Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 1742
- ItemPengaruh Pemberian Isomer Natrium Nitrofenol Dan Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan Setek Panili(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1992-01) Yulia Pujiharti, Rochman Faodji dan Iwan SetyawanUntuk mempercepat terbentuknya tunas dan pertumbuhan setek panili satu ruas, telah dicobakan pemberian isomer natrium nitrofenol dan pupuk daun. Percobaan dilakukan dari bulan Agustus 1988 sampai Januari 1989, di Sub Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Natar. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan susunan faktorial, dengan tiga ulangan. Faktor yang diuji adalah zat pengatur tumbuh dengan bahan aktif isomer natrium nitrofenol terdiri atas lima taraf konsentrasi, yaitu 0 (air) 100, 200, 300 dan 400 ppm zat tumbuh; serta pupuk daun terdiri atas tiga macam yaitu tanpa pupuk (air), NPK (15-11-15), dan NPKMg (15) -11-15-1). Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian zat tumbuh (isomer natrium nitrofenol) sampai konsentrasi 400 ppm masih terus meningkatkan presentase setek bertunas, tinggi tunas, jumlah daun dan berat kering tanaman. Pupuk daun NPKMg (15-11-15-1) memberikan tunas tertinggi dan daun terbanyak dibandingkan perlakuan pupuk lainnya. Terhadap berat kering akar terdapat pengaruh interaksi antara isomer natrium nitrofenol dan pupuk daun.
- ItemPengaruh Beberapa Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Akar Setek Lada(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1992-01) Robber Zaubin, Tri Sunarti dan Robet AsnawiUntuk meningkatkan perakaran setek sulur panjat lada, te-lah diuji beberapa zat pengatur tumbuh, di Sub Balittro Natar dari bulan Maret sampai Juni 1991. Zat pengatur tumbuh yang diuji adalah sebagai berikut: 1) air suling (kontrol), 2) 2 000 ppm IBA, 3) campuran indole 3- butirat dengan naftalen asetamida (INA)-dioles, 4) 50% air kelapa (direndam 4 jam), 5) 25 % air kelapa (direndam 2 jam), 6) 25 % air kelapa (rendam 6 jam), 7) 7 000 ppm N-aromatik (rendam 50 menit), 8) 20 000 ppm N-aromatik (celup cepat), 9) 500 ppm N-aromatik (direndam 24 jam). INA adalah campuran 0.067 % naftalen asetamida (NAD) +0.013%2 metil-1-NAD +0.033 % 2 metil-1- naftalen asetat + 0.057 % indol 3 butirat + tiram. Senyawa N-aromatik adalah campuran 0.2 % sodium orthofenolat + 0.3% sodium para nitrofenolat + 0.1% sodium 5-nitroguaiacolat + 0.05 % sodium 2.4-dinitrofenolat Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok, dengan dua ulangan dan 15 setek tiap perlakuan. Parameter yang diamati adalah jumlah setek yang berakar, jumlah dan panjang akar utama, kerimbunan akar, jumlah akar pada setiap buku. Percobaan dilakukan di rumah atap KP. Natar (Lampung) dengan kondisi lingkungan: suhu maximum/minimum 32/22°C, dan kelembaban udara 60-80%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengaruh semua zat pengatur tumbuh yang diuji secara statistik tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan akar. Zat pengatur tumbuh yang pengaruhnya cenderung lebih baik dari pada air suling (kontrol) adalah 7 000 ppm N-aromatik, INA dan 25% air kelapa.
- ItemPengaruh Waktu Tanam Dan Bobot Rimpang Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Kencur(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1992-01) Endjo Djauhariya dan EmmyzarPengaruh waktu tanam dan bobot rimpang terhadap pertumbuhan dan produksi kencur diteliti di KP. Cibinong, dari bulan Oktober 1989 sampai dengan Juli 1990. Rancangan yang dipakai adalah acak kelompok yang disusun secara faktorial dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah waktu tanam, yaitu bulan Oktober, Nopember, Desember dan Januari. Sedangkan faktor kedua adalah berat rimpang, yaitu 5-10, 10-15, 15-20, dan 20-25 g setiap lubang tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tanam, berat rimpang serta interaksi antara kedua faktor tersebut berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi rimpang kencur. Pertumbuhan tanaman yang terbaik serta produksi rimpang tertinggi diperoleh dari penanaman pada bulan Oktober dengan rimpang berukuran 15-20 g atau 20-25 g atau penanaman pada bulan Nopember dengan memakai rimpang berukuran 20-25 g setiap lubang.
- ItemRancang Bangun Alat Perontok Lada Dengan Penggerek Pedal(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1992-01) Risfaheri, Tatang Hidayat dan M. Pandji LaksmanahardjaPengolahan lada menjadi lada hitam memerlukan perontokan untuk memisahkan buah dari gagangnya. Sampai saat ini perontokan tersebut masih dikerjakan secara manual dengan tangan dan kaki. Selain itu pengolahan lada putih secara mekanis dan pengolahan lada hijau juga memerlukan kegiatan perontokan. Untuk keperluan tersebut telah dirancang bangun alat perontok lada dengan penggerak pedal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat perontok lada dengan penggerak pedal yang dirancang bangun mempunyai performansi yang baik. Berdasarkan hasil pengujian alat perontok tersebut mampu merontokkan bahan baku sebanyak 200 kg tiap jam, efisiensi perontokan 93.13%, efisiensi pemisahan gagang 94.27% dan kerusakan buah 3.78% (terkupas 3.64% dan pecah 0.14%).
- ItemPengaruh Pupuk Organik dan Media Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Setek Batang Panili(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1992-01) Rosihan Rosman, Hariyadi, M.H.Bintoro Djoefrie, dan Emy SadjadiPengaruh pupuk organik (pupuk kandang, kompos) dan media tumbuh selain tanah (jerami padi, sabut kelapa, arang kayu) terhadap pertumbuhan setek batang panili diteliti di kebun Percobaan Balittro, Bogor, dari bulan Maret sampai Juli 1990. Percobaan terdiri atas dua faktor dengan rancangan acak kelompok faktorial. Faktor pertama pemupukan (tanpa pupuk, pupuk kandang dan kompos) serta faktor kedua media tumbuh (tanah, jerami padi, sabut kelapa dan arang kayu). Hasil percobaan menunjukkan bahwa setek batang panili yang diberi pupuk kandang dan kompos mempunyai persentase tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak dipupuk. Setek yang ditanam dengan memakai pupuk kandang mempunyai batang yang lebih panjang dibandingkan dengan setek yang diberi kompos atau tanpa pupuk. Perlakuan pupuk kandang dan kompos ternyata tidak dapat mempengaruhi pertumbuhan akar panili secara nyata. Penggunaan media jerami padi, sabut kelapa dan arang kayu memberikan pengaruh yang sama dengan media tanah terhadap pembentukan serta pertumbuhan akar dan tunas panili. Interaksi antara jenis media tumbuh dan pupuk organik tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diamati.