kering Beriklim Basah Kalimantan Selatan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Syaiful Asikin; M. Thamrin; Normansjah DjahabHama merupakan salah satu kendala dalam peningkatan produksi jagung di Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil observasi dari tahun 1988/89 sampai 1990/91 di sentra produksijagung, yaitu Pampain, Binuang (Kabupaten Tapin), Tajau Pecah, Batu Mulia (Kabupaten Tanah Laut) dan Satui (Kabupaten Pulau Laut), diketahui delapanjenis serangga hama yang menyerang tanaman jagung. Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan lalat bibit (Atherigona oryzae) dapat dikategorikan sebagai hama utama (major pest) sedangkan enamam jenis haта lainnya seperti jenis hama pemakan daun, penggerek tongkol dan aphis atau kutu daun dikategorikan sebagai hama kedua (minor pest). Melalui penelitian efikasi beberapa jenis insektisida terhadap serangan penggerek batang jagung diperoleh lima jenis insektisida yang efektif. Insektisida itu dapat dijadikan alternatif bagi karbofuran yang kini telah meluas penggunaannya. Selain itu diperoleh pula empat jenis insektisida yang efektif mengendalikan hama lalat bibit. Dalam kaitannya dengan pengendalian hama penggerek batang dan lalat bibit, waktu tanam yang tepat untuk jagung adalah pada awal musim hujan (OktoberNovember). Pengendalian dengan cara mengombinasikan beberapa komponen pengendalian, antara lain, pengaturan waktu, pemangkasan bunga jantan, pengaturan jarak tanam, dan pemberian insektisida granular melalui pucuk, cukup efektif menekan serangan hama penggerek batang.
- ItemPerkembangan dan Pengendalian Hama Wereng Jagung di Sumatra Barat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Ishak Manti; AsmaniarWereng jagung (Stenocranus bakeri Muir) yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sekitar 30%, termasuk hama utama jagung di Kabupaten lima puluh Kota dan Kodya Payakumbuh, Sumatra Barat. Hama ini biasanya meletakkan telurnya di jaringan pelepah daun. Lubang bekas peletakan telur ditutup dengan zat perekat berwarna putih. Stadium nimfa terdiri dari lima instar. Umur serangga betina berkisar antara 5-21 hari dan jantan 4-25 hari. Seekor betina mampu menghasilkan telur ± 200 butir, tetapi hanya 7% yang татри тenjadi dewasa. Padi gogo dan rumput Echinocloa colona bukan merupakan inang alternatif. Hama yang populasi tertingginya dijumpai pada musim hujan ini sudah menyebar ke Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Musuh alami yang dijumpai di lapang adalah predator (laba-laba dan kumbang Coccinella sp., parasitoid telur, dan jamur patogen Metarhizium sp. Varietas Harapan dan Kalingga cukup toleran terhadap wereng jagung. Pengendaliannya dianjurkan secara terpadu yang mencakup tanam serentak (penanaman sebaiknya akhir musim hujan) dan pergiliran tanaman. Insektisida Curater 3G, takaran 20 kg/ha, cukup efektif mengendalikan hama wereng jagung.
- ItemPengendalian Lalat Bibit pada Jagung(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Agus Iqbal; Agus Kardinan; HarnotoLalat bibit jagung, Atherigona sp. adalah salah satu organisme pengganggu yang dapat menyebabkan kematian tanaman jagung pada stadia bibit. Hama ini dapat dikendalikan dengan penggunaan varietas tahan, mulsa, tanam serentak, insektisida, dan musuh alami. Varietas/galur jagung yang diketahui tahan terhadap hama lalat bibit adalah Sadewa, Citanduy, Kalingga, Bayu, Pionir, Bredel, Lokal Tengah, Lokal Putih, P3-G10 (24F) TB, P4-G10 (15F), 1-1-3-1 (3), 43-3-1-1-1 (107), 52-1-1-1 (130) dan 23-2-1-1-1 (60). Penggunaan mulsa sebanyak 6 t/ha dapat menekan serangan organisme pengganggu ini. Beberapa bahan mulsa yang dapat digunakan adalah jerami padi, glirisidia, kaliandra, dan alang- alang. Penggunaan insektisida untuk pengendalian lalat bibit jagung dapat dilakukan dengan cara semprot, perawatan benih, dan melalui tanah (ditugal). Insektisida semprot yang efektif adalah monokrotofos dan isoxathion dengan konsentrasi 4 cc/l air, diaplikasikan pada saat tanaman berumur 7 hari setelah tanam (hst). Melalui perawatan benih, insektisida yang efektif adalah karbosulfan, furathiokarb, dan thiodikarb dengan dosis 15 g/kg benih. Insektisida karbofuran dengan dosis 0,12 kg b.a/ha efektif bila diaplikasikan melalui tanah.
