Browsing by Author "Widiarta, I Nyoman"
Now showing 1 - 7 of 7
Results Per Page
Sort Options
- ItemHama Wereng dan Cara Pengendaliannya Pada Tanaman Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Baehaki S.E.; Widiarta, I NyomanAbstrak Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama di Indonesia yang keberlanjutan produksinya kerap terancam oleh serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), khususnya hama wereng. Hama wereng, seperti Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens), Wereng Hijau (Nephotettix virescens), dan Wereng Punggung Putih (Sogatella furcifera), merusak tanaman dengan cara menghisap cairan sel batang serta berperan sebagai vektor penularan penyakit virus kerdil dan tungro. Serangan berat hama ini dapat menyebabkan fenomena hopperburn hingga kegagalan panen (puso) secara total. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik serangan hama wereng dan merumuskan strategi pengendalian yang efektif serta ramah lingkungan. Metode kajian dilakukan melalui tinjauan pustaka terhadap berbagai literatur penelitian terkait biologi wereng dan teknik penanggulangannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan strategi paling efektif dalam meminimalkan populasi wereng. Strategi ini meliputi: (1) teknik kultur teknis seperti penanaman serentak, penggunaan varietas tahan, dan pengaturan jarak tanam jajar legowo; (2) pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami (predator dan parasitoid) serta agens hayati; (3) pemantauan populasi menggunakan light trap; serta (4) penggunaan insektisida kimia secara bijaksana sebagai langkah terakhir. Penerapan strategi PHT secara konsisten diharapkan dapat menjaga kestabilan produksi padi dan mendukung ketahanan pangan nasional. Abstract Rice (Oryza sativa L.) is the primary food commodity in Indonesia, whose production sustainability is frequently threatened by Plant Disruptive Organisms (PDO), particularly planthopper pests. Planthoppers, such as the Brown Planthopper (Nilaparvata lugens), Green Leafhopper (Nephotettix virescens), and White-backed Planthopper (Sogatella furcifera), damage plants by sucking cell sap from stems and serving as vectors for viral stunt diseases and tungro. Severe infestations can lead to hopperburn phenomena and complete crop failure (puso). This article aims to review the characteristics of planthopper attacks and formulate effective, environmentally friendly control strategies. The study method was conducted through a literature review of research regarding planthopper biology and management techniques. The results indicate that the Integrated Pest Management (IPM) approach is the most effective strategy for minimizing planthopper populations. This strategy encompasses: (1) cultural practices such as simultaneous planting, the use of resistant varieties, and proper plant spacing using the jajar legowo system; (2) biological control utilizing natural enemies (predators and parasitoids) and biological agents; (3) population monitoring using light traps; and (4) judicious application of chemical insecticides as a last resort. Consistent implementation of IPM strategies is expected to maintain rice production stability and support national food security.
- ItemPanduan Teknis Produksi Benih dan Pengembangan Padi Hibrida(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2002) Suwarno; Suprihatno, Bambang; Nugraha, Udin S.; Widiarta, I Nyoman; Badan Penelitian dan Pengembangan PertanianPenerapan teknologi padi hibrida diharapkan dapat meningkatkan hasil padi 15-20% atau sekitar 1 ton per hektar dibandingkan dengan padi konvensional (inbrida). Padi termasuk tanaman yang menyerbuk sendiri yang dalam kondisi normal mempunyai tingkat penyerbukan silang sangat rendah. Oleh sebab itu, penyediaan benih padi hibrida yang merupakan generasi F1 dari persilangan antara dua galur atau varietas homozigot sering menjadi faktor pembatas dalam penerapan teknologi padi hibrida secara luas.
