Buletin Diagnosa Veteriner
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 190
- ItemPenyidikan Kasus Terduga Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan Bulan Desember Tahun 2024(Perpustakaan Balai Besar Veteriner Maros, 2025-12) Dariani, Wiwik; Firdaus, Taman; SugiartiPenyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit yang sangat menular dan menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, domba, rusa, dan babi serta memiliki dampak terhadap ekonomi. Di Asia, serotipe O merupakan serotipe dominan yang lebih banyak menyebabkan wabah PMK dibandingkan serotipe A dan Asia 1. Kasus PMK dinyatakan masuk kembali ke Indonesia sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 513/Kpts/PK.300/M/07/2022 tentang perubahan atas Keputusan Menteri Pertanian Nomor 500.1/Kpts/ PK.300/M/06/2022 tentang Penetapan Daerah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku. Penyakit Mulut dan Kuku ditandai dengan demam, terdapat vesikel di mulut, moncong hidung, putting susu, dan teracak. Laporan kasus dugaan PMK di Kabupaten Gowa disampaikan oleh Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Gowa ke BBVet Maros tanggal 19 Desember 2024. Berdasarkan Surat Perintah Tugas Nomor 00268/SPT/KU.300/016.46/F4. E/12/2004, dilaksanakan penyidikan atas dugaan PMK di Kabupaten Gowa oleh BBVet Maros. Tim penyidikan terdiri dari BBVet Maros dan Bidang Peternakan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Gowa. melaksanakan penyidikan di Kelurahan Borongloe Kecamatan Bontomarannu. Berdasarkan pemeriksaan terhadap tanda klinis penyakit serta hasil pengujian laboratorium maka dapat disimpulkan bahwa kasus penyakit pada sapi di Kelurahan Borongloe Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa disebabkan oleh Penyakit Mulut dan Kuku.
- ItemPengambilan Sampel Cairan Higroma pada Sapi di Kabupaten Polewali Mandar dan Pinrang untuk Pengujian Brucellosis(Perpustakaan Balai Besar Veteriner Maros, 2025-12) Rahman, Abdul; Putra, Hamdu Hamjaya; Amaliah, FitriPenyakit brucellosis disebabkan Brucella abortus yang menyebabkan kerugian pada peternakan sapi di Indonesia. Salah satu tanda klinis brucellosis yang muncul pada beberapa sapi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) dan Pinrang yaitu higroma. Tujuan dari penulisan ini untuk memberikan informasi kasus higroma dan pengambilan sampel untuk pengujian brucellosis pada sapi di Kabupaten Polman dan Pinrang. Sapi yang mengalami higroma biasanya terlihat tanda pembengkakan pada sendi lutut kaki dan setelah dilakukan perabaan berisi cairan. Higroma yang berisi cairan difiksasi dengan kapas alkohol 70% untuk sterilisasi sebelum dilakukan pengambilan sampel menggunakan spuit. Cairan yang didapat disimpan di dalam cool box suhu 2-8oC dan sebanyak 0,5 ml-1 ml diteteskan dalam Tryptic Soy Broth (TSB) 10 ml. Inkubasi cairan dalam TSB dilakukan lebih lanjut di laboratorium pada suhu 37-41oC selama 48 jam untuk pengujian brucellosis. Hasil pengamatan di lapangan terdapat higroma pada satu kaki dan ada pula yang terjadi pada kedua kaki depan. Ukuran higroma sapi terlihat besar, sedang dan kecil dengan konsistensi keras dan lunak. Sapi di Kabupaten Polman dan Pinrang mengalami higroma yang teraba lunak hingga keras. Cairan yang didapat menunjukkan warna dan kekeruhan yang berbeda yaitu kekuningan jernih sampai kekuningan keruh, dan kemerahan jernih sampai kemerahan keruh. Sampel cairan yang dikoleksi dari higroma didapatkan volume 20-250 ml. Berdasarkan pengamatan dan pengambilan sampel higroma di Kabupaten Polman dan Pinrang diketahui terjadi perbedaan ukuran, konsistensi dan warna higroma antar sapi. Sampel cairan yang diambil dari higroma memiliki jumlah volume yang berbeda antar sapi. Perlunya melaporkan tanda klinis brucellosis salah satunya higroma pada sapi kepada pihak terkait dalam upaya penanganan dan pemberantasan brucellosis di suatu wilayah.