- ItemPemupukan Tanaman Jagung di Lahan Kering(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Suaidi Raihan; HairunsyahKebutuhan jagung untuk konsumsi, pakan ternak, dan industri terus meningkat dengan laju 2,21% per tahun sedangkan produksi jagung dalam negeri belum maтри тетепuhi kebutuhan tersebut. Peningkatan produksi komoditas ini sangat diperlukan guna menekan impor dan meningkatkan pendapatan petani. Penelitian perbaikan pemupukan jagung telah dilaksanakan di beberapa lokasi lahan kering di Kalimantan Selatan. Pemberian pupuk kandang sebanyak 5 t/ha sudah memadai bagi tanaman jagung di lahan kering. Residu pupuk kandang dan fosfat yang diberikan pada musim pertama masih efektif sampai musim tanam ketiga. Efektivitas brangkasan kacang tanah sebagai bahan organik setara dengan pupuk kandang, dan lebih baik dibanding jerami jagung dan padi. Hasil tertinggi (5,43 t/ha) pada tanah bertękstur lempung diperoleh dengan pemupukan 120 kg N, 135 kg P2Os, dan 75 kg K2O/ha. Pada tanah bertekstur pasir, hasil tertinggi (3,94 t/ha) diperoleh pada pemupukan 120 kg N, 60 kg P205, dan 75 kg K2O/ha.
- ItemPengendalian Hama Palawija Secara Biologis(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) SupriyatinPenelitian pengendalian hama tanaman jagung, kedelai, dan kacang hijau secara biologis telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Mojosari dan Muneng pada MK 1989 dan MН 1991/92. Tiga formulasi insektisida biologis dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis (Thuricide, Bactospen, dan Dipel) diuji keampuhannya terhadap hama kedelai dan kacang hijau. Sebagai pembanding adalah insektisida monokrotofos dan metomil. Tiga strain NPV (Nuclear polyhedrosis virus) hasil isolasi dari Helicoverpa armigera (HaNPV), yaitu HaNPV-As, HaNPV-Tub, dan HaNPV-Asb, diuji pula keampuhannya terhadap hama peng- gerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera) dengan insektisida Dipel dan metomil sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insektisida biologis dengan bahan aktif B. thuringiensis dapat digunakan untuk mengendalikan hama penggulung daun (Lamprosema indicata) dan penggerek polong (Etiella spp.) pada kedelai, penggerek polong (Maruca testulalis) pada kacang hijau, dan penggerek tongkol pada jagung. Nuclear polyhedrosis virus (HaNPV) dapat mengendalikan hama penggerek tongkol jagung. Strain HaNPV yang paling baik dalam penelitian adalah yang berasal dari Amerika Serikat (HaNPV-As), sementara strain lokal dari Tuban (HaNPV-Tub) juga efektif mengendalikan penggerek tongkol jagung.
- ItemTeknologi Pengolahan Jagung untuk Menunjang Agroindustri di Pedesaan.(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) S. Joni Munarso; Rob. MudjisihonoDalam keadaan swasembada beras, jagung lebih banyak digunakan sebagai pakan dan bahan baku industri. Upaya untuk mendapatkan nilai tambah komoditas ini melalui pengolahan hasil belum banyak dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung jagung yang bermutu baik dapat dihasilkan melalui perendaman biji jagung dalam larutan kapur 5% selama 36 jam atau dalam larutan NaOH 1% selama 8 jam sebelum penepungan. Tepung jagung yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan substitusi terigu dalam pembuatan cake. Proporsi tepung jagung yang disubstitusikan dapat mencapai 30%. Selain untuk cake, dewasa ini tersedia pula teknologi sederhana pembuatan corn flake dan tortilla dengan bahan baku jagung.
