Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 1588
  • Item
    Pengaruh Ukuran Anakan Terhadap Pertumbuhan Bibit sagu
    (Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan, 2008-06) R.B Maliangkay, N. Mashud, E. Manaroinsong dan Y.R. Mantana
    Saat ini, kebutuhan beras di Indonesia semakin meningkat dengan meningkatnya jumlah penduduk sebesar 2% per tahun. Menurut Bintoro (2003) apabila produksi beras tidak meningkat, karena peningkatan produksi per satuan luas tanah terkoreksi oleh berkurangnya sawah di pulau Jawa untuk keperluan lain, maka pada tahun 2025 kekurangan beras akan mencapai 18 juta ton. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dicari sumber pangan lain (karbohidrat) sebagai pengganti beras. Tanaman sagu berpotensi sebagai sumber pangan alternatif setelah beras, karena kandung- an karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Kandungan karbohidrat dan protein dalam 100 g sagu berturut-turut adalah 85,9 g dan 1,4 g, sedangkan kandungan karbohidrat dan protein dalam 100 g beras lebih rendah dari sagu yaitu 80,4 g dan 0,4 g (Sumaryo dalam Novarianto dan Mahmud, 1989).
  • Item
    Budidaya Tanaman Sagu ( Metroxylon SP .)
    (Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan, 2008-06) Engelbert Manaroinsong, R.B Maliangkay, Nurhaini Msahud
    3b Sagu (Metroxylon sago Rottb.) merupakan salah satu tanaman penghasil karbohidrat yang sangat potensial dalam mendukung program ketahanan pangan (Tarigans, 2001). Selain itu, sagu berpotensi sebagai substitusi bahan baku pembuatan kue, mie, makanan penyedap, berbagai jenis minuman, perekat, industri farmasi, biodegradable plastic dan sumber bahan baku etanol. (Pranamuda et al., 1996 dalam Rindengan dan Karouw, 2003; Bintoro, 2003).
  • Item
    Efektivitas Limbah Sagu Dalam Menekan Pertumbuhan Gulma Berdaun Lebar ( Borreria Alata ( Aubl) DC dan Mikania Micrantha HBK
    (Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan, 2008-06) M. Syakir,M.H. Bintoro, H. Agusta , Muh. Thamrin dan D. Hernita
    Pertumbuhan gulma merupakan salah satu faktor penghambat dalam usaha memaksimalkan produktivitas tanaman baik tanaman pangan, hortikul- tura maupun perkebunan. Persaingan antara gulma dengan tanaman dalam mengambil unsur-unsur hara, air, cahaya, nutrisi, gas O2 dan CO2, ruang dan persyaratan tumbuh yang sama sehingga mengakibatkan kompetisi. Dilaporkan bahwa penurunan produksi padi secara nasional sebagai akibat gangguan gulma mencapai 15-42% untuk padi sawah dan padi gogo 47-87% (Pitoyo, 2006). Sedangkan produksi jagung 16-82%, kedelai 18-69%, kacang tanah 20-50%, kacang hiaju 32% dan ubi kayu 6-62% (Bangun, 1990). Ramainas et al. (1999) menyatakan bahwa kompetisi gulma dapat menurunkan hasil tanaman kacang tanah 17-100%, sedangkan menurut Endarwati dan Soenadi (2001) gangguan gulma pada pertanaman kapas dapat menurunkan mutu dan produksi sampai 98%. Pada pertanaman lada tindakan pengendalian gulma banyak menyerap tenaga kerja sekitar 36% dari total tenaga kerja untuk pemeliharaan (Bank Indonesia, 2002).
  • Item
    Potensi Tepung Ampas Kelapa Sebagai Sumber Serat Pangan Dan Manfaatnya Untuk Kesehatan
    (Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan, 2008-06) Steivie Karouw Dan Rindengan Barlina
    Pengolahan daging buah kelapa dengan metode basah menjadi minyak goreng atau minyak kelapa murni (virgin coconut oil) sebagai produk utama, akan menghasilkan produk ikutan yaitu blondo, skim kelapa, air kelapa dan ampas kelapa. Pemanfaatan ampas kelapa masih terbatas untuk pakan ternak dan sebagian dijadikan tempe bongkrek (Rindengan et al., 2004). Ampas kelapa dapat diolah lanjut menjadi tepung ampas kelapa. Tepung ampas kelapa secara visual memiliki warna yang berbeda dengan tepung gandum ataupun tepung komersial lainnya. Ditinjau dari aspek gizi, maka tepung ampas kelapa mengandung protein, lemak dan karbohidrat yang sangat dibutuhkan untuk proses fisiologis dalam tubuh manusia. Tepung ampas kelapa juga mengandung serat pangan sekitar 60,9-63,24% (Trinidad et al., 2006; Raghavendra et al., 2006).
  • Item
    Evaluasi Keragaman Plasma Nutfah Kelapa Dalam Di Gorontalo
    (Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan, 2008-06) Miftahorrachman
    Pembangunan suatu koleksi plasma nutfah bertujuan untuk meng- himpun gen-gen yang terdapat pada suatu spesies tanaman yang bermanfaat untuk melakukan perbaikan spesies tersebut atau menghasilkan kultivar baru yang lebih unggul. Menurut Muhammad (2007), kekayaan koleksi plasma nutfah bukan terletak pada jumlah nomor koleksi plasma nutfah atau berapa jumlah aksesi yang dikoleksi, namun yang menjadi ukuran suatu koleksi adalah dari keragaman genetik dari koleksi tersebut.