Prosiding fasilitas forum kerjasama pengembangan biofatmaka
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Prosiding fasilitas forum kerjasama pengembangan biofatmaka by Issue Date
Now showing 1 - 15 of 15
Results Per Page
Sort Options
- ItemRUMUSAN SEMINAR DALAM RANGKA PEKAN BIOFARMAKA NASIONAL 11-35(Balai Penelitian Tanaman Repah dan Obat, 2004-07-14) Ir. Nunuk M. Januvati , Mg. APUKebutuhan a kan tanaman obat untuk i ndustri obat tradisional, modern/ fitofarmaka dan ekspor simplisia semakin meningkat. Akan tet api pasokan untuk kebutuhannya belum dipenuhi sesuai GAP. Pengernbangan tumbuhan obat mengacu 'pada landasan kebijaksanaan nasional yang m liputi perundang—undangan, peraturan keputu an pemerintah, kebutuhan industri dan tuntutan masyarakat yang menjadi mata rantai untuk mencapai sasaran akhir kesejahteraan masyara kat . Berdasarkan GBHN 1988 dan 1993, dan didukung Peraturan Menteri Kesehatan No- 760/Menkes/Per/1X/92 Fitofarmaka dan obat tradisional, bagian pengobatan formal maka pengembangan komodi tas tanaman obat GAP perlu direalisasikan. tentang sebagai peluang melalui Dalam pelaksanaan GAP ditekankan untuk melaksanakan budidaya secara Iestari dan ramah lingkungan dengan mengacu pada LISA dan pertanian organik guna menghasilkan mutu yang konservasi untuk bai k dan mela ksanakan pelestarian tanaman Obat dan juga lingkungan secara umum. Dengan adanya jaminan mutu simplisia yang digunakan sebagai herbal dan fi tofarmaka maka dapat meningkatkan mutu dan keamanan dari produk fitofarma ka kian juga bahan baku industri dapat dipenuhi kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya. Guna melaksanakan GAP tanaman Obat perlu adanya dukungan teknologi be rdasarkan SOP antara Iain teknik budidaya mulai perbenihan,
- ItemPERSAMAAN PRESEPSI STAKEHOLDERS BIOFARMAKA SEBAGAI MODAL DASAR PENGEMBANGAN DI MASA DEPAN(Pusat Studi Obat Tradigional Univergitag Gajah Mada, 2004-07-14) Sudargono
- ItemPASCAPANEN DAUN JATI BELANDA (Guazuma ulmifolia Lamk)(Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB, 2004-07-14) Nuri Andarwulan Sugi IndarianiKebutuhan bahan baku (terutama produk janu antikolesterol dan pelangsing yaitu Jati sangat besar kebutuhan pasarnya. Sementara itu standardisasi produk dalam mengembangkan obat bahan alam sebagai ekstrak tecstandar, dan fitofarmaka merupakan hal . Oleh karena i tu penelitian ini bertujuan untuk menelaah teknologi pasca panen untuk mencapai keamanan daun Jati Belanda yang didasari fakta ilmiah. Dalarn mencapai tujuan ini, dilakukan penelitian uji hubungan perlakuan pascapanen yaitu teknik pengeringan, dan penyimpanan terhadap kualitas bahan baku. Adapun hasil dari penelitian ini adalah Paket Teknologi pascapanen dengan perincian sebagai berikut a) Cara pencucian: sistem batch dengan mengguna kan klorin dengan kadaz 200 ppm; b) Pengeringan menggunakan oven 500C; dan c) Pengenas menggunakan alumunium komposit
- ItemPROSPEK KULTUR JARINGAN TANAMAN UNTUK PRODUKSI BAHAN OBAT ALAMI(Grup Riset Bioteknologi Tanaman Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Jl. Dharmawangsa dalam, Surabaya 60286, 2004-07-14) Gunawan Indrayanto dan Achmad SyahraniSejarah bioteknologi tanaman atau kultur jar ingan tanaman (KJT) dimulai sejak diperkenalkan pertama kali pada tahun 1902 Oleh Haberlandt, mulai berkembang pesat Sejak tahun limapuluhan, dan berkat usaha intensif dari berbagai grup peneliti sekarang telah berhasil dikultivasikan di dunia, secara in vitro sel kalus tanaman di dalam suatu bioreaktor dengan volume 100 sampai 75.000 liter 1990; Ramachandra (Westphal , Rao Rao and Ravi sshankar, 2002) , dan diperkenalkannya sel/tanaman transgenik yang mempunyai sifat unggul tertentu dan bahkan dapat memproduksi vaksin dan (www. geoties . com. , protein mamalia tertentu Sekarang bioteknologi tanaman sbc. ucdavis . edu) . dipakai pada bidang pertanian umu mnya (agrobiotechnology) dan farmasi /kimia ( industrial plant cell biotechnology) . Selain itu sistem kultur jaringan tanaman/bioteknologi tanaman pada saat ini banyak pula digunakan untuk studi bio—remediasi bahan organik beracun dan logam—logam berat (Hacek, 2000) . Pada bidang pertanian bioteknologi tanaman pemul i aan tanaman dan untuk dapat dipakai Menurut Pierik (1991) di Eropa mikropropagasi. Barat pada tahun 1988 terdapat 248 perusahaan komersial yang memproduksi bibit tanaman secara 37 diantaranya memproduksi lebih mi kropropagasi, total bibit/tahun, sedangkan dari sejuta produksinya pada tahun 1988 adalah sebesar 212, 5 juta bibit. Di Belanda pada tahun 1995 diproduks
- ItemPENGARUH PUPUK P DAN K TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU(Balai Penelitian Tanaman Repah dan Obat, 2004-07-14) Muchamad Yusron dan M. JanuwaEiSambi Ioto merupa kan salah satu tanaman obat yang berpotensi untuk dikembangkan dalam Produksi dan mutu industri fitofarmaka . tanaman obat secara umum dipengaruhi Oleh Penelitian ini keberadaan unsur hara. dilakukan untuk mempelajari peran unsur hara P dan K dalam produksi dan mutu sambiloto. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan ketinggian tempat Cimanggu, Balittro, Bogor , 240 m dpl, tipe iklim A (klasifikasi Schmidt September 2003. dan Ferguson) pada bulan Juni — acak Percobaan disusun dalam rancangan kelompok dengan 2 faktor dengan tiga ulangan . paktor I adalah empat taraf dosis p, yaitu O, 100 dan 150 kg sp36/ha, dan faktor 11 50, adalah empat taraf dosis K, yaitu O, 25, 50 Setiap petak perlakuan dan 75 kg KC1/ha. berukuran 3 m x 2 m, dan jarak antara petak Sambi loto ditanam pada bedeng adalah 1 m. setinggi 20 cm dengan jarak 30 cm x 40 cm. Pupuk dasar yang diberikan adalah 10 ton pupuk kandang/ha dan 150 kg urea/ ha yang diberikan 3 kali, 1/3 bagian masing—masing diberi kan pada saat tanam, 4 minggu setelah tanam (MST) dan 8 Panen dila kukan pada umur 3 bulan MST . setelah tanarn. bahwa menunjukkan peneli tian Has il pernupukan P dan K t idak berpengaruh terhadap Pemupukan P dan K pertumbuhan tanaman . berpengaruh nyata terhadap bobot segar per tanaman, namun t idak ada interaksi pengaruh
- ItemAnalisis Kelayakan Finansial Dan Usahatani(balai penelitian tanaman rempah obat, 2004-07-14) JT . YuhonoUntuk menqetahui pendapatan dan kelayakan usaha tani mengkudu finansial telah di lakukan penel it ian di desa Tegalwaru dan desa Cicadas kecamatan Ciampea kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa usahatani mengkudu secara komersial belum banyak tetapi ada beberapa petani dilakukan, yang mengusaha kan tanaman mengkudu berlokasi di desa Tegalwaru dan desa Cicadas sudah secara konsisten telah memproduksi mengkudu dan menjualnya ke perusahaan sari buah mengkudu. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Desember 2003 sampai dengan Januari 2004. Penelitian menggunakan metode survey. Karena petani yang mengusahakan mengkudu secara komersial masih terbatas, maka ditentukan empat petani sebagai petani resgx)nden. Untuk mengetahui pendapatan usahatani digunakan analisis pendapatan dan untuk mengetahui kelayakannya secara finansial digunakan Analisis Benefit Cost Ratio (B/C Rasio), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Hasil anal i sis menunjukkan bahwa dengan umur proyek selama lima tahun diperoleh tan dari usahatani mengkudu sebesar Rp 41.058 . 989, — atau rata—rata sebesar Rp 8.211.798, — per NPV sebesar Rp tahun. B/C Rasio sebesar 2, 90, 41.058.989, pada tahun Kata Kunci Biofarmaka, — dan IRR dan modal petani akan kembali ke 11 bulan ke 10. : Kelaya Usahatani, Bahan Baku, Mengkudu
- ItemSTANDARISASI TANAMAN OBAT(Balai Penelitian Tanaman Repah dan Obat, 2004-07-14) Wahyu jokopriyambculo, BPTO Tawangmangu
- Item"INDONESIAN BIOPHARMACA EXHIBITION AND CONGRESS 2004" (IBEC - 2004)(PEKAN BIOFARMAKA NASIONAL 11, 2004-07-14) MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA
