Buku
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Buku by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 1883
Results Per Page
Sort Options
- ItemTanaman Aren ( Arenga Pinnata Merr) dan Pemanfaatnya di Jawa barat(Balai Penelitian Kelapa Manado, 0022-05) Dewi ListyantiTanaman aren ( Arenga pinnata,MERR) Telah lama di Kenal banyak manfaatnya . Penggunaan berbagi Tanaman ini sudah berlangsung sejak dahulu sampai sekarang, bahkan pemanfaatannyta cenderung meningkat sejalan dengan perkembangan industri pangan lainnya .yaitu sekitar 13 656 hektar. Pertanaman Aren tersebut tersebar pada beberapa kabupaten.Kabupaten Tasikmalaya dan cianjur merupakan dua kabupaten Utama Yang memiliki Populasi Aren Terbanyak.
- ItemSterilisasi Tanah Pesemaian Tembakau(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979) Auzay , Hamid HobirPenelitian ini bertujuan mengevaluasi berbagai metode sterilisasi tanah pesemaian tembakau untuk menghasilkan bibit yang berkualitas. Beberapa bahan sterilisasi yang diuji meliputi Basamid, Furadan, Nemagon G, Mocap, Nemagon EC, Shell DD, dan Vapam. Percobaan dilakukan di Bogor, Manokwari, dan Garut pada musim hujan dan kemarau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Basamid, Vapam, dan Nemagon EC paling efektif dalam menekan populasi nematoda. Namun, tidak ditemukan pengaruh yang nyata terhadap penurunan serangan berbagai penyakit maupun hubungan yang jelas antara penekanan nematoda dengan pertumbuhan bibit. Perbedaan hasil diduga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti musim, jenis tanah, dan perlakuan yang diberikan. Meskipun semua bahan cukup efektif, Mocap diketahui dapat menghambat pertumbuhan bibit tembakau
- ItemPenyakit Tanaman Jambu Mede dan Serai Wangi serta Gulma yang Terdapat pada Pertanaman Serai Wangi(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-07) D. Sitepu , R.V.J. Soedhono dan Endang NurwendaPenelitian ini mengkaji berbagai penyakit yang menyerang tanaman jambu mede dan serai wangi serta peran gulma pada pertanaman serai wangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit akar pada jambu mede sulit dikendalikan, mudah menyebar, dan diduga disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sp. dan Xanthomonas sp. serta cendawan Botryodiplodia dan Pythium sp. Pada tanaman serai wangi ditemukan penyakit lurik yang menyebabkan daun menguning, tanaman menjadi kerdil, bahkan mati, serta menurunkan kadar minyak daun sekitar 1,95% dibandingkan tanaman sehat. Selain itu, gulma di sekitar pertanaman tidak hanya menjadi pesaing tanaman, tetapi juga berperan sebagai inang berbagai patogen penting seperti Curvularia sp., Pestalotia sp., Fusarium sp., Alternaria sp., dan Phyllosticta sp. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengendalian penyakit dan gulma untuk menjaga produktivitas tanaman jambu mede dan serai wangi.
- ItemSuper Abundant Female Flower-Production in a Coconut (Bunga Betina yang Lebat Sekali pada Sebatang Pohon Kelapa)(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-07) T.A. Davis , C.P. Corputty dan T. MochtarPenelitian ini melaporkan ditemukannya pohon kelapa yang memiliki produksi bunga betina sangat melimpah di Kampung Idi, Provinsi Aceh, pada tahun 1977. Pohon tersebut menghasilkan sekitar 1.000 buah kelapa pada tahun 1978 dan memiliki lebih dari 10.000 bunga serta buah muda pada awal tahun 1979. Meskipun jumlah bunga betina sangat banyak, persentase bunga yang berkembang menjadi buah hanya sekitar 0–20% per tandan (spadiks). Pohon ini diduga merupakan hibrida antara varietas kelapa dalam dan kelapa genjah, dengan ukuran buah yang relatif kecil. Bibit dari pohon tersebut telah diperbanyak dan ditanam di Kebun Induk LPTI Payagajah, Aceh, untuk diteliti lebih lanjut mengenai pertumbuhan, produktivitas, dan potensi pemanfaatannya dalam program pemuliaan kelapa.