- ItemPengembangan Metode Pengujian Histopatologi dan Imunohistokimia Penyakit Avian Influenza pada Ayam(Perpustakaan Balai Besar Veteriner Maros, 2025-12) Wahyuni; Fitriah Idris; Faradhillah; Pitriani; Supri; SukriAvian Influenza (AI) merupakan penyakit viral menular yang menyerang unggas dan berpotensi zoonosis. Diagnosa cepat dan akurat sangat penting dalam melakukan pengendalian dan pencegahan penyakit. Metode pengujian yang umum digunakan untuk mendiagnosa penyakit AI adalah deteksi molekuler (RT-PCR) dan serologi (HA/HI). Selain metode tersebut, diagnosa AI bisa dilakukan dengan metode histopatologi dan immunohistokimia (IHK) sebagai pendukung diagnosis dan penelusuran patogenesis. Pengembangan metode histopatologi bertujuan untuk mengidentifikasi lesi patognomonis pada jaringan akibat infeksi AI, seperti nekrosis epitel saluran pernapasan, kongesti, perdarahan, dan infiltrasi sel radang pada organ target (otak, paru-paru, limpa, proventrikulus, vial). Sedangkan metode IHK dikembangkan untuk mendeteksi antigen virus influenza A (protein nukleoprotein/NP atau hemaglutinin/HA) secara spesifik di dalam jaringan yang terinfeksi dengan menggunakan antibodi monoklonal maupun poliklonal.
- ItemManajemen Limbah di Laboratorium Bioteknologi dan Virologi Balai Besar Veteriner Maros(Perpustakaan Balai Besar Veteriner Maros, 2024-12) Said, Sitti Hartati; Yunus, Muhammad; Rudiwidodo; Sembiring, Zakaria ElpradaLimbah adalah sisa atau produk dari suatu proses usaha atau kegiatan yang terbuangn dan tidak terpakai yang dapat menimbulkan dampak buruk terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Salah satu kegiatan yang menghasilkan limbah adalah kegiatan di laboratorium seperti penelitian, uji kualitas, dan analisis sampel. Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros sebagai salah satu unit kerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian yang bertugas sebagai laboratorium pengujian terhadap penyakit hewan. Aktifitas pengujian laboratorium di BBVet Maros cukup tinggi terutama di Laboratorium Bioteknologi dan Virologi mengakiatkan semakin meningkat pula jumlah limbah yang dihasilkan termasuk yang berbahaya dan beracun. Perlunya melakukan penanganan limbah laboratorium sesuai dengan karakteristik limbah agar tidak membahayakan manusia dan lingkungan khususnya staf dan pegawai di BBVet Maros. Laboratorium Bioteknologi dan Virologi BBVet Maros telah rutin melakukan manajemen limbah laboratorium secara on-site melalui proses identifikasi, pemilahan, dan penanganan.
- ItemAnalisis Filogenetik Gen Hemaglutinin Virus Influenza A Subtype H5N1 Isolat Ayam Petelur di Maros, Sulawesi Selatan, 2021(Balai Besar Veteriner Maros, 2024-12) Mutisari, Dewi; Muflihanah; LestariAvian Influenza (AI) adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Infeksi Avian Influenza Virus (AIV) telah menyebabkan kerugian ekonomi di bidang industri peternakan dan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Wabah HPAI H5N1 di Indonesia terjadi sejak tahun 2003. Berbagai upaya pencegahan dan pengendalian telah dilakukan, namun outbreak AIV masih terjadi hingga sekarang. Penelitian ini melakukan whole-genome sequencing (WGS) dengan teknik next generation sequencing (NGS) (Illumina) terhadap isolat ayam petelur yang berasal dari Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan tahun 2021. Analisis molekuler dilakukan dengan melakukan multiple alignment dan prediksi asam amino menggunakan program MEGA 11. Pohon filogenetik dihasilkan melalui metode Neighbor-Joining dengan nilai bootsrap dihitung dari 1000 ulangan. Patogenesitas virus salah satunya dapat dilihat dari susunan asam amino cleavage site pada gen hemaglutinin (HA). Dari penelitian ini kami menyimpulkan bahwa isolat AIV ayam petelur dari Maros, Sulawesi Selatan tahun 2021 memiliki susunan asam amino PQRERRRK-GLF pada daerah cleavage site gen HA. Hal tersebut mengindikasikan bahwa isolat AIV tersebut merupakan virus AI yang bersifat patogen atau high pathogenic avian influenza (HPAI). Sedangkan berdasarkan analisis clade isolat AIV tersebut termasuk dalam virus H5N1 clade 2.3.2.1c.