- ItemSTUDI AGROBIOFISIK DAN UJI COBA BUDIDAYA JATI BELANDA(Pusat Studi Biofarmaka LPPM I PB, 2004-07-14) Munif Ghulammahdi, E Djauhari, A Junaedi, P Heryanto, Y DwidhiyanthiStudi agrobiofisik dan Uji coba budi daya Oat i Be landa (Guazuma ulmi folia Lamk) telah dilakukan untuk mendapatkan data dasar sebagai bahan evaluasi dan penerapan GAP (Good Agri cul tural Practices) . Survey telah dilaku kan di daerah Cilacap , Tawangmangu, Cirebon dibedakan Pema lang , dan yang berdasarkan ketinggian tempat yaitu 0-20 m, Jumlah curah hujan 200 m, dan 1000 m dpl. tert inggi di Kabupaten Tawangmangu sebesar 2743.0 mm/tahun dengan rata—rata sebesar 228.6 mm/ bul an Jumlah curah hujan terendah terdapat pada Kabupaten Ngawi sebesar 1812. O nun/ tahun 151. O rnrn/bulan. denga n ra t a sebesar Ketinggian tempat untuk Kabupaten Cilacap, Pemalang relati f sama. Akan Ci r ebon dan tetapi di lokasi Cilacap dan Pemalang tidak dan di Ci rebon di temukan jat i belanda, sedi kit di temukan hanya j umlahnya sang at sehingga tidak cukup untuk anal i sis daun. Di lakukan ana lisis kualitatif komponen kimia dan total fenol (kuantitatif) terhadap daun jat i belanda dari Tawangmangu dan Ngawi . Hasil analisis kualitatif komponen flavonoid, steroid, alkaloid, saponin, dan tanin tidak Perbedaan terli hat menunj ukkan perbedaan . kecil dimana kadar total fenol yaitu daun jati be landa yang berasal dari Ngawi mengandung total fenol 15.35% (berdasarkan standar asam vanilat) dan 39 . O", (berdasarkan standar asam yang be rasal da r i sedanqkan kumarat), Tawangmangu mengandunq total 15.04*
- ItemPENGARUH NAA DAN IBA TERHADAP PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) IN VITRO(Balai penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, 2004-07-14) Sitti Fatimah Syahid, Otih Rostiana dan MiftakhurohmahPurwoceng yolk.) merupa kan tanaman obat langka yang cukup potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku ini diperlukan Untuk mendukung budidaya tanaman bahan tanaman yang memadai . Keberhasilan teknik pe rbanyakan in vitro purwoceng untuk memperoleh bahan tanaman secara massal masih dibatasi oleh suli tnya menginduksi akar yang berpengaruh terhadap keberhasilan aklimatisasi di lapangan. Penelitian untuk mendapatkan teknik indu ksi bertujuan perakaran dengan menggunakan dua j enis auksin (NAA dan IBA) pada berbagai taraf konsentrasi yaitu O • 1.5 dan 2.0 0.6 ; 0.8 1.0 0.4 0.1 0.2 mg/ 1. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Acak lengkap dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah j umlah akar, panjang akar dan serta penampakan kultur secara j umlah daun layu visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa auksin balk NAA maupun IBA dapat menginduksi akar purwoceng in vi tro, namun penggunaan NAA pada konsentrasi 1.5 mg/ 1 menghasilkan akar yang lebih banyak yaitu 18.3 buah, dalam waktu empat minggu setelah kultur dan berbeda nyata dari perlakuan lainnya. Akar terpanjang dihasilkan dari t idak berbeda nyata NAA 0.6 mg/ I (2.0 cm) tapi dengan perlakuan NAA 1.5 mg/ I cru). Daun layu pal ing sedikit diperoleh pada perlakuan NAA 0.2 mg/ I yaitu O .36 helai. Dari penelitian ini, NAA
- ItemASPEK LAHAN DAN IKLIM UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN MENGKUDU DI PROPINSI LAMPUNG(BALAI PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT, 2004-07-14) Rosihan Rosman dan Endjo DjauhariyaMengkudu (Morinda trifolia L) termasuk salah satu tanaman fitofarmaka yang potensial, ka vena balk secara empiris maupun secara medis yakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit . Hasi 1 penelitian para ahli menyatakan bahwa semua bag ian tanaman tersebut hamp i r pada mengandung berbagai zat yang dapat digunakan terutama pada buah dan daunnya sebagai obat, Tanaman mengkudu dapat tumbuh di berbagai lahan dan iklim sampai ketinggian tempat 1.500 m dpi., namun t idak semua lahan dapat