- ItemCara Penyulingan Daun Cengkeh Mempengaruhi Rendemen dan Mutu Minyaknya(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-07) Sofyan , Rusli Pandi Laksmanahardja , J. P. SimarmataPenelitian ini membahas pengaruh metode penyulingan daun cengkeh terhadap rendemen dan mutu minyak cengkeh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar kecilnya api dan tinggi bahan dalam tangki memengaruhi rendemen minyak, kadar eugenol, indeks bias, bobot jenis, dan putaran optik. Rendemen minyak cenderung meningkat dengan bertambahnya besar api, sedangkan kadar eugenol meningkat pada penggunaan api yang lebih besar tetapi dapat menurun jika tinggi bahan dalam tangki terlalu besar. Kombinasi api sedang dengan tinggi bahan satu kali diameter tangki menghasilkan rendemen minyak tertinggi sebesar 4,4% dengan kadar eugenol 81,4%, sedangkan kombinasi api besar dan tinggi bahan seperempat diameter tangki menghasilkan rendemen 4,3% dengan kadar eugenol 81,5%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaturan intensitas api dan tinggi bahan sangat penting untuk memperoleh rendemen dan mutu minyak cengkeh yang optimal.
- ItemPengembangan Tanaman Serat Karung Rakyat Hubungannya dengan Varietas, Tanah dan Iklim Setempat(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-07) SuratmanPenelitian ini membahas pengembangan tanaman serat karung rakyat yang dipengaruhi oleh faktor varietas, jenis tanah, dan iklim setempat. Hasil kajian menunjukkan bahwa varietas kenaf HC 48, HC 62, HC 33, G 4/45 serta varietas yute CC 22 dan Halmahera cocok dikembangkan sebagai tanaman serat rakyat. Daerah yang paling sesuai untuk pengembangannya adalah wilayah dengan iklim tipe B, C, dan D serta memiliki tanah aluvial atau jenis tanah lain yang cukup subur, sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman secara optimal.
- ItemPengujian Patogenitas Beberapa Macam Cendawan pada Tanaman Lada(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-07) Rusli Kasim , Prayitno S.Penelitian ini bertujuan menguji patogenitas beberapa jenis cendawan yang diisolasi dari akar dan pangkal batang tanaman lada yang sakit, yaitu Phytophthora capsici, Pythium vexans, Rhizoctonia solani, Fusarium solani, dan Mortierella beljakovae. Masing-masing cendawan diinokulasikan pada akar dan pangkal batang tanaman lada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya Phytophthora capsici yang mampu menginfeksi tanaman lada dan menimbulkan gejala penyakit busuk pangkal batang, sedangkan cendawan lainnya tidak menyebabkan penyakit tersebut.
- ItemPenuntun Karang Gizi(BALAI INFORMASI PERTANIAN GEDUNG JOHOR MEDAN, 1979-07-09) Departemen PertanianMasalah gizi kurang, makin lama makin disadari sebagai salah satu faktor penghambat proses pembangunan nasional. Angka kematian yang tinggi pada bayi dan anak, terganggunya pertumbuhan badan, perkembangan mental dan kecerdasan, menurunnya daya kerja, serta terdapatnya berbagai jenis penyakit tertentu, langsung adapun tidak langsung adalah akibar dari gizi kurang
- ItemPenanggulan Penyakit Cacar Daun Cengkeh Dengan Pestisida Di Pekalongan , Lampung ( Control Of Blight of clove by the use of pesticides in the Pekalongan district, Lampung )(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-09) D. Sitepu, R. , Kasim dan HadadPenyakit “Cacar-daun” cengkeh di Pekalongan, Lampung Tengah Adalah Bersifat Menular dan Menyebar di antara pertanaman Rakyat dengan akibat gugurnya daun. Tanaman tumbuh kerdil dan kealitas bunganya rendah. Diduga yang menjadi penyebab utama Adalah cendawan dan atau bakteri.belum diketahui dengan pasti tentang penyebarannya , pathogenitasnya dan etiologinya. Oleh karena itu diperlukan penelitian yang seksama dan terus-menerus, supaya dapat di tentukan cara-cara penanggulangannya yang lebih efektif.sementara kepastian penyebab dari penyakit ini sedang diteliti,maka untuk mencegah perkembangan penyakit ini dicoba dengan menggunakan beberapa macam pestisida, yakni aliette 80 WP, meneb-brestan, Cobox, Ridomil 1G dan vuraterr 3G , serta Antibiotika Agrimycin -100 dan Terramycin.
