Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 1775
  • Item
    Pengaruh Ukuran dan Pencucian Benih Terhadap Viabilitas Benih Asam
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1993-04) Moach Ismail wahab dan devi Rusmin
    Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran dan pencucian terhadap viabilitas benih asam. Benih asam yang digunakan adalah jenis lokal Madura. Percobaan disusun secara faktorial (3x2) dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah ukuran benih, yaitu: 1) benih besar (1 300 g/1000 butir), 2) benih sedang (515 g/1000 butir) dan 3) benih kecil (325 g/1000 butir). Faktor kedua adalah pencucian benih, yaitu: 1) benih dicuci dan 2) tidak dicuci. Hasil percobaan menunjukkan bahwa benih yang berukuran kecil mempunyai daya berkecambah dan vigor yang lebih tinggi dari pada benih yang berukuran sedang dan besar. Pencucian benih tidak mempengaruhi viabilitas benih.
  • Item
    Kajian Teknik Pemberian Air dan Pengolahan Tanah Pada Kapas di Lahan Sawah Sesudah Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1993-04) Peter Tandisau, M Zain Kanro, dan Moch , Sahid
    Pengaruh teknik pemberian air dan pengolahan tanah terhadap pertumbuhan dan hasil kapas diteliti pada lahan sawah sesudah padi di Desa Bontolangkasa Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Goa, Sulawesi Selatan, dari bulan Mei sampai September 1992. Perlakuan yang diuji terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah teknik pemberian air, yaitu pengairan antar barisan dan antar dua barisan. Faktor kedua adalah cara pengolahan tanah, yaitu tanpa pengolahan, pengolahan setempat dan pengolahan sempurna. Perlakuan disusun dalam rancangan petak berbaris (strip-plot-design), dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pengairan tidak berpengaruh, baik terhadap kepadatan tanah, perkembangan akar maupun produksi kapas, sedang pengolahan tanah hanya berpengaruh terhadap kepadatan tanah tetapi tidak berpengaruh terhadap perkembangan akar maupun produksi. Pengolahan tanah, baik pengolahan setempat maupun pengolahan sempurna, nyata menurunkan kepadatan tanah. Dengan demikian, penanaman kapas pada tanah yang tidak diolah dengan pengairan antar dua baris merupakan cara yang paling efisien.
  • Item
    Respon Petani Terhadap Pola Rehabilitas Tanaman Jambu Mente di Sulawesi Tenggara
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1993-04) Mamat H.S, I Sriwulan,A. Abdulah dan Kendryanto
    Analisis tentang respon petani terhadap pola rehabilitasi tanaman jambu mente di Sulawesi Tenggara, digunakan sebagai indikator untuk melihat peluang petani dalam mengadopsi teknologi pola rehabilitasi, khususnya penja-rangan tanaman dan pengusahaan tanaman sela di antara tanaman jambu mente. Hasil analisis terhadap sampel petani dalam kelompok petani kooperator, dengan menggunakan alat uji statistik non parametrik (Mc Nemar Test), menunjukkan bahwa petani jambu mente di lokasi penelitian, mempunyai respon yang tinggi terhadap pola rehabilitasi tanaman jambu mente.
  • Item
    Pinostrobin Komponen utama Pada Temu Kunci
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1993-04) Chairul dan Mindarti Harapini
    Dari ekstrak metanol temu kunci (Kaemferia pandurata ROXB) telah dapat diisolasi satu senyawa utamanya flavonon yaitu, 5-hidroksi-7-metoksi flavonon atau pinostrobin. Struk-tur kimianya ditentukan berdasarkan data spektroskopinya. Karena pinostrobin ini merupakan senyawa utama, maka dapat digunakan untuk tersebut senyawa-senyawa pemeriksaan kuantitatif maupun kualitatif bahan campuran jamu yang mengandung simplesia temu kunci.
  • Item
    Pengujian Beberapa Teknik Menyiang Pada Pola Tumpangsari Kapas-Palawija
    (Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri, 1993-04) Soenardi dan Moch.Romli
    Penelitian dilaksanakan di Desa Sumber Kencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi pada tanah kompleks mediteran coklat dan litosol, untuk mengetahui teknik penyiangan yang efisien pada sistem tanam tumpang-sari kapas-palawija. Percobaan dirancang secara acak kelompok, dengan susunan faktorial dalam tiga ulangan. Faktor-faktor yang diuji meliputi: sistem bertanam, yaitu: kapas + kacang hijau dan kapas + wijen, serta teknik pengendalian gulma, yaitu dengan menggunakan enam kombinasi perlakuan herbisida pra tumbuh dan penyiangan secara mekanis. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tumpangsari kapas + kacang hijau lebih baik daripada kapas + wijen. Tanaman kapas perlu disiang minimal dua kali, baik dengan cangkul maupun alat siang Ro-Ho. Penggunaan herbisida pra tumbuh dengan bahan aktif metolaklor juga masih perlu dibarengi dengan dua kali penyiangan secara mekanik. Penggunaan herbisida metolaklor yang diikuti dengan dua kali penyiangan cenderung meningkatkan produksi, tetapi pendapatan tertinggi diperoleh pada perlakuan dua kali penyiangan secara mekanik dengan cangkul.