Sayuran dan Tanaman Obat
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 156
- ItemRiview Hasil Pengkajian Penerapan PHT Sayuran(BPTP Jatim, 2002) ROSMAHANI, Luki
- ItemAdaptasi Beberapa Varietas Bawang Merah di Luar Musim(BPTP Karangploso, 1998) BASWARSIATI; L. Roesmahani; E. Korlina
- ItemIntroduksi dan Uji Adaptasi Varietas Cabai (Capsium anum L.)(BPTP Karangploso, 1998) KUSUMAINDERAWATI, E.P; Yuniarti; Sarwono
- ItemPanduan Budidaya Sayuran dan Tanaman Obat di Pekarangan(Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, 2022) Nugraha, Tommy; Sari, Mutiara; Suharni; Subardi; Atmojo, Hanang Dwi; Julianto, ArdiSayuran dan tanaman obat mempunyai arti penting bagi perkembangan sosial ekonomi khususnya dalam peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat dan perluasan kesempatan kerja. Komoditas sayuran saat ini berkembang sebagai komoditas agribisnis karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan prospek yang cukup besar dalam pemasarannya. Begitu juga dengan komoditas tanaman obat yang permintaannya semakin meningkat di masa pandemi Covid-19, baik dalam bentuk segar maupun sebagai bahan baku industri farmasi dan jamu. Komoditas sayuran dan tanaman obat diminati oleh masyarakat banyak dan mempunyai harga yang relatif tinggi baik untuk pasar domestik maupun ekspor, namun memerlukan penanganan intensif dalam budidayanya. Dalam rangka menjamin ketersediaan dan aksesbilitas sayuran dan tanaman obat untuk keluarga, masyarakat dapat melakukan budidaya sayuran dan tanaman obat di lahan pekarangan. Kementerian Pertanian telah mencanangkan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yaitu kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat yang secara bersama sama mengusahakan lahan pekarangan sebagai sumber pangan secara berkelanjutan untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan, dan pendapatan.
- ItemBUDIDAYA BROKOLI (Brassica Oleracea L Var. Italica) DI BALAI BESAR PELATIHAN PERTANIAN LEMBANG(2025-08-10) ADID NAZMUDINBrokoli merupakan tanaman sayuran famili Brassicaceae (jenis kol dengan bunga) berupa tumbuhan berbatang lunak. Tanaman ini diduga berasal dari Eropa, pertama kali ditemukan di Cyprus, Italia Selatan dan Mediterania 2000 tahun lalu (Sembiring dan Karo-karo, 2017). Sayuran ini masuk ke Indonesia sekitar 1970-an dan kini cukup populer sebagai bahan pangan (Inayah, 2007). Bagian brokoli yang dimakan adalah kepala bunga berwarna hijau atau disebut curd (Reza, hijau 2019). Brokoli merupakan sayuran yang tumbuh pada lingkungan sub tropik. Umumnya brokoli tidak tahan terhadap lingkungan panas (Raleni dkk., 2015). Brokoli mampu beradaptasi dengan baik di daerah dataran tinggi dengan kelembaban udara yang rendah. Brokoli memiliki kandungan nutrisi tinggi, kaya akan vitamin dan mineral, seperti vitamin A dan C, karotenoid, serat, kalsium, dan asam folat dan juga mengandung senyawa glucoraphanin yang memiliki sifat antikanker (Indriyati,2018). Sayuran ini sangat baik dikonsumsi untuk meningkatkan gizi serta kesehatan tubuh. Sayuran brokoli digemari banyak orang dan memiliki nilai jual yang tinggi, sehingga cukup layak untuk dibudidayakan. Hasil pertanian brokoli tidak hanya memenuhi pasar dalam negeri, tapi juga sebagai komoditas ekspor. Peningkatan pangsa pasar brokoli di Indonesia dengan sasaran pasar modern meningkat 15-20% pertahun (Unitid States Agency International Development chapter Indonesia dalam Adwiyah, 2017).