- Item2. Uji Resistensi Varietes Lada Terhadap Phytophthora Palmivora in Vitro .Resistance test of black pepper Varieties against P. palmivora in vitro(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-10) D.Sitepu dan Prayitno.Uji resistensi jenis-jenis lada ( piper nigrum) terhadap penyakit, busuk pangkal Batang Yang di sebabkan oleh phytophthora palmivora, telah di lakukan dalam laboratorium, di Natar , lampung. Daun – daun yangb segar dan sehat serta seragam dari 20 jenis lada diinokulasi secara buatan dengan phytophthora kemudian di tumbuhkan dalam emapt khusu dengan suhu kamar.dari 20 jenis yang di uji, ternyata 6 menunjukan sifat toleraj yang baik. Yaitu menurut Urutan: kallivalli, Bangka, Pulau laut , belatung, Lampung daun kecil dan sarmentossum, sedang yang tergolong moderat Adalah Banjarmasin Daun lebar jambi,
- ItemHasil Percobaan Varietas Rosella di Kebun Percobaan Pasirian(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-10) M.S. Cholil, Machfudz, dan M. SalehPenelitian ini membandingkan lima varietas rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.) di Kebun Percobaan LPTI Pasirian, Lumajang selama musim tanam 1976/1977 dan 1977/1978. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Hs. 36 merupakan varietas terbaik karena menghasilkan produksi per hektare tertinggi dan kualitas serat terbaik dibandingkan varietas Hs. 23, Hs. 40, Hs. 42, dan Hs. 47. Selain itu, kondisi iklim terbukti berperan penting dalam menentukan produksi dan rendemen serat rosella.
- Item8. Pengamatan Komponen Buah Kelapa Nias Dwarf di Kebun Induk Bone-Bone(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-10) Musa PaliluPenelitian ini mengamati komponen buah kelapa Nias Yellow Dwarf pada panen pertama di Kebun Induk Kelapa Bone-Bone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen bobot buah, bobot daging buah, tebal daging buah, ketebalan endosperma, dan bobot kopra memiliki tingkat keragaman yang rendah hingga hampir seragam. Ditemukan korelasi positif antara tebal daging buah dengan bobot daging buah dan bobot kopra. Oleh karena itu, komponen-komponen tersebut dapat dijadikan pedoman dalam seleksi pohon induk kelapa untuk pemuliaan dan peningkatan produksi kopra.
- Item5. Pengaruh Lama Pelayuan dan Lama Penyulingan terhadap Rendemen dan Mutu Minyak pada Penyulingan Serai Dapur(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-10) Sofyan Rusli, Djajeng Sumangat, dan Imas Sukmini SumiratPenelitian ini mengkaji pengaruh lama pelayuan (0, 1, dan 2 hari) serta lama penyulingan (45, 90, dan 135 menit) terhadap rendemen dan mutu minyak serai dapur menggunakan metode penyulingan air dan uap dengan sistem kohobasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama pelayuan dan penyulingan, rendemen minyak cenderung meningkat, tetapi penyulingan lebih dari 45 menit menurunkan kadar sitral sebagai indikator mutu minyak. Kombinasi pelayuan selama 2 hari dan penyulingan selama 135 menit menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 0,43% dengan kadar sitral 80,27%, sedangkan kadar sitral tertinggi (86,67%) diperoleh pada bahan yang tidak dilayukan dan disuling selama 45 menit dengan rendemen 0,30%. Penelitian ini menunjukkan adanya keseimbangan antara peningkatan hasil minyak dan kualitas minyak berdasarkan lama pelayuan serta penyulingan
- Item6. Coconut Leaf-Spirals and Their Non-Genetic Nature (Sifat Arah Putaran Daun pada Tanaman Kelapa Tidak Diwariskan)(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-10) R.E. Toar, T.M. Rompas, dan H. SudasripPenelitian ini membahas arah putaran daun pada tanaman kelapa, yang dapat berbentuk searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tipe putaran daun tersebut tersebar hampir sama banyak dalam suatu populasi. Berdasarkan pengamatan terhadap keturunan dari berbagai kombinasi persilangan, arah putaran daun terbukti tidak ditentukan oleh faktor genetik atau tidak diwariskan. Selain itu, data dari 7.860 pohon kelapa menunjukkan bahwa tanaman dengan putaran daun ke kiri jumlahnya sedikit lebih banyak dibandingkan tanaman dengan putaran daun ke kanan. Temuan ini menunjukkan bahwa arah putaran daun merupakan sifat non-genetik dan tidak dapat diprediksi berdasarkan sifat induknya.