- ItemSorgum: Kegunaan, Pola Tanam, dan Teknik Budi Daya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Sukarno Roesmarkam; Sutoro; SubandiProduksi sorgum berfluktuasi dari tahun ke tahun. Sebagian besar (70-90%) produksi digunakan untuk pakan dan sebagian lagi untuk pangan dan industri. Pemasaran komoditas ini di sentra produksi berjalan lancar. Dalam Pelita telah dilepas dua varietas unggul, yakni Sangkur dan Mandau. Selain itu telah diperoleh pula sejumlah galuryang memiliki kualitas biji baik dan cocok dijadikan sebagai bahan penganekaragaman pangan. Beberapa galur hibrida memberikan hasil yang lebih tinggi dan mantap, tetapi umurnya agak dalam dan batangnya cukup tinggi. Penanaman sorgum di lahan sawah tadah hujan bekas padi dengan pengolahan tanah minimum memberikan hasil yang setara dengan tanah diolah sempurna. Biji sorgum dapat digunakan untuk roti tawar. Kemekaran dan rasa roti dari sorgum tidak berbeda nyata dengan roti dari tepung terigu. Biji sorgum juga telah digunakan untuk media starter dalam memproduksi jamur kayu.
- ItemKondisi dan Peluang Peningkatan Produksi Jagung di Sumatra Barat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Nasrul HosenPermintaan terhadap jagung terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga impor jagung tidak dapat dihindari meskipun pada periode tertentu terjadi kelebihan produksi. Teknologi produksi jagung relatif sudah berkembang di kalangan petani, namun rata-rata hasil yang dicapai petani masih rendah sehingga perlu dikaji faktor penyebabnya. Studi kasus di beberapa sentra produksi di Sumatra Barat menunjukkan bahwa petani tanggap terhadap harga jagung. Petani tertarik untuk memperbaiki sistem produksi apabila hargajagung stabil dan menguntungkan mereka. Penggunaan pupuk urea, TSP, dan KCI beragam antar-petani dan antar-lokasi dengan koefisien keragaman yang cикир tinggi. Hal ini merupakan salah satu penyebab beragamnya hasil jagung. Bila petani di sentra produksi menerapkan teknologi pemupukan sesuai anjuran, produksi diperkirakan akan meningkat sebesar 40%. Penelitian pengembangan (on-farm research) di Kabupaten Tanah Datar menunjukkan bahwa hasil jagung yang diperoleh petani nonkoperator hanya 2,75 1, sedangkan yang diperoleh petani koperator mencapai 4,54 t/ha. Agar teknologi produksi dapat diadopsi oleh petani secara utuh dan cepat, maka tataniagajagung perlu diperbaiki agar tercipta sistem yang menguntungkan petani sebagai produsen di satu pihak dan pelaku ekonomi lainnya di pihak lain. Strategi pengembangan jagung berdasarkan konsep agribisnis tampaknya perlu segera diterapkan.
- ItemPenelitian Pengembangan Usahatani Jagung di Bumi Asih Kalimantan Selatan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Hairunsyah; Rosita Galib; Syaiful AsikinTujuan utama penelitian pengembangan adalah mempercepat proses alih teknologi, yang diharapkan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani secara berkelanjutan. Di Kalimantan Selatan telah dilakukan penelitian pengembangan usahatanijagung dengan melibatkan 40 petani koperator pada areal seluas 30 ha. Hasil jagung dalam penelitian yang dilakukan di lahan petani ini pada MH 1992/93 mencapai 4 t/ha, jauh lebih tinggi daripada hasil di tingkat petani, yang berkisar antara 1,0-2,5 t/ha. Pendapatan bersih yang diterima petani koperator dari usahatani jagung tersebut mencapai Rp430.000, atau tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan yang diterima petani nonkoperator. Dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah setempat, petani berpartisipasi penuh dalam penelitian pengembangan. Untuk lebih mempercepat proses alih teknologi, kegiatan pembinaan dan penyuluhan dalam penelitian pengembangan perlu lebih diintensifkan.
- ItemJagung Teknologi Produksi dan Pascapanen(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1998) Subandi; Inu G. Ismail; Hermanto