Buletin Diagnosa Veteriner

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 192
  • Item
    Kajian Serologis (Lateral Flow Assay, RBT, CFT) Kejadian Brucellosis di Daerah Endemis Kabupaten Pinrang sebagai Acuan dalam Pengendalian Brucellosis di Sulawesi Selatan
    (Balai Besar Veteriner Maros, 2012) Muflihanah; Hatta, Mohammad; Siswani; Rosmiaty; Soegiarto; Faizah; Zakariya, Faizal; Iryadi; Smith, Henk; Perpustakaan Balai Besar Veteriner Maros
    Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan uji serologis lateral flow dengan uji serologis lainnya (RBT dan CFT) dalam penentuan prevalensi didaerah endemis berdasarkan kajian epidemiologi. Penelitian ini terdiri atas penelitian ekploratif dan observasional laboratorium dengan desain cross sectional study. Secara eksploratif bertujuan untuk mengkaji karakteristik serologis Brucellosis sedangkan secara observasional bertujuan untuk membandingkan uji serologis lateral flow dengan uji serologis lainnya dalam penentuan prevalensi Brucellosis didaerah endemis khususnya di Kabupaten Pinrang. Pengambilan spesimen serologis berdasarkan asumsi prevalensi 7%, dangan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat error 5%, kemudian dihitung berdasarkan besaran spesimen sistem tahapan ganda dengan jumlah spesimen sebesar 315 (0.73%) pada tingkat kabupaten, dengan asusmsi 5 sampai 14 spesimen per kecamatan dan 0 sampai 18 spesimen perdesa. Dari penelitian diperoleh 393 spesimen dan hasil penelitian menunjukkan rerata pengujian RBT sebesar 18.3, 95% CI, 17-21) dan 19,3% (95% CI, 17-22) pada pengujian CFT . Seropositif gabungan pada pengujian RBT dan CFT adalah 21,9%. Dari penelitian ini didapatkan prevalensi Brucellosis di Kabupaten Pinrang cukup tinggi sebesar 19,3%. Dari perbandingan antara pengujian lateral flow dengan pengujian RBT dan CFT di dapatkan bahwa pengujian lateral flow'dan RBT memiliki kesesuaian yang cukup tinggi dengan nilai Kappa sebesar 0, 917 sedangkan lateral flow dengan CFT memiliki nilai Kappa 0.902. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa teknik lateral flow dapat digunakan dalam serodiagnosis Brucellosis dilapangan.
  • Item
    Penyidikan Penyakit Endemik "Brucellosis" di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat Tahun 2022
    (Perpustakaan Balai Besar Veteriner Maros, 2022-07) Amaliah, Fitri; Furi Djatmikowati, Titis; Siswani; Rahman, Abdul
    Brucellosis merupakan penyakit bakterial pada sapi yang sangat menular, zoonosis dan penting secara ekonomi. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mencanangkan program pemberantasan Brucellosis dengan target bebas penyakit tahun 2025. Sulawesi Barat yang menjadi bagian wilayah kerja BBVet Maros dengan prevalensi Brucellosis yang cukup tinggi khususnya di Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Hasil surveilan dan monitoring Brucellosis memantau perkembangan penyakit Brucellosis dan perubahan prevalensi penyakit tersebut, khususnya di wilayah Kabupaten Polman. Berdasarkan rumus n= 4PQ/L2 diperoleh target sampel 123 sampel. Pelaksanaan surveilan menghasilkan 373 sampel serum dan 14 sampel hygroma. Sebanyak 91 sampel serum positif RBT dan CFT dan 7 sampel hygroma positif isolasi bakteri Brucella abortus. Seroprevalensi Brucellosis Kabupaten Polman tahun 2022 sebesar 24,4%. Analisis faktor risiko dengan SPSS Stratistics 25.0 diketahui faktor pola penggembalaan ternak, densitas penggembalaan, sumber air minum, adanya sejarah abortus, pengetahuan ternak, mengenai Brucellosis, cara penanganan sisa abortus, tindakan terhadap induk pasca abortus, dan musim signifikan terhadap kasus Brucellosis di Kabupaten Polman.