memberikan hasil peranannya cukup yang optimum. Meng ingat pent ing , maka dalam mendukung pengembangannya telah penelitian dengan dilakukan menginventarisasi data iklim dan lahan di daerah selanj utnya dievaluasi untuk Lampung yang menentukan daerah—daerah yang sesuai untuk pengembangan mengkudu. Evaluasi lahan dan i klin dilakukan dengan mencocokkan (matching) kondisi lahan dan iklim wilayah dengan persyaratan tumbuh tanaman.. Evaluasi dilakukan dengan metode tumpang tepat (over lay) . Dari hasil penyusunan peta kesesuaian lahan dan iklim didapat kan dan sesuai . daerah—daerah yang amat sesuai, Daerah yang amat sesuai adalah daerah dengan sedi kit atau tanpa faktor pembatas yang berarti den daerah yang sesuai adalah daerah yang sedikit atau beberapa faktor pembatas yang masih Daerah—daerah yang amat sesuai dapat diatasi. pada ketinggian tempat 500 m dpl , yait•u 3000¯ nun/ t h, jenis dengan cur ah hujan 2000 tanah Latosol, Andosol, Regosol, dan podsol i k,
- ItemANALISIS KIMIA AKAR PURWOCENG(Balai Penelitian Tanaman Repah dan Obat, 2004-07-14) Hornani•) dan Otih Roneiana••'Purwocenq ( Pimpinella prua tjan) merupakan sa lah satu tanaman obat yang dimanfaat kan afrodisiak. sebaqai Adapun tujuan dari penelit ian adalah untuk mengetahui kualitas, ekstrak aktif dan identifikasi komponen kimia Metode yang diguna kan untuk a kar purwoceng. kualitas sesuai dengan acuan MMI (Materia Medika Indonesia) seperti penentuan kadar abu, kadar abu tak larut asam, kadar sari yang larut dalam Pembuatan ekstrak menggunakan air dan alcohol . 3 j enis pelarut, yaitu heksan, khloroform dan Anal i sis fitokimia dan kromatografi etanol . lapis tipis (KLT dilakukan juga terhadap ekstrak kimia identifikasi komponen dan secara Kual itas yang kua f mengguna kan GCMS. dihasilkan seperti kadar 8, 65 kadar abu tak larut asam O, 39 % , dan kadar sari yang larut dalam a I kohol dan air masing—masing 3,19 dan Untuk rendemen ekstrak yang dihasilkan 22,77 % . yang tertinggi dari pelarut etanol (2, 67 8) dan Nilai uji terendah pelarut heksan O, 65 (LDso) dari ekstrak toksisitas tertinggi khloroform (292, 23 ppm) dan terendah dari Anal i sis fitokimia ekstrak etanol (745 ppm) . menunj ukkan senyawa golongan kumarin, al kaloid dan flavonoid terdeteksl dari semua ekstrak, sedangkan golongan tri terpenoid dalarn ekstrak senyawa tannin dan heksan dan khloroform, Pemisahan saponin da lam ekstra k etanol , komponen kimia secara KL'I' menunjukkan komponen
- ItemPERBAIKAN EFISIENSI PEMUPUKAN P PADA JAHE EMPRIT)(balai penelitian tanaman rempah dan obat indonesian Spice and medicinal Crops Research institute, 2004-07-14) Muchamad Yusron dan M. Januwatis been done by using Organic fertilizer and biofertilizer, in Order to reduce the use Of inorganic fertilizers, as well as to zeduce environmental pollution. This experiment was aimed to study Of using rock phosphate, zeol ite and biofertilizers in order to improve phosphate use efficiency on small ginger production. The field experiment was carried out at Kecama tan Ampel , Kabupaten Boyolali, which is located at elevation 800 asl, soi 1 type is Andosol, from October 2001 to August 2002, using randomized block design, with 9 treatments, i.e. (1) 350 kg rock phosphate + 140 kg biofertilizer, (2) 175 kg rock phosphate + 140 kg biofertilizer, (3) 300 kg sp-36 + 140 kg biofertilizer, (4) 150 kg SP-36 + 140 kg biofertilizer, (5) 350 kg rock phosphate + 140 kg biofertilizer + 400 kg zeolite, (6) 175 kg rock phosphate + 140 kg biofertilizer + (7) 300 kg SP36 + 140 kg 4 00 kg zeolite, biofertilizer + 400 kg zeolite, (8) 150 kg SP36 + 140 kg biofertilizer + 400 kg zeolite, and (9) 300 Basic fertilizers, were 20 kg SP36 per hectare. ton/ ha manure, 500 kg Urea /ha and 400 kg KCI/ha,
- ItemPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA(PEMN BIOFARMAKA NASIONAL 11 YOGYAKARTA, 14 JULI 2004, 2004-07-14) MEGAWATI SEOKARNOPUTRI