Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 1786
  • Item
    Pedoman Teknis Kerja Sama lingkup Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian
    (BRMP, 2026-01-02) Husnain; Widjaya, Elita R.; Nugrahani, Nuning; Vinita, Tia; Purmiyanti, Sri; Nurbazarah, Derajat; Sauri-P., Nila
    -
  • Item
    Kebijaksanaan Penyediaan dan Distribusi Pangan Nasional
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1993) Ibrahim Hasan
  • Item
    Program Operation Manual Matching Grant Integrated Corporation of Agricultural Resources Emprowerment (ICARE)
    (Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, 2025-01-30) Djufry, Fadjry
    -
  • Item
    Kisaran Inang Pseudomonas Solana Cearum Pada Beberapa Jenis Temu - Temuan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1995-10) M. Hadad, E.A , Agus Nurwan , S. Danimihardja, dan S. Nurhayati
    Kisaran inang Pseudomonase solanacearum pada bebe- rapa jenis temu-temuan (Zingiberaceae) diteliti di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor dari bulan Januari sampai Agustus 1991. Bibit beberapa jenis temu- temuan yang meliputi jahe, temu putih, temulawak, temu- mangga, temukunci, kencur, kunyit dan lempuyang ditanam dalam polybag yang berisi campuran tanah dan pupuk kandang steril (1:1). Biakan P. solanacearum (dalam Nutrient Agar) yang berumur satu hari dengan konsentrasi 10³ cfu/ml, disiramkan pada tanaman yang berumur satu bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan P. solanacearum untuk menyerang berbagai jenis tanaman berbeda-beda. Pada umur 124 hari setelah inokulasi, serangan bakteri tertinggi ter- dapat pada tanaman temukunci, temuputih dan temumangga (80-90%), sedang serangan terendah (0%) terdapat pada lempuyang. Pada kencur, jahe dan temulawak serangan bakteri masing-masing mencapai 36.67, 48.33 dan 53.33
  • Item
    Jumlah Pemberian air , Pengolahan Tanah dan Penggunaan Mulsa Pada Kapas di Lahan Sawah Sesudah Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1995-10) Asmin, M. Zain Karo dan Muhammad Basir Nappu
    Penelitian dilakukan pada lahan sawah sesudah padi di Bontolangkasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dari bu- lan Mei sampai Oktober 1991, dengan tujuan untuk mengeta- hui pengaruh jumlah pemberian air, cara pengolahan tanah dan penggunaan mulsa terhadap pertumbuhan dan produksi kapas Percobaan dirancang secara strip-split plot dengan tiga ulang- an. Faktor-faktor yang diuji adalah jumlah pemberian air (300, 420 dan 540 ml/ha), cara pengolahan tanah (intensif, minimum dan tanpa pengolahan) serta penggunaan mulsa (dengan dan tanpa mulsa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air serta interaksi dengan faktor-faktor lainnya tidak mempengaruhi pertumbuhan. Terhadap produksi kapas berbiji terdapat pengaruh interaksi antara pemberian air dan pemberian mulsa. Pemberian air sebanyak 300 mm/ha dengan pemberian mulsa menghasilkan kapas berbiji paling tinggi (1 678 kg/ha). Pengolahan tanah intensif dan minimum menghasilkan tanaman yang lebih tinggi dari pada tanpa pengolahan tanah. Namun terhadap produksi kapas berbiji, pengolahan minimum tidak berbeda hasilnya dengan tanpa pengolahan tanah, sama-sama lebih rendah dari produksi dengan pengolahan tanah intensif. Terdapat pengaruh interaksi antara pengolahan tanah dengan pemberian mulsa terhadap jumlah buah. Pada pengolahan tanah intensif, pemberian mulsa menghasilkan buah yang lebih banyak dari pada tanpa mulsa, sedang pada perlakuan tanpa pengolahan tanah, pemberian mulsa tidak berpengaruh terhadap jumlah buah. Secara tunggal, pemberian mulsa hanya berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada umur 120 hari setelah tanam.