PENGARUH PERLAKUAN PENYIMPANAN TERHADAР VIABILITAS RIMPANG TEMU LAWAК (Curcuma xanthorhiza Roxb)
No Thumbnail Available
Date
2007-09-06
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Abstract
Salah satu kendala budidaya temu lawak (Curcuma xanthorhiza Rox) adalah belum
tersedianya benih bermutu, dalam jumlan dan waktu yang tepat. Rimpang temu lawak cepat bertunas, dan mengalami kerusakan/keriput apabila umur umur benih kurang tua dan kondisi
ruang simpan kurang memenuhi persyaratan. Untuk memperoleh cara penyimpanan rimpang temu
lawak yang tepat telah dilakukan penelitian penyimpanan rimpang secara konvensional dan iradiasi. Percobaan dilaksanakan di laboratorium benih dan gudang penyimpanan benih Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro). Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 9 perlakuan dengan 4 ulangan dan 50 sampel setiap perlakuan dan ulangan. Perlakuan yang diuji adalah : (1) penyimpanan pada ruang simpan dingin (RH 70 - 80%), (2) penyimpanan di dalam tanah, (3) pengeringan dengan fresh drier, (4) iradiasi dengan sinar У
dengan dosis iradiasi 5 krad, (5) iradiasi dengan sinar Y dengan dosis iradiasi 10 krad, (6) radiasi dengan sinar Y dengan dosis liradiasi 15 krad, (7) iradiasi dengan sinar Y dengan dosis iradiası 20 krad, (8) iradiasi dengan sinar Y dengan dosis iradiasi 25 krad, (9) kontrol (rimpang disimpan di rak pada suhu ruang). Pengamatan dilakukan setiap bulan dengan parameter yang diamati adalah kadar air rimpang, penyusutan bobot rimpang, persentase rimpang bertunas, viabilitas rimpang di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air rimpang temulawak cenderung menu run setelah 2 bulan penyimpanan. Kadar air temu lawak tertinggi terdapat pada penyimpanan dalam ruang simpan dingin. Viabilitas rimpang tertinggi adalah rimpang yang disimpan pada suhu rı ang setelah pengeringan dengan fresh drier dengan persentase tumbuh 92,5%, dan rata-rata tinggi tanaman /2,13 cm setelah ditanam umur 2 bulan. Sedangkan pada perlakuan simpan di ruang simpan dingin, dan iradiasi dengan dosis 10 krad, 15 krad, 20 krad dan 25 krad, rimpang sudah tidak tumbuh (mati) setelah penyimpanan 6 bulan.