- ItemPenelitian Jumlah Populasi Meloidogyne incognita dan pH Tanah pada Tanaman Lada di Bangka(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-10) I. MustikaPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah populasi nematoda Meloidogyne incognita dan tingkat pH tanah terhadap perkembangan nematoda serta pertumbuhan tanaman lada di Bangka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah nematoda yang diinokulasikan berpengaruh nyata terhadap perkembangbiakannya, terutama pada tingkat 100 ekor per kg tanah steril, sedangkan pH tanah tidak berpengaruh nyata terhadap perkembangan nematoda. Pertumbuhan tanaman lada meningkat tiga bulan setelah inokulasi pada perlakuan 1.000 ekor nematoda per kg tanah, tetapi menurun setelah lima bulan. Perbedaan pH tanah umumnya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan tanaman, kecuali pada pH 6,0–6,5 yang menunjukkan pertumbuhan lebih baik dibandingkan pH 4,5–5,0 tiga bulan setelah inokulasi.
- Item4. Pengujian Beberapa Varietas Kapas Upland di Daerah Cirebon(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-10) Rusim MardjonoPenelitian ini menguji beberapa varietas kapas upland di Desa Ambit, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon pada tanah aluvial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas DP 16 dan DPSL menghasilkan kapas berbiji paling tinggi dibandingkan varietas lainnya. Kedua varietas tersebut juga memiliki jumlah buah masak per tanaman terbanyak. Sementara itu, bobot 100 biji tertinggi diperoleh pada varietas Carolina Queen dan Reba BTK 12, sedangkan bobot serat bersih per 100 biji tertinggi terdapat pada Carolina Queen dan DP 25. Secara statistik, sebagian besar perbedaan antarvarietas tidak signifikan, sehingga penelitian ini menunjukkan bahwa DP 16 dan DPSL merupakan varietas yang berpotensi memberikan hasil produksi kapas yang lebih baik di daerah Cirebon.
- Item3. Pengembangan Jambu Mete di Daerah Istimewa Yogyakarta(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1979-10) Rusim MardjonoArtikel ini membahas pengembangan tanaman jambu mete di Daerah Istimewa Yogyakarta yang didukung oleh kondisi iklim yang sesuai, kondisi sosial masyarakat, peluang pasar yang baik, serta bantuan pemerintah. Pengembangan jambu mete bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menghijaukan lahan-lahan kritis. Sentra pengembangan berada di Kabupaten Gunung Kidul, Kulon Progo, Bantul, dan Sleman. Namun, produktivitas tanaman masih belum optimal karena teknik budidaya yang belum sempurna serta kondisi lahan yang berbatu dan miskin unsur hara. Oleh karena itu, peningkatan produksi dapat dilakukan melalui perbaikan teknik budidaya dan pengelolaan lahan agar hasil panen dan kesejahteraan petani meningkat.
- ItemPedoman Memelihara Ternak Babi(Balai Informasi Pertanian Gedong Johor, 1980) Balai Informasi Pertanian Gedong JohorTernak babi adalah merupakan salah satu ternak yang paling menguntungkan dari ternak piaraan kita
- ItemPengaruh Pemupukan Terhadap Bibit Tembakau di Pesemaian(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1980-01) Hobir dan Auzay HamidPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan bibit tembakau di persemaian. Percobaan dilakukan di Cimanggu (Bogor), Manoko (Lembang), dan Karangpawitan (Garut) dengan menggunakan beberapa perlakuan pupuk dan ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit yang tidak dipupuk mengalami pertumbuhan lambat dan tidak normal. Pertumbuhan terbaik diperoleh pada penggunaan campuran pupuk kandang 4 kg dengan tambahan 15 gram N, 30 gram P₂O₅, dan 15 gram K₂O per meter persegi. Kombinasi tersebut memberikan pertumbuhan bibit paling cepat di semua lokasi penelitian. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kandang dan pupuk buatan memberikan hasil berbeda pada tiap lokasi, tergantung kandungan unsur hara tanah terutama fosfor (P). Semakin tinggi pemberian nitrogen (N) dan kalium (K), pertumbuhan bibit semakin cepat, namun jika berlebihan dapat menurunkan kualitas bibit.
- ItemACCELERATING THE COCONUT INDUSTRY OF INDONESIA (Mempercepat Pengembangan Industri Kelapa Indonesia)(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1980-01) Hasman Azis dan Achmad AbdullahArtikel ini membahas upaya percepatan pengembangan industri kelapa di Indonesia. Indonesia memiliki sekitar 2,2 juta hektare lahan kelapa dan merupakan negara penghasil kelapa terbesar kedua di dunia. Namun, produksi kelapa belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri akibat pertumbuhan penduduk yang meningkat, sementara hasil produksi per pohon justru menurun. Pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk mencapai swasembada sebelum tahun 1990 dan kembali menjadi negara pengekspor produk kelapa. Artikel ini menjelaskan rencana dan program yang disusun untuk memperbaiki serta mempercepat perkembangan