- ItemPengaruh Perubahan Iklim Global Terhadap Pertumbuhan Hama Tanaman Padi dan Musuh Alaminya(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) Widiarta, I NyomanAbstrak Meningkatnya Suhu atmosfir burni telah dirasakan dan diakui teriadi sebagai dampak dari perubahan iklim global. Pertumbuhan serangga hama maupun musuh alami dipengaruhi Oleh Suhu udara. Serangga akan tumbuh apabila Suhu udara di sekitamya melebihi ambang Suhu pertumbuhan (To) tertentu dan kecepatan pertumbuhannya dipengaruhi Oleh Suhu efektif sebagai selisih antara Suhu harian dan To. Masa pertumbuhaan serangga untuk satu generasi dapat dihitung sebagai akumulatif Suhu efektif (K). Tulisan ini membahas To dan K hama padi dan musuh alaminya, kemudian menghitung jumlah generasi dengan rata-rata Suhu harian pada tahun 2007 di Sukarnandi, Jawa Barat dan mengestimasi perubahan pertumbuhannya apabila rata-rata Suhu udara meningkat 20C. Ambang To.. untuk hama padi berkisar antara Arnbang To untuk musuh alami hama padi berkisar antara Akumulatif Suhu efektif K yang dibutuhkan untuk pertumbuhan satu generasi pada hama padi berkisar antara derajat-hari. Akumulatif Suhu efektif K yang dibutuhkan untuk pertumbuhan satu generasi pada musuh alami hama padi berkisar antara 172,6-263,3 derajat/hari. Pada Suhu Saat ini jumlah generasi hama padi berkisar antara 8-22 generasi dalam satu tahun, sedangkan untuk musuh alami hama padi antara 20-34 generasi. Dengan peningkatan Suhu 200C, akan terjadi penambahan iumlah generasi hama padi antara I-3 generasi per tahun, sedangkan untuk musuh alami harna padi antara 24 generasi per tahun. Wereng sebagai vektor penyakit virus seperti penyakit tungro, kerdil hampa dan kerdil rumput, akan meningkat jumlah generasinya I -3 generasi per tahun dengan meningkatnya Suhu udara, yang diperkirakan akan meningkatkan ancaman penyakit virus pada tanaman padi. Abstract Effect of the Global Climate Change to the Rice Pest and their Natural Enemies in Indonesia. Increasing in the air temperature of globe is being realized and recognized as an effect of the climate change. Insects and their natural enemy’s development are influenced by air temperature. Insect growth when air temperature is at above the temperature development threshold (To) and the increasing rate of development depend on the so-called effective temperature. Effective temperature (K) is a mean rof the daily temperature subtracted by TO. Insect development in one generation can be expressed by cumulative effective temperature. In this paper the To and the K of rice pests and their natural enemies were reviewed and the number of their generation as affected by increasing temperature 20C were calculated the development threshold (To) for rice insect pests ranged from 8.8-15.30C. while to for their natural enemies ranged from 10.6-15.600C. The accumulative effective temperature (K) for one generation of insect pest ranged from 252.4-830 days-degrees, while for their natural enemies ranged from 172.6-263.3 days-degrees. Number of generations of the rice insect pests in a year were 8-22 generations at present air temperature, while for their natural enemies were 20-34 generations. Assuming that of increasing in the air temperature was an effect of global warming, number generations of insect pests will increase as much as 1-3 generations annually, while for their natural enemies were 2-4 generations annually. Leaf and planthopper are vectors of the rice tungro virus and stunt diseases, respectively. The number of vector generation will increase as much as I-3 generations annually, therefore the occurrences infection of the virus diseases vectored by the leaf and the planthopper are expected to increase as well
- ItemPengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Padi Secara Terpadu(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Widiarta, I Nyoman; Suharto, HendarsihAbstrak Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama yang sering mengalami penurunan produktivitas akibat serangan Hama dan Penyakit Tanaman (OPT). Penggunaan pestisida kimia secara berlebihan tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berdampak negatif terhadap lingkungan dan resistensi hama. Oleh karena itu, pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi strategi yang efektif dan berkelanjutan. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis penerapan teknik PHT pada budidaya padi, yang mengintegrasikan metode mekanis, biologi, bercocok tanam (agronomis), dan kimia secara bijaksana. Hasil kajian menunjukkan bahwa kombinasi pemanfaatan varietas tahan, agen pengendali hayati, serta pola tanam serempak mampu menekan populasi hama dan insidensi penyakit secara signifikan tanpa merusak ekosistem. Penerapan PHT terbukti dapat menjaga kestabilan hasil panen sekaligus mendukung keberlanjutan pertanian ramah lingkungan. Abstract Rice (Oryza sativa L.) is a primary food commodity that frequently experiences productivity losses due to Plant Pests and Diseases (OPT). Overreliance on chemical pesticides not only raises production costs but also negatively impacts the environment and leads to pest resistance. Therefore, the Integrated Pest Management (IPM) approach serves as an effective and sustainable strategy. This study aims to analyse the implementation of IPM techniques in rice cultivation, which integrate mechanical, biological, cultural, and judicious chemical methods. The review shows that combining resistant varieties, biological control agents, and synchronized planting patterns significantly suppresses pest populations and disease incidence without disrupting the ecosystem. The application of IPM is proven to maintain yield stability while supporting eco-friendly agricultural sustainability.