  • Item
    Penyidikan Kasus Terduga Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan Bulan Desember Tahun 2024
    (Perpustakaan Balai Besar Veteriner Maros, 2025-12) Dariani, Wiwik; Firdaus, Taman; Sugiarti
    Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit yang sangat menular dan menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, domba, rusa, dan babi serta memiliki dampak terhadap ekonomi. Di Asia, serotipe O merupakan serotipe dominan yang lebih banyak menyebabkan wabah PMK dibandingkan serotipe A dan Asia 1. Kasus PMK dinyatakan masuk kembali ke Indonesia sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 513/Kpts/PK.300/M/07/2022 tentang perubahan atas Keputusan Menteri Pertanian Nomor 500.1/Kpts/ PK.300/M/06/2022 tentang Penetapan Daerah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku. Penyakit Mulut dan Kuku ditandai dengan demam, terdapat vesikel di mulut, moncong hidung, putting susu, dan teracak. Laporan kasus dugaan PMK di Kabupaten Gowa disampaikan oleh Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Gowa ke BBVet Maros tanggal 19 Desember 2024. Berdasarkan Surat Perintah Tugas Nomor 00268/SPT/KU.300/016.46/F4. E/12/2004, dilaksanakan penyidikan atas dugaan PMK di Kabupaten Gowa oleh BBVet Maros. Tim penyidikan terdiri dari BBVet Maros dan Bidang Peternakan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Gowa. melaksanakan penyidikan di Kelurahan Borongloe Kecamatan Bontomarannu. Berdasarkan pemeriksaan terhadap tanda klinis penyakit serta hasil pengujian laboratorium maka dapat disimpulkan bahwa kasus penyakit pada sapi di Kelurahan Borongloe Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa disebabkan oleh Penyakit Mulut dan Kuku.
  • Item
    Pengambilan Sampel Cairan Higroma pada Sapi di Kabupaten Polewali Mandar dan Pinrang untuk Pengujian Brucellosis
    (Perpustakaan Balai Besar Veteriner Maros, 2025-12) Rahman, Abdul; Putra, Hamdu Hamjaya; Amaliah, Fitri
    Penyakit brucellosis disebabkan Brucella abortus yang menyebabkan kerugian pada peternakan sapi di Indonesia. Salah satu tanda klinis brucellosis yang muncul pada beberapa sapi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) dan Pinrang yaitu higroma. Tujuan dari penulisan ini untuk memberikan informasi kasus higroma dan pengambilan sampel untuk pengujian brucellosis pada sapi di Kabupaten Polman dan Pinrang. Sapi yang mengalami higroma biasanya terlihat tanda pembengkakan pada sendi lutut kaki dan setelah dilakukan perabaan berisi cairan. Higroma yang berisi cairan difiksasi dengan kapas alkohol 70% untuk sterilisasi sebelum dilakukan pengambilan sampel menggunakan spuit. Cairan yang didapat disimpan di dalam cool box suhu 2-8oC dan sebanyak 0,5 ml-1 ml diteteskan dalam Tryptic Soy Broth (TSB) 10 ml. Inkubasi cairan dalam TSB dilakukan lebih lanjut di laboratorium pada suhu 37-41oC selama 48 jam untuk pengujian brucellosis. Hasil pengamatan di lapangan terdapat higroma pada satu kaki dan ada pula yang terjadi pada kedua kaki depan. Ukuran higroma sapi terlihat besar, sedang dan kecil dengan konsistensi keras dan lunak. Sapi di Kabupaten Polman dan Pinrang mengalami higroma yang teraba lunak hingga keras. Cairan yang didapat menunjukkan warna dan kekeruhan yang berbeda yaitu kekuningan jernih sampai kekuningan keruh, dan kemerahan jernih sampai kemerahan keruh. Sampel cairan yang dikoleksi dari higroma didapatkan volume 20-250 ml. Berdasarkan pengamatan dan pengambilan sampel higroma di Kabupaten Polman dan Pinrang diketahui terjadi perbedaan ukuran, konsistensi dan warna higroma antar sapi. Sampel cairan yang diambil dari higroma memiliki jumlah volume yang berbeda antar sapi. Perlunya melaporkan tanda klinis brucellosis salah satunya higroma pada sapi kepada pihak terkait dalam upaya penanganan dan pemberantasan brucellosis di suatu wilayah.
  • Item
    Pengembangan Metode Pengujian Histopatologi dan Imunohistokimia Penyakit Avian Influenza pada Ayam
    (Perpustakaan Balai Besar Veteriner Maros, 2025-12) Wahyuni; Fitriah Idris; Faradhillah; Pitriani; Supri; Sukri
    Avian Influenza (AI) merupakan penyakit viral menular yang menyerang unggas dan berpotensi zoonosis. Diagnosa cepat dan akurat sangat penting dalam melakukan pengendalian dan pencegahan penyakit. Metode pengujian yang umum digunakan untuk mendiagnosa penyakit AI adalah deteksi molekuler (RT-PCR) dan serologi (HA/HI). Selain metode tersebut, diagnosa AI bisa dilakukan dengan metode histopatologi dan immunohistokimia (IHK) sebagai pendukung diagnosis dan penelusuran patogenesis. Pengembangan metode histopatologi bertujuan untuk mengidentifikasi lesi patognomonis pada jaringan akibat infeksi AI, seperti nekrosis epitel saluran pernapasan, kongesti, perdarahan, dan infiltrasi sel radang pada organ target (otak, paru-paru, limpa, proventrikulus, vial). Sedangkan metode IHK dikembangkan untuk mendeteksi antigen virus influenza A (protein nukleoprotein/NP atau hemaglutinin/HA) secara spesifik di dalam jaringan yang terinfeksi dengan menggunakan antibodi monoklonal maupun poliklonal.