- ItemPengendalian Penyakit Tungro dan Penyakit Virus Tanaman Padi Lainnya(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Muhsin, Muhammad; Widiarta, I NyomanAbstrak Penyakit virus, khususnya tungro, merupakan salah satu kendala utama dalam usaha peningkatan produksi padi nasional. Artikel ini mengulas dinamika serta strategi pengendalian penyakit tungro dan penyakit virus penting lainnya pada tanaman padi, seperti penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa. Penyakit tungro yang disebabkan oleh komplikasi infeksi Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV) ditularkan secara semipersisten oleh vektor wereng hijau (Nephotettix virescens). Efektivitas pengendalian sangat bergantung pada pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang menggabungkan berbagai komponen teknis secara berkesinambungan. Strategi utama mencakup penggunaan varietas unggul tahan virus maupun vektor, pengaturan pola tanam serentak untuk memutus siklus hidup vektor, pemantauan populasi wereng hijau secara berkala, eradikasi tanaman terserang sebagai sumber inokulum, serta pemanfaatan agens hayati dan insektisida secara bijaksana. Implementasi komprehensif dari strategi terpadu ini terbukti mampu menekan laju epidemi penyakit virus dan menjaga stabilitas produktivitas padi. Abstract Rice tungro disease and other plant viral infections pose significant threats to global rice production, often leading to severe yield losses and economic damage for farmers. Tungro disease is caused by a dual infection of two distinct viruses—Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) and Rice Tungro Spherical Virus (RTSV)—which are primarily transmitted by the green leafhopper (Nephotettix virescens). Infected plants typically exhibit characteristic symptoms, including leaf yellowing to orange discoloration, severe stunting, reduced tillering, and delayed flowering. This article reviews comprehensive strategies for managing tungro and other major rice viral diseases through Integrated Pest Management (IPM). Key control measures include the cultivation of resistant rice varieties, synchronous planting, crop rotation, eradication of infected plants to remove inoculum sources, dynamic vector population control, and the deployment of biological agents or botanical deterrents (such as Andrographis paniculata extract). Chemical insecticides are recommended only as a targeted, secondary measure based on vector threshold monitoring. Adopting an integrated, environmentally friendly control approach effectively suppresses viral transmission while minimizing chemical dependence and maintaining agricultural sustainability.
- ItemPerbenihan Pertanian : Mendukung Peningkatan Mutu Benih dan Adopsi Varietas Unggul Spesifik Lokasi untuk Ketahanan Pangan Nasional(IAARD Press, 2019) Rubiyo; Widiarta, I Nyoman; Hendayana, Rachmat; Harnowo, Didik; ; Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
- ItemUpaya Percepatan Adopsi Varietas Unggul Baru Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Widiarta, I NyomanAbstrak Pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi padi, untuk mempertahankan swasembada beras secara berkelanjutan dari produksi dalam negeri, tanpa impor. Target produksi padi ditingkatkan pada tahun 2015-2019 rata-rata 3% per tahun dari 73.4 juta ton menjadi 82.0 juta ton gabah kering giling. Produksi ditentukan luas areal panen dan produktivitas. Peningkatan produktivitas ditentukan oleh ketersediaan benih bermutu varietas unggul adaptif spesifik lingkungan dan manajemen budidaya tanaman. Peningkatan produktivitas dimungkinkan karena masih adanya senjang antara potensi hasil dan hasil aktual, di samping masih banyak varietas unggul baru yang belum diadopsi petani. Adopsi varietas unggul padi 54,05% didominasi oleh Ciherang, Mekongga, Ciliwung, Cigeulis, IR64 dan Situbagendit yang telah dikenal pasar memiliki rasa nasi yang baik dan tahan terhadap hama/penyakit tertentu, dari total areal tanam padi setahun, yang mencapai 13-14 juta ha. Balitbangtan berupaya mempercepat adopsi varietas unggul baru dengan beberapa cara: (1) memperluas skala uji adaptasi mencapai skala denfarm, yang sekaligus berfungsi sebagai tempat produksi benih; (2) revisi alur produksi dan distribusi benih melalui penugasan Menteri Pertanian: (3) pembangunan jaringan unit pengelola benih sumber dan (4) pengembangan perbenihan berbasis masyarakat dalam bentuk Model Desa Mandiri Benih, melalui pemanfaatan jaringan perbenihan antara Unit Pengelola Benih Sumber Balai Besar Padi/Balit dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Abstract Acceleration on adoption of New Superior Rice Variety. Government of Indonesia has continuously made effort to attain sustainable rice self-sufficiency based on domestic production without import. Rice production was planned to be increased 3% annually in the period of 2015-2019 from 73.4 billion ton to 82.0 billion ton un-polished rice. Production is function of harvested area and yield. Rice yield is depend on availability of good quality seed of specific site adapted variety, good management rice practice and suitable environments. Yield gap between yield potential and actual yield coupled with only a few new superior rice variety has been adopted made rice yield increased is still possible. Ciherang, Mekongga, Ciliwung, Cigeulis, IR64 and Situbagendit varieties dominated 54.05% of 13 to 14 billion hectare transplanted paddy field annually due to good eating quality coupled with resistance to pest. Indonesian Agency for Agricultural Research and Development accelerate new superior varieties adoption by mean of (1) enlarge site specific location adaptation test size into demonstration farm’s size area and also utilized as seed production areas; (2) revised seed production and distribution scheme by implementing assignment of Ministry of Agriculture; (3) develop a network between breeder seed management unit in Indonesian Center for Rice Research (ICRR) and Indonesian Assessment Institute for Agricultural Technology (IAIAT) throughout Indonesia and (4) develop community seed production system in the form a model of independent seed production village by utilizing the network of breeder seed management unit in ICRR and